Memento : Reinkarnasi Ke Dunia Lain Tanpa Ingatan

Memento : Reinkarnasi Ke Dunia Lain Tanpa Ingatan
Chapter 4-hari pertama di akademi


__ADS_3

Akhirnya agate sudah beranjak remaja,ia sudah berumur 16 tahun, ini waktunya ia mulai dapat melatih dirinya di akademi.


"Akhirnya aku sudah bisa masuk akademi!! Yosh... Seperti nya aku akan mendapatkan wanita takdir ku!!"agate.


"Tapi siapa ya tadi yang memberitahu jalan ya? Perasaan ku ga ada orang tadi"agate.


"Oi... Aku berada di dalam tubuh mu"???.


"Lihat mata kanan mu"???.


Agate melihat ke mata kanan nya yang ternyata sudah di kendalikan oleh sesuatu, mata yang sangat garang. Berwarna merah di pupil dan iris nya,lalu berwarna hitam keseluruhan.


"Apa yang terjadi dengan mataku?!"agate.


"Tenang lah,aku sudah berada lama di dalam tubuh mu"???.


"Dan akhir nya aku bisa menggerakkan beberapa dari tubuh mu"???.


"Dan iya selama ini kau menguras daya sihir ku untuk menyelamatkan warga desa, berterimakasih lah kepada ku"???.


"Wooohoooooo keren aku cukup terkejut kukira aku memiliki kekuatan luar biasa ternyata selama ini ada jiwa yang berada di tubuh ku"agate.


"Kau cukup aneh, cukup melelahkan tau, kamu menguras banyak sekali daya sihir ku"???.


Jiwa tersebut sangat kesal dan marah karena yang selama ini digunakan agate bukan daya sihir nya,melainkan daya sihir dari jiwa yang berada di dalam tubuh nya.


"Ah iya aku mau......"agate.


"Oi lihat kedepan"???.


Agate menabrak tembok yang tepat berada di depan nya, lalu tanpa sengaja dia menabrak gadis di belakang dia, dia berdiri dan langsung meminta maaf.


"Maaf kan aku, aku tidak melihat kedepan"agate.


Agate membuka matanya yang mengejutkan diri nya bahwa yang ia tabrak adalah gadis yang begitu cantik dan indah. Dia memiliki kuping yang cukup panjang, lalu memiliki rambut berwarna silver terang dengan mata yang begitu indah berwarna biru seakan sebuah cahaya bulan terang di malam hari. Tidak salah lagi dia adalah gadis half elf.


Tapi aneh nya agate terasa familiar dengan gadis tersebut seperti pernah melihat dia sebelum nya.



"Tidak apa apa, bagaimana dengan mu?"gadis half elf.


"Ah aku baik baik saja, maaf ya"agate.


Gadis itu membuat pandangan agate terpana kepadanya, namun waktu berkata lain bell akademi berbunyi menandakan bahwa sudah mulai jam masuk.


"Aku harus bergegas, selamat tinggal"agate.


Dia bergegas berlari ke dalam akademi yang meninggalkan gadis itu sendirian tetap berada di situ.


"Eh ngomong ngomong, cewek tadi cantik ya?"???.


"Oi aku tidak bisa fokus berlari kalau kau mengatakan itu"agate.


"Di koridor jangan berlari"???.


Sehentak kata dari dalam tubuh nya membuat agate akhirnya berhenti berlari dan lebih memilih berjalan saja.


Namun ia sedikit pusing karena sekolah ini baginya seperti sebuah labirin raksasa, ia tidak membaca peta yang berada di depan sekolah nya tadi sebelum masuk karena tergesa-gesa.


"Apakah kamu tidak membaca peta sebelum nya?"???.


"Ahahaha.... Aku kelupaan membaca peta.."agate.


*Menghela nafas


Jiwa tersebut menghela nafas nya, akhirnya dia mulai memberitahu kepada agate kemana saja yang harus ia lewati.


"Baiklah kamu bisa mencoba mencari tahu di lorong pahlawan yang berada tepat di jalan yang sedang kau jalani"???.


"Disana ada sebuah peta dan beberapa nama pahlawan kau bisa mencoba mencari di sana"???.


"Ternyata kamu paham juga setiap jalan disini"agate.


Agate takjub mengetahui bahwa jiwa di dalam tubuh nya lebih mengerti tempat ini di bandingkan dirinya. Dia lalu mencoba hal yang di suruh oleh jiwa di tubuh nya yang pada akhirnya benar, dia sampai di koridor pahlawan dan ada peta di situ.


"Wah sungguhan ada!!"agate.


Agate lalu melihat lihat peta yang akhirnya dia paham dimana letak kelas yang harus dia masuki. namun, dia juga mencoba untuk melihat artefak artefak dan foto para pahlawan disana.


