
Kesokan paginya...
Chiko keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada, Vlad yang pada saat itu sedang menikmati sarapan pagi tertegun melihat perubahan bentuk badan anak laki-laki yang tadinya setinggi paha nya kini sudah bertambah tinggi, air teh yang Vlad tengah minum mengalir begitu saja ketika Chiko lewat di hadapannya. Chiko terus berjalan menuju lemari pendingin, ia mengambil sekotak susu full cream lalu menuangkan ke dalam gelas ukuran sedang. Chiko lantas duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Vlad yang masih termenung disana.
“Minum yang benar!” Tegur Chiko lalu meminum susu sekali tenggak.
“Apa yang kau makan tuan? Sampai kau tumbuh begitu cepat?” Tanya Vlad sembari membersihkan mulutnya dengan tissu kering.
“Aku makan makanan manusia” jawab Chiko datar seraya berlalu pergi.
“Wow...benarkah anak itu tumbuh tinggi hanya dalam jangka setahun?” Seru Vlad geleng-geleng kepala.
Chiko sudah berdandan rapih untuk pergi ke sekolah, saat ia hendak memasuki mobil, Alya tiba-tiba bersimpuh di kaki Chiko, hingga membuat Vlad dan Chiko terkejut.
“Maafkan aku tuan...maaf...” ucap Alya menangkup kedua telapak tangannya.
Chiko menyisir rambutnya ke belakang lalu berkata.”Tugasmu menjaga ibuku, masalah malam itu, tidak perlu kau pikirkan”
“Terima kasih” ucap Alya seraya berdiri.
“Hm...” sahut Chiko kemudian masuk ke dalam mobil.
“Tunggu tuan ku dua belas tahun lagi, ia pasti bisa menjadi kekasihmu” bisik Vlad sebelum masuk ke dalam mobil.
“Hahhhh!!!” Alya membuka mulutnya lebar-lebar.
“Haishhh...apa yang sudah aku lakukan pada anak kecil itu...hiks” runtuk Alya memukul kepalanya sendiri.
Alya Aourora adalah seorang wanita muda berusia 19 tahun, ia diperkerjakan oleh Chiko untuk Joana karena Alya memiliki skil bela diri dan juga cukup cerdas, Alya masih kuliah jurusan Ekonomi di salah satu kampus swasta di Amerika, pertemuan tak sengaja antara dia dan Chiko membawa berkah bagi kehidupannya karena dia adalah anak dari seorang buruh, sedangkan sang ibu hanya ibu rumah tangga biasa, untuk kuliah rupanya Chiko yang membiayai Alya dengan syarat Alya harus bekerja menjadi sekertaris Joana.
“Alya...apa kau sedang sakit?” Tanya Joana melihat wajah Alya yang pucat pasih.
“Hah...oh...aku hanya sedikit pusing karena semalam mabuk berat” jawab Alya.
“Istirahatlah...hari ini kau libur saja, suamiku yang akan menemaniku” titah Joana membelai lembut lengan kanan Alya.
“Terima kasih Bu...” ucap Alya menunduk hormat.
Joana melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, dia sangat sibuk sampai tidak menyadari saat Chaloretta datang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.
“Presdir sangat sibuk ya? Sampai tak tahu jika mantan Presdir sebelum kau sedang berada di rumah sakit!” Tegur Chaloretta sarkas.
“Oh...hmm...bukan urusanku!” Sahut Joana melirik sekilas pada Chaloretta yang menatapnya dengan tatapan tajam.
“Kau!!!” Chaloretta berlari kecil sembari mengacungkan pisau ke arah Joana.
Bugghhhh
Joana menendang perut Chaloretta tanpa beranjak dari duduknya.
“Huhkkhhhh...” Chaloretta terbatuk hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
“Ku beri kau satu kesempatan, jika kau ingin tetap hidup, maka keluar dari ruanganku dan lupakan rencana licik yang ada di otakmu atau aku akan membunuhmu sekarang juga!” Kata Joana menunjuk wajah Chaloretta dengan pulpen hitam yang ada di tangan kiri.
“Sebelum kau membunuhku, aku yang akan membunuhmu!!! Arrgghhhhhhhh...” Chaloretta bangkit seraya berteriak masih berusaha menusukan pisau ke mata Joana.
Bughhhhh...
