Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Cip Cip?


__ADS_3

Viona mengedipkan matanya berkali-kali, tidak yakin dengan pemandangan beberapa detik yang lalu.


"Eh... engga gerak?" setelah Viona perhatikan dengan saksama, ternyata warna ungu di tubuh burung kecil itu tidak bergerak sama sekali, "Apa cuma perasaanku aja, ya?"


Burung kecil itu bergerak kecil sambil mendongak ke arah Viona. "Cip, cip."


"Hm...." Viona agak bingung kenapa burung itu tidak basah, apa burung itu sudah berada di jendela kamarnya sejak awal? Kalau benar begitu, beruntung sekali dia.


Tangannya mendekat dan mengelus burung itu dengan lembut, "Aku engga tau gimana kamu bisa ke sini. Tapi, aku akan membiarkanmu disini sampai hujan reda."


"Cip, cip."


Gadis itu tidak mengerti bahasa burung, jadi ia tidak tau apakah burung itu mengerti ucapannya atau hanya kicauan biasa yang selalu dilakukan.


Yah, apapun itu. Viona tidak berencana mengeluarkan burung itu dari kamarnya sekarang.


Viona menutup kembali jendela kamar. Ia baru menyadari tirai jendela basah dan permukaan lantai di dekatnya tergenang air. Gadis itu panik, "Wah, harus cepet dipel nanti ibu marah-"


Deg.


Rasa hangat menyelimuti pangkal hidung Viona. Ia menghela napas panjang, mencoba melepaskan beban berat di hatinya.


"Tidak ada lagi yang akan memarahiku, ya?"


Perasaan suram perlahan menyelimuti Viona. Cuaca mendung serta diiringi suara rintik hujan, suasana begitu sendu seolah mendukung Viona untuk bersedih.


'Plakk!'


Tangan kanan menampar pipinya dengan keras. Rasa nyeri berdenyut-dentut menyebar di permukaan pipi kanan. Rasanya begitu perih sehingga mampu menutupi perasaan sedih yang muncul di hatinya.


Viona menggeram kesal. "Sadar, Viona! Aku tidak boleh sedih berlarut-larut. Sudah kubilang kan, aku Viona Liez."


Viona Liez akan mati di akhir cerita dan Thalia tidak berencana untuk menurut begitu saja. Tidak ada jaminan jika Viona mati, Thalia akan kembali ke dunianya.


Melihat tangannya yang terkepal, Viona semakin yakin.


"Aku masih hidup dan aku harus hidup di dunia ini. Orang yang hidup memiliki kesempatan. Jadi," ia menepuk dadanya pelan, "aku pasti baik-baik saja."


"Cip cip cip," suara kecil nan nyaring terdengar tepat di bahu kanannya. Viona pun menoleh, bayangan kabur seekor burung terlihat di pandangannya.


Tanpa diduga, burung itu menyenderkan tubuhnya pada pipi Viona. Ia dapat merasakan kelembutan bulu berwarna navy itu dengan jelas di pipinya.


"Kamu..." sepertinya burung itu mencoba menghibur Viona.


Merasakan perhatian burung kecil itu serta kicauannya yang ceria, rasa hangat pun menyebar di hati. "Terimakasih," senyuman tipis akhirnya muncul di wajah Viona.

__ADS_1


Sekali lagi, cuaca begitu mendukung.


Matahari yang bersembunyi di balik awan, kini mulai menampakkan dirinya untuk menyinari tanah ini. Rintik hujan tak lagi turun, tanaman terlihat segar dengan air yang masih menetes di ujung daun.


Viona memutuskan untuk membuka kembali jendela, merasakan udara segar sekaligus sinar mentari yang hangat.


"Kamu harus pulang, burung kecil. Nanti keluargamu khawatir," ujar Viona seraya mendukung burung itu keluar dari jendela.


"Cip cip."


"Kamu beruntung tidak terkena hujan hari ini, lain kali..." burung navy itu terbang dari telapak tangan Viona. Ia keluar dari kamar melewati jendela dan menjauh hingga tak lagi terlihat di pandangan. "hati-hati."


Viona pikir, dirinya tidak akan bertemu burung kecil itu lagi. Tapi...


"Ck. Kamu lagi?" Viona menatap burung navy yang bertengger di jendela kamarnya.


Dia lagi dia lagi.


Beberapa hari ini, burung kecil berwarna navy dengan corak ungu itu selalu bertengger di kamarnya.


