
Mason Regan Assefa. Duke Assefa saat ini sekaligus kakek dari Viona.
Meski sudah berusia lanjut, tubuhnya tetap tegap tanpa adanya sedikitpun kemunduran. Warna rambutnya didominasi warna perak, meski masih ada beberapa helai rambutnya terlihat berwarna hitam.
Janggut yang tumbuh di sekitar wajahnya yang keras akibat akumulasi pertempuan pun memiliki warna yang sama. Hanya kumisnya didominasi oleh warna hitam ketimbang putih.
Alis yang menukik tajam ke dalam serta sorot mata yang tenang membuatnya semakin terkesan tak tersentuh.
Layaknya seorang pemilik gelar duke yang telah diturunkan selama berabad-abad, aura yang dipancarkan tubuhnya sudah cukup membuat Britta merasakan tekanan akan rasa takut yang kuat.
Pelayan yang selalu berada di mansion perbatasan, mana mungkin bisa menghadapi hawa kehadiran Duke Assefa. Tubuh Britta seolah terkena gravitasi yang sangat kuat sehingga sulit untuk bangun dari salamnya.
"Yang mulia, saya mohon tarik kembali aura Anda. Maaf atas kelancangan saya tapi saya khawatir Nona tidak dapat mengatasinya," ujar kepala pelayan setelah menguatkan mentalnya menggunakan energi sihir.
Duke melirik ke arah kasur dimana Viona tertidur dengan napas tersenggal. Bahkan Viona yang tengah tidak sadarkan diri merasakan tekanan aura yang menyelimuti kamar ini.
Duke segera menarik auranya yang tidak sengaja bocor, "Ck, lemah."
Saat itu juga, udara di dalam kamar Viona menjadi lebih ringan, Britta sekuat tenaga menahan batuk di ujung bibirnya. Dia tidak ingin menambah kesal Duke saat ini.
Duke melangkah mendekati Viona. Belum sempat penguasa itu melangkah lebih jauh, Viona yang baru saja tenang kini kembali bernapas dengan berat. Mungkin tubuhnya secara otomatis merasakan kekuatan besar dari Duke yang tidak mampu ia tahan.
Langkah kakinya terhenti, lalu dengan cepat ia berbalik keluar. Bisa diperkirakan bahwa wajah keras itu sedang menahan amarah. Entah kepada siapa amarah ini diarahkan. "Awasi dia dengan benar," ujar sang Duke sebelum pergi dari kamar cucunya.
***
Viona bangun keesokkan paginya. Pemulihannya lebih cepat karena mansion Liez kedatangan tamu tak terduga. Seorang peri penyembuhan terbaik di ibukota datang dan menyembuhkan Viona.
Sejujurnya, Viona yang mendengar cerita dari Britta merasa janggal. Pasalnya, kedatangan peri penyembuh di mansion Liez ini penuh dengan kebetulan.
Tidak lama setelah Duke Assefa pergi meninggalkan mansion, kebetulan hujan turun dengan deras.
Sang peri kebetulan terjebak hujan dengan kereta yang kebetulan rusak dan kebetulan melewati mansion ini. Lalu hal kebetulan lainnya adalah seorang pelayan yang keluar untuk membersihkan taman dekat gerbang melihatnya dan menawarkan peri itu untuk berteduh di dalam mansion.
Lalu kebetulan peri itu ternyata adalah peri penyembuh dan kebetulan mendengar cerita dari pelayan bahwa cucu termuda Duke Assefa sedang terbaring sakit. Oleh karena itu, Viona disembuhkan olehnya dan selang beberapa jam mereka duduk berhadap-hadapan sembari meminum teh.
__ADS_1
“Jadi, kesimpulannya Anda kebetulan saja merawat saya, Nona Elf?”
Senyuman lembut dan hangat bagaikan sinar mentari di pagi hari terbit di wajah putih elf perempuan itu. “Benar, Nona Liez. Tolong santai saja dengan saya, panggil saja Elxina, Nona.”
Mereka berdua sedang menikmati teh sebelum peri bernama Elxina ini pergi untuk melanjutkan perjalanannya.
“Nona Elxina,” Viona ingin bertanya lebih lanjut untuk meredakan rasa janggal di hatinya.
Meskipun begitu, Viona bersyukur akan kedatangan Elxina di mansion ini dan menyembuhkannya. Entah apa penyakit yang ia derita sehingga jatuh pingsan dua kali. Memikirkan lebih jauh, Viona merasa tidak sopan melakukan interogasi kepada penyembuhnya.
