Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Festival Tundra


__ADS_3

"Bu, kenapa di luar sangat ramai?" tanya Viona saat melihat keadaan di luar hotel melalui kaca jendela.


Keluarga Liez sudah selesai makan siang dan sekarang sedang menikmati makanan penutup. Viona sibuk memakan pie apel yang tinggal setengah loyang. Dia masih belum kenyang bahkan setelah memakan sepiring ayam panggang dan berbagi sup krim kentang dengan kakaknya.


Di sisinya terdapat Victor sedang membaca buku sembari sesekali membantu Viona membersihkan mulutnya dari remahan kue.


Di hadapan Viona, ibu tirinya, Leili yang juga berada di sisi kaca sedang membaca koran sambil menikmati wine putih di gelas kelima.


Mendengar pertanyaan Viona, Leili meletakkan koran di tangannya dan menoleh ke arah jendela. Di luar sana banyak sekali orang berbondong-bondong memenuhi jalan.


Tidak terlalu jelas apa yang sedang mereka lakukan dari atas sini. Hanya saja siapapun tahu bahwa keadaan di luar sangat ramai.


"Mereka sedang mempersiapkan festival Tundra," ujar Leili lalu menyesap wine dari gelas di tangannya. "Aku tidak tau akan seramai ini."


"Festival Tundra?" ulang Viona, dia tidak pernah mendengar tentang hal ini.


Viona menatap kakaknya dengan raut penasaran. Tanpa adiknya bertanya pun, Victor mengerti bahwa adiknya meminta penjelasan mengenai Festival Tundra.


"Wilayah Tundra selalu menyambut datangnya musim gugur dengan mengadakan festival. Biasanya orang-orang akan membeli makanan dan minuman, melihat pertunjukan seni maupun bela diri, menyalakan api unggun dan berdansa bersama, bahkan kalau beruntung kita bisa melihat aurora."


*Woah," mata Viona terlihat cerah saat mendengar penjelasan dari kakaknya.


Dirinya, Thalia, yang tinggal di daerah jalur khatulistiwa tidak pernah sekalipun melihat aurora. Meskipun ia pernah pergi ke luar kerajaan bersama teman-temannya menuju daerah kutub, tidak pernah sekalipun ia melihat aurora secara langsung.


"Aku mau lihat aurora!" seru Viona bersemangat, ia menarik pandangannya dan menatap ibu tirinya. "Ibu, aku boleh ke festival kan?"


Leili mengangguk mengizinkan, "Victor temani Viona, kembalilah saat waktu makan malam tiba."


"Baik, Bu." balas Victor disusul dengan seruan bahagia dari adiknya.


Viona segera turun dari kursi dan berlari keluar dengan riang.


Victor senang melihat adiknya sangat ceria, hanya saja ada hal yang membuatnya khawatir, "Bu, apa tidak apa-apa? Aku khawatir kita akan terlambat kembali ke mansion di ibukota."


"Tidak, setelah dari sini kita akan pergi ke portal terdekat dan menggunakan sihir teleportasi." Mata tajam Leili melirik kerumunan di bawah sana, "Lagipula, kereta kita tidak bisa bergerak menerobos jalan."


Leili telah menyelesaikan gelas kelima, dia bangkit dan keluar dari bilik. Sebelum wanita itu benar-benar pergi, ia berpesan "Jaga adikmu baik-baik, jangan sampai kehilangannya lagi."


Ucapan ibunya membuat Victor terdiam. Menelan ludah kasar, laki-laki itu mengangguk mantap.


Tidak lama, wajah adiknya kembali muncul mengintip Victor dari balik pintu. "Kakak, kenapa diam saja? Ayo pergi!"


Victor tersenyum, "Ayo!"


...****************...


"Ingat ya, Viona. Selalu pegang tangan kakak," pesan Victor sebelum mereka benar-benar turun ke jalan tempat festival diadakan.


"Baik, Kak!"


Victor dan Viona sudah berganti baju menjadi pakaian rakyat. Meski begitu, Aura yang dipancarkan oleh Victor tetap terlihat jelas bahwa dia adalah bangsawan.


Caranya melangkah, berdiri dengan tegap, caranya tersenyum, dia juga begitu gesit menghindari tubrukan dengan orang-orang disini.


Tidak seperti Viona yang terlihat seperti orang yang baru saja keluar gua.


