
..."Ketika kamu memutuskan untuk diam agar tak ikut terlibat dalam suatu permasalahan, ada kalanya itu akan menimbulkan masalah baru yang lebih serius bagi orang lain. Jadi, mana yang kamu bela—kebenaran, atau jiwa pengecutmu?"...
...««« FEY »»»...
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
"Maydea? Sedang apa di sini?"
Mendengar vokal mezosopran itu, Maydea terperanjat. Gadis yang sebelumnya akan melangkahkan kakinya untuk menuju ke toilet pun, kini mengurungkan niatnya ketika menyadari kehadiran sosok yang sama sekali tak diharapkannya.
Gendhis menatap Maydea dengan heran. Di sisi lain gadis albino itu menyadari, bahwa kehadiran saudari tak sedarahnya tersebut, jelas menjadi pertanda, bahwa sang ibu tiri, tak lama lagi akan menampakkan wujudnya. Benar saja—beberapa detik kemudian, Gayatri datang dengan membawa tas-tas yang isinya penuh di tangannya; dan lebih mengejutkannya lagi, Satria ada di belakangnya dalam kondisi yang tak kalah ribetnya pula.
'Ayah pulang hari ini?' Maydea menatap sang Ayah dengan senyum yang sangat tipis. Perasaannya tak terlukiskan ketika melihat pria yang hampir berusia senja itu. Perasaan rindu mendominasi; namun kecewa dan marah juga terselip di sana.
"May! Bagus kamu di sini—tunggu!" kata Gayatri, terdengar mengancam. Maydea menyorot ke sang ibu tiri dengan tubuh yang mulai gemetar. Sehabis ini, habislah riwayatnya. Raka, mungkin tak akan bisa menolongnya; apalagi Satria yang tampak sangat cuek ketika berjalan melewatinya.
Gendhis beranjak dari hadapan adik tirinya, lalu mendudukkan diri di atas sofa—tempat duduk Maydea tadi. Gadis itu rasa, akan ada hiburan menarik setelah ini. Rasa lelah dan jenuh yang timbul akibat kehidupan perkuliahannya yang begitu sibuk, pasti akan sedikit terangkat dengan refreshing melalui pertunjukan oleh Mama dan adik tercintanya, Maydea. Papa bisa menjadi tokoh pembantu yang tepat; Gendhis bisa memberi bumbu pedas dan asam di sana, juga berperan sebagai kompor; sedangkan Raka, pemuda itu akan menjadi pahlawan kesiangan, meskipun sebenarnya, iapaling cocok menjadi penonton.
'TAK!'
"Argh!" Maydea meringis ngilu ketika tiba-tiba saja, Gayatri memukul kepalanya dengan gagang sapu. Rasanya amat menyakitkan; seolah wanita tua itu menggunakan seluruh tenaganya untuk itu. Di sisi lain, Gendhis tampak antusias; matanya menampakkan binar—pertunjukannnya sudah dimulai?
"Kenapa?" tanya Maydea, lirih. Gayatri yang mendengar itu pun memelototkan matanya.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa? TADI KAMU KABUR SEBELUM MENERIMA HUKUMAN KAMU, BODOH! Mentang-mentang ada Raka yang tadi membela kamu. Sekarang, jangan harap kamu bisa lepas!" Gayatri kembali memukul Maydea, kali ini di punggungnya; lanjut dengan menjewer telinga gadis albino itu hingga memerah. Gendhis yang melihat perbuatan ibunya bergidik ngeri sendiri. Ia ingat, ia pernah juga mendapat tarikan serupa di kupingnya—tepatnya beberapa tahun lalu, karena dinyatakan tidak naik kelas, sehingga sang ibu harus mengeluarkan uang sogokan untuk menjaga nama baik putrinya, juga dirinya dan Satria. Mau ditaruh mana muka mereka, kalau sampai punya anak yang tinggal kelas?!
"Mama! Cukup!" Raka melaung keras dengan ekspresi yang terkejut. Baru saja membantu Mbah Ratih mencuci piring, namun ketika kembali, ia malah disambut pemandangan begini. "Kasihan Kak May, Ma!" Gendhis pun mendengus ketika melihatnya. Benar dugaannya—pemuda itu akan muncul dan menjadi pahlawan kesiangan.
