
..."Jangan pernah mengemis penghormatan dan perhargaan dari orang lain—karena tanpa kamu melakukannya, memang sudah seharusnya itu menjadi hakmu; hak kita semua sebagai manusia."...
...««« MAYDEA »»»...
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
Maydea menenggelamkan kepalanya di lutut, lalu menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengembuskannya kembali. Ia pasti terlihat sangat menyedihkan. Dibuang oleh orang-orang dikampungnya, memiliki ibu tiri dan saudari tiri yang jahat, diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri, bahkan yang paling buruk baginya adalah kehilangan sosok Bunda—Bunda yang amat menyayanginya.
Terkadang, Maydea masih sulit mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bertahun-tahun sudah berlalu, namun itu terasa begitu singkat; seolah baru kemarin ia kehilangan semua hal berharga itu. Gadis tersebut sering bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang terjadi?
Masih segar di ingatan Maydea memori-memori indah kala itu. Bunda dan Ayah menyayangi serta melindunginya semampu mereka. Ia rindu dengan saat-saat dulu; ketika Ayah atau Bunda baru pulang kerja, lalu Maydea berlari ke pintu untuk memeluk mereka. Sayang, semuanya berubah dalam sekejap ketika sang ibu meninggal, dan beberapa waktu kemudian, sang ayah datang dengan membawa ibu sambung bersama dua saudara tirinya.
Sejak perkenalan di hari ulang tahun Maydea itu, perlahan Satria berubah menjadi sosok lain yang seperti bukan dirinya. Rasa kecewa, marah, dan benci tumbuh subur di nurani Maydea, meski rindu tetap menjadi hal utama yang mendominasi di sana.
Maydea tak ingin menjadi lemah dan tak ingin juga terlihat demikian. Ia melawan, tapi tak jarang perlawanannya itu, malah membawa malapetaka. Ia dipukuli, ia dianiaya, ia disiksa secara fisik dan verbal. Semua itu dilakukan oleh ibu tirinya yang jahat.
Hati Gayatri begitu sempit. Ketika marah, ia akan melakukan apa pun seenaknya. Jangankan Maydea yang bukan anak kandungnya, Gendhis dan Raka yang ia lahirkan sendiri saja juga sering terkena amukannya. Satria sangat lemah di hadapan istrinya; seolah wanita itu bisa menyedot kekuatannya. Padahal, sebagai seorang ayah, sudah semestinya dia bersikap bijak—sedangkan membiarkan Gayatri memukuli anak-anaknya, sama sekali tidak demikian.
Maydea pikir, ayahnya sudah dibutakan oleh cinta; atau mungkin oleh hal lain yang tak ia ketahui apa itu. Satria terlalu banyak berubah, hingga sang putri sendiri pun, mungkin tak mengenalnya lagi jika wajahnya yang rupawan itu tak lagi ada. Mayla—ibu Maydea—pasti sangat kecewa.
Setiap malam, Maydea suka memandangi bintang dan bulan; mereka terang dan bisa memberi cahaya di gelapnya malam—tak seperti matahari yang panasnya bisa membakar dan berbahaya bagi kulit sensitifnya.
Maydea suka berbicara kepada bintang dan bulan di kala kelam datang. Bukan tak mungkin mereka bisa membawa pesannya ke Bunda, bahkan Tuhan.
"Kenapa Ayah berubah? Kenapa semua ini terjadi kepadaku?" gumam Maydea dengan suara yang dalam. Gadis itu menarik kepalanya, lalu mendongak ke jendela kecil dekat pintu. Hari sudah senja, dan malam favoritnya akan segera tiba. Ah—berharap saja malam ini tak ada hujan seperti hari-hari sebelumnya.
"Kenapa Ayah berubah?" Maydea mengulang pertanyaannya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri—mencoba menebak apa yang sedang terjadi, meski sudah sering ia melakukannya dan hingga kini tak menemukan jawabannya. Apa yang terjadi pada hidupnya, benar-benar sebuah misteri yang tak ia mengerti.
"Aku rindu saat-saat itu." Maydea kembali bergumam dengan seulas senyum tipis yang tergambar di bibirnya. Namun itu tak sejalan dengan sang netra yang justru tengah membebaskan kristal-kristal bening tak terbendung itu. Benar saja—kenangan indah bisa terasa sakit di hati jika kita mengingatnya di saat-saat buruk.
"Aku ingin Ayah datang lalu memelukku. Aku ingin Bunda kembali, lalu kita bercerita bersama-sama seperti dulu." Maydea memejamkan matanya, membiarkannya bulir-bulir itu lolos begitu saja. Dadanya sesak. Ia lemah—ia lemah tanpa kedua orang yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Kalau bisa, aku ingin kembali ke masa lalu dan mengubah takdir. Meski aku tak bisa mencegah kematian ibu sekalipun, setidaknya aku harus bisa mencegah Ayah menikahi Gayatri. Dia jahat—karena dia Ayah berubah. Mungkin aku kejam dengan bilang ia tidak pantas menjadi seorang ibu; tapi memang begitu kenyataannya. Ibu yang baik tak akan melimpahkan emosinya ke anak-anaknya. Ia sering menganiaya aku, bahkan Raka dan Gendhis. Dia bertindak kriminal, dan bodohnya ayahku membiarkan perbuatannya. Ayahku melindungi seorang perilaku kriminal." Maydea mengemu dengan racau. Ia ingin mengeluarkan semua isi pikirannya—ya, meski itu kepada dirinya sendiri.
