Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Guru Menyebalkan


__ADS_3

“Ya ampun, Nona!”


Britta yang baru saja memasuki ruang kamar Viona, terkejut saat melihat nonanya berpenampilan mengejutkan. Lingkaran hitam tercetak di bawah mata bulatnya, air mata yang menggenang di pelupuk mata karena menguap, tak lupa matanya terlihat lelah dengan berbagai guratan merah.


Viona juga tidak menyangka, dirinya tidak bisa tidur sama sekali tadi malam.


Setelah Britta pergi meninggalkan kamar seraya mematikan beberapa lilin yang menerangi kamar, Viona yang terbungkus selimut sama sekali tidak bisa menutup mata. Ia begitu bersemangat menunggu hari esok, bisa dibilang, Viona tidak sabar?


Pikirannya melayang jauh memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan saat ia bertemu dengan gurunya besok.


Apa dia harus memberi hormat seperti putri-putri zaman kerajaan yang pernah ia lihat dulu? Bagaimana penampilan gurunya? Kakaknya bilang, gurunya agak menyebalkan. Apakah ia harus menahan diri saat merasa kesal dengan gurunya? Atau dia hanya perlu melampiaskannya?


Apakah… ia akan dikritik karena tidak mengetahui apapun?


Berapa kalipun Viona menghempas berbagai pikiran-pikiran itu dari kepalanya, bagaikan parasit, mereka terus kembali dengan berbagai pikiran yang lebih buruk lagi.


Alhasil, Viona pun hanya bisa fokus untuk menghitung banyaknya corak titik di selimut, corak di seprai, bahkan banyaknya benda yang ada di kamar. Saat di tengah-tengah ia kehilangan hitungan, Viona kembali mengulang dari awal.


Semua itu ia lakukan supaya pikiran-pikiran negatif, antisipasi akan hari esok, semangat yang menggebu, sekaligus rasa tidak sabar menunggu hari esok menghilang dari benaknya. Di sisi lain, ia juga berharap untuk segera mengantuk dan tertidur.


Hanya saja, semua itu sia-sia. Viona tidak tidur sama sekali semalam.


“Britta… aku engga bisa tidur tadi malem,” ujar Viona dengan nada yang lambat, menandakan bahwa ia mengantuk.


Britta tau bahwa Viona menjadi tidak sabar dan bersemangat, mengingat semalam matanya begitu berbinar saat meminta untuk belajar. Tapi ia tidak menyangka, Viona sampai tidak bisa tidur seperti ini.


“Apa saya harus meminta guru untuk kembali besok? Nona kelihatan mengantuk sekali…” ujar Britta khawatir.


Mendengar hal itu, Viona tersentak dari rasa kantuknya. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya membuat rambut hitam legamnya bergerak kesana kemari. Lalu ia bergegas memeluk kedua kaki Britta, “Jangaaaan, aku mau belajar sekaraaaang. Ya? Boleh yaaa?”


Viona merajuk dengan suaranya yang menggemaskan, membuat Britta luluh. “Kalau begitu, mari bersiap nona.”


Gadis kecil itu mengangguk dengan semangat.

__ADS_1


Britta pun membantu Viona bersiap-siap. Memandikannya, memakaikan baju kepada Viona, dan memberikan Viona sarapan. Untung saja, makanan yang diberikan Britta tidak sama seperti semalam. Jika tidak, Viona tidak yakin bisa menelannya saat ini.


Setelah menghabiskan segelas susu dan beberapa biskuit, Viona diantar oleh Britta ke ruang belajar.


Disana, Viona melihat seorang pria paruh baya duduk dengan elegan di salah satu sofa. Kacamata dengan bingkai berwarna hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Tangannya memegang cangkir teh, sesekali mendekatkan cangkir itu ke mulutnya dan menyesap teh tanpa suara.


Merasakan Viona memasuki ruang belajar yang dipenuhi dengan lemari buku, pria paruh baya itu tersenyum menyambut Viona. Ia meletakkan cangkirnya, berdiri, lalu memberi salam.


“Selamat pagi, Nona. Perkenalkan, aku Elvo Veiss. Dipercaya oleh tuan muda Victor sebagai guru Nona selama beberapa tahun ke depan.” Pria dengan senyuman secerah mentari itu menatap Viona lembut.


