
..."Terkadang, ada kalanya realitas seperti drama; karena memang dari sanalah seorang sutradara mendapatkan inspirasinya."...
...««« KEERAN »»»...
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
"Maaf, Akang! Maafkan kami, ya! Tadi kami khilaf karena sudah memukul si Akang dan main hakim sendiri," ucap seorang pria dengan caping yang tergantung di lehernya. Wajahnya tertunduk dengan kedua telapak tangan yang saling menempel. Raut mukanya tampak ketakutan. Hal yang sama pun terjadi dengan Didit yang berdiri dengan postur membungkuk di sebelahnya.
"Tolong jangan laporkan kita ke polisi, ya, Akang ...!" ucap lelaki yang berusia 40 tahunan itu. Ia yang tak mau dipenjara pun langsung bergegas ketika tadi, Bara memanggilnya dengan alasan harus minta maaf jika tak ingin masalah tersebut dibawa ke ranah hukum. "Tolong, ya ...! Saya, teh ..., punya anak istri. Kasihan mereka kalau harus saya tinggal. Nanti, mereka malu juga kalau saya sampai masuk penjara," katanya.
Keeran tampak mendengus sambil memegang sudut bibirnya. Pemuda itu menatap tajam para warga dihadapannya. Ekspresinya yang tampak tak bersahabat, membuat semua orang tak berani mengangkat kepala.
"Maka dari itu, seharusnya kalian berpikir sebelum bertindak. Jika sudah begini, siapa yang mau bertanggung jawab?" Keeran tampak gusar dari tempat duduknya. Ia berdiri, lalu menghampiri pria paruh baya yang menjadi perwakilan untuk memohon maaf tadi.
"Angkat kepala kalian dan pergilah dari sini. Saya maafkan dan tidak akan membawa masalah ini ke ranah huku, tapi jangan sampai diulangi lagi. Lain kali, kalau ada masalah, diusahakan untuk jangan main hakim sendiri. Kalian bisa ikut rugi kalau begitu caranya," tutur Keeran. Ia berbalik, lalu kembali duduk di tempatnya tadi dengan badan yang agak gemetar karena luka-luka ditubuhnya.
"Terima kasih, Akang ...! Terima kasih!" Secara kompak, para warga itu pun berterima kasih dengan wajah mereka yang bercahaya. Setelah itu, mereka pun pamit pergi dan bergegas meninggalkan vila.
"Tuan ...?" Dengan ragu, Bara menepuk sisi pundak Keeran yang tidak terluka. Ia menatap sang ibu, lalu mengembuskan napasnya. "I—itu ..., eh ...—" Bara tampak kebingungan ingin menyusun kata-katanya. Ia pun menggaruk kepalanya dengan pikiran yang rumit.
"Tuan kenapa bisa tidur di sini? Kan bisa masuk ke vila. Kalau begitu, pasti kejadian seperti ini bisa dihindari," lirih Bara. Lelaki itu menatap sang pemuda dengan hati-hati—takut menyinggung.
"Aku sampai ketika tengah malam, Bara ...! Bayangkan! Lalu sialnya, aku lupa membawa kunci," ungkap Keeran. Ia pun meneguk segelas teh hangat yang telah disediakan. Orang tuanya, pasti akan sangat marah dan khawatir jika mengetahui hal ini.
"Kan bisa panggil saya, Tuan ...!"
"Aku tidak enak jika harus membangunkanmu di jam segitu, Bara ...! Ah—tapi jika aku tahu kejadiannya akan seperti ini, lebih baik aku menahan rasa tidak enak itu." Keeran menatap Bara dan Sarah yang berdiri di hadapannya. Pemuda tampak berpikir, lalu dengan ragu, ia pun mengeluarkan suaranya. "Kalian tau dengan perempuan berambut putih di desa ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Rambut putih? Kalau yang seperti itu banyak, Tuan ...! Ibu saya rambutnya juga sudah banyak yang putih," jawab Bara dengan cengengesan. Lelaki itu hanya bisa meringis ngeri ketika mendapatkan pelototan maut dari sang ibu.
"Bukan ...! Maksudku ..., albino—dia albino. Ya! Dari yang kulihat, dia masih muda; bermata biru! Ya—seperti itu." Keeran memejamkan matanya, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
"Mungkin Maydea, maksudnya?" tanya Sarah dengan pelan. Ia menatap Keeran, lalu mengembuskan napasnya secara perlahan.
