Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Belajar Etiket


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke-7 Viona tinggal di mansion Liez di ibukota. Dia sudah mulai terbiasa dengan mansion berukuran tiga kali lipat dari sebelumnya.


"Nona, fokus pada ketukannya." suara wanita paruh baya terdengar tegas saat Viona melakukan kesalahan. "Kita ulangi dari awal."


Viona mengangguk dan memulai kembali langkah-langkah dasar dalam berdansa.


Sudah seminggu Viona berkutat dengan latihan.


Kamar, latihan berdiri, kamar, latihan berjalan, kamar, latihan tersenyum, kamar, latihan berbicara, kamar, latihan berdansa.


Kegiatan itu terus berulang-ulang dilakukan oleh Viona. Gadis kecil itu bahkan makan di kamarnya karena terlalu lelah tidak mampu untuk berjalan ke ruang makan.


Bukan apa-apa, jauuuuh sekali jarak antara kamar, ruang makan, dan ruang latihan.


Sudah cukup bagi Viona untuk bolak balik dari kamarnya ke ruang latihan.


"Baiklah, Nona. Untuk hari ini sudah cukup," ucapan guru dansa Viona membuat gadis itu menghela napas lega.


Ia baru bisa menghapal 1/3 gerakan dari keseluruhan lagu. Itu pun hanya lagu utama yang Viona pelajari. Belum lagi lagu yang dimainkan di pesta bisa lebih dari tiga.


Setelah dipikir-pikir, menjadi bangsawan itu sulit.


Wanita yang ditunjuk langsung oleh Marchioness untuk mengajari Viona tata krama itu pamit undur diri. "Sampai bertemu kembali besok, Nona."


"Baik, Nyonya Hera. Terimakasih sudah datang," ujar Viona seraya membalas sopan.


Setelah guru Hera pergi, Viona terduduk lelah. Ia tidak peduli dengan etiket untuk saat ini. Kakinya mulai berdenyut sakit.


Tidak lama kemudian, Britta masuk ke dalam ruangan seperti biasa.


"Nona, bak mandi sudah siap."


"Iya, sebentar ya." Viona berusaha untuk bangun, Britta yang sudah terbiasa dengan keadaan berantakan nona kecilnya sehabis berlatih pun memaklumi.


Ia membantu Viona untuk berdiri lalu memeganginya supaya mereka segera ke kamar nonanya.


"Kaki aku masih ada kan?"


"Tenang saja, Nona. Masih berada di tempatnya dengan aman," Britta dengan senang hati menanggapi ocehan nonanya.


Cahaya senja menarik perhatian Viona.


"Udah sore ternyata," gumam Viona pelan seraya menatap langit jingga melalui jendela di sisi lorong ini.


Selama seminggu ini Viona tidak sempat untuk berjalan-jalan mengitari mansion. Bahkan melihat taman dengan benar pun tidak bisa.


Dirinya memang pernah berada di taman pada hari pertama ia tiba. Itu pun Viona tidak terlalu ingat karena sibuk menangani mual.


Boro-boro mengamati keindahan taman dengan keanekaragaman pohon, bunga, dan semak-semak. Mengetahui bahwa dirinya sudah sampai di tempat tujuan saja sudah membuatnya bahagia.

__ADS_1


Dia memang tidak berakhir memuntahkan isi perutnya, tapi karena hal itu juga rasa mualnya berlangsung lama. Untung saja sihir milik Victor dapat membuat perasaannya lebih baik.


Bicara mengenai Victor, sudah seminggu ini Viona belum melihat kakaknya.


"Britta," panggil Viona kepada Britta yang sedang memberikan pijatan. Saat ini Viona sudah sampai di kamar dan sedang mandi di bak mandi.


Selain Britta, di sana juga terdapat dua maid yang membantu Viona.


"Hari ini ibu memanggilku tidak?" tanya Viona seraya memainkan busa yang menutupi air di permukaan bak.


Britta terdiam sejenak sebelum menjawab, "Nyonya sudah meminta koki untuk membawakan nona makanan terbaik, jadi tidak perlu khawatir."


"Hm...." ekspresi Viona menjadi murung saat mendengar jawaban itu, "ibu dan kakak masih sibuk ya."


