
"Aku tidak percaya kamu menghabiskan waktu satu bulan hanya untuk belajar membaca," Wanita itu mengeluarkan perkamen dari dalam laci meja lalu menulis sesuatu. “Kupikir cucu dari Duke akan berbeda, ternyata sama saja.”
“Permisi?” Viona menahan diri untuk tidak mengumpat. Kata-kata wanita itu tidak sopan untuk seseorang yang baru ditemui. Bahkan jika Viona belum sepenuhnya mengerti tentang etiket bangsawan, ia yakin bahwa orang dihadapannya tidak sopan sama sekali.
“Oh, kamu mendengarnya ya?” wanita itu terkekeh pelan. “Kamu memang lambat, tapi kuhargai minatmu terhadap sihir.”
Wanita itu melanjutkan, “lagipula tidak banyak yang tertarik pada bidang ini.”
‘Ctak!’
Sesaat setelah ia menjentikkan jari, perkamen di atas meja terbakar api hitam. Melihat api hitam sungguhan membuat Viona takjub sekaligus waspada.
Mata mereka bertemu dan sesaat kemudian wanita itu terkekeh.
Viona semakin resah. Apa yang lucu?
"Silahkan duduk, apa kamu suka teh?" ujar wanita itu dengan senyuman ramah di wajahnya. Suaranya kini terdengar lembut dan nyaman. Tidak bernada tinggi juga tidak terdengar rendah.
Rasanya seperti alunan melodi musik relaksasi. Hanya saja suaranya yang lembut tidak membuat Viona mengantuk. Dibandingkan mengantuk, gadis itu merasa lebih tenang.
Saat Viona tersadar, ia sudah duduk berhadapan dengan wanita itu.
“Viona Liez,” wanita itu menyesap tehnya tanpa suara dengan matanya terpaku pada Viona. “Ada yang ingin kamu tanyakan?”
“Ya,” Viona sudah lebih tenang sehingga bisa mengamati sekitar, “Kenapa saya berada di sini, bisakah Anda menjelaskannya?”
Melihat interior ruangan, sepertinya ini ruang kantor. Meja dan kursi kerja berwarna hitam dengan ukiran bunga, lampu meja berwarna biru tua dilapisi corak berwarna emas, buku-buku tua berjejer di dalam lemari, serta papan tulis berwarna hijau dengan coretan rumus di sudut ruangan.
"Tentu,” meletakkan cangkir di atas tatakan, wanita itu menyilangkan kaki di atas lutut.
“Hm… bagaimana aku menjelaskannya. Kamu lulus prasyarat lalu dibawa kesini? Begitulah.”
Viona menatap wanita itu bingung. Apa katanya? Bagaimana itu disebut menjelaskan?!
“Prasyarat apa?”
“Ck! Kenapa kamu lambat sekali sih? Pra-sya-rat, kamu lulus lalu dibawa kesini. Mudah bukan?”
Viona berpikir sejenak untuk memahami ucapan tidak jelas wanita itu. Sepertinya wanita itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut sehingga Viona harus memikirkan sendiri jawabannya.
Satu-satunya prasyarat yang bisa Viona pikirkan adalah prasyarat sihir. Itu adalah membaca buku sihir. Ia sudah lancar membaca buku sihir meski tidak mengerti apa isi buku tersebut.
Hal yang terjadi sebelum Viona berada di tempat ini adalah Nana. Gadis itu membaca corak di tubuh Nana lalu tiba-tiba tubuh burung navy itu meledak dan lingkungannya berubah menjadi tempat ini.
“Anda yang mengirim Na-maksudku burung navy itu?”
Wanita itu tiba-tiba melompat dan mendekati wajahnya. Viona mundur dan merasa tidak nyaman. “Tepat! Akhirnya kamu mengerti juga.”
Setelah diperhatikan lebih dekat, Viona melihat telinga bagian atas wanita itu runcing ke atas. “Peri?” gumam Viona pelan.
__ADS_1
Senyuman wanita itu melebar, “Oh, kamu bisa melihat ilusiku juga. Bagus sekali,” akhirnya wanita itu berdiri tegap. Kedua tangannya disilangkan. “Aku Shona Minerva, mulai hari ini aku akan menjadi pembimbingmu di bidang sihir. Selamat bergabung, manusia.”
Viona pernah melihat nama itu di salah satu buku sihir yang ia baca.
Suku Minerva. Peri bersayap dengan suara terindah dari semua peri yang ada di dunia ini. Suku ini memiliki dua golongan yaitu, Minerva yang suka berperang dan Minerva yang mencintai kedamaian.
Minerva yang pertama selalu berada di garis perbatasan kerajaan Kimkha. Mereka siap mengangkat senjata untuk berperang. Mereka kejam terhadap musuh bahkan dirinya sendiri, tidak ada kata menyerah di kamus mereka. Menyerang musuh sampai titik darah penghabisan dianggap sebagai kehormatan.
Sementara Minerva sisanya adalah sarjana atau seniman. Mereka fokus mempelajari sihir, alam, dan keindahan. Memecahkan masalah dengan berpikir kritis serta menghabiskan waktu untuk mempelajari alam adalah keindahan yang mereka yakini.
Sepertinya Shona termasuk ke dalam kelompok terakhir.
Viona bangun dari duduknya. Perkataan wanita dihadapannya memang tidak sopan, tapi setidaknya dia tidak bermaksud jahat.
