Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Belajar Karena Tidak Tahu


__ADS_3

Dua pasang mata beriris ruby menatap Viona secara bersamaan. Satu dari Victor yang tersenyum hangat, satu lagi dari wanita yang duduk di ujung meja berhadapan langsung dengannya. Viona merasa bahwa dia adalah ibu Victor sekaligus ibu tirinya.


“Duduk,” tanpa menerima salam dari Viona, Leili menyuruh gadis itu dengan acuh.


Sejak memasuki ruang makan, Viona merasakan suasana tak bersahabat menyelimuti mereka berdua. Ditambah perintah yang datang tiba-tiba, membuat Viona gugup dan hampir tersandung kakinya sendiri.


Untungnya, dia sigap dan melangkah seolah tidak terjadi apa-apa.


Tangannya menggenggam erat sisi gaun, ‘Tenang, Viona tenang. Mereka sama-sama orang, tenang. Mereka engga gigit kok, paling melotot doang.’ Pikirnya dalam hati, terus menerus menenangkan diri.


Di sisi lain, langkah Viona terhenti. Gadis itu tidak tau harus duduk dimana. Ia tidak ingat apapun dan juga tidak diberitahu tentang hal ini.


Melihat kegelisahannya, seorang pelayan pria maju dan menarik kursi di samping kiri Leili sekaligus berhadapan dengan Victor. Wajah Viona menjadi cerah, ia berterimakasih sebelum duduk di kursi itu.


“Tidak perlu sopan, Nona. Sudah kewajiban saya membantu Anda,” ujar pria tua itu membuat Viona semakin tersadar bahwa ini bukan lagi dunianya.


“Ah… um,” balas Viona seraya mengangguk. Ia melirik ibu dan kakak tirinya secara bergantian lalu menunduk menatap piring yang kosong.


“Sajikan makanannya,” sekali lagi ucapan perintah keluar dari Leili.


Pelayan dapur segera masuk dengan troli yang berisi makanan. Mereka dengan sigap menaruh makanan di atas meja. Meletakkan gelas anggur serta menuangkan minuman merah itu di depan Leili.


Viona takjub melihat betapa teratur pergerakan para pelayan itu dalam bekerja. Ia baru bisa mengalihkan pandangannya ketika pelayan di sampingnya menawarkan minuman.


“Nona, apakah Anda ingin air perasan jeruk seperti biasa?”


Gadis itu mengangguk, dituangkanlah air perasan jeruk ke dalam gelas milik Viona. Ia menggaris-bawahi dua kata terakhir dari pelayan itu.


‘Sepertinya Viona yang dulu menyukai air perasan jeruk, sama sepertiku.’ Pikirnya dalam hati.


Selain itu, makanan yang tersaji di dekat piring Viona adalah daging sapi serta sayur-mayur kesukaannya. Seafood yang tak ia sukai berada jauh dari jangkauan. Tetapi Victor memakannya tanpa sungkan dan bahkan tidak menyentuh makanan kesukaan Viona sedikitpun.


Jika tebakan Viona benar, maka tidak ada masalah untuk kedepannya. Ia bisa melakukan hal-hal yang disukai tanpa perlu dicurigai bahwa ia bukan Viona yang sebenarnya.


Meskipun begitu, tidak ada salahnya berhati-hati. Viona perlu mengamati lebih lanjut tentang preferensi pemilik tubuh asli ini.

__ADS_1


Makan malam pun dimulai tanpa kendala. Selain tatapan milik Leili yang terkadang membuat tak nyaman, Viona puas dengan makan malam ini.


Gadis kecil itu melahap makanan tanpa segan. Pikiran tentang etiket atau apapun itu menghilang dari kepalanya saat matanya melihat makanan.


Ia lapar. Makanan ada di depan mata.


Rasanya sudah lama ia tidak memakan makanan rumah seperti ini.


Makan malam utama telah berakhir, kini dessert mulai disajikan. Viona tidak terlalu menyukai makanan manis tapi sepertinya Victor menikmati hal itu. Di sisi lain, Victor memindahkan ceri dan buah-buahan masam. Hal itu baik bagi Viona karena ia menyukai keduanya.


Di saat Viona dan Victor sibuk berbagi makanan penutup, Leili menyingkirkan seluruh pelayan di dalam ruangan sehingga hanya ada mereka bertiga di dalam.


Leili angkat bicara setelah sekian waktu diam mengamati kedua anak ini.


