Me and my son

Me and my son
8


__ADS_3

Malam indah dengan bintang bergemelapan, Joana dan Archie


masih menikmati waktu mereka bersama, tapi bukan berarti mereka melakukan adegan


seperti yang tadi pagi, mereka berdua hanya duduk di ayunan sembari menikmati


coklat panas karena udara sekitar sangat dingin jika di malam hari, balkon


depan kamar mereka sangat luas yang memungkinkan cukup banyak ruang untuk tiga


samapi empat orang. Archie menyadari satu hal, hal yang tak pernah ia rasakan


sebelumnya, bagi dia dulu sekali saat ia melakukan dosa keji pada Joana itu


adalah kali pertama ia melakukan hubungan **x dengan seorang wanita dalam kata


lain adalah ia melepaskan keperjakaan nya. Satu hal yang pasti kini ia rasakan


ialah perasaan bahagia bisa hidup bersama dengan wanita yang ia cintai, jatuh


cinta untuk kedua kali nya, ia rasakan pada Joana sang istri tercinta.


“Langit nya indah sekali...benar kan Tuan?” Tanya Joana


menatap ke atas langit.


“Hmm...Archie sayang...” kata Archie memeluk erat Joana


dari arah belakang.


“Eh...iya...maaf...” kata Joana memblushing.


“Memang indah langit malam ini...seindah wajahmu


sayang...” kata Archie mencium pucuk kepala Joana.


“Hm...ternyata kau memang CEO yang sedang jatuh cinta


ya...” Joana mencubit gemas pipi kanan Archie ketika membalikan badan.


“CEO jatuh cinta...hehehe” Archie terkikik geli.


“Hmm...benar...” Joana mengangguk.


“Chiko dimana ya? Dia belum menemui kita, aku sangat


merindukannya” kata Archie tersenyum tipis.


Brakkk


Pintu kamar terbuka, sosok yang dirindukan oleh Archie


berlari ke arah mereka.


“Ibu...ayah...” teriak Chiko.


“Hup...putra ayah...” Archie langsung menangkap Chiko,


menggendong Chiko dengan hati-hati.


“Ayah...aku kangen ayah” kata Chiko manja mengosok-gosok pipi


nya yang gembul pada pipi kiri Archie.


“Hahaha...aku juga sayang ku...” Archie tertawa seraya


mencium kening sang putra.


“Ibu...apakah Chiko tidak merindukan ibu? Huhhh...” kata


Joana merajuk.


“Oh...iya...aku juga kangen ibu kok, tapi kalu ibu aku


sudah sering bertemu, sedangkan ayah aku...snfff...” Chiko menunduk.


“Sayang...ibu hanya bercanda...” kata Joana membelai


kepala Chiko.


“Ibu...ayah...” Chiko menoleh ke arah Joana dan Archie


secara bergantian.


“Iya nak...” sahut Joana dan Archie.


“Janji ya...kita tidak akan berpisah


lagi...hiks...Chiko...hiks...Chiko sayang ibu dan ayah...” Chiko menangis


sembari mengacungkan jari kelingking pada Joana dan juga Archie.


“Ehemm...iya nak...snff...” Archietak kuasa menahan air mata


nya saat melihat putranya menangis.


“Maafkan ayah nak...karena terlalu lama menemukan


kalian...” kata Archie dalam hati.


“Iya...kita akan selalu bersama” kata Joana lalu mencium


jari kelingking Chiko.


“Hiks...hiks...janji ya...ibu...ayah...huwaaahhhhhhh...”


Chiko menangis memeluk ayah dan ibunya.


“Hiks...iya...janji sayang...maafkan ayah


nak...hiks...maafkan ayah...hiks...” Archie terus meminta maaf sembari memeluk


erat Joana dan Chiko.

__ADS_1


“Dan...maafkan aku Joana...hiks....hiks...maafkan aku...”


gumam Archie menangis sesegukan.


Tiga puluh menit kemudian.


“Sudah tidur?” Tanya Joana.


“Hm...biarkan Chiko tidur bersama kita mulai malam ini”


jawab Archie membelai sayang kepala Chiko yang tertidur pulas.


“Terima kasih...” ucap Joana dengan mata berkaca-kaca.


“Jangan menangis lagi sayang...kalian adalah harta


terindah untuk sekarang dan selamanya” kata Archie menangkup wajah Joana dengan


kedua tangannya yang kekar.


“Hiks...terima kasih Archie...” Joana memeluk erat


Archie.


Archie terkejut mematung tak bergerak.”Apakah aku berhak


atas ini Tuhan???” Kata Archie dalam hati.


“Sudah malam...tidurlah...aku masih ada sedikit


pekerjaan” kata Archie membelai lembut punggung Joana.


“Hmm...selamat malam” sahut Joana.


Joana berbaring di sisi kiri Chiko, ia memeluk putranya


itu lalu tertidur.


Archie memijat kening sembari menatap langit-langit yang


redup hanya tersisa lampu tidur saja yang menerangi. Dia mengingat kembali apa


yang ia lakukan pada Zezkya yang menipu nya selama enam tahun, ia tidak


menyangka jika ia bisa berbuat kejam seperti itu, begitu ia melihat berita di


salah satu situs berita online, seorang model bunuh diri menenggak racun begitu


isi berita tersebut.


Seminggu kepulangan Joana dari Rumah sakit, Archie pergi


ke Apartemen Zezkya, ia memutuskan hubungan mereka karena dia tahu jika selama


ini Zezkya sudah menipu nya mentah-mentah. Segala fasilitas yang ia berikan


pada Zezkya, ia ambil paksa semua itu tanpa terkecuali Apartemen yang selama


ini Zezkya tempati. Archie membawa pengacara sebagai saksi jika Apartemen yang


atas nama Archie sendiri.