"Diam Raka! Biar Mama memberi hukuman kepada anak pembangkang tidak tau diri ini! Jangan ikut melawan dan menjadi durhaka dengan membela kakak tirimu!" tegas Gayatri. Tatapannya yang tajam, menyorot ke si bungsu. Raka pun menciut melihat itu. Ia ingin membela Maydea, tapi ternyata, ada konsekuensi kalau dia melakukan itu. Tidak ada yang menjamin, bahwa anak kesayangan seperti dirinya, tidak akan terkena amukan dan pukulan dari ibu semacam Gayatri!
"Apa yang kamu perbuat, Maydea?" Kali ini, Satria yang angkat bicara. Suaranya terdengar tenang, seperti biasa. Pria tersebut memang bukan tipe orang yang meledak-ledak seperti sang istri; namun tetap saja, itu tak bisa dibilang bagus. Satria cenderung diam dan pasrah—dan sialnya, itu selalu membawa malapetaka bagi sang anak.
"Dia menolak perintahku!" ungkap Gayatri. Mendengar itu, sontak pun Maydea menggeleng. Jelas, ia tak menolak; ia sudah menjalankan perintah wanita itu, namun terkendala dan tak diberi keringanan atasnya.
__ADS_1
"Aku tidak—"
"Jangan berbohong, May!" Gayatri berteriak kesal. Wanita itu menunjuk Maydea dengan jari telunjuknya, seperti yang dilakukan sang anak tiri tersebut kala itu.
"Ayah, aku tidak berbohong! Ibu yang mengada-ada dan melebih-lebihkan sesuatu!"
"Kamu menuduh saya?! Dasar anak tidak tau diuntung!"
"Aku hanya menyampaikan fakta! Lagi pula, apa yang Ibu perintahkan itu benar-benar tidak masuk akan!"
"Bagian mana yang tidak masuk akal, Bodoh?!"
"Ibu menyuruhku untuk pergi ke hutan dan—"
"JANGAN MENUDUH SEMBARANGAN, SIALAN!" Gayatri menggeram marah, lalu menarik rambut panjang Maydea dengan kasar—membuat sang gadis meringis kesakitan.
"Lepas! Apa yang kamu lakukan! Dasar kejam!"
"AYO ULANGI LAGI! SEMAKIN KAMU MEMBANTAH, SEMAKIN AKU SENANG MENYIKSAMU!" Gayatri tampak menggila. Raut mukanya benar-benar mengerikan; seolah-olah ia seorang psikopat tanpa belas kasihan.
"Jangan berlebihan jika mau menghukum, Gayatri ...!" tutur Satria. Sorot matanya masih menangkap tangan sang istri yang mencengkeram kuat surai sang putri. Dipegangnya lengan itu dengan lembut supaya mau melepaskan rambut Maydea, namun tak sengaja mata keduanya—Satria dan Gayatri—bersitatap.
Gayatri menepis pegangan sang suami. Ia tak mau mengalah. Baginya, Maydea yang bersalah; selalu begitu—selamanya.
"Terserah kamu mau memberi hukuman apa. Saya lelah menghadapi kalian—terutama kamu, Maydea," ujar Satria. Ia merasa lemah, apalagi setelah melihat netra sang istri tercinta. Sekarang, ia benar-benar budak cinta. Rasa cintanya kepada lawan jenis yang cenderung didasari oleh nꪖfsꪊ, ternyata lebih besar daripada rasa cintanya kepada sang putri yang semestinya didasari oleh ikatan batin. Ah, ikatan batin? Apakah itu masih ada di antara keduanya—Satria dan putrinya, Maydea?
"Ayah ...." Maydea berkata dengan lirih. Ia menatap sang ayah dengan sepasang netra yang berair. Dadanya terasa sesak, bagai tertimpa batu besar. Lelaki yang seharusnya menjadi cinta pertamanya itu, justru melukai hatinya. Ya—ayahnya adalah patah hati pertamanya.
Satria berpaling, lalu beranjak menuju kamarnya. Ia lelah setelah menempuh perjalanan panjang demi keberlangsungan bisnisnya; bisnis yang dulu sempat ia bangun bersama Mayla, ibu Maydea. Sekarang, ia tak mau ambil pusing masalah pada apa pun yang dibuat oleh anak maupun istrinya. Lebih baik diam daripada membuat masalah untuk dirinya sendiri. Apalagi, Gayatri sangat mengerikan jika marah-marah.
