
Sesuatu rasanya pecah sehingga membuat Viona merasa linglung. Perasaan itu menghilang bersamaan dengan hilangnya rasa sakit di tubuh Viona.
Mata Victor menatap Viona harap-harap cemas.
Apakah trauma Viona akan kembali?
Apakah Viona akan menyalahkan Victor karena meninggalkannya?
Apakah Viona akan membencinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu bercampur menjadi satu di pikiran Victor dan tercetak jelas di wajahnya tidak seperti biasa. Raut wajahnya yang selalu datar dan tak terbaca selalu hilang saat dirinya menghadapi Viona.
Di sisi lain, Viona menatap Victor dan Leili bergantian. Ia bingung.
“Apa… sudah?” tanya Viona kepada ibu tirinya.
Wanita itu mengangguk yakin. Tapi, Viona sama sekali tidak yakin. Ia menatap telapak tangannya yang telah lepas dari genggaman Leili. Lalu kembali menatap kedua keluarganya.
“Tapi… saya masih tidak ingat apa-apa?”
Selain rasa sakit akibat energi Leili serta perasaan seperti sesuatu pecah di pikirannya. Tidak ada yang lain.
Udah? Gitu doang?
Matanya membulat bingung dan mengedip pelan. Raut tak percaya terlihat jelas di wajah Viona membuat Leili terkekeh geli. Ia juga mendapat tatapan penuh tanya dari anak lelakinya.
“Ingat ini. Aku hanya membuka kunci. Ikan di lautan tidak bisa dimakan jika tidak ada yang mengambilnya,” Leili beranjak bangun dari kursi, “kamu perlu alat dan alat itu adalah energi sihir.”
Wanita itu beranjak dan melangkah meninggalkan ruangan seraya melambaikan tangan, “Selamat belajar, Nak.”
Hening.
“Ha?”
Viona mencoba memahami apa maksud dari ucapan ibu tirinya. Sementara itu, Victor yang sudah mengerti terkekeh tak percaya. Ia menatap adiknya seraya tersenyum pasrah, “Semangat ya, Viona.”
“Haaaaaaaaa?!”
****
Rintik hujan telah turun sejak pagi. Awan mendung terlihat menutupi langit kerajaan Kimkha, tepatnya di daerah kekuasaan Marquise Liez. Rasanya matahari tidak berani untuk memancarkan sinarnya hari ini.
Berbeda dengan keadaan di luar yang suram. Mansion Marquise Liez terasa hangat. Lampu-lampu dinyalakan dengan bantuan batu sihir. Baik di dalam mansion maupun di halaman, kediaman mewah ini terang dimana-mana.
__ADS_1
Hal ini tidak lepas dari fobia Marchioness. Wanita 35 tahun itu tidak tahan dengan kegelapan, terlebih di saat mendung di sertai hujan seperti saat ini. Oleh karena itu, tidak heran jika dia menggunakan batu energi dengan semena-mena.
Belum berakhir sampai disitu, para karyawan disini semakin meningkatkan loyalitas mereka karena fasilitas penghangat ruangan yang tersebar di setiap sudut mansion termasuk kamar pelayan. Mereka dapat tidur dengan nyaman bahkan di musim dingin sekalipun.
Terlepas dari suramnya cuaca di luar sana, Viona terlihat cerah berdiam diri di dalam kamar. Kamar yang berada di sisi paling kanan mansion ini terlihat berantakan dengan beberapa buku yang tercecer di sekitar kasur.
Pelakunya tidak lain si pemilik kamar.
"E... nergi? yang di...mi...li?ki sese...orang ber...beda-beda. Oke, terus apa lagi ini, melengkung-melengkung gini hadeh..."
Saat ini, Viona yang terlungkup di atas kasur sedang membaca buku sihir untuk pemula jilid 1.
Gadis itu sudah belajar membaca sejak pagi. Ia bisa mengenali tulisan di dunia ini karena huruf yang digunakan tidak berbeda dengan alphabet. Hanya saja, buku-buku ditulis menggunakan energi sihir.
Tulisan tegak bersambung yang berwarna-warni tercetak di atas kertas, Viona perlu waktu untuk membiasakan diri membacanya.
Oleh karena itu, Britta membawakan buku yang mudah dipahami.
"Kalo gini terus bisa-bisa mataku minus. Kenapa warnanya biru sih? Transparan lagi kertasnya," gerutu Viona disela-sela latihannya. Meski begitu, dia tetap lanjut membaca buku.