“Archie...aku salah...ku mohon...jangan tinggalkan aku”


kata Zezkya menangis bersimpuh di kaki Archie.


“Pengacara ku akan menghubungimu nanti, kau kosongkan


tempat ini, malam ini juga! Aku pergi!” Kata Archie menepis kasar tangan Zezkya


dari kaki nya.


“Kalau kau meninggalkan aku, aku akan meminum racun ini


sekarang juga!” Ancam Zezkya.


“Silahkan! Aku tidak peduli” kata Archie acuh berlalu


pergi.


Archie mengira Zezkya hanya mengancam, mana-lah ia tahu


jika Zezkya sungguh-sungguh meminum racun tersebut dan merenggang nyawa. Archie


mendesah lelah kemudian ia tertidur dengan laptop yang masih menyala di samping


kiri meja panjang tempat ia bekerja tadi, Joana yang terbangun segera


merapihkan laptop dan juga beberapa berkas yang berserak di atas meja, ia


kemudian menyelimuti Archie, dengan perlahan Joana mencium kening Archie


kemudian kembali tidur.


Kesokan paginya...


Joana sibuk membuat sarapan pagi, ia membuat waffel dan


susu coklat juga teh untuk Archie. Sementara Joana membuat sarapan pagi, Chiko


bertugas membangunkan Archie yang masih terlelap dalam mimpi. Chiko menciumi


pipi Archie sampai sang ayah terbangun dari mimpi, Archie memeluk erat Chiko


lalu bangkit dari sofa.


“Ayah mandi dulu ya nak...” kata Archie.


“Okay ayah...muachhhh...” sahut Chiko mencium pipi Archie


kemudian berlari keluar kamar.


“Ayahmu sudah bangun nak?” Tanya Joana sembari menyusun

__ADS_1


sarapan pagi yang ia buat ke atas meja makan.


“Sudah ibu...” jawab Chiko.


“Biar nenek buyut bantu kau naik ke ata kursi” kata


Casanova sembari menggendong Chiko.


“Terima kasih nenek buyut” ucap Chiko tersenyum manis.


“Huuuhhhhhh...cicit ku sungguh sangat manis” seru


Casanova membelai sayang pucuk kepala Chiko.


“Nenek buyut lebih manis” sahut Chiko.


“Makan yang banyak ya sayangku” kata Casanova tersenyum


menahan tawa.


“Anak ini manis sekali mulutnya seperti Archie” kata


Martine tertawa kecil.


“Hahaha...iya...Archie sangat manis ketika ia masih kecil


tapi sekarang begitu pahit ketika ia mulai dewasa” tawa Glenn pecah mengiringi


langkah Archie yang memasuki ruang makan.


“Hm...tidak ada yang baik tentang aku di mata mu ayah”


kata Archie datar.


“Cih...memang kau sepahit sayuran pare” decih Glenn


memalingkan wajah ke samping.


“Sudahlah kalian! Makan yang benar!” Sentak Martine.


“Hahaha...ayah dan kakek seperti TOM and JERRY” kata


Chiko tertawa geli.


“Jangan meniru mereka berdua ya sayang” kata Martine


menahan tawa.


“Hehehe...tidak...aku tidak akan pernah bertengkar seperti


anak kecil, itu semua yang dilakukan anak kecil, bertengkar bukan hal baik


kakek buyut” sahut Chiko sembari memakan sereal rasa coklat.


“Hahahaha...benar-benar anak ayah kau nak...” Archie


tertawa lepas.


“Aku berharap...kebahagiaan ini tidak pernah berakhir”


kata Joana dalam hati.


Setelah sarapan pagi, Archie berangkat bekerja, sementara


Joana mengantarkan Chiko untuk pergi ke sekolah yang baru.


Setahun kemudian...


Chiko bersekolah di Taman kanak-kanak yang mempunyai nama


yang bagus di kota tempat tinggal mereka sekarang, Taman kanak-kanak ini salah


satu Taman kanak-kanak yang  menyediakan


fasilitas lengkap, disana juga mereka memperkerjakan guru-guru yang


berkompeten. Untuk Chiko memang luar biasa tingkat kecerdasannya, ia cocok


sekali untuk bersekolah di sekolah tersebut, putra dari Joana yang bernama Chiko


ini mulai berjalan di umur 7 bulan dan ia berbicara dengan sangat lancar di


umur 12 bulan, di umur 15 bulan, Chiko sudah pandai membaca, Joana mengetahui


anaknya pintar sangat bangga dan bahagia namun ada yang tidak ia ketahui


tentang anaknya ini, Chiko sebenarnya bukan hanya pintar tapi dia adalah anak


istimewah.


“Jangan mengganggu orang yang lemah!” Kata Chiko menatap


tajam seorang anak laki-laki yang sedang mengganggu anak perempuan di tempat


bermain.


“Jangan ikut campur anak payah!” Sentak anak laki-laki


yang berambut emas pada Chiko.


“Ku hitung sampai tiga, jika kalian tidak juga


mengembalikan tas gadis ini, kalian akan merasakan apa yang dinamakan sakit tak


berdarah!” Kata Chiko berdiri tegak.


Si anak laki-laki yang nakal tadi langsung ketakutan


begitu Chiko berdiri tegak, tinggi mereka terlihat sangat jauh, untuk ukuran


anak laki-laki berumur 6 tahun, tinggi badan Chiko sudah melampaui batas,


tinggi Chiko 145 cm dimana seharusnya anak berumur 6 tahun tak lebih dari 100

__ADS_1


sampai 130 cm.


To be continued 8.


__ADS_2