Maydea memandang kepergian sang ayah dengan tatapan sendu. Raka tampaknya masih ingin membela, namun urung karena melihat tatapan ibunya. Gendhis tampak terdiam dengan ekspresi yang sulit ditebak—ia menikmati penderitaan sang adik tiri, namun sebagian kecil hatinya masih menyimpan rasa iba.
'PLAK!'
__ADS_1
'PLAK!'
'PLAK!'
"Ini hukumanmu!" Gayatri memukul dan menampar Maydea dengan membabi buta. Maydea tampak menangis tanpa suara—bukan karena sakit fisik yang dirasakannya, namun karena hatinya yang terluka. Ia kecewa pada ayahnya yang lebih memilih diam daripada membelanya. Padahal, dengan kesalahan yang sedemikian kecilnya, mestinya ia tak pantas mendapatkan hukuman semacam itu.
Kalian kasihan? Jangan ~ Maydea tak butuh; ia tak mau dikasihani, meski nyatanya, nasibnya benar-benar malang. Parahnya lagi, ini terjadi karena Satria, sang ayah yang tak bisa menentukan sikapnya. Namun, Maydea rasa, ia hanya butuh membuktikan—Maydea butuh membuktikan kalau dirinya lebih mampu dan berguna dibandingkan seonggok sampah seperti mereka yang menyakitinya. Ia harus membalas dan tak boleh diam saja atas perlakuan jahat orang-orang; seperti kata Bunda, yaitu jangan biarkan orang lain menindasmu; kalau kamu mau, kamu boleh menindas balik mereka dengan batasan tertentu. Ya, dan Maydea masih mengingat kala ibunya mengucapkan itu, saat ia benar-benar terpuruk akibat perundungan yang dialaminya—sampai saat ini, rangkaian kata itu selalu bisa memberi energi baginya.
[] "Jangan sedih Alexa, ada Bunda di sini. Kamu tidak sendiri, Sayang ...!"
"Kenapa mereka membenciku, Bunda? Apa karena aku berbeda? Kenapa aku diciptakan seperti ini?"
"Alexa ~ Bunda rasa, tak ada yang salah dengan menjadi berbeda. Lagi pula, kita semua unik. Kamu harus bangga menjadi dirimu sendiri. Kamu harus menghargai dirimu sendiri, karena siapa lagi yang bisa melakukan itu lebih baik dari dirimu sendiri? Kamu istimewa dan cantik dengan caramu sendiri."
"Benarkah?"
"Tentu! Ingat, jangan biarkan orang lain menindasmu; kalau kamu mau, kamu boleh menindas balik mereka dengan batasan tertentu—sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, Alexa ...! Jika kamu marah, langsung lepaskan saja; itu lebih baik daripada kamu menyimpannya di dalam hati hingga akhirnya menumbuhkan benci yang bisa membunuh secara perlahan."
"Aku sayang Bunda!"
"Bunda ju—" []
'PLAK!'
'PLAK!'
"Argh!" Maydea meringis setelah tersadar dari lamunannya. Gadis itu tersenyum ketika mengingat sang bunda. Kini, dengan kekuatannya yang tersisa, ia mendorong Gayatri hingga tersungkur di lantai. Ia harus ingat untuk tak membiarkan orang lain menindas dirinya.
"Mama!" Gendhis dan Raka melaung berbarengan. Keduanya langsung berjalan menghampiri sang ibu dengan raut yang khawatir. Raka menatap Maydea sekilas—seolah memberi kode agar gadis itu segera kabur sedangkan ia menghambat Gayatri di sini.
"Sakit, ya, Ma? Memang keterlaluan si May ini! Kurang ajar! Kita harus kasih pelajaran ke dia, Ma!" Gendhis pun mengompori. Ia menyorot Gayatri dengan prihatin. Mamanya itu, sepertinya sungguh kesakitan.
"Aduh! Bantu Mama buat berdiri! Pinggang Mama, argh—" Gayatri meringis sambil memegang pinggangnya yang terasa patah. Rupanya, karmanya telah datang. Jika ada warga yang tahu, jelas ia akan ditertawakan—menjadi bahan gibah oleh orang-orang bermulut julid di kampungnya. Memang memalukan!
__ADS_1
'Awas kamu, Maydea ...!'