Memasuki Dunia Cerpen

Memasuki Dunia Cerpen
Mansion Liez


__ADS_3

Suasana ramai festival di luar sana sama sekali tidak mengusik seorang pria yang sejak tadi mengurus dokumen yang menumpuk.


Suara membalik lembar dokumen tak mampu meredam suara sorak sorai dari luar. Ledakkan cahaya kembang api. Nyanyian orang-orang yang menari mengelilingi api unggun.


Meskipun begitu, pria ini tetap fokus menyelesaikan pekerjaannya.


Nyala lilin yang terpasang di sudut meja menjadi satu-satunya sumber cahaya ruangan ini. Lalu cahaya rembulan yang masuk melewati kaca jendela yang tinggi menjulang ikut membantu penerangan.


'Tok Tok'


"Masuklah Phan," pria di dalam ruangan mengizinkan orang yang berada di depan pintu untuk masuk. Sebelumnya, ia telah mengecek aura di luar dan dari sanalah ia mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu.


Pintu terbuka menampilkan seseorang bernama Phan. Dibalik jubah hitamnya, tersembunyi pedang yang telah menelan banyak nyawa. Selain itu, terdapat pula pisau yang siap ditarik dari kedua sisi kakinya.


"Kau masih disini?"


Pria di balik meja itu meletakkan penanya lalu menatap Phan.


"Lalu apa? Mengikuti gadis itu kemana-mana?" dia menyenderkan tubuhnya di kursi seraya menutup mata, "Lagipula aku tau dia akan pergi ke ibukota."


Phan mendekati meja kayu bercorak harimau itu dan menaruh undangan berbingkai emas di atasnya.


"Itu undangan untuk pesta nanti," Phan mundur selangkah, "pastikan kamu membawanya supaya dunia tidak mencurigaimu."


"Baiklah," pria itu kembali membuka mata saat merasakan sesuatu datang, "sepertinya kau harus segera pergi."


Mata hitam Phan menyipit tajam saat memperhatikan sekitar. Pria itu membuka jendela sehingga suara festival lebih terdengar jelas. Sebelum melompat pergi Phan melontarkan ucapan, "jangan lupakan tugasmu."


Pria itu mengangguk dan menatap kepergian Phan. Dia kembali menulis di atas kertas seolah tidak terjadi apa-apa.


Pintu diketuk tiga kali dan seperti biasa pria itu mengecek aura di luar ruangan, "Masuk."


"Ya ampun, tuan Baron. Kenapa Anda membuka jendela begitu lebar?" seorang pelayan wanita segera masuk dan menutup jendela rapat-rapat.


"Lalu maid Anda mengatakan bahwa Anda belum makan sama sekali, kenapa pemilik restoran terbaik tidak bisa makan teratur?" lanjut pelayan wanita itu mengomel seraya merapikan dokumen yang berceceran di atas lantai akibat angin yang masuk melalui jendela.


"Ah, iya."


Pelayan wanita itu dengan cepat menoleh ke arah pria itu, merasa kesal karena jawaban asal dari tuannya. "Hanya itu?"


Dia bergegas mendekati pria yang masih santai menuliskan kata-kata, "Tuan, tolonglah makan dengan teratur. Saya akan membawakan makanan dan tuan harus menghabiskannya."


"Haruskah aku?"


"Tunggu saja, saya tidak akan pergi sebelum tuan menghabiskan makan malam Anda."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, pelayan wanita itu segera keluar dan menutup pintu dengan keras.


Pria yang ditinggalkan menggeleng tak percaya, "Sebenarnya siapa tuannya disini?"


Tanpa berpikir lebih lanjut mengenai sikap tidak sopan bawahannya, pria itu menaruh dokumen yang sudah selesai dicek di ujung meja lalu mengambil setumpuk dokumen lainnya yang baru.


"Tidak peduli aku makan atau tidak, jika penulis tidak menginginkan aku mati maka aku akan tetap hidup disini."


...****************...


"Kak, ugh, aku ingin muntah."


Kereta berlambang Marquess Liez baru saja melewati portal sihir dan berteleportasi langsung menuju kediaman Liez.


Viona yang tidak terbiasa menggunakan sihir teleportasi tentu tidak merasa nyaman.


Pintu kereta segera dibuka, Marchioness turun lebih dulu dibantu oleh kepala pelayan. Di depan pintu masuk mansion beberapa pelayan berbaris untuk menyambut kedatangan anggota keluarga Liez.


"Siapkan teh chamomile untuk Viona, lalu aku ingin mandi dengan benar."


Kepala pelayan menunduk mengerti setelah menerima perintah dari Marchioness, "Baik, Nyonya."


Kepala pelayan segera memerintahkan para maid untuk menyelesaikan perintah nyonya rumah. Mereka bergerak cepat untuk menjalankan tugas masing-masing.