"May ...."
Maydea menoleh ketika mendengar bisikan itu. Hatinya menciut ketika melihat wajah buruk rupa itu. Meski sudah memiliki kemampuan indigo sejak lama, namun ia tak pernah terbiasa—dan mungkin akan selamanya demikian.
"Jangan ganggu aku!" cicit Maydea. Gadis tersebut menutup hidungnya ketika mencium aroma busuk itu; ia bergeser ketika belatung berjatuhan dari wajah penuh lubang itu.
"Hi hi hi ~" Sosok itu tertawa pelan dengan suara melengking yang mengerikan, lalu menghilang begitu saja. Melihat itu, Maydea menghela napasnya dengan lega.
"Aku benci kemampuan ini. Ini kutukan!" lirih Maydea. Ia mengusap wajahnya perlahan, lalu menatap ke pintu bercat putih itu. Suara ketukan terdengar, lalu beberapa saat kemudian, vokal seorang pria yang familier di telinganya pun juga datang.
'Ayah? Ada apa? Tidak biasanya ke sini?' batin Maydea. Ia ingin membuka pintu, namun ragu. Bagaimana jika ada Gayatri di sana? Bagaimana jika Satria datang untuk membawanya ke ibu tirinya? Ia tak mau dan takut juga tentunya.
"Maydea? Jika kamu di dalam, keluar sekarang, sebelum saya buka secara paksa!" Maydea membelalakan matanya ketika mendengar ancaman sang ayah. Tidak boleh! Pintu rumah kecilnya, kondisinya sudah buruk—jika didobrak, bukan tak mungkin kediamannya akan kehilangan pintu.
"Sebentar!" teriak Maydea. Gadis itu segera berdiri dengan tertatih. Tubuhnya terasa remuk sehabis diamuk oleh Gayatri. Selalu begini; jadi wajar saja jika ia memilih menjadi pengecut yang melarikan diri. Ia perlu melindungi dirinya sendiri, dan hal terbaiknya, ia tak perlu mengorbankan orang lain untuk itu. Toh, Gayatri tak akan langsung pindah haluan memukul anak-anaknya jika Maydea sampai kabur; paling-paling hanya dimarahi.
Maydea membuka pintu itu perlahan dengan perasaan yang waswas. Ia menatap langsung kedalaman mata Satria dengan ragu. "Ada apa, Ayah?" tanyanya.
"Kembalilah ...!" tutur Satria. Maydea yang mendengar itu, membuka lebar-lebar kedua matanya. Apa ia tak salah dengar? Apa Satria sudah menyadari kesalahannya dan ingin mengajak putrinya kembali ke rumah?
Maydea tersenyum. Namun ia melupakan fakta bahwa perkataan Satria terdengar ambigu. Ya—ini karena ia terlalu senang. Bayangkan saja kalian ada di posisinya.
"Minta maaf pada ibu tirimu—kamu sudah menyakitinya, May ...! Aku tidak bisa melindungimu terus dari istriku, jika kamu terus berbuat salah seperti itu," kata Satria dengan wajah serius. Maydea yang sadar pun merasa hatinya patah untuk yang ke sekian kali; dan itu karena ayahnya sendiri.
"Kenapa aku harus minta maaf? Aku tidak salah, Ayah ...!"
"Tapi dia menghukummu karena kamu salah."
"Dia menghukum dengan cara begitu. Wajar saja jika aku mencoba melindungi diri." Maydea menghela napasnya dalam-dalam, mencoba bersabar dalam menghadapi kebodohan Satria. Pria itu buta—hatinya gelap karena cintanya kepada seorang wanita.
__ADS_1
"Jangan begitu, Maydea ...!"
"Apa aku salah?"
"Sangat! Jelas kamu sangat salah! Karena itu kamu harus meminta maaf!"
"Aku tidak salah, Ayah!"
"Dia ibu sambungmu! Kamu sudah menyakitinya—jadi harus meminta maaf. Ayah tidak pernah mengajarimu begini. Harusnya kamu menghormati yang lebih tua! Ayah sudah bilang tidak akan melindungimu jika kamu salah. Kamu salah, dan karena itu Gayatri menghukummu—tapi kamu malah menghalalkan segala cara untuk menghindari hukuman itu, bahkan malah menyakitinya. Kamu harus belajar bertanggung jawab!" kata Satria, panjang lebar. Maydea menatap sang ayah dengan senyum kecut di bibirnya. Ia terluka dengan kata-kata itu. Ayahnya menyalahkannya tanpa melihat siapa yang sebenarnya salah.