“Arggghh...huhkkkk...huhkkk” Chaloretta menjerit dan kembali terbatuk.
__ADS_1
Joana berjalan ke arah Chaloretta yang sudah sekarat.
“Aku sudah memperingatkanmu Loretta!” Bisik Joana.
“Kaa...uuu....hahhhh.....” Chaloretta menutp mata.
“Ck...menyusahkan sekali!” Decak Joana.
******flashback on*****
Setelah Christofe melancarkan rencana nya, ia kembali ke mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ketika sampai di lampu merah tanda berhenti, ia tak mampu mengimbangi laju kendarannya, ia membanting stir hingga menabrak sebuah pembatan jalan lalu mobilnya pun terguling dan berbalik. Christofe dilarikan ke rumah sakit terdekat namun sayang ia mengalami patah tulang yang sangat parah hingga membuat ia harus berjalan dengan bantuan tongkat.
“Kau salah memilih lawan Christofe!” Kata tuan Rolls berbisik ke telinga Christofe yang berbaring lemah.
“Kau!!!” Christofe menatap geram pada Rolls.
“Hufff...sudahlah...jangan terlalu emosi, nanti kau malah cepat mati! Hehehe” Rolls tertawa kecil lalu pergi.
“Sialan!!! Tunggu kau Chikooooooo!!!!” Chistofe berteriak frustasi.
“Bukan Chiko yang harus mati tapi Joana yang harus mati!” Kata Chaloretta dalam hati
***********flashback on*************
Mayat Chaloretta dikembalikan ke kediaman Jeck Jesley, Jeck Jesley meninggal dunia begitu melihat mayat sang putri terlebih lagi polisi mengatakan jika Chaloretta korban pembunuhan, Joana mempertanggung jawabkan perbuatannya, berkat rekaman CCTV ia dijatuhkan hukuman ringan karena pembunuhan tidak di sengaja. Joana tidak menjalani hukuman kurungan penjara karena ia membunuh karena membela diri, kasus pembunuhan yang dilakukan Joana tergolong di tingkat tiga, tingkat paling rendah untuk kasus pembunuhan. Berkat jaminan dari tuan Rolls dan juga sang suami Archie ia terbebas dari hukuman penjara, di pengadilan Joana bernafas lega setelah melewati 3 bulan persidangan, hakim menjatuhkan denda pada Joana bukan kurungan penjara. Chiko senatiasa mendampingi sang ibu, ia merasa sangat bahagia karena ibunya tak jadi dihukum.
“Hiks...syukurlah...” ucap Chiko tanpa sadar memeluk Alya.
“Eh...” Alya termenung mematung.
“Maaf...” ucap Chiko seraya berlalu meninggalkan Alya.
“Hm...syukurlah...kali ini kita harus menghabisi mereka sampai tuntas!” Kata Joana seraya melirik Brenda.
Di Mansion pribadi Archie dan keluarga, Brenda terdiam mematung setelah ia menonton video dimana ia disetrum dan diperlakukan layaknya kelinci percobaan, tangan Brenda gemetaran ketika video menampilkan wajahnya yang di operasi plastik menjadi wajahnya saat ini, dia tidak ingat mendapatkan sedikitpun ingatan tentang dirinya walaupun sudah menonton video tersebut. Glenn menangis menyesal karena sudah percaya dengan apa yang ia lihat, ia benar-benar tidak menyangka jika sang istri tak benar-benar berselingkuh.
“Maafkan aku...maaf...maafkan aku Laudya...” ucap Glenn bersujud di kaki Brenda atau Laudya Gustaf Diamond.
“Tuan...maaf...aku tidak ingat apa-apa...” kata Laudya dengan mata berkaca-kaca.
“Obat yang digunakan untuk melumpuhkan ingatan nenek hanya bertahan 10-20 tahun saja, jadi nenek tenang saja ya...berangsur-angsur pasti nenek akan pulih...” kata Chiko mengusap punggung Laudya beberapa kali.
“Hiks...apa kau memang sungguh cucu kandungku? Ohhh God....hiks....hiks...” laudya memeluk Chiko dengan erat.
“Ibu...” panggil Archie menitikan air mata.
“Tuan...” Laudya merentang tangan pada Archie.
“Ibu...hiks...hiks....ibu...hiks...ibu...hiks....” Archie menangis sesegukan mengeratkan pelukannya pada Laudya.
