Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Jomblo 20 Tahun


__ADS_3

Viona terkejut. Sebagai seseorang yang telah menjomblo selama 20 tahun, wajahnya terasa panas karena menahan malu. Jangankan digendong seperti putri, berpegangan tangan dengan laki-laki saja ia tidak pernah.


"Tu-turunkan aku," ujar Viona mencicit pelan seraya menutupi wajahnya yang memerah.


"Tidak. Nanti kamu akan kabur lagi," Azve menatap Noemi yang duduk merasa lemas. Cahaya putih menyelimuti tubuh gadis itu karena Noemi sedang memulihkan diri dengan sihirnya. "Kau masih hidup, kan? Jangan sok lemah, Emi."


Noemi yang sebelumnya merasa lemas, kini kembali bertenaga karena emosi mendengar kata-kata Azve. "Sialan... Hei! Viona mau kau bawa kemana?!"


"Bukan urusanmu.”


“Ini jelas urusanku! Kak Elvo menyuruhku untuk menjaga Viona!” Mengabaikan omelan Noemi, Azve melangkah meninggalkan Noemi dengan Viona di pelukannya.


Saat ini, Viona masih terperangkap rasa malu. Tubuhnya sangat stabil berada di pelukan Azve, seolah-olah menggendong Viona tidak ada apa-apanya bagi laki-laki 13 tahun itu. Karena penasaran, Viona mengintip wajah Azve dari balik telapak tangannya.


Gadis kecil itu terkejut dan pipinya semakin memerah saat menyadari wajah Azve begitu dekat membuatnya menahan napas. ‘Bahaya bahaya, mukanya tipeku banget.’

__ADS_1


Ia tertampar kenyataan bahwa dirinya kini adalah seorang gadis berumur 12 tahun. Pada umur itu, Thalia bahkan tidak tahu mana laki-laki yang tampan mana yang biasa saja. Ia hanya tahu bahwa laki-laki adalah lawan yang bisa ia kalahkan dengan pukulan. Tidak mungkin dirinya memiliki perasaan di tubuh kecil ini.


Tidak tidak, sekarang bukan waktunya mengingat masa lalu yang kelam. Saat ini ia harus memikirkan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Viona ingat bahwa Azve mengatakan hal yang ganjil setelah memeluknya.


“eum… Azve?” laki-laki itu menoleh ketika mendengar namanya disebut membuat Viona terdiam sesaat namun pikirannya segera memukul perasaannya untuk berhenti terbawa perasaan, “Tadi… kenapa kamu tiba-tiba bilang tentang inti sihir?”


"Kamu bertanya karena tidak tau?" tanya Azve merasa heran. Kemudian argumennya akan suatu hal mulai terlihat jelas. "Kamu engga inget kejadian beberapa hari yang lalu di pesta ulang tahun puteri?"


"Ulang tahun puteri?"


Laki-laki itu hendak membuka mulut namun diurungkan sesaat sihirnya menyadari kedatangan seseorang. Ia membawa Viona dan mendudukannya pada bangku taman. Tanpa mengatakan apapun laki-laki itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan Viona.


"Eh?" Viona bingung dengan gerakan Azve yang tiba-tiba, ia menatap punggung Azve yang semakin menjauh dari pandangan. "Eeehh??"


"Kok... dia malah pergi?"

__ADS_1


"Siapa?"


"Kaget!" Viona segera menoleh ke arah lain dan menemukan kakaknya sedang berjalan mendekatinya. Victor yang melihat ekspresi terkejut adiknya yang terlihat menggemaskan itu pun terkekeh pelan.


"Kamu melihat apa sampai tidak sadar ada yang datang?" ujar Victor seraya duduk di samping Viona dan menatap ke arah pandangan adiknya sebelumnya.


"Tadi..." saat Viona kembali melihat arah kepergian Azve, tidak ada siapapun sejauh mata memandang, "loh kemana orang itu?"


"Orang itu siapa?"


"Namanya Azve, dia ngomongin tentang pesta ulang tahun puteri tapi tiba-tiba pergi gitu aja."


Saat itu, ekspresi Victor mengeras. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya dan menatap tajam arah itu. Hal itu membuat Viona merasa takut. Ia teringat bahwa orang di hadapannya ini akan membunuhnya suatu hari nanti. Karena rasa takutnya, Viona bergeser mundur untuk menjauhi laki-laki itu.


"Viona?" Victor yang melihat ekspresi pucat pasi di wajah adiknya merasa khawatir. Amarah di dadanya menghilang. Ia mencoba menyentuh dahi adiknya untuk mengecek keadaanya. "Kenapa? Mana yang sakit?"

__ADS_1


Viona melihat tangan yang datang hendak menyentuh kepalanya segera meringkuk ketakutan seraya melindungi kepalanya dengan kedua tangan. "Tidak! Jangan mendekat! Jangan!"


__ADS_2