Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Menuju Ibukota Kerajaan


__ADS_3

Ayahnya akan kembali setelah memenangkan perang.


Berita yang cukup mengejutkan itu membuat Viona tersadar bahwa eksistensi dirinya di dunia ini belum aman. Ia terlalu terpana dengan hangatnya perlakuan kakak, ibu tiri serta para pelayan di mansion ini sehingga melupakan alur menyedihkan telah menunggu di masa depan.


Kematian Viona.


"Hah...." Viona memijat kepalanya yang berdenyut ringan. Berita kedatangan ayahnya benar-benar membuat gadis ini terguncang.


Dia bahkan tidak peduli dengan hadiah permintaan maaf dari Baron Veiss yang menggunung di kamarnya. Para pelayan sudah meninggalkan Viona sendirian mengingat hari sudah malam.


Saat ini, Viona duduk di kursi belajarnya dan fokus untuk menguraikan pikiran rumitnya.


Mencoret-coret kertas yang telah disediakan oleh Britta, Viona bekerja keras mengingat alur cerpen dengan informasi yang sangat sedikit itu.


Kamar milik Viona dipenuhi dengan suara gesekan pena dan tinta yang menempel pada kertas. Untuk berjaga-jaga supaya orang lain tidak mengerti, Viona menggunakan huruf Hangul dengan bahasa Indonesia.


Tuk!


Pena bulu diletakkan di atas meja.


"Selesai..." Viona bersandar pada kursi dan mengangkat kertas berisi tulisan itu. Memandanginya dengan raut bingung.


"Semakin aku tulis semakin bingung aku. Sekarang apa yang harus kulakukan?"


Sejauh ini, ada tiga hal yang berhasil ia ingat dari cerpen 'Aku Tidak Butuh Sihir' itu.


Pertama, Viona dikurung di penjara bawah tanah oleh ayahnya sendiri. Hal ini disebabkan karena Viona menjadi pewaris kakeknya. Dia menerima gudang penyimpanan yang berisi bunga yang sangat langka. Bunga itu adalah lambang dari keluarga Duke Assefa dan diturunkan kepada Duke selanjutnya.


Tidak dijelaskan lebih lanjut mengapa cucu bungsu Duke Assefa mewarisi harta turun temurun kediaman Duke. Apalagi Viona adalah anak dari istri kedua Marquess.


"Aku harus melihat kakek. Kira-kira kenapa beliau memberikan harta sepenting itu kepada Viona? Dan kenapa ayahnya menjebloskan ke penjara hanya karena dia menjadi pewaris?"


Viona bergumam selagi berpikir. "Bagaimana hubungan Viona dengan ayah dan kakeknya ya?"


Mungkin, pesta kemenangan ini akan menjadi media yang penting untuk mengetahui hal-hal itu. Sebelum itu terjadi, Viona berencana untuk bertanya kepada Britta mengenai hal ini.


"Lagian, aku udah dicap hilang ingatan kan? Engga aneh kalo aku tanya tentang ini ke Britta."

__ADS_1


Lalu, hubungan Viona dengan Azve.


Di cerpen, mereka terlihat memiliki hubungan yang ambigu. Azve selalu menemui Viona, tetapi tidak pernah membawa gadis itu kabur dari penjara. Lebih tepatnya, Viona yang tidak ingin melarikan diri pada saat itu.


"Kenapa Viona engga mau kabur? Kenapa Azve selalu bolak balik bawa Viona pergi dari penjara terus kembali lagi ke penjara? Sebenarnya kemana Viona dibawa pergi?"


Saat Viona ingin kabur, Azve dengan cepat mengabulkannya. Meskipun berakhir dengan Viona yang meninggal.


"Aku harus lebih dekat dengan Azve. Aku engga tau kenapa Azve bisa keluar masuk penjara keluarga Liez. Tapi, dia adalah kunci penting Viona bisa kabur dari penjara. Lebih cepat Viona kabur lebih baik."


Lagipula, kenapa harus selama itu sampai Viona akhirnya mendapat keinginan untuk kabur?


"Apa ada hal lain yang bikin Viona engga mau kabur?"


Kepala Viona semakin berdenyut membuatnya kesal. Ia bangun dan berjalan untuk menuangkan air putih yang berada di atas nakas dekat tempat tidur.


Meneguk air putih membuatnya merasa lebih baik. Ia kembali mengambil kertas coretannya lalu pergi ke tempat tidur. Menyelimuti diri sehingga perasaannya lebih nyaman.


Matanya terpaku pada kertas coretan di tangannya.


Tapi, masalahnya adalah Viona tidak tau alur selanjutnya jika titik awal cerpen dihilangkan.