“Saya ingin berterimakasih atas bantuan Nona Elxina,” Viona menunduk dalam langsung dihentikan oleh Elxina.
“Nona Liez,” sontak Elxina menahan supaya bangsawan di hadapannya tidak menundukkan kepalanya, “tidak perlu menunduk seperti itu di depan saya, Nona. Sungguh, saya melakukan ini murni untuk membalas budi,” setelah memastikan bahwa Viona tidak lagi menunduk, Elxina menghela napas lega.
Ia melanjutkan perkataannya, “saya mungkin jatuh sakit di tengah hujan badai jika tidak dipersilahkan masuk ke dalam mansion yang sangat nyaman ini. Sebagai seseorang dari ras elf, saya merasa tidak pantas jika tidak membalas kebaikan nona.”
“Tapi,” Viona kini merasa tidak nyaman akan pernyataan balas budi yang menurutnya terlalu berlebihan, “orang yang membawa Nona Elxina masuk bukanlah saya. Tetapi seorang pelayan, saya rasa saya perlu membalas kebaikan Nona karena telah menyembuhkan saya.”
“Kebaikan pelayan diturunkan dari kebaikan tuannya. Nona, saya harap Anda tidak terlalu rendah hati untuk mengakui kebaikan yang telah saya terima ini.”
Akhirnya Viona mengalah, “Baiklah, Nona Elxina.”
“Terimakasih, Nona Liez.”
Sejauh yang Viona ketahui dari Britta, Elxina terkenal suka membantu rakyat biasa yang membutuhkan pengobatan tanpa dibayar sekalipun.
Benar saja, rasanya masih tidak nyaman jika Viona tidak melakukan apapun. Mungkin ia bisa memberi dukungan Elxina untuk membantu rakyat biasa.
Insting Elf yang tinggi memberitahu Elxina bahwa Viona akan melakukan apapun untuk membalasnya. Sebelum Viona kembali angkat suara, Elxina bangkit untuk undur diri.
Gerakannya begitu cepat sehingga Viona yang masih melamun memikirkan rencana untuk mendukung Elxina menjadi buyar.
Tiba-tiba saja Viona sudah berada di luar pintu mansion dan menatap kepergian gerbong kereta Elxina yang semakin menjauh.
“Aku tadi mau ngapain, ya?” gumam Viona pelan.
__ADS_1
***
Akhirnya, hari pesta kemenangan datang.
Kamar Viona yang semula sepi dan hanya dipenuhi oleh buku-buku yang berserakan kini tergantikan oleh berbagai gaun, aksesoris, dan berbagai peralatan kecantikan yang tidak ia kenal.
Sebelum matahari terbit, Viona sudah disibukkan oleh berbagai persiapan untuk pergi ke pesta. Dimulai dari perawatan kulit, mandi, merias wajah, memakai gaun, menghias rambut, dan berbagai detail kecil lainnya dilakukan oleh Britta dan para maid lainnya kepada Viona.
Viona merasa seperti menjadi boneka saja.
“Selesai!”
“Nona, tolong bangun.”
Mata Viona yang sejak tadi tertutup kelopak kini terbuka menampilkan sepasang mata coklat yang berkilauan. Viona terkejut menatap penampilannya yang dipantulkan cermin besar di hadapannya.
“Ya ampun, Nona. Anda sangat cantik!”
“Kulit Anda begitu lembut.”
“Model rambut itu sangat cocok untuk Nona!”
Jari Viona menyentuh kantung bawah matanya. Viona tidak percaya mata panda yang disebabkan rasa gugup akan datangnya hari ini sehingga dirinya tidak bisa tidur itu hilang tak berbekas.
Padahal dia baru bisa tidur satu jam sebelum dibangunkan Britta untuk bersiap-siap. Meski sepanjang persiapan Viona memejamkan matanya, tetap saja dia tidak tidur dengan nyaman.
Tapi, semua itu benar-benar terbayarkan dengan penampilannya saat ini.
“Aku ternyata cantik, ya?” gumam Viona tak percaya dengan penampilannya yang menakjubkan ini.
“Ya ampun, Nona. Percaya dirilah, Anda selalu cantik memakai apapun.”
“Betul Nona, Britha hanya memoles wajah Anda dengan riasan ringan. Memang dari awal Anda sudah sangat cantik.”
“Adikku memang selalu cantik.”
__ADS_1
Suara yang sudah lama tidak didengar oleh Viona tiba-tiba masuk ke dalam telinganya.