
Pandanganku kabur.
Napasku rasanya tertahan oleh sesuatu. Hanya ada warna putih di sekitar membuatku bingung.
Aku dimana?
Tubuhku terasa berat. Menggerakkan mata pun sudah sulit.
Pintu terbuka menampilkan seseorang yang terasa familiar. Aku tidak bisa mengenali wajahnya dengan jelas. Tapi kupikir dia terkejut melihatku?
Saat dia datang mendekat, kelopak mataku mulai terasa berat. Saat itu juga, kegelapan merenggut pandanganku.
...****************...
Viona terbangun mendapati orang-orang berada di kamarnya.
"Nyonya baru saja pergi dan tidak bisa dihubungi, lalu tuan muda juga belum bisa dihubungi sejak semalam. Aku tidak tahu harus bagaimana kepala pelayan."
"Pertama kita harus tetap menemani nona sampai tuan muda dan nyonya kembali. Aku juga sudah menyuruh seseorang untuk mengejar kereta nyonya."
Viona menatap keduanya susah payah. Ia bergerak untuk bangun namun energinya seolah terkuras habis sehingga tidak mampu mengangkat tubuh.
"Uh..." Kepala pelayan serta Britta yang sedang berbincang menoleh ke arah Viona.
"Nona!"
"Apakah Anda baik-baik saja? Bagaimana perasaan Anda?"
"A... air." pinta Viona dengan suara serak seolah dia belum meminum air berhari-hari.
Britta membantu memposisikan tubuh Viona supaya menyender dengan nyaman sementara kepala pelayan menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya kepada Britta.
Setelah minum Viona bertanya mengenai kondisinya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku kenapa?"
Britta dan kepala pelayan saling memandang lalu Britta memutuskan untuk angkat suara, "Nona pingsan karena kelelahan sehingga perlu istirahat lebih banyak."
"Begitukah?" mata Viona terkulai. Wajahnya pucat dan energinya menghilang.
Viona mencoba mengingat apa yang ia lakukan sebelum pingsan. "Ah!" belum sempat mengingat, kepalanya tiba-tiba terasa menyengat sehingga ia berteriak lemah sambil menutup mata.
"Nona," Britta menggenggam tangan Viona dengan lembut, ia juga memijat pelan supaya gadis kecil itu lebih tenang, "Nona tidak perlu memaksakan diri. Saya hanya berharap supaya Anda beristirahat lebih lama."
Tatapan sayu Viona kini terarah pada Britta. Kelopak matanya terasa berat. Sesuatu seperti berkumpul di dahinya sehingga membuat perasaan semakin tidak nyaman.
Cahaya matahari memasuki celah-celah gorden. Saat itu pula Viona tersadar bahwa hari sudah menjelang siang.
Mata Viona yang semakin memberat membuatnya tertutup. Tapi sesuatu di benak Viona membuatnya berusaha keras untuk kembali membuka mata.
'Aku lelah tapi... sudah siang.'
"Britta, apa Nyonya Hera sudah datang?"
Entah karena Viona benar-benar lelah atau bagaimana, dia tidak bisa menangkap seluruh ucapan kepala pelayan sepenuhnya.
"Antarkan aku... ke ruang latihan," Viona memegang kepalanya saat dia berusaha beranjak menuju sisi tempat tidur.
"Tapi nona, Anda sudah tidak sadar selama dua hari."
Viona menghentikan gerakannya saat mendengar hal itu dari Britta yang berada di sisinya, "Dua... hari?"
Britta mengangguk dengan wajah penuh khawatir, "Saya mohon, Nona istirahat terlebih dahulu. Nyonya Hera pun akan datang lagi saat kondisi Nona sudah lebih baik."
Viona memikirkan hal apa yang membuatnya benar-benar kelelahan seperti ini. Padahal dia hanya belajar etiket.
Dia tidak berlari.
__ADS_1
Dia juga tidak berjalan jauh.
Pada dasarnya, Viona tidak melakukan pekerjaan berat. Misalnya membersihkan kandang kuda, mencuci baju, atau pekerjaan berat lainnya.
Ia hanya belajar.
Itu menyenangkan.
Apa otaknya tidak kuat menanggung perasaan menggebu-gebu untuk belajar yang Viona miliki? Tubuh dan otaknya tidak bisa mengimbangi hatinya.
Mungkinkah hal itu yang membuat Viona lelah?
Tunggu, sepertinya ada sesuatu yang terlepas dari ingatannya.
Tadi malam, ia mimpi apa? Ia merasa itu penting untuk diingat. Kepalanya kembali terasa disengat saat Viona memikirkannya.
Gadis itu mendengus pelan seraya menahan rasa sakitnya. Lalu ia teringat sesuatu.
"Kakak dan ibu?" Viona baru sadar bahwa anggota keluarganya tidak ada disini.
Britta pun menjelaskan alasan ketidakhadiran dua anggota keluarga Liez itu.
"Begitu..." gumam Viona pelan, "Aku mau belajar."
"Saya mohon maaf, tapi saya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi." Kali ini kepala pelayan yang menyela.
Viona segera melayangkan pandangan tajam ke arah pria paruh baya itu. "Aku ingin belajar, ibu sudah memberiku tutor yang kompeten, lalu waktu yang lebih dari cukup sehingga dapat digunakan untuk belajar."
Mata Viona semakin berat seiring berjalannya waktu. Ia tidak bisa menahan kantuk.
Tubuhnya yang lemah ditangkap oleh Britta. Ia khawatir Viona pingsan lagi dan menghabiskan dua hari penuh dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Namun, Viona terlihat tenang dan bernapas dengan lancar. Dia tertidur.
__ADS_1
"Aku tidak tau bahwa cucuku sangat keras kepala," suara berat terdengar dari arah pintu membuat dua orang dewasa ini melirik ke arah pintu.
Sontak mereka segera memberikan penghormatan singkat kepada kepala keluarga Assefa, Duke Assefa. "Salam, yang mulia."