Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Ibu


__ADS_3

Viona tersadar akan apa yang ia lakukan. Ia melirik Victor yang diam membeku, gadis kecil itu merasa bersalah. Tapi ia tidak bisa menahan rasa takut yang terlintas di benaknya. “Ma-maaf kak, aku…”


Tidak seperti perkiraan Viona, Victor tidak marah. Ia duduk di samping Viona, memegang tangannya yang terkepal lalu mengalirkan energi sihirnya untuk membuat gadis kecil itu tenang. “Engga papa, kakak ngerti kenapa kamu takut. Kakak engga marah ke Viona kok.”


Energi hangat milik Victor mulai menyelimuti Viona membuatnya merasa tenang. Matanya terasa berat. Setelah mengalami berbagai kejadian, gadis itu tau tubuhnya tidak kuat lagi menahan beban. Ia jatuh tertidur di pelukan Victor.


Saat membuka mata, lingkungan kamar menyambut pandangan Viona. Tubuhnya terasa ringan, entah sudah berapa lama ia tertidur tapi Viona merasa bahwa ia tidak boleh terus berbaring. Ia beranjak mendekati jendela, sinar senja jatuh menerpa kulitnya yang pucat. Angin berhembus masuk tatkala gadis itu membuka jendela persegi itu.


Taman yang luas terlihat sejauh mata memandang. Tukang kebun menyebar di setiap sudut taman, memelihara tanaman demi tanaman dengan rajin. Para pelayan pun terlihat hilir mudik, baik pria maupun wanita, anak-anak hingga dewasa, semua sama saja, melakukan pekerjaannya dengan baik.


Viona, lebih tepatnya Thalia, menghela napas seraya menyandarkan tubuhnya pada jendela. Dia mencoba menerima kenyataan bahwa ini bukanlah mimpi.


Orang tuanya, kehidupan kuliahnya, Naya, semuanya tidak ada lagi. Thalia tidak lagi bisa mengomel betapa membosankannya kehidupan yang dulu. Mungkin ini balasan karena terus mengeluh dan tidak bersyukur.


Dia langsung diberi kehidupan rumit yang bahkan tidak pernah Thalia bayangkan akan menimpa dirinya. Angin kembali berhembus menerpa wajahnya, membuat gadis itu tersadar bahwa air matanya telah jatuh.


“Thalia, tidak, sekarang aku Viona. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan masa lalu.” Mengusap matanya kasar, gadis itu berdiri tegap. “Tidak peduli bagaimana aku bisa menjadi Viona, itu bukan masalah saat ini. Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus kulakukan kedepannya.”


Tangan kecilnya mengepal, “Aku tidak mau di penjara, aku tidak mau mati.” Hal itu adalah masa depan dari Viona di dalam cerpen dan Thalia tidak berencana mengikutinya begitu saja. “Aku harus hidup.”


Viona berbalik dan menarik tali di samping tempat tidurnya. “Britta, aku butuh alat tulis.”


***


“Jadi dia kehilangan ingatan?” asap mengepul dari bibir tipis wanita itu, ia duduk santai seraya menatap pemandangan di luar jendela seraya mendengar laporan dari balik bayangan.


“Ya, Lady. Nona bahkan tidak tahu cara menggunakan energi sihirnya.”

__ADS_1


Wanita itu terdiam. Kehilangan ingatan yang dialami salah satu anaknya sungguh berat. Mengingat energi sihir mudah dikendalikan bagai menghirup napas, hanya balita saja yang tidak bisa melakukannya. “Tidak ada kerusakan lain? Luka atau apapun itu?”


“Tidak, selain mental dan ingatannya yang kacau. Dia baik-baik saja,” ujar seseorang di balik bayangan itu. Ia telah menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi dua hari ini.


Dimulai dari Victor yang mengunjungi adiknya, ‘menghukum’ para pelayan Viona yang tidak kompeten serta mengganti semua pelayan di sisi gadis itu, tidak ketinggalan baron Veiss yang datang menemui Viona.


Detail kecilpun tak lepas dari penjelasannya. Hanya saja, ia tidak bisa melaporkan apa yang terjadi di akademi milik baron Veiss karena sihir pelindung yang cukup kuat. Tapi ia mendapat informasi dari salah satu pelajar disana bahwa Viona masuk ke ruang kesehatan.