"Ternyata masih ada artefak disini, tapi kenapa rasa nya seperti familiar dengan pedang itu"agate.


Agate menunjuk ke arah pedang hitam dengan kristal merah dan dengan bilah bergelombang tajam layaknya baru saja di tempah.


Disaat dia hendak ingin menyentuh nya, seorang guru datang dan berteriak kepada nya.


"Berhenti disana, jangan mengambil pedang artefak itu"seorang guru.

__ADS_1


Dia menoleh dan memberhentikan tangan nya yang ingin mengambil pedang tersebut. Namun, ketika ia berbalik melihat pedang itu pedang itu berubah, berbeda dari yang tadi ia lihat.


"Apa? Padahal tadi berbeda"agate.


Agate berjalan dan mengikuti arahan dari guru nya untuk menuju ke kelas untuk mulai belajar.


"Apa yang terjadi? Kenapa pedang tadi berubah menjadi pedang yang berbeda? Apakah mungkin hanya halusinasi ku saja?"agate.


Agate berjalan sambil kebingungan akan yang ia lihat sebelum nya apakah itu nyata atau tidak. Di saat dia masih memikirkan hal itu, tanpa diberitahu ia di hentikan oleh guru karena berhenti mendadak.


"Baiklah, ini kelas mu"seorang guru.


Guru memasuki kelas yang ramai itu,lalu ia berkata.


"Okey, berhenti kalian semua jangan berbicara!"seorang guru.


"Kali ini kita kedapatan murid yang ketinggalan masuk kelas, masuk!"seorang guru.


Agate menarik nafas nya dan dengan santai ia mencoba masuk ke dalam kelas.


*Menghela nafas


"Okey, ayo masuk"agate.


Dia berdiri di depan kelas, mencoba mengamati.namun, wajah nya terpana pada satu perempuan, itu yang ia temui di saat depan gerbang sekolah, gadis half elf.


"A-uh-perkenalkan nama ku murasa agate, seorang anak pedesaan yang ingin mencoba melatih sihir"agate.


Dia di tertawakan oleh orang orang di kelas, ia cukup malu tapi ia tidak gentar sedikit pun.


"Ahahahaha lihat lihat orang pedesaan"murid.


"Ada ada aja anak desa masuk sekolah ini"murid.


"Sudah kalian diam, agate kamu bisa duduk di mana saja pilih lah"seorang guru.


Agate berpikir pikir sejenak tapi akhirnya dia tahu harus duduk dimana. Tentu saja, di samping gadis tersebut.


Ia menaruh tas nya dan duduk tepat di samping gadis tersebut, gadis itu hanya diam dan hening, suasana ini sedikit canggung.


Disaat kecanggungan ini sangat terasa, datang seorang lelaki yang langsung menanyai agate.


"Wah bro, hebat sekali kamu bisa masuk akademi ini!"murid.


"Ahahaha, tidak sehebat itu kok"agate.


"Perkenalkan nama ku Alesteir Hansven salah satu bangsawan dengan marga hansven, salam kenal ya agate"alesteir.


"Jangan terlalu percaya dengan keluarga bangsawan, salah satu dari beberapa bangsawan adalah penjahat hati hati dengan itu"???.


"Ah baik lah"agate.


Dia berbisik di dalam hati nya dengan jiwa yang memberitahu sedikit tentang bangsawan.


"Kamu juga alesteir"agate.


Mereka masih mengobrol santai namun gadis itu masih diam dan hening dia hanya terpaku ke pohon besar yang ada di tengah sekolah ini. Sempat ia ingin memanggil gadis itu namun hal berkata lain, guru langsung memulai pelajaran nya.


"Okey anak anak, kita akan berteori dulu untuk hari ini,di esok nya baru kita akan mencoba nya"seorang guru.


"Baik pak"seluruh murid.


"Baik sebelum itu, perkenalkan nama bapak adalah ard astra, panggil bapak sebagai ard saja"ard.


"Baik pak"seluruh murid.


Guru itu memperkenalkan dirinya dan memulai pelajaran dari dasar nya, yaitu koneksi daya sihir dengan sihir, rapalan sihir, berapa poin daya sihir yang di perlukan dan hal hal lain nya.


Pelajaran demi pelajaran telah di lewati, sekarang guru itu memberikan pertanyaan dan mempoinkan ke salah satu orang untuk mempraktekan dan menjelaskan. Sayang sekali tidak seberuntung author nya, agate terpilih untuk menjelaskan dan mempraktekan nya.


"Kita akan mencoba mempraktekan, kita akan mulai dari agate"ard.


"Baik pak"agate.