Pagi, siang, sore, malam. Waktu berkunjungnya bervariasi sehingga Viona tidak bisa bersiap untuk memblokir kedatangan burung itu.


Saking seringnya, Viona bahkan memberi nama panggilan, Nana. Sebenarnya tidak ada makna yang dalam. Warna bulunya berwarna navy, Nana, begitulah.


Viona tidak membenci kehadirannya, ia juga tidak begitu senang. Meski demikian, Viona merasa bersyukur ada Nana di sisinya setiap kali ia belajar membaca.


Mungkin karena hal itu juga Viona membiarkan Nana masuk begitu saja.


Oh, Viona juga sudah memberitahu Britta tentang hal ini.


Nana tidak akan kelaparan saat datang ke kamar Viona karena Britta selalu menyediakan makanan untuknya.


Pagi hari berikutnya.


Tidak terasa sudah sebulan penuh Nana datang ke kamar Viona dan selama itu pula kecepatan membaca Viona meningkat. Kini ia tidak perlu lagi mengeja tulisan tegak bersambung itu.


'Tuk Tuk'


'Tuk Tuk'


Sudah menjadi kebiasaan bagi Viona untuk segera membuka jendela setelah mendengar suara paruh yang mengetuk kaca.


"Pagiiii," Nana yang terlihat seperti buntalan kapas yang melayang bertengger di lengan Viona, "kamu tambah berat aja, apa perlu ku kurangin ya jatah makannya."


Memang, dibandingkan dengan keadaan Nana saat pertama kali melihatnya, Nana saat ini terlihat gemuk. Bagaimana tidak, setiap hari disuguhi makanan oleh Britta, aneh jika Nana tidak berkembang sebesar ini.

__ADS_1


"Haa... kamu semakin berat, Nana. Aku rindu wujudmu yang kecil."


"..." Nana terbang membelakangi Viona.


"Hei... apa kamu kesal?"


"..." Nana bahkan tidak berkicau menanggapi ucapannya.


Viona membiarkan Nana merajuk di bingkai jendela. Ia mengambil piring yang berisi biji-bijian kesukaan burung kecil itu.


Saat berbalik, Viona mendapati Nana mengintip lalu kembali menghadap ke luar. Viona menahan tawa sekuat tenaga. Ia meletakkan piring itu di dekat Nana, "Yakin masih marah? Nana yang gembul tetep imut kok, beneran deh."


Rasanya Viona dapat membayangkan burung navy itu mendengus kesal walau matanya terus melirik ke arah piring.


"Yaudah kalo engga mau makan lagi, bijinya aku kasih ke burung di taman aja deh."


Sesaat sebelum tangan Viona mengambil piring, Nana bergerak lebih cepat dan mematuk jari lentiknya.


"Aw!"


Mata Nana menatap tangan Viona tapi ia menarik kembali dan mengalihkannya ke makanan.


"Ck, dasar. Kamu kumaafkan karena imut-" Viona menghentikan ucapannya kala mendapati sesuatu di tubuh Nana, "tunggu apa itu?"


Mendekat untuk memastikan penglihatannya, Viona sadar bahwa corak ungu di tubuh Nana bukan sembarang corak. Itu memiliki pola yang cukup familiar.


"Heuk!" Viona terkejut, corak itu bergerak secara konstan di tubuh Nana dan aliran itu membawa huruf-huruf yang telah dibacanya sebulan ini.


"Coraknya... selamat belajar dan semoga sukses?"


Tepat setelah Viona membaca kata-kata itu, Nana meletup menjadi debu. "Nana?!"


Serpihan debu yang melayang di udara itu bergerak mengitari Viona dan dalam sekejap membentuk angin yang cukup kencang.


Mata Viona terasa perih. Ia menahan angin itu dengan kedua tangannya serta menutup mata. Viona bisa merasakan angin yang mengelilinginya berputar lebih cepat. Napasnya memburu karena mencoba mengambil oksigen di udara yang menipis.


Tapi tak lama kemudian, angin terhempas dan menghilang.


Pemandangan di sekelilingnya berubah.


Viona dapat melihat punggung seorang wanita dengan jubah berwarna navy.


Mungkin karena merasakan keberadaan Viona, wanita itu berbalik. "Oh, kamu sudah berhasil."


"Ya?"

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku akan memanggil Elvo."


"Um, apa?"


__ADS_2