"Ayah—" Maydea meneguk ludahnya kasar. Lidahnya terasa kelu, tapi ia harus mengutarakannya sekarang juga. "Aku menyakiti dia karena dia menyakitiku. Aku sedang berusaha melindungi diriku sendiri. Aku menolak hukumannya karena aku tidak salah—lalu kapan Ayah pernah melindungiku dari kemarahan Ibu?" katanya.
"Ayah memintaku untuk belajar bertanggung jawab; lalu bagaimana dengan Ayah sendiri? Mengusir putri kandungmu karena permintaan anak dan istri barumu—apakah itu bertanggung jawab? Membiarkan istrimu memukuli anak-anakmu—apakah itu bertanggung jawab? Seharusnya kamu mengaca, Ayah ...! Kamu panutan anak-anakmu. Jujur saja, aku malu memiliki seorang ayah yang menjadi budak cinta, bahkan sampai menutup mata atas perbuatan kriminal Ibu karena itu. Ayahku melindungi seorang kriminal. Oh, yang benar saja! Aku malu!" Maydea merasa kerongkongannya tercekat. Ia menatap Satria yang memandangnya tajam. Ketika menyadari sang ayah akan mengucapkan sesuatu, ia tak membiarkan. "Jangan menyela—jangan berbicara dulu, Ayah ...!"
"Maaf kalau menurutmu aku tak bisa menjadi putri baik versimu. Dan soal menghormati, aku akan melakukannya semampuku. Menghormati bukan hanya soal usia—kita harus menghormati sesama, siapa pun itu. Namun aku tak bisa menahan diriku jika ada yang melukai harga diriku atau orang-orang yang kusayangi. Aku memang masih muda, dan mungkin di hadapan kalian, aku seperti anak kecil; tapi aku juga butuh dihormati. Anak muda ini juga perlu dihormati dan dihargai—bukan hanya para orang tua yang membutuhkan itu," ungkap Maydea. Senyum tipis menghiasi wajah pucat gadis itu.
"Kami, para anak juga perlu didengarkan—dihormati dan dihargai atas pendapat dan pilihannya. Anak bukanlah boneka para orang tua; mereka, kami hidup." Maydea menghela napas. Netranya menyorot ke matahari yang akan segera tenggelam di ufuk barat sana.
"Ayah tahu—aku sedih ketika tahu Kak Gendhis tidak bisa masuk ke jurusan impiannya karena tidak diizinkan oleh Ibu. Dia pasti sangat kecewa. Aku bahkan lebih kecewa karena kalian tak mengizinkan aku melanjutkan ke perguruan tinggi. Tidak berguna katanya; tidak menjanjikan. Itu bagi kalian. Tapi bagiku, pendidikan apa pun itu, pasti akan sangat menjanjikan dan berguna, karena itu tergantung dengan bagaimana caraku memanfaatkannya. Masalahnya, baik Ayah ataupun Ibu, kalian sama sekali tidak mempercayai aku dan kemampuanku," kata Maydea, menyambungkan ucapan sebelumnya.
Maydea tampak merenung. Tatapannya kosong. Ia menatap dalam ke manik sang Ayah yang dulu selalu menatapnya penuh cinta dan kelembutan. Ia rindu itu.
Di satu sisi, Satria tampak tercengang dengan segala perkataan putrinya. Kalimatnya memang sangat panjang. Pasti melelahkan mengucapkan itu. Namun lelaki tersebut, cukup bisa meresapi sebagian maksud Maydea dengan baik. Sejenak, ia merasa kagum dengan kemampuan berbicara gadis itu.
"Aku sangat senang saat mengetahui kalian mengizinkan Raka memilih sendiri kampus dan jurusan yang akan ia ambil ke depannya. Dia berusaha untuk itu. Ayah ~ sejujurnya, aku sedikit iri. Ayah mau membiayai pendidikan untuk anak lain, tapi tidak dengan putrinya sendiri. Oh, ya—apakah Ayah tahu kalau Ibu pernah menghina aku dan Bunda?" Maydea menatap pria tercintanya dengan tatapan terluka. Sekali lagi—untuk yang ke sekian kali—ia merasa ayahnya terlalu banyak berubah.
Satria memalingkan wajahnya ke sisi lain—mencoba menghindari sorot dari mata beriris biru itu. "Jangan menuduh sembarangan, May ...! Gayatri tidak mungkin melakukannya," katanya, menolak percaya. Ia kembali memandang Maydea; kali ini dengan tajam.
"Tapi itu faktanya. Lihat—Ayah memang menutup mata, kan? Ayah hanya mau membela Ibu dan tidak mau mendengar cerita lewat sudut pandangku," sanggah Maydea. Mendengarnya, Satria hanya menghela napas. Agaknya, pria itu mulai merasa lelah mendengar kata-kata putrinya.
"Kamu berubah, May ...!"
__ADS_1
"Aku berubah? Ayah yang berubah! Ke mana ayahku yang dulu. Aku bahkan nyaris tak merasa mengenalmu lagi!" Maydea membalikkan tubuhnya. Kini, ia membelakangi sang ayah. Diam-diam, gadis itu mengusap air matanya yang hampir terjatuh.