Semua ini bermula ketika Britta datang membangunkan Viona di saat fajar menyingsing. Britta juga menyampaikan bahwa Leili sudah mengirim surat kepada Elvo tentang kondisi Viona serta keinginannya mengambil kelas sihir.
Jawaban pun datang dengan cepat dari pihak Elvo.
Kelas sihir memiliki prasyarat sebelum siswa mengambil kelas tersebut. Mereka harus memiliki energi sihir minimal 200e, setara dengan energi yang dibutuhkan sebuah kereta sihir melaju selama 5 jam.
Jadi, disinilah Viona. Berkutat dengan buku-buku bertuliskan huruf alphabet tegak bersambung yang berwarna-warni sesuai dengan warna energi yang dimiliki penulisnya.
"Nona, waktunya makan siang."
"Um, nanti."
Mendengar jawaban itu untuk kesekian kalinya, Britta menghela napas.
Viona benar-benar fokus. Sepertinya, Britta harus membawa makanan ke dalam kamar karena Viona tidak peduli dengan perutnya yang bergemuruh meminta makan.
Sebelumnya saja, Victor yang datang memeriksa keadaan adiknya pun ditolak oleh Viona. Walapun alasan sebenarnya adalah Viona masih kesal dengan kakaknya.
Bagaimana tidak? Kakaknya menjanjikan bahwa dia akan menceritakan segalanya kepada Viona. Tapi begitu Leili membuka kunci ingatan Viona tadi malam, janji manisnya seolah hanya di mulut saja.
Ini lah itu lah, alasan.
Intinya Victor tidak ingin memberitahu kejadian sebelum Thalia masuk ke tubuh Viona. Apapun itu, hal yang terjadi pasti penyebab tubuhnya bergetar takut saat seseorang memegang kepalanya.
__ADS_1
Viona memiliki tebakan tapi ia perlu kepastian. Ia tidak yakin. Tapi kakaknya tidak ingin mengatakan apapun. Bahkan saat ia menagih janji pun, Victor mengalihkan topik dengan cepat.
Lalu, ia ingin bertemu Viona setelah semua penolakan itu? Cih, menyebalkan.
Saat itu.
'Tuk Tuk'
'Tuk Tuk'
Sekali dua kali, Viona masih bisa menahannya. Lagipula suara itu tidak terlalu jelas karena bersaing dengan suara hujan yang turun.
'Tuk Tuk'
'Tuk Tuk'
Hanya saja, mendengar suara itu diiringi suara kibasan sayap yang terkena kaca membuat Viona mau tak mau terganggu. Dia sedang sibuk membaca, apa tidak bisa membiarkannya sendiri dengan tenang?
Dia sudah tidak sabar mengambil kembali ingatannya!
Viona mau tidak mau menutup buku dengan kesal. Tapi tersentak saat ia sadar telah tidak sopan dengan buku. "Ah, maafin aku buku huhu. Kamu engga salah kok, maaf ya malah kesel ke kamu."
Mencium sampul buku dengan sayang lalu menaruhnya di atas kasur, Viona yang terganggu dengan suara mengetuk jendela pun menoleh ke sumber suara.
Ia melihat seekor burung mengetuk kaca jendela berkali-kali seraya mengepakkan sayapnya. Seolah-olah ia sedang berusaha menerobos masuk dengan tubuh kecilnya itu.
"Burung apa itu? Hujan-hujan begini kok bisa terbang di luar?"
Viona curiga. Aneh. Burung yang aneh.
Ia tidak ingat ada burung semungil dan seimut itu diceritakan di dalam novel. Tapi setelah dipikirkan, Leili sebagai ibu tiri Viona saja tidak diceritakan di dalam novel aslinya.
Apalagi seekor burung liat yang muncul di hari yang biasa ini.
Untuk memastikan keadaan, Viona berjalan mendekat.
Ia ingat perkataan Naya saat mereka selesai menonton film horor.
"Biasanya, orang yang penasaran terus nekat nyari tau tuh pasti pemeran film horor."
Untungnya, cerpen ini tidak bergenre horor. Jadi Viona dapat yakin untuk membuka jendela dan membantu burung berwarna navy bercorak ungu itu masuk ke dalam kamar.
"Cip, Cip."
__ADS_1
Viona menatap burung itu saksama. Ia tidak mempercayai matanya.
"Kok... corak ungunya gerak?"