“Thalia ya… cari tau kenapa Viona menyebut nama itu.” Seseorang di balik bayangan itu mengangguk mengerti.


Menyesap pipa rokoknya sekali, wanita itu memberi perintah untuk meninggalkannya sendiri. Seseorang di balik bayangan itu pun melesat pergi setelah menunduk hormat.


Wanita itu membunyikan bel kecil di atas meja tehnya sekali, segera seorang pelayan wanita yang sudah berumur bergegas masuk. “Ya, Marchioness.”


“Aku akan makan malam di ruang makan, panggil anak-anak untuk datang.”


Pintu kembali ditutup, meninggalkan wanita itu sendiri.


“Mari kita lihat, sejauh apa kamu melangkah.”


...****************...


Viona menatap kertas dihadapannya dengan bangga. Ia telah menuliskan poin poin apa saja yang telah ia lakukan sejak memasuki tubuh Viona dan hal yang akan dia lakukan. Untungnya, cara kerja pena di dunia ini mirip dengan pulpen di dunia Thalia. Perbedaannya hanya ada pada kertas yang digunakan dan isi pulpen.


Britta secara khusus memberikan buku harian kepada Viona. Buku harian itu dirancang untuk menyimpan rahasia dan hanya bisa dibaca oleh orang yang menulisnya. Tentu saja, Viona telah bekerja keras mengalirkan sihirnya ke dalam pulpen sehingga ia bisa menulis.


Bisa dibilang, perlindungan ganda.

__ADS_1


Viona sangat senang dengan perhatian Britta. Padahal ia hanya meminta alat tulis, tetapi Britta memberikan semua ini seolah sudah terbiasa. Atau memang Viona yang asli sering menulis di buku harian?


Benar, kenapa tidak terpikirkan hal itu?


Viona membuka laci meja satu per satu. Tetapi ia tidak menemukan satupun buku harian. Gadis kecil itu beranjak dari kursi untuk pergi membuka lemari. Hanya saja, langkahnya terhenti ketika Britta mengetuk pintu.


“Nona, Nyonya memanggil untuk makan malam.”


“Nyonya?” gumam Viona secara refleks, namun masih dapat didengar oleh Britta.


“Nyonya adalah Marchionees Liez,” Britta terhenti sejenak sebelum melanjutkan, “beliau juga ibu tiri Anda, Nona.”


Viona terdiam. Ia bingung. Seingatnya, ibu tiri Viona tidak pernah disebutkan di dalam cerpen. Ia hanya tahu bahwa Victor adalah kakak tiri Viona.


‘Bagaimana ini?’ pikir Viona dalam hati, ia tidak siap. Ia tidak tahu apakah ibu tiri Viona ini memihaknya atau membencinya. Walaupun begitu, ia tidak boleh lari. Ia harus menghadapinya.


Rasa gugup mulai menyelimuti hati Viona, ia mengeratkan kepalan tangan. Menatap pintu dengan antipasi, “Aku akan pergi.”


Di meja makan, sudah terdapat Leili, ibu tiri Viona, dan Victor, kakak tiri Viona. Mereka duduk diam tanpa ada percakapan yang mengalir di antara keduanya.


Dilihat sekilas pun, siapapun pasti tahu bahwa mereka adalah ibu dan anak. Meskipun rambut Victor segelap malam dan ibunya seputih rembulan, wajah mereka seolah dibentuk oleh cetakan yang sama.


Hanya saja, suasana di antara mereka sangat hening. Leili dengan santai menyesap rokok sembari menatap kuku dengan ukiran barunya, sementara Victor sibuk membaca buku. Mereka tidak berniat sedikitpun memecah keheningan ini.


Para pelayan yang berdiri di setiap sudut pun tidak berani bergerak sedikitpun. Mereka berharap putri keluarga Liez segera datang dan memecah keheningan yang berat ini.


Harapan mereka terkabul. Pintu ruang makan terbuka menampilkan seorang gadis dengan gaun putih berhias merah muda yang berdiri dengan gugup.

__ADS_1


“S-selamat malam ibu, kak Victor.”


__ADS_2