“Mohon bantuannya, guru.”
“Tidak tidak,” Shona menolak dengan tegas, “panggil aku kak Shona.”
Wajah Shona terlihat kesal saat Viona memanggilya guru.
“Aku merasa seperti sudah tua saat dipanggil guru, lagipula semua orang di akademi ini tidak senang dengan panggilan itu.”
Viona merasa pernah mengalami hal ini.
Brakk!
Pintu ruangan terbuka paksa menyebabkan dentuman keras. Seorang pria bergegas masuk dan menarik kerah Shona. Wajahnya diselimuti kekesalan akan hal yang membuatnya pergi ke tempat ini.
Oh, benar. Pria itu juga memintanya memanggil kakak. Perasaan familiar itu memang tidak salah.
“Aku tau kamu gila! Tapi menculik seorang bangsawan…” Elvo mengetuk kening Shona dengan tangannya yang bebas, “otakmu sudah dijual kemana hah!”
Shona terlihat pasrah. Mungkin tidak terlalu peduli? Wanita itu menutup telinganya dengan santai dan menerima kemarahan Elvo begitu saja.
“Ya… tenanglah Elvo.”
“Bagaimana aku bisa tenang! Dimana kamu membawanya, katakan!”
Melepaskan satu tangan dari telinga, Shona menunjuk keberadaan Viona dengan telunjuknya.
Lantas kepala Elvo menoleh mengikuti arah itu. Mendapati Viona yang tercengang dan tersenyum canggung.
‘Jadi aku bangsawan yang mereka bicarakan, haha.’ Pikir Viona dalam hati.
Elvo melepaskan cengkramannya dari Shona. Dia menghela napas gusar lalu mengusap wajahnya kasar.
“Maafkan kekasaran kami, Lady. Aku akan menerima kedatangan Anda dengan benar nanti,” ujar Elvo seraya menunduk.
Meskipun sudah berada di dunia ini lebih dari satu bulan, Viona masih merasa tidak nyaman melihat orang yang lebih tua darinya menunduk untuknya. “Ti-tidak apa-apa, Kak.”
__ADS_1
“Tidak, ini salahku karena tidak benar mengawasi.” Matanya berkilat marah ke arah Shona, “kembalikan dia ke rumahnya.”
“Heee… bukannya dia ingin belajar sihir? Kenapa tidak langsung mulai saja?”
“Kamu ingin mati, ha?!”
“Ck, baiklah baiklah. Aku mengerti,” Shona mencibir kesal. Meski begitu, ia harus menuruti Elvo, kepala sekolah akademi ini.
Elvo menghela napas lega. Shona sudah ia tangani, sekarang ia beralih kepada Viona.
“Anda mungkin terkejut, saya benar-benar minta maaf. Saya akan segera mengirim permintaan maaf secara resmi ke rumah Anda, lalu saya akan mengirimkan jadwal resmi penerimaan siswa baru. Sampai saat itu tiba, saya mohon kesabaran Anda untuk menunggu.”
Viona mengangguk, “Baik.”
“Kalau begitu,” Elvo melirik Shona. Wanita itu bersiap untuk mengirim Viona kembali ke rumahnya.
Viona teringat suatu hal, “Tunggu sebentar, Kak. Ada yang ingin saya katakan.”
Elvo menatap Viona, menunggu.
Viona sudah memikirkan hal ini, dia berjanji akan meminta maaf kepada Elvo ketika mereka bertemu lagi. Dan ini adalah kesempatan yang baik.
Gadis itu ingat bahwa kesan pertamanya pada Elvo tidak baik. Britta pun mengatakan bahwa Elvo tidak menyukai bangsawan karena sikap mereka yang sombong. Hal itu juga yang mendasari Elvo tidak menerima semua murid bangsawan di akademinya.
Mungkin saja Viona sudah dianggap sebagai bangsawan yang sombong oleh Elvo karena ia tidak mendengarkan perintahnya. Padahal hal itu ditunjukan untuk kebaikan Viona sendiri.
Viona merasa menyesal.
Entah bagaimana Elvo tetap menerimanya sebagai murid di akademi. Viona tidak ingin ada perasaan bersalah yang mengganjal setiap mengingat hal itu. oleh karena itu ia memberanikan diri untuk meminta maaf.
“Sebelumnya…” Viona menunduk, “maaf aku tidak mematuhi perintah kakak. Apapun alasannya, seharusnya aku tidak membuka mata saat berpindah tempat.”
Hening.
Viona mengangkat tubuhnya sedikit dan terkejut. Kenapa wajah Elvo memerah?
“Eum… ya, begitu. Ya! Sudah bagus kamu menyadari kesalahanmu, benar! Itu langkah yang bagus, Lady!”
Senyuman merekah di wajah lelah Elvo, “Sampai jumpa lagi, Nona Viona.”
Bagaikan virus, senyuman itu membuat Viona ikut tersenyum. “Baik, Kak Elvo. Sampai jumpa lagi. Kak Shona juga.”
Viona melambaikan tangan ke arah mereka. Kemudian perasaan yang sama saat ia berpindah ke tempat ini muncul. Kali ini Viona tidak panik dan menutup mata dengan tenang. Menunggu angin itu mereda.
Lingkungan yang familiar kini terlihat saat ia membuka mata.
Viona menghela napas.
“Aku kembali ke kamarku.”
__ADS_1