Maid yang bertugas menyiapkan kamar mandi bergerak cepat menuju kamar Marchioness menggunakan jalan pintas. Sementara itu seorang maid berjalan menuju dapur untuk menyiapkan teh chamomile. Seorang lagi membawa wadah logam serta handuk mendekati kereta.


Wajah gadis itu pucat. Tangannya terus menutup mulut berusaha untuk tidak muntah.


Victor memperhatikan sekitar, mencoba mencari tempat supaya Viona bisa beristirahat lebih cepat tanpa menggunakan sihir.


"Viona, apa kamu mau duduk di sana dulu?" tanya Victor seraya menunjuk lokasi kursi. Ia akhirnya menemukan kursi panjang berbahan logam.


Viona mengangkat pandangannya ke arah kursi yang ditunjuk, melihatnya tidak terlalu jauh dia mengangguk pelan.


"Pastikan kursi taman itu bersih," ucap Victor kepada maid di dekatnya.


"Baik, tuan muda."


Maid itu segera berjalan lebih cepat. Dia mengecek kebersihan kursi dengan sapu tangannya. Setelah aman dia mengangguk pada Victor.


"Duduklah di sini, Viona." gadis kecil itu hanya bisa menuruti perkataan kakaknya, "Apa kamu masih merasa mual?"


Viona mengangguk, tidak kuat untuk membuka mulut. Bisa dipastikan ia akan muntah jika mengatakan sepatah kata saja.


Perutnya terasa bergejolak akibat dari sihir teleportasi. Ia pun pernah merasakan hal ini saat pertama kali menggunakan sihir teleportasi bersama Kak Elvo.

__ADS_1


Tapi perbedaannya, kali ini ia tidak terlalu merasa mual. Saat itu, Viona bahkan tidak bisa menahan muntah sedikitpun.


Rasa hangat tiba-tiba terasa di punggungnya, Viona menoleh mendapati kakaknya menaruh handuk sekaligus mengalirkan energi sihirnya.


"Hah..." Setelah beberapa saat, Viona menghela napas merasa lega.


Victor yang melihat hal itu pun tersenyum, "Merasa lebih baik?" tanyanya masih mengalirkan energi sihir.


"Iya, rasanya hangat."


"Kakak senang memiliki sihir api," ujar Victor tiba-tiba. Viona menatap kakaknya dengan bingung.


"Kenapa?"


"Kenapa? Hm... karena kakak senang bisa membantu kamu?" Victor terkekeh pelan seraya mengelus kepala adiknya lembut. Mendengar suara kakaknya, bibir Viona ikut tertarik ke atas dengan lemah.


Rasanya kebahagiaan kakak begitu murni sehingga bisa menular kepada orang yang melihatnya.


Senyuman yang muncul di wajah maid di dekatnya tertangkap di pandangan Viona.


Benar, kan. "Kakak seperti malaikat," celetuk Viona tanpa sadar.


Mendengar Viona memujinya sampai seperti itu membuat Victor tertawa lembut. "Terimakasih Viona," ia memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang, "kamu juga cantik seperti malaikat kecil."


Viona hanya bisa tersenyum tipis. Dia benar-benar tidak punya energi saat ini. Bisa berbicara dengan lancar saja sudah cukup.


Seorang maid datang membawa nampan berisi satu set peralatan teh berisi teh chamomile dan sepiring macaron berwarna-warni.


"Mau minum teh?" ucap Victor saat melihat maid itu semakin mendekat.


"Mau," mendengar persetujuan Viona, maid itu segera menyiapkan meja.


Viona menyesap teh chamomile secara perlahan dibantu dengan Victor yang turut membantu mengangkat cangkir.


"Woah, akhirnya." Lalu Viona menatap macaron dengan serius, mempertimbangkan apakah dia akan muntah setelah memakannya atau tidak.


Victor yang merasakan kebingungan Viona segera angkat bicara, "Kalau kamu memakannya secara perlahan dan sedikit demi sedikit, percayalah kamu tidak kaan merasa mual."


"Benarkah?" mata Viona menjadi berbinar-binar mendengar ucapan kakaknya. Mendapati kakaknya mengangguk untuk membenarkan perkataannya, Viona dengan senang hati mulai memakan macaron.


"Eum...! Enak hehe."


Kakak dan adik itu terlihat harmonis dari jauh. Semua orang merasa senang saat melihat pemandangan itu.


Terkecuali seorang pelayan yang baru saja membersihkan area latihan.

__ADS_1


"Malaikat? Ha! Jangan bercanda. Jika anak kecil itu tau apa yang dilakukan anak nakal itu selama ini, dia tidak mungkin bisa tersenyum."


__ADS_2