"Maydea?" gumam Keeran. Ia mengetuk perlahan tempat duduknya dengan dahi yang berkerut.
"May ...! Kalau benar dia, Tuan harus menjauh! Jangan dekat-dekat sama dia—bahaya!" cetus Bara, tiba-tiba dengan penekanan di kata terakhirnya. Mendengar itu, Sarah pun menatap anaknya dengan tajam.
"Memangnya kenapa?"
"Kata para warga, dia pembawa sial! Setelah kelahirannya, warga jadi sering gagal panen; padahal, sebelumnya hampir tidak pernah seperti itu. Ibunya juga meninggal—dan para warga juga yakin dia penyebabnya. Tapi, kalau menurut saya, sih, benar kata orang-orang ~ dia pembawa sial! Desas-desusnya juga, dia anak hꪖram; anak hasil perselingkuhan Nyonya Mayla, ibunya. Maka dari itu dia kelihatan beda dari kedua orang tuanya," ungkap Bara, panjang lebar dengan berapi-api.
"Bara! Jangan berbicara seperti itu!" Sarah pun menegur anaknya. Ia menginjak kaki Bara dengan keras hingga bujang lapuk itu tampak kesakitan. Sedang di sisi lain, Keeran malah menunjukkan wajah anehnya.
"Apa dasar kalian berpikir seperti itu? Kurasa, dia tidak salah sama sekali. Bahkan ..., ya—jika dia memang benar anak hasil perselingkuhan, tetap saja itu bukan salahnya." Keeran mencoba berpikir secara rasional. Pemuda itu menunduk dengan bibir yang ditipiskan. "Tapi kenapa dia keluyuran malam-malam?" tanyanya.
"BARA!"
Keeran tampak mengembuskan napasnya dengan kasar. Tatapan matanya menajam. Ia rasa, percuma saja bertanya pada anak dan ibu itu, karena mereka, pasti tidak tahu jawabannya secara pasti. Apalagi, sejujurnya ia tak puas pada respons Bara yang terkesan kasar. Tapi ..., mengorek sedikit informasi dari Bibi Sarah, ia rasa tak ada salahnya.
"Kamu tinggalkan aku dan ibumu dulu, Bara ...! Aku ingin bertanya kepadanya," pinta Keeran. Wajahnya tampak tertekan. Entah kenapa ia tak terima jika ada seorang anak yang diperlakukan seperti itu. Rasanya tidak adil. Ia jadi penasaran dengan bagaimana gadis itu menjalani hari-harinya. Bagaimana para warga memperlakukannya?
"Bibi bisa menceritakan sedikit tentang Maydea itu? Ya—sesuai dengan apa yang Bibi tau," pinta Keeran, dengan lirih. Pemuda itu menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menatap Sarah dengan pandangan mengiba.
"Bisa, Jang ...!" katanya, menyanggupi. "Jadi, Maydea itu, teh, sering jadi bahan gibah di kampung ini." Sarah memulai ceritanya. Tatapan wanita tua itu tampak kosong; ia menerawang ke masa lalu. Namun di sisi lain, Keeran tampak tercengang dengan kalimat terakhir yang ia dengar. Ia baru sadar jika yang dilakukannya termasuk perbuatan menggunjing.
__ADS_1
"Kalau kata para warga dan saya sendiri, nih, Neng Maydea, teh, geulis pisan. Mirip bule biar kedua orang tuanya sama-sama orang Timur. Karena itu juga timbul berita kalau dia anak hasil perselingkuhan," ungkap Sarah. Wanita itu tampak terdiam sejenak sebelum akan melanjutkan kata-katanya.
"Ya, tapi, kalau menurut saya, teh, belum tentu, Jang ...! Apalagi, Nyonya Mayla itu orang yang misterius. Bisa jadi, dia memang punya keturunan bule," kata sang Bibi. "Nah—yang bikin saya yakin kalau Nyonya Mayla tidak mungkin berselingkuh itu, karena dia perempuan baik-baik—saya yakin dia setia. Sewaktu hidupnya saja, dia suka sekali menolong saya; sama orang sekitar juga ramah," sambungnya, dengan mata yang agak memerah. Keeran pun tampak terperanjat.