“Kudengar, kamu menjadi murid baron Veiss?” tanya Leili seraya menyesap wine di tangannya.


Viona tersentak saat menerima pertanyaan dari ibu tirinya. Victor melihat hal itu, “Begini bu,” ia hendak menyela tapi langsung dibungkam oleh tatapan tajam Leili.


“Aku bertanya pada adikmu,” tatapannya kembali diarahkan ke Viona, “jadi? Aku tidak suka mengulang pertanyaanku.”


‘Aku bisa, aku berani, ayo semangat Viona. Anggap saja aku sedang melakukan presentasi di depan dosen killer.’


“Iya, bu. Saya akan belajar dengan Kak Elvo,” mendengar jawaban Viona, Leili tertawa. Tawa keras Leili membuat kedua anak di hadapannya saling menatap kebingungan.


“Bocah itu masih menolak menjadi tua rupanya,” tawanya perlahan berhenti, lalu Leili menatap Viona, “lalu, apa yang kamu pelajari?”


Iris coklat menatap Leili dengan penuh tekad, “Saya ingin belajar sihir.”


“Sihir?” salah satu alis Leili terangkat, “kudengar kamu bahkan tidak bisa melakukan apapun dengan energimu. Tapi,”


Tawa kecil meremehkan lolos dari bibir wanita itu, “kamu ingin belajar sihir?”


Viona tersenyum, ia mengabaikan kalimat merendahkan itu dan menjawab dengan tegas. “Saya ingin belajar sihir karena saya tidak tau apapun tentang itu, Bu.”


Tentu, untuk apa belajar jika sudah mahir akan segalanya. Viona, lebih tepatnya Thalia memiliki dasarnya di masa lalu. Jangan lupakan bahwa Thalia adalah mahasiswi jurusan matematika.

__ADS_1


Dia yakin bahwa sesuatu di dunia ini, pasti bisa dipecahkan dengan logika matematika. Bahkan sihir sekalipun. Ia sangat yakin akan hal itu.


Di dunia yang penuh dengan sihir, langkah pertama yang harus Viona capai adalah menguasai sihir.


Di dalam cerpen, Viona tidak bisa keluar dari penjara karena borgol yang menahan energi dari dalam tubuh. Jika Viona bisa mahir dalam sihir, ia pasti tahu apa kelemahan benda sihir manapun yang mungkin menghalangi jalannya.


Oleh karena itu, sihir sangat penting bagi Viona.


Leili tersenyum masam, “Baiklah, kalau itu maumu.” Menenggak tetes terakhir di gelasnya, Leili melanjutkan, “aku suka tatapanmu itu.”


Wanita itu meletakkan gelasnya lalu mengulurkan tangan, “letakkan tanganmu, aku ingin memberi hadiah.”


Melihat hal itu, Victor tiba-tiba berdiri dengan panik. “Ibu!”


“Diam Victor, adikmu bukan lagi anak kecil.” Mata Leili menatap Viona dengan lekat, “kamu pikir aku akan percaya kamu kehilangan ingatan? Ck, omong kosong.”


Jantung Viona berdetak kencang, “A-apa?”


Keringat dingin menyelimuti tubuhnya, ia bahkan tidak sadar telah menahan napas. Apakah ibu tirinya tahu bahwa dia bukan Viona yang asli?


Namun…


“Pria tua sialan itu mengunci ingatanmu dengan dalih menjijikan,” kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, “ibumu yang baik hati ini akan membuka kunci ingatanmu, kau siap?”


Viona menghela napas lega, ternyata bukan seperti apa yang ia pikirkan. Syukurlah.


Pikiran Viona kembali fokus. Dari ucapan ibu tirinya, ingatannya dikunci sehingga ia tidak memiliki sedikitpun informasi tentang Viona. Ini kesempatan yang bagus.


Viona mengangguk mantap. Ia melirik kakaknya yang terlihat pucat dan khawatir. Melihat hal itu, Viona tersenyum mencoba menenangkan.


“Saya siap, Bu.” Viona berkata seraya meletakkan tangannya di atas telapak tangan Leili. Setelah itu, rasa panas menyengat menyelimuti tangan Viona sehingga gadis itu meringis pelan.


Rasa panas itu mulai menyebar dan terpusat pada kepalanya.


“Ini akan sedikit menyakitkan.”

__ADS_1


Sedikit? Viona ingin membalikkan meja dan melantangkan rasa keberatan akan hal itu. Apanya yang sedikit sakit?! Ini sangat menyakitkan!


__ADS_2