Hal itu membuat Viona ikut tersenyum saat melihatnya. Pria di hadapannya terlihat tampan sekaligus cantik. Jika rambut birunya panjang, Viona bisa salah mengenalinya sebagai seorang wanita.


Viona agak terpesona dengan wajah pria itu. Walaupun tubuhnya adalah anak-anak, jiwanya adalah gadis jomblo berumur 20 tahun yang mudah terpesona pada wajah tampan.


Gadis itu bingung, mengapa di surat yang ia terima semalam, kakaknya berkata bahwa gurunya agak menyebalkan. Dia terlihat seperti pria yang lembut dan ramah.


“Halo pak Veiss, saya Viona Liez. Mohon bantuannya,” ujar Viona seraya menunduk kepada Elvo.


“Tidak, tidak. Jangan panggil aku pak, Nona Viona.” Gadis kecil itu memiringkan kepalanya saat mendengar hal itu dari Elvo. Ia berpikir dalam hati, panggilan apa yang cocok untuk guru barunya itu.


“T-tuan?” tanya Viona ragu-ragu. Dengan cepat Elvo menggeleng.


“Sir?” Elvo masih menggeleng.


“Oh!” Elvo sangat mengantisipasi saran Viona yang mungkin sesuai dengan harapannya itu, “Paman Veiss!”


Jantung Elvo seolah tertancap oleh panah berduri yang tak terlihat. Sakit, namun tak berdarah. Elvo berdecak kesal karena murid barunya ini tidak bisa menebak dengan benar.


“Tidak, tidak. Nona Liez, Anda bisa memanggilku…” Elvo membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari jempolnya, kemudian mendekatkannya ke arah dagunya dan memberikan senyuman terbaik. “Kakak Elvo.”


Hening.


Britta yang baru saja akan menghangatkan teh, hampir menjatuhkan nampannya.

__ADS_1


Viona menatap Elvo dengan raut datar, dalam hati mendumal. ‘Om om ini tidak sadar umur, ya?’


Elvo menaik-turunkan alisnya, “silahkan Nona, panggil aku kakak Elvo¬. Mau kan ya? Pasti mau doong.”


Di saat Elvo masih menyuruhnya memanggilnya kakak, Viona tersadar. ‘Ah… benar apa yang dibilang kak Victor. Orang ini menyebalkan.’


Dengan terpaksa, Viona memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan kakak. Jika saja bukan karena ilmu yang ia miliki, tidak mungkin Viona mau menuruti kemauan Elvo.


“Baik, kak Elvo. Mohon bantuannya,” ujar Viona dengan senyuman yang terasa dipaksakan di wajahnya.


Britta yang melihat hal itu pun merasa kasihan. Ia tau bahwa Elvo Veiss, baron Veiss adalah pria yang sangat menyebalkan dan narsis. Walaupun begitu, pengetahuannya sangat luas dari berbagai bidang.


Beberapa keluarga berebutan untuk merekrutnya sebagai guru dari anak-anak mereka. Hanya saja, sikapnya yang pilih-pilih membuatnya menolak banyak tawaran.


Tentu saja, muridnya bukan hanya Viona saja untuk saat ini.


Mendengar Viona memanggilnya kakak, Elvo merasa sangat puas. Ia bertekuk sebelah lutut, mengulurkan tangannya kearah Viona, lalu tersenyum ceria.


“Tolong pegang tanganku, Nona Liez. Aku akan membawa kita ke kelas pertama.”


Viona menatap jari-jari lentik di hadapannya dengan ragu-ragu. Ia menatap Britta yang sudah kembali di sampingnya.


Palayan wanita itu mengangguk, mencoba meyakinkan Viona bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Oleh karena itu, Viona meletakkan tangan kecilnya di atas telapak tangan Elvo.


Tidak lama, Viona merasakan bau matahari sekaligus bau lautan saat dua jenis cahaya berwarna biru dan kuning menyelimuti.


Melihat Viona yang kebingungan dan menatap sihirnya dengan raut penasaran, Elvo memperingatkan Viona.


“Silahkan tutup mata, mulut, dan tahan napasmu, Nona Liez.”


Awalnya, Viona tidak mengerti kenapa. Tapi, beberapa detik kemudian. Viona menyesal tidak mengikuti ucapan Elvo.

__ADS_1


__ADS_2