"Sewaktu hidupnya? Maksudnya ...—"
"Nyonya Mayla sudah meninggal. Kalau tidak salah sekitar enam atau tujuh tahun lalu. Sejak saat itu, hidup si Eneng mulai berubah karena Tuan Satria menikah lagi dengan Nyonya Gayatri, si janda beranak dua. Nah, Nyonya Gayatri ini, mirip sekali sama tokoh ibu tiri di cerita-cerita piksi—jahat pisan, pokokna! Gendhis, anak pertamanya juga sifatnya agak mirip sama ibunya; tapi Raka, dia anak baik-baik."
"Kenapa Bibi menyebut Nyonya Gayatri jahat?" tanya Keeran dengan pandangan heran. Lalu ... kenapa rasanya, ia tak asing dengan nama itu? Satria?! Tapi, tak mungkin yang dimaksud itu adalah Satria rekan kerja orang tuanya, kan?
"Dia suka menganiaya anak-anaknya! Si bontot Raka yang anak kesayangannya pun juga kena. Si Nyonya ini orang tempramental. Kalau Tuan Satria, dia tenang—tapi kalau kata saya, sih, duꪀgu pisan—anaknya dipukuli, eh, si eta malah diam-diam bae." Sarah mengembuskan napasnya dengar kasar. Raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang kentara.
Dari sudut lain, bisa diamati bahwa sepasang netra Keeran tengah membola. Mulutnya sedikit terbuka. Pemuda itu tak menyangka masalahnya seperti itu. Ternyata, gadis yang ia temui kemarin merupakan korban KDRT!
"Terus?"
"Eh, si Ujang ini malah terus-terus bae. Kalau mau tau, mending tanya langsung sama anaknya, atuh .... Biasanya, dia datang ke sini beberapa hari sekali buat bantu-bantu. Memang sudah tiga hari ini si Eneng tidak berkunjung, tapi firasat Bibi, sih, hari ini si Eneng datang." Sarah tampak senyum-senyum sendiri. Ia menatap Keeran dengan pandangan yang sulit di artikan. "Ujang pasti kesengsem, ya, sama si May ...," godanya.
Keeran terperanjat dengan pernyataan sang Bibi. Dengan kaku, ia menggaruk kepalanya sendiri. Ia sadar kalau ia memang bertindak sangat aneh kali ini. Bahkan, jika ditilik lebih jauh lagi, sebelumnya ia tak pernah penasaran dengan kehidupan orang lain—terlebih seorang perempuan.
"Biasanya, kan, si Ujang ini paling anti sama urusan-urusan seperti ini." Sarah kembali melayangkan serangannya. "Jatuh cinta pandangan pertama, sih, kalau kata orang-orang," lanjutnya.
Keeran tampak salah tingkah. Ia tersenyum tipis dengan wajah yang memerah. Hidungnya yang ramping dan mancung pun tampak kembang kempis. Jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, Keeran tak kepikiran sampai ke sana.
"Bibi ..., heee ...." Keeran tampak malu-malu. "Tadi katanya bantu-bantu. Maksudnya apa?" Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun sang Bibi yang mengerti pun hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh kecil.
"Maksudnya kerja—iya, begitu. Si Eneng ini suka kerja serabutan di kampung ini. Kalau di sini, sih, bantu bersih-bersih sama berkebun. Ck! Kasihan memang ~ Tuan Satria jadi lupa sama tanggung jawabnya semenjak Nyonya Gayatri jadi istrinya. Menikah saja diam-diam; seisi kampung gak ada yang tau! Padahal, Tuan Satria ini dihormati di kampung ini. Secara, dia salah satu orang terkaya," tutur Sarah, sedang Keeran tampak semakin terkejut. Pemuda itu meringis sambil menggeleng tak percaya. Ia seperti mendengar cerita drama.
__ADS_1
"Nah, itu anaknya. Panjang umur!" Tiba-tiba saja Sarah menyorot ke arah pintu masuk. Ia menatap gadis berwajah datar itu dengan mata yang berbinar. Keeran sendiri menatap pemandangan itu dengan melongo.
'Maydea? Jadi ..., dialah Maydea?' batinnya.