Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Ini (Bukan) Dunia Mimpi


__ADS_3

Laki-laki itu tersentak saat nama panjangnya disebutkan oleh Noemi. Alisnya mengerut perlahan seiring dengan tatapannya yang tajam. “Apa? Kenapa kau memanggilku seperti itu?”


Noemi beranjak bangun. Ia melangkah mendekati teman sebayanya itu. Sebelumnya, Noemi sengaja memanggil nama lengkap Azve karena dia tau bahwa laki-laki itu benci jika namanya dipanggil secara lengkap. “Hei,” Tangannya segera menarik kerah seragam Azve dengan ceroboh. “kau tidak sadar hampir mencelakai kami, ha?”


Azve menepis tangan Noemi dengan mudah seolah kekuatan yang ia kerahkan bukan apa-apa. “Aku sudah minta maaf, kan. Tidak cukup?”


Sikapnya yang acuh tak acuh membuat Noemi semakin kesal. Tangannya mengepal kuat. Jika saja, jika saja ia bisa memukul anak laki-laki berumur 13 tahun di hadapannya ini dengan sekuat tenaga. Jika saja ia lebih kuat dari murid yang mahir di setiap kelas di akademi ini dan mengalahkannya. Jika saja laki-laki ini bukan—


Tiba-tiba, Noemi mendengar rintihan dari belakang tubuhnya. Ia lupa, “Viona!”


Berbeda dengan Noemi yang panik karena mendengar rintihan sakitnya, Viona terdiam menatap tangannya yang tergesek tanah. Guratan merah muda terlihat jelas di telapak tangannya yang putih. Rasa sakit yang berdenyut-denyut terasa diiringi sedikit darah yang keluar melalui luka.


Viona merasa terpukul.


Ia… merasakan sakit.


Ingatan akan pertemuan pertamanya dengan Victor terlintas dibenaknya. Saat itu ia merasakan sakit yang menyiksa tetapi kenapa ia baru ingat sekarang?

__ADS_1


Tangan Viona menyentuh kepalanya secara perlahan.


Ia baru ingat. Saat itu, rasanya benar-benar sakit seolah isi kepalanya tercabik-cabik. Lalu tangannya yang tergores kerikil ini membuat Viona kembali mengingatnya. Gadis kecil itu mendongak menatap raut khawatir di wajah Noemi dan tatapan penasaran laki-laki di belakangnya.


“Nama laki-laki itu… Azve.” gumam Viona pelan.


“Kemudian… namaku adalah Viona.”


“Nama kakak laki-lakiku Victor.”


“Bicara apa dia?” tanya Azve kepada Noemi di hadapannya. Hal itu langsung dibalas dengan lirikan tajam dari Noemi. Mengisyaratkan supaya laki-laki itu diam.


"Kak Noemi…” Viona bingung. Ia yakin bahwa semua ini hanyalah mimpi. Mimpi tentang cerpen yang semalam ia baca saat menemani temannya bekerja di malam hari. Cerpen yang membuatnya merasa sedih dan meneteskan air mata karena kematian pemeran utamanya. Ia pikir, ini hanyalah keinginannya yang diwujudkan dalam mimpi. Dirinya yang berandai-andai menjadi Viona, memikirkan cara lain supaya terbebas dari akhir yang menyakitkan, lalu diwujudkan dalam mimpi ini.


Tapi, tiba-tiba ia merasakan sakit. Rasa sakitnya sangat nyata sehingga pemikirannya bahwa ini hanyalah mimpi runtuh seketika.


“…ini semua bukan mimpi?” air mata menetes di pipi Viona, jatuh dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Matanya bergerak liar melihat sekitar. Udara yang ia hirup. Pemandangan yang terlihat sejauh mata memandang. Panas dari matahari yang bersinar terang. Semua ini terasa nyata. Kenapa ia tidak menyadarinya?


Tapi tidak mungkin ia berpindah ke tubuh anak kecil. Tidak mungkin seorang mahasiswa berumur 20 tahun berpindah ke tubuh anak kecil berumur 12 tahun. Tidak mungkin Thalia yang nyata menjadi Viona yang hanyalah tokoh di sebuah cerpen.


Ia pasti sudah gila.


Viona tiba-tiba bangun dan berlari. Ia takut. Jika ia benar-benar menjadi Viona Liez dari cerpen yang ia baca, ia pasti mati! Inti sihirnya akan diambil oleh kakaknya dan ia pasti mendapatkan akhir yang buruk. Ia tidak ingin ada di tempat ini. Ia tidak bisa menerima semuanya. Viona, tidak, Thalia ingin kembali ke dunianya!


“Viona!”


Noemi yang berhasil mengejar, mencoba menahan Viona dengan menyentuh tangannya. “Jangan ikuti aku!” Tetapi gadis kecil itu menepis tangan Noemi dan tanpa sadar melepaskan energi sihir yang menyerang Noemi.


Mata Noemi membulat, napasnya tercekat seolah-olah seluruh organ pernapasannya berhenti bekerja. Kakinya berlutut tak bertenaga, tangannya meremas dadanya yang terasa sakit.


Viona terkejut melihat Noemi yang kesulitan menarik napas. Rasa takut semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. Pikirannya yang panik membuat aliran sihirnya tidak normal. Ia ingin membantu Noemi, tapi ia ketakutan.


Saat itu juga, Viona merasakan angin sejuk yang datang berhembus menerpa kulitnya. Entah kenapa, tekanan di sekitarnya menghilang. Noemi tidak lagi tercekat dan kini tengah terbatuk karena menarik napas sebanyak mungkin.

__ADS_1


Viona merasakan angin itu membentuk bola yang menutupi seluruh tubuhnya, menenangkan pikirannya yang kacau, meredakan gejolak emosi di benaknya, lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke pelukan hangat seseorang.


“Tenanglah, tidak ada yang akan mengambil inti sihirmu.”


__ADS_2