Britta menatap kedua maid dengan ekspresi khawatir.


"Saya akan memberitahu nyonya dan tuan muda--"


"Tidak perlu," Viona memaksakan senyuman, "aku tidak mau mengganggu mereka. Lagipula semua orang sedang sibuk karena pesta, kan?"


Viona mengeratkan tangannya lalu mengangkat tangannya ke atas, "Aku juga akan berjuang!"


"Tentu saja!"


"Semangat, Nona! Nona pasti bisa!"


"Nona saya mendukung Anda."


"Selamat menikmati, Nona."


"Kami pamit pergi, jika nona butuh sesuatu silahkan bunyikan loncengnya."


"Selamat malam, Nona."


Dan ya, mereka semua pergi meninggalkan Viona sendirian di kamar yang luas ini.


Selain tempat tidur, kamar ini juga memiliki meja dan kursi untuk menerima tamu.


"Begitu luas, tapi rasanya kosong."


Viona sudah kembali segar. Tubuhnya yang menerima pijatan serta mandi yang penuh aroma herbal membuat rasa lelah karena latihan pun hilang.


Tapi rasanya, dia masih merasa lelah.


Sejujurnya, "Aku ingin makan bersama ibu dan kakak lagi," gumam Viona seraya memainkan jari jempolnya.


"Makanan seenak apapun," ia menatap irisan daging panggang yang diolah sedemikian rupa sehingga terlihat lezat, perasan buah apel yang dipetik langsung dari kebun, tidak lupa beberapa kue kering untuk pencuci mulut.


"Rasanya tidak enak karena makan sendirian."

__ADS_1


Walaupun begitu, Viona tetap mengangkat pisau dan garpu. Lalu mulai menghabiskan makanannya.


Mengiris daging dengan benar, saat ini Viona sudah mengerti bagaimana makan sesuai etiket.


Viona sudah berlatih dengan keras dengan harapan ia bisa memamerkannya pada kakak dan ibu tirinya.


"Sudah kuduga, makan bersama pasti lebih enak."


Setelah makan, Viona tidak memiliki napsu makan untuk memakan kue.


Ia bangkit untuk membuka jendela dan merasakan angin malam yang masuk ke dalam kamar. Kamar yang berada di lantai dua ini membuat Viona dapat melihat lebih jauh.


Langit malam yang gelap tertangkap pandangan Viona.


"Hari ini, bulan tidak lagi muncul."


Lebih tepatnya, tidak ada bulan di dunia ini. Hanya ada bintang yang dapat terlihat pergerakannya di atas sana.


"Ha... aku masih engga nyangka kalo ada di dunia lain."


Dunia ini, sudah pasti bukanlah bumi.


Selain bulan dan bintang yang aneh, tempat ini juga dipenuhi sihir dimana-mana. Tidak ada ponsel, tidak ada internet, tidak ada media sosial.


"Tidak ada seorang mahasiswa matematika..."


"Tunggu, seorang... mahasiswa matematika?" Viona tersentak kaget sehingga tubuhnya melangkah mundur dan tanpa sengaja menabrak meja.


Suara piring dan gelas yang pecah, jatuh di atas lantai memenuhi ruangan.


Viona juga terduduk dengan tubuh yang gemetar di atas lantai.


Mendengar hal itu, Britta segera masuk dan terkejut melihat penampilan Viona.


"Nona!"


Gadis itu bernapas dengan cepat. Matanya tidak fokus seolah sesuatu yang sangat menakutkan datang menerornya.


"Nona! Sadarlah!"


"Aku..." matanya memerah dan air mata mulai terbentuk di pelupuk matanya, Viona mencengkeram baju Britta saat pelayan pribadinya memeluknya.


"Namaku... siapa namaku? Aku... aku tidak ingat..." Viona mencoba melepaskan diri dari Britta. "Tolong... beritahu aku namaku!"


"Nona, nama nona Viona Liez. Tolong tenanglah nona."


"Tidak! Kumohon... namaku, siapa namaku? Aku... aku... malam itu... penjaga mini market... pistol, dan..."


Britta panik saat gadis kecil itu terkulai di pelukannya. "Panggil dokter sekarang!"

__ADS_1


Suasana mansion yang begitu tenang, kini terbalik dalam semalam.


__ADS_2