Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Diterima


__ADS_3

Mungkinkah… itu surat permintaan maaf dari Baron Veiss?


Viona baru ingat, dia belum memberitahu bahwa tadi pagi ia meninggalkan rumah tanpa mengabari siapapun. Meskipun lebih tepatnya tidak mungkin memberitahu orang di mansion saat dirinya dibawa tiba-tiba oleh sihir Shona.


Leili menatap Viona setelah selesai membaca surat. Wanita itu mengerutkan dahinya, “Viona, kenapa kamu bertindak seolah tidak terjadi apa-apa?”.


“…Ya?” Viona terlambat menjawab, ia terlalu fokus pada pikirannya.


Surat di tangan Leili sudah terlipat dan tersisip dengan rapi di antara jari telunjuk dan tengahnya. “Baron Veiss meminta maaf karena tidak bisa menjaga bawahannya yang membawamu ke akademi tadi pagi. Kenapa kamu tidak mengatakan apapun?”


Tiba-tiba terdengar suara kursi yang berderit karena seseorang beranjak bangun. “Hoo… begitu.” Victor terlihat marah dengan aliran sihir berwarna merah keluar dari tubuhnya. Suhu udara di sekitar naik drastis akan kemunculan sihir Victor.


“Ka-kakak?” Viona tergagap melihat kakak yang marah untuk pertama kalinya.


“Aku akan pergi sebentar,” ujar Victor seraya melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia berniat untuk menemui baron Veiss dan meminta pertanggungjawaban dengan menggunakan kepalan tangannya.


Namun, hal itu dihentikan oleh ucapan Leili. “Jangan gegabah, Victor.”


Victor langsung tidak terima dan mengirimkan tatapan protes, “Tapi ibu.”


“Duduk dan dengarkan aku sampai akhir.” Hanya saja tatapan tajam Leili tidak bisa dibantah oleh Victor.


“Kakak…” terlebih wajah Viona yang terlihat pucat karena takut membuat Victor mengalah.


Victor menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Laki-laki itu menarik kembali sihirnya yang bocor lalu kembali duduk dengan tenang.


Melihat hal itu, Viona pun bernapas lega. Ia tidak tau apa yang akan kakaknya lakukan jika ibu tirinya tidak menghentikan Victor.


Benar rupanya, elemen sihir tidak berbohong. Viona teringat kalimat di salah satu buku yang ia baca baru-baru ini, buku itu mengatakan bahwa elemen sihir yang dimiliki seseorang mencerminkan kepribadian orang tersebut.


Meskipun Victor selalu terlihat lembut di mata Viona, tetapi api tetaplah api. Selain itu, seperti yang selalu orang lain katakan, marahnya orang sabar sangat menakutkan.


Viona berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat Victor marah, apapun itu alasannya.


“Jadi, apalagi yang dia katakan?”


Leili memasukkan kembali surat di tangannya ke dalam amplop lalu menyisihkannya ke tempat semula. Ia mengambil surat lain lalu menjelaskan seraya membuka amplop surat.


“Baron Veiss memberi hadiah untuk Viona dan memberitahu bahwa Viona diterima sebagai murid akademi saat tahun ajaran baru.”


Mendengar hal itu, Viona merasa bingung. “Jadi, aku tidak akan mengikuti tes penerimaan siswa baru?”

__ADS_1


Leili sudah membuka surat yang lain dan kini sedang membacanya. Oleh karena itu, ia hanya mengangguk singkat.


Mendengar hal itu Viona merasa lemas, “Tidak… kerja kerasku… kenapa tidak ada tes?” lirihnya pelan seraya menyender pada kursi.


Viona merasa kosong.


Viona, tidak, Thalia pernah merasakan hal ini di semester lalu. Dirinya sudah susah payah belajar untuk kuis minggu depan, tetapi hal itu dibatalkan karena harus mengejar materi yang belum selesai disampaikan. Teman-temannya bersorak riang karena tidak perlu kuis dan Thalia pun hanya bisa ikut-ikutan senang.


Padahal di dalam hatinya, ia merasa sedih karena merasa pengetahuannya tidak bisa diuji kebenarannya.


Victor yang sejak tadi memperhatikan Viona pun memanggil gadis itu.


“Viona, kenapa?”


Viona melirik Victor yang telah kembali tenang. Luar biasa memang. Padahal matanya baru saja terlihat membara seperti akan memakan orang, kini matanya kembali teduh setenang danau di tengah hutan.


“Itu…” ucapan Viona terhenti, ia menunduk merasa ragu. Perlukah ia jujur akan perasaannya? Tetapi ia takut dianggap sok pintar karena merasa sedih tidak ada tes.


Meskipun benar bahwa ia merasa sedih, ia tidak mau diolok-olok lagi.


Victor kembali memanggil Viona, “Viona, lihat kakak.”