Matanya tidak fokus melihat kesana-kemari. Saat melihat hal yang menarik matanya langsung terlihat berbinar-binar. Tidak lupa gumaman kecil terus lolos dari bibirnya memperlihatkan bahwa dia kagum untuk segala hal yang terlihat.

__ADS_1


Terlebih, pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenaknya dan diutarakan begitu saja tanpa berpikir ulang.


Meskipun begitu, Victor dengan sabar menjawab setiap pertanyaan Viona.


Bagaimana Viona tidak heboh? Ini bukanlah festival biasa.


"Woah, ada orang yang punya tanduk banteng di kepalanya." Viona takjub melihat dua orang yang memamerkan bela diri di atas panggung.


"Mereka adalah minotaur, kakak juga baru pertama kali melihat mereka. Karena biasanya mereka selalu tinggal di labirin dan berlatih disana. Walaupun jarang keluar, mereka terkenal dengan bela diri yang khas."


"Ohhhh," Mereka menonton aksi bela diri itu hingga selesai. Victor memberikan Viona beberapa koin untuk diberikan kepada para minotaur itu.


Melanjutkan langkah, mereka menemukan lalu pandangan Viona tertuju pada tenda tenda yang didirikan oleh para pedagang. "Wahhh, itu apa?"


"Itu keju, menarik bukan?"


"Keju? Yang di atas batu itu?"


"Ya, saat kejunya meleleh, kamu bisa memakannya dengan roti atau kentang. Kamu mau?" tanya Victor seraya menarik Viona menuju tenda penjual keju itu.


Laki-laki itu langsung memesan satu meskipun adiknya tidak menanggapi. Gadis itu terlalu terpana memperhatikan keju yang dilelehkan di atas batu panas. Sesekali meneguk ludah saat penjual mengiris bagian atas keju berbentuk setengah lingkaran itu dan lelehan kejunya mengalir di atas satu potong roti.


Suara khas koin yang beradu terdengar di telinga Viona membuat gadis itu menoleh ke sumber suara. Ternyata kakaknya sedang membayar.


Mata Viona terbelalak melihat roti dengan lelehan keju di atasnya disodorkan Victor, "Makanlah, hati-hati masih panas."


Viona menerima dengan penuh rasa syukur, "Terimakasih kakak!"


Dirinya bahkan belum mengatakan apapun tetapi kakaknya sangat peka dan membelikannya makanan.


Yah, siapapun yang melihat binar di mata Viona serta gelagat gadis itu yang sering menelan ludah, pasti akan mengerti kalau dia menginginkannya.


Mereka mencari tempat duduk supaya Viona bisa makan dengan tenang. Namun di perjalanan, Viona tertarik dengan sebuah tenda besar berwarna biru.


"Silahkan bergabung dengan simponi sylph! Sebentar lagi acaranya akan dimulai! Silahkan dengarkan suara merdu dari para sylph yang berbakat! Silahkan!"


Mendengar hal itu, Viona menatap kakaknya yang jauh lebih tinggi dari dirinya. "Kakak, apa itu sylph?"


"Mereka adalah makhluk yang tinggal di lembah, suaranya sangat indah dan sering diundang untuk acara kerajaan. Tapi kita tidak bisa melihat mereka."


"Kenapa?"


"Karena mereka tidak ingin wajah mereka diketahui, jadi hanya suara dan cahaya kecil saja yang mendakan mereka ada. Mau lihat?"


Viona melihat roti keju ditangannya dan melihat kerumunan yang berbaris untuk mengantri tiket. "Hm... tidak. Aku mau makan saja," ujar Viona seraya menggeleng.


"Baiklah, kalau begitu mau makan di dekat air mancur?" ajak Victor setelah mengamati sekitar, daerah sekitar air mancur tidak terlalu ramai mengingat orang-orang masih berkumpul di sekitar area pertunjukan.


Gadis itu hanya mengangguk setuju. Ia ingin segera duduk dimana pun kakaknya membawa pergi.


Tidak lama, mereka akhirnya sampai di air mancur. Kolam yang berbentuk persegi dengan pancuran dari setiap sudutnya mengarah ke tengah. Membasahi air mancur bertingkat yang airnya meluber dari atas. Setiap tingkatnya terdapat ukiran burung dan tingkatan itu ditopang oleh patung laki-laki berpedang.