“Tuan...hiks...putraku hiks...syukurlah...aku pikir aku akan mati tanpa seorang anak yang mendampingiku...hiks...hiks...” kata Laudya lirih.
“Laudya...jangan lupakan aku...” Glenn menepuk pelan pundak Laudya.
“Tuan...” desis Laudya.
“Aku bahagia kau kembali sayang...” kata Glenn tersenyum membelai pucuk kepala Laudya.
Brugghhhhhh...
__ADS_1
“Ayahhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!” Teriak Archie langsung mengangkat tubuh sang ayah.
“Tuan...auchhh...” Laudya terperosok ke lantai sembari memegangi kepalanya.
“Nenek!!!” Pekik Chiko.
“Laudya!!! Glenn!!!” Teriak Casanova dengan air mata mengalir deras.
“Ibu...ayah...” panggil Laudya pada Casanova dan juga Martine.
“Iya nak...” sahut kedua nya.
“Glenn...” Laudya menghampiri Glenn yang masih enggan membuka mata.
“Laudya...aku mencintaimu...” Glenn membuka matanya seraya membelai pucuk kepala Laudya.
“Aku juga...bawa aku bersamamu sayang...” sahut Laudya.
“Hm...” Glenn mengangguk lemah.
Laudya menyandarkan kepala di dada Glenn lalu menutup mata.
“Ibu...ayah...tidak...hiks...buka mata kalian...ku mohon...jangan tinggalkan aku ibu...ayah...argggghhhhhhhhh...” Archie berteriak di akhir kalimat.
‘Hiks..nenek...” Chiko menangis memeluk Laudya yang sudah tak bernyawa.”Kakek...hiks...hiks...” Chiko juga memeluk Glenn yang juga sudah meninggal dunia.
*********flasback on*****************
Berpuluh tahun yang lalu...
Laudya sedang merapihkan tempat tidur dengan perasaan bahagia karena sang putra menjadi juara pertama di kelasnya, tiba-tiba saja ada telpon masuk ia pun mengangkat gagang telpon rumah itu.
“Hallo...” sapa Laudya.
“Sayang...ayah sakit nak...” ucap seorang pria dari balik telpon.
“Ayah...” desis Laudya.
‘Jangan temui ayah! Jika kau masih bersama cecunguk itu!!!” Bentak suara pria muda itu pada Laudya.
“Ku mohon...aku ingin bertemu ayah...” kata Laudya menitikan air mata.
Laudya lantas memanggil tukang kebun nya lalu menjebak dirinya sendiri.
Plak
Glenn marah langsung menampar pipi Laudya dan mengusirnya.
Laudya buru-buru terbang ke Amerika namun sesampainya ia disana, ia dijebak untuk menanda tangani sebuah berkas pengalihan saham atas namanya yang diberikan oleh ibu Laudya padanya. Setelah itu ia pun disetrum dan disiksa pagi hingga malam hari selama 7 hari berturut-turut, karena tak juga mati, Christofe memutuskan untuk mengoperasi wajah Laudya.
“Buang dia kembali ke Swedia! Paham!!!” Titah Christofe.
Laudya tersadar sudah di dalam sebuah Apartemen kecil, ia tidak mengingat apapun yang terjadi padanya, ia melamar kerja di rumahnya sendiri sebagai seorang pengasuh dari putranya sendiri.
**************flasback off*************
Sebuah pemakaman di atas bukit telah terbaring jasad Glenn dan Laudya yang dikubur berdampingan. Seluruh keluarga Swandalas merasa sangat kehilangan mereka berdua, termasuk Chiko dan juga Joana, Chiko menangis tanpa suara sedangkan Archie meraung menangisi kepergian kedua orang tuanya, Joana selalu memeluk lengan Archie saat mereka di pemakaman sampai mereka tiba di rumah, sementara yang lain pulang ke Mansion, Chiko masih duduk di hadapan pusaran nenek dan kakeknya, disana-lah ia mulai menangis setelah tidak ada satu orang pun yang melihatnya. Chiko mengepalkan tangan kanan melepaskan amarahnya pada tanah rerumputan.
“Aku akan menghancurkanmu Christofe...tinggal kau saja!!!” Kata Chiko dengan derai air mata membasahi wajahnya yang tampan.
__ADS_1
To be countinued 15.