Mendengar hal itu, Viona kembali menatap iris ruby milik kakaknya. Hangat. Tidak mungkin kakaknya akan mengolok-olok perasaannya yang tidak sama seperti kebanyakan orang. Benar, ia hanya perlu mengatakan apa yang ia rasakan.


“Hm… kakak tebak kamu belajar tujuannya buat ikut tes ya?” tanya Victor setelah beberapa saat memikirkan perkataan adiknya. Viona mengangguk dengan bingung, memangnya jika bukan untuk tes ada alasan lain?


“Menurut Viona, kenapa Viona mau ikut tes?”


“Karena jika aku tidak dites, aku tidak tahu apakah pengetahuanku benar atau salah.”


Victor menggangguk puas dengan jawaban yang diberikan Viona. “Begitu, lalu bentuk tes itu harus dalam tertuliskah?” tanya Victor lagi.


Pertanyaan itu membuat Viona terdiam.


Viona memikirkan alasan kenapa Elvo, Baron dari Veiss langsung menerimanya menjadi murid akademi. Saat itu, Shona mengatakan bahwa dirinya telah lulus dan diterima sebagai murid akademi. Prasyarat yang diberikan sebelumnya adalah Viona harus bisa membaca buku sihir.


Apakah… tulisan selamat belajar dan sukses yang terukir di tubuh Nana adalah tesnya? Karena Viona bisa membacanya, gadis itu langsung dibawa ke akademi.


“Ah, jadi itu tesnya.” Gumam Viona pelan. Hanya saja, Viona masih merasa tidak puas. Kurang afdal rasanya jika hanya tes seperti itu.


Melihat tatapan bingung dari Victor, Viona pun menjelaskan kejadian pagi ini. Setelah itu, meski ditahan Victor masih terlihat marah.

__ADS_1


“Begitu rupanya, nah… kalau kamu masih kurang puas tanyakan saja kepada orang yang memberimu tes. Atau kalau mau kamu bisa meminta tes ulang.”


Mata Viona berbinar mendengar hal itu, “Benarkah?”


Victor mengangguk, “Walaupun begitu, menurut kakak kamu sudah lulus. Tanpa tes pun, pengetahuan kamu sudah benar. Setiap hari kamu selalu membaca buku di depan ibu dan aku, kan? Saat kamu kurang tepat pun ibu akan mengoreksinya.”


“Jadi, untuk membaca buku sihir, kamu sudah lulus.” Victor tersenyum lebar, “Selamat sudah menjadi murid akademi, Viona.”


Senyuman Victor menular pada Viona yang melihatnya. “Terimakasih, Kak!”


Matanya melengkung membentuk bulan sabit. Mendengar hal itu membuat Viona merasa lebih baik. Ia mungkin kurang puas, tapi untuk sementara gadis itu akan menahannya.


Dari sisi positifnya, Viona sudah menjadi murid akademi sekarang.


“Ibu, kapan aku akan belajar?”


Viona dan Victor yang selama ini berbincang berdua, kini mengalihkan pandangan ke arah Leili. Mereka tidak sadar akan perubahan ekspresi di wajah ibunya.


“Ibu… ibu sakit?” tanya Viona yang menyadari ada raut kemerahan di pipi ibunya.


“Oh? Aku tidak, benar apa yang kau tanya tadi?” Leili segera melipat kertas di tangannya lalu menepis hal yang mengganggunya tadi.


Viona mengabaikan tingkah aneh ibu tirinya, lalu mengulangi pertanyaannya tadi. “Kapan aku belajar ke akademi, Bu?”


“Pada saat pergantian musim, sekitar dua bulan lagi.”


“Lama sekaliii,” Viona kembali murung, “apa yang harus kulakukan sampai saat itu?”


Leili tersenyum tipis, seolah sudah merencanakan hal-hal untuk Viona kedepannya. “Tenang saja, kamu akan sibuk untuk sebulan ke depan.”


Viona mendongak dan menatap ibu tirinya dengan bingung.


Leili mengambil amplop berlapis warna emas dengan tinta pengirim yang berkilauan. “Kita diundang ke pesta kemenangan di ibukota sebulan lagi. Jadi kamu harus belajar etika dan menari sampai saat itu tiba.”


Kemudian Leili beranjak bangun. Entah kenapa Viona merasa Leili terlihat lebih riang daripada biasanya. Kedua alisnya tidak berkerut tajam.


“Apa artinya ayah kembali?” tanya Victor dengan raut bahagia.


“Tentu, dia kembali membawa kemenangan untuk kerajaan.”


Ayah.

__ADS_1


Regan Cane Liez. Marquis Liez sekaligus komandan pasukan perbatasan yang memimpin perang dengan wilayah barat.


Viona merasa berkeringat dingin. Ia akan bertemu dengan ayahnya. Pria yang mengurung Viona ke dalam penjara bawah tanah.


__ADS_2