
“Awas kau nanti!” Ancam anak laki-laki itu lalu berlari.
“Terima kasih” ucap si anak perempuan yang tadi diganggu.
“Hmm...” sahut Chiko mengangguk lalu pergi.
Di dalam kelas, Chiko mengerjakan pekerjaan anak TK pada umumnya namun ia merasa bosan karena ia sudah mempelajari banyak hal, tak terasa waktu makan siang tiba, Chiko membuka bekal pemberian Joana lalu melahapnya, ia meraih smarphone miliknya, coba tebak apa yang ia buka? Ia membuka satu aplikasi yang ia buat sendiri, itu adalah aplikasi belajar bahasa Inggris, tanpa sepengetahuan Joana, Chiko bekerja paruh waktu di sebuah Perusahaan asing di Amerika, selama bekerja, ia tak pernah sekalipun ketahuan oleh Joana ataupun Brenda. Ia selalu bertingkah seperti anak kecil di depan Joana juga di depan Brenda, itu semua ia lakukan karena ia tak ingin jika Joana merasa cemas.
“Iya...aku sudah lihat, banyak yang mengunduh aplikasi ini, jadi seperti biasa, kirimkan uang ke nomor rekening ibuku” kata Chiko menelpon seseorang.
“Baik pak Chiko” sahut seorang pria dari seberang sana.
Brakkkk...Byuurrrr...
Seseorang mengebrak meja lalu menyiram bekal makan Chiko dengan air putih.
“Jangan sok keren! Mengerti!!!” Bentak anak laki-laki yang menyiram bekal Chiko.
Chiko berdiri sembari memakan habis makanan yang ada di dalam kotak makan siang nya.
“Kau pikir aku takut? Kau hanya anak bodoh dari seorang polisi, sedangkan aku adalah anak pintar dari seorang CEO M Chip Crop” kata Chiko sarkas.
“Kau menghina pekerjaan ayahku? Hahhhhh!!!” Teriak anak laki-laki itu lagi.
“Aku tidak menghina pekerjaan ayahmu, aku menghinamu...seorang anak laki-laki yang masih mengompol dan juga seorang anak laki-laki yang tidak punya masa depan” kata Chiko datar.
Chiko berjalan mengabaikan anak laki-laki yang menganggunya.
Tiba waktu sekolah usai, Chiko berdiri di depan pintu gerbang menunggu Joana, di saat ia menunggu, ada seorang pria yang mendekati Chiko, pria itu memakai setelan jas berwarna hitam, tanpa aba-aba, pria itu menggendong Chiko memasukan ia ke dalam mobil van hitam, Chiko masih dalam keadaan sadar hanya diam tak bergerak, ia memandangi satu persatu pria yang membawanya kala itu.
“Hei anak kecil! Kau tidak takut pada kami?” Tanya seorang pria pada Chiko.
“Untuk apa aku takut pada sekelompok sampah seperti kalian?” Jawab Chiko tersenyum smirk.
“Hahhhhh!!! Sialan kau!!!” Kata pria itu lagi.
“Stop!!!” Kata Chiko berteriak kencang.
Ckiittttt...
Mobil van hitam itu mengerem mendadak ketika Chiko berteriak.
__ADS_1
Bughhhh...
Chiko memukul tengkuk leher pria yang duduk di sampingnya lalu keluar dari dalam mobil.
“Sial!!!” Decak pria yang menyupir mobil.
Tiga pria berlari mengejar Chiko, mereka sangat kesulitan untuk mengejar Chiko yang berlari sangat kencang, Chiko tersenyum smirk seakan sedang bermain kejar-kejaran. Tak lama Chiko terperangkap di sebuah gang buntu.
“Mau kemana kau anak kecil?” Tanya seorang pria berambut cepak pada Chiko.
Chiko memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan sembari tersenyum.
“Maju!!!” Tantang Chiko dengan tangan seakan memanggil.
“Hahaha...bocah tengil!” Tawa ketiga pria yang berbeda model gaya rambut.
“Rasakan ini!!!” Seorang pria yang di kuncir separuh melayangkan tinju pada Chiko.
Bugh..baggg...baggg...