Di setiap sisinya terdapat kursi panjang yang disediakan untuk para pejalan kaki untuk istirahat sambil menikmati pemandangan hilir mudik orang-orang.


Beruntung kakak beradik ini mendapatkan tempat duduk.


Viona menghela napas lega saat pantatnya menyentuh kursi kayu itu. Akhirnya kakinya bisa beristirahat.

__ADS_1


Entah kenapa, meskipun tubuhnya masih anak-anak, tetapi karena jiwanya adalah mahasiswa yang selalu kelelahan membuatnya merasa lelah meski hanya berjalan sebentar.


Tapi rasa lelahnya hilang saat merasakan betapa lezatnya keju yang lumer di atas roti. Terlebih rotinya terasa lembut digigitan pertama.


"Eum...." senyuman merekah di bibir Viona saat merasakan kebahagiaan dari makanan.


Victor yang juga membeli keju dengan kentang terkekeh melihat betapa Viona sangat menikmati makanan. Ia yang hanya iseng untuk ikut membeli pun penasaran dengan rasanya.


Benar saja, kejunya sangat enak.


Viona menghabiskan roti kejunya lebih dulu. Sambil menjilati jari-jarinya yang lengket karena keju, ia menatap sekitar. Mencoba mencari mangsa baru.


Matanya mendapati lapisan di atas langit yang transparan. Apa itu sihir?


Kenapa ada sihir di atas sana?


Lapisan itu membagi bangunan tingkat di sepanjang jalan menjadi dua. Setelah diamati lebih lanjut, Viona melihat kelap kelip yang terbang di atas. Lalu, ia baru menyadari di setiap bangunan terdapat pintu kecil yang terbuka dan kadang menutup sendiri saat cahaya kelap kelip itu lewat.


"Kak, kelap kelip di atas itu apa?"


Victor yang baru saja menghabiskan gigitan terakhirnya pun mengikuti arah pandang adiknya.


"Oh, mereka itu peri."


"Peri?"


"Ya, peri. Mereka memiliki jalan tersendiri dan terpisah dari makhluk lainnya."


"Kenapa bisa begitu, Kak?"


"Kamu cuma bisa lihat cahaya dari sayap mereka kan?" tanya Victor dan direspon dengan anggukan dari Viona, "Karena mereka sulit kita lihat, jadi mereka diberikan jalan tersendiri supaya tidak terluka oleh makhluk lainnya."


"Berarti sylph juga memakai jalur di atas itu, ya?"


"Betul, lapisan transparan itu juga dibuat oleh sylph supaya menjadi batas. Hanya makhluk sekecil peri saja yang bisa melewati batas transparan itu, selainnya akan terpental."


"Ohhh, lalu kenapa ada pintu-pintu kecil di atas setiap rumah? Apa mereka menjual barang-barang untuk peri juga?"


"Kenapa adikku sangat pintar?" puji Victor seraya mengusap remahan roti di pipi adiknya menggunakan sapu tangan. Ia juga mengelap tangan adiknya hingga bersih.


"Hehe," Viona mengangkat kedua tangannya senang, "festivalnya seru sekali!"


Victor menatap langit yang mulai terlihat kemerahan. Tidak terasa malam hampir tiba, ia mengajak Viona untuk kembali ke penginapan Radiance.


"Tapi aku mau lihat aurora, Kak." rajuk Viona tidak ingin segera kembali.


"Hari ini belum masuk musim dingin di Tundra, jadi sepertinya kita tidak bisa melihat aurora." Victor merasa tidak tega melihat adiknya cemberut, seharusnya ia tidak membicarakan tentang aurora sejak awal.


Victor menekuk salah satu kakinya mencoba menatap mata Viona yang tertunduk, "Nanti kita bisa kesini lagi dan melihat aurora, Viona."


"Benarkah?"


"Tentu saja," untuk lebih meyakinkan adiknya, Victor mengangkat jari kelingkingnya. "Kakak janji."


Viona mengaitkan jari kelingkingnya dengan senang hati, "Baiklah! Ayo kita kembali!"


Kakak beradik ini pun kembali ke penginapan setelah membeli sebungkus permen.

__ADS_1


Victor tidak akan menyangka bahwa, di masa depan, janji itu begitu berat untuk ditepati.


__ADS_2