"Penjara bawah tanah adalah setting dari cerpen itu sendiri. Kalau Viona engga dipenjara... apa dunia cerpen ini tetap ada?"


Selain itu, Viona takut terjadi hal yang lebih buruk jika menghindari alur yang asli. Meskipun Viona akan menemui hal yang buruk, setidaknya dia sudah tau apa yang akan terjadi.


Oleh karena itu, menghindari penjara bawah tanah adalah langkah alternatif. Ia akan memikirkan untuk menggunakan hal itu ketika dirinya memiliki lebih banyak informasi mengenai keadaan rumah tangga Duke Assefa.


Yang terakhir, inti sihir. Ini adalah penyebab puncak kematian Viona. Inti sihir Viona diambil oleh kakaknya, Victor, dengan alasan yang tidak dijelaskan di dalam cerpen.


Inti sihir sangat penting bagi setiap orang di dunia ini. Seperti namanya, inti sihir adalah bagian dari tubuh yang memproduksi energi sihir dan mengalirkannya di seluruh tubuh. Letaknya berada di kepala dan sulit diambil kecuali orang tersebut mempelajari tentang sihir terlarang.


"Apa itu berarti kakak belajar sihir terlarang? Lalu kenapa kakak yang selalu baik padaku tiba-tiba menjadi jahat?"


Ada lagi hal yang mengganjal di benak Viona, warna mata kakaknya. "Di cerpen, warna mata kakak itu biru. Makanya aku agak bingung pas liat warna mata kakak sekarang semerah ruby."


Apa ada alasan lain mengapa warna matanya berubah?

__ADS_1


Di sisi lain, Viona penasaran dengan borgol sihir yang dipakai Viona di dalam cerpen.


Pada saat itu, Viona dikurung di penjara bawah tanah dengan borgol yang menyerap energi sihirnya dalam jumlah yang sedikit namun secara terus menerus. Saat inti sihir Viona di ambil, borgol yang masih mengambil energi sihir membuat gadis itu kehilangan seluruh sihirnya dan berakhir dengan kematian.


"Hm... aku harus cari lebih banyak tentang alat-alat sihir." Viona melipat kertas itu lalu menyembunyikannya di bawah bantal. "Cukup sampai disini, sekarang aku harus tidur sebelum kakak datang buat ngecek ke kamar."


Meniup lilin, Viona akhirnya tidur.


Cahaya bulan masuk menerangi kamar Viona, melewati gorden jendela kamar.


Suasana malam membuat Viona cepat tertidur meskipun peristiwa yang akan terjadi di masa depan terkadang terlintas di pikiran.


Viona seharusnya tidak perlu terlalu khawatir. Dia akan lebih sibuk daripada sebelumnya sehingga masalah itu perlahan tenggelam dalam ingatan.


***


Hari ini, keluarga Liez pergi menuju ibukota. Persiapannya sangat cepat karena mereka hanya menyiapkan bekal untuk perjalanan. Semuanya sudah tersedia di mansion Liez di ibukota sehingga mereka tidak perlu membawa banyak barang.


Viona masih mengantuk karena mereka pergi bahkan sebelum kesadarannya terkumpul. Pagi-pagi saat matahari belum naik, Britta sudah membangunkan Viona dan mempersiapkan diri untuk pergi.


Gadis yang masih setengah sadar hanya bisa pasrah mengikuti apapun yang dilakukan Britta terhadapnya.


Saat ini dia tidur di dalam kereta dengan paha Victor sebagai bantalnya. Matanya benar-benar berat dan sulit untuk bangun. Mungkin karena tubuhnya masih anak-anak sehingga dia sulit bangun pagi.


Saat Victor membangunkan Viona, mereka sampai di sebuah penginapan.


Viona masih mengusap matanya dan menahan diri untuk menguap lebar. Matanya berkaca-kaca dan memerah membuat Victor merasa khawatir. "Kita makan dulu, Viona. Nanti bisa lanjut tidur lagi," ujar Victor ketika mereka turun dari kereta kuda.


Adik kecilnya itu hanya mengangguk dan mengikuti kemana kakaknya pergi membawanya. Ia benar-benar berpegangan pada tangan kakaknya saja, tidak tau dimana mereka berada.


Leili yang melihat hal itu pun menghela napas. "Pergi bawa Viona cuci muka di kamar, setelah itu kembali ke sini."


Britta yang berada di belakang Viona pun mengangguk dan membawa gadis kecil itu pergi meninggalkan lobi.


Victor melihat telapak tangannya yang terlepas dari tangan kecil Viona. Ia terkekeh kecil, menyadari bahwa adiknya bisa seimut itu karena mengantuk.


Ingin rasanya mengigit pipinya yang tembam.

__ADS_1


__ADS_2