Chiko menendang perut pria yang menyerangnya itu lalu ia seperti berjalan di atas tembok, ia kembali menendang namun kali ini rahang pria yang berambut gimbal yang berdiri di samping pria berambut cepak.
Bughhh...
“Auchhh..sialan!!!” Pria berambut cepak itu meringis kesakitan.
Bughh...
Pria yang rambutnya di kuncir menyerang Chiko dari belakang sampai Chiko terjatuh.
Brugghhhh...
“Cih...kau tak malu menyerang anak kecil dari belakang?” Decih Chiko langsung balik menyerang.
Bukan hanya sekali tapi berkali-kali Chiko menyerang tiga pria yang hendak menculiknya itu, ia seakan lupa bahwa ia hanyalah anak kecil.
“Hoshhh...hahhhhh...sudah cukup! Okay!!!” Chiko menghelahkan nafas sembari menyandarkan punggung di tembok.
“Ampun!!! Ampun Tuan muda” kata ketiga pria itu menagkup kedua tangan mereka menghadap Chiko.
“Hahhh...kasih tau dia, jangan mengusik ibuku ataupun aku, kalau tidak, aku akan pergi langsung menemui dia dan membunuhnya dengan tanganku sendiri, bilang juga padanya, saham yang ku miliki di Perusahaannya aku beli dengan uangku, bukan uang keluarga itu! Paham!!!” Kata Chiko sembari merapihkan seragam sekolahnya.
__ADS_1
TINNN
Suara klakson mobil mengalihkan perhatian Chiko.
“Ayah!!!” Seru Chiko lalu berlari melompat ke gendongan sang ayah.
“Kau semakin lama semakin tinggi, kau tumbuh 1 senti setiap harinya ya” kata Archie tersenyum mengack-acak rambut Chiko.
“Hehehe...aku akan jauh lebih tinggi dari ayah ketika aku dewasa” kata Chiko tertawa pelan.
“Mereka???” Tanya Archie pada Chiko.
“Oh...mereka suruhan cecunguk gila, ayah!!!” Jawab Chiko.
“Hm...bawa mereka kembali ke Tuan mereka!” Titah Archie pada lima anak buahnya.
“Baik Tuan...” sahut lima bodyguard menunduk hormat.
“Sebelum pulang, bersihkan dirimu dulu, aishhh...ini juga tanganmu penuh luka-luka” kata Archie cemas melihat punggung tangan Chiko penuh darah.
“Ini bukan darah ku, ayah...ini darah mereka” kata Chiko menatap sinis ketiga pria yang ia hajar tadi.
“Whatttt!!!!” Pekik Archie melotot.
“Jangan melotot, ganteng ayah hilang nanti!” Kata Chiko dengan ekspresi datar.
“Astaga!!!” Archie tertegun.
Di dalam mobil Chiko membersihkan sendiri tangannya yang berlumuran darah, Archie semakin tak mengerti mengapa putranya yang selalu bersikap imut mendadak menjadi dingin dan tegas, tak nampak sama sekali raut wajah anak-anak saat Chiko sibuk dengan apa yang ia lakukan.
“Kemana perginya putraku yang imut itu?” Gumam Archie.
“Ayah..” panggil Chiko.
“Iya sayang...ada apa?” Sahut Archie lalu bertanya.
“Hmm...aku seorang jenius ayah, IQ yang ku miliki 250-300, itulah sebabnya, aku seperti ini, aku menyembunyikan hal ini dari ibu, sebenarnya saat aku berumur 1 tahun, aku sudah lancar bicara, aku berbohong pada ibu karena ibu tampaknya sangat bahagia saat aku berbicara tidak jelas” kata Chiko menunduk sedih.
“Hm...bagi kami...kau tetap putra kami yang imut sayang” kata Archie merangkul bahu kanan Chiko.
“Terima kasih ayah, kau memang ayahku, ayah tetrbaik bagiku namun bisa saja kau adalah pria terburuk yang pernah ditemui oleh ibu” Chiko tersenyum sinis menatap Archie.
__ADS_1
“Whattttt!!!!” Pekik Archie bingung.
To be continued 9.