Agate terpilih untuk mempraktekan rapalan sihir, dengan wajah tegang dia mencoba maju ke depan dan mencoba untuk menjelaskan.


Wajah nya tetap tidak dapat berhenti tegang, dan tubuh nya tidak berhenti getar. Ini pertama kali nya dia maju ke depan dan berada di depan keramaian sangat tidak baik untuk orang orang paranoid di atas panggung.


"Coba kamu praktek rapalan sihir"ard.


"Baik pak"agate.


"Coba untuk tenang dan menghela nafas, lalu fokuskan dirimu dengan daya sihir yang ku miliki"???.


Agate menghela nafas dan mencoba dirinya untuk tenang, karena untuk merapal sihir butuh ketenangan yang baik.


*Menghela nafas

__ADS_1


Tanpa merapal dia seketika menciptakan sihir yang besar sihir fire explosion area. Sihir yang dulu agate pernah gunakan untuk menolong seorang gadis.


Semua murid terkejut karena agate dengan mudah nya menggunakan sihir sebesar ini dengan tanpa rapal, sungguh keajaiban.


Sentak gadis itu kaget dan terlihat seperti mencurigai agate.


"Lihat wajah gadis itu, terkejut bukan?"???.


Wajah guru ard sangat kebingungan dan tercengang akan hal yang dilihat nya ini.


"Tidak ada yang bisa melakukan sihir tanpa merapal selain pahlawan sihir"ard.


Alesteir menepuk tangan nya, serentak setiap murid mulai menepuk tangan nya dan terpukau akan sihir dari agate.


Hari itu adalah hari pertama nya di sekolah yang memukau teman satu kelas nya, hari yang biasa di gunakan para mc untuk terlihat mencolok.


Waktu demi waktu telah di lewati, akhirnya mulai waktu untuk istirahat.


"Sudah istirahat, mau ku beritahu letak kanton di akademi ini?"alesteir.


Waktu istirahat agate berjalan bersama alesteir ke kantin dan meninggalkan gadis itu begitu saja.


Di kantin dia tersesat dan kehilangan jejak alesteir, dia mencoba jalan di taman yang ada pohon raksasa di tengah nya.


"Aku daritadi memikirkan sesuatu"agate.


"Apa itu?"???.


"Apakah kamu memiliki nama? Seharus nya setiap orang memiliki nama"agate.


Pertanyaan itu serasa ingin mengatakan bahwa agate tidak tahu selama ini nama di dalam tubuh nya.


"Nama ku ya? Punya lah nama ku kabane miyuki, salah satu pahlawan"miyuki.


"Pahlawan? Apakah yang berada di koridor sebelum nya?"agate.


Di saat ia ingin menanyakan pertanyaan itu seketika sebuah perasaan yang khas melewati jiwa dan raga nya.


Agate terpaku oleh gadis elf begitu cantik yang sedang berada di tengah taman dan sedang berbicara dengan burung. Dia mencoba datang dan menyapa nya.


"Ah... Halo"agate.


Sentak gadis itu terkejut akan kedatangan agate dam mencoba membuka mata nya lalu menyadari bahwa seorang lelaki atau mc yang sedang memanggil nya.


"Halo juga"gadis elf.


"Sedang apa seorang gadis disini?"agate.


Agate mencoba mencari tempat duduk yang nyaman, ya benar, tanah yang di benihi rerumputan adalah tempat duduk yang nyaman.


"Ah.. tadi aku sedang mencoba berbicara dengan alam, ini kebiasaan ras elf"gadis elf.


"Wah apa itu?! Aku ingin mencoba nya"agate.


"Eh... Mm... Boleh saja tapi ini cukup sulit untuk di coba"gadis elf.


Mata agate bersinar sinar dengan wajah polos nya yang terlihat menawan dia ingin sekali mencoba melakukan nya. Gadis itu kalah dengan keoptimisan nya lelaki tersebut.


"Baik lah, kamu coba tenang kan diri dan coba dengarkan suara alam sekitar"gadis elf.


"Dengar suara yang merdu dari setiap alam, tutup mata mu, lalu coba untuk tenang"gadis elf.


Ketenangan mulai mengitari agate, seakan dia seperti menyatu dengan alam dia mulai merasakan ketenangan yang menyatu.


"Hei, kau sedang apa?"alesteir.


Pertanyaan alesteir itu mengejutkan agate dan gadis itu yang sedang mencoba menyatu dengan alam.


"Hah... Kemana saja kamu alesteir? aku mencari mu"agate.


"Hehehe maaf ya"alesteir.


Alesteir cengengesan karena setiap dia mengetahui makanan dia akan selalu menghilang karena kecepatan yang sangat mengerikan.


"Kalau gitu aku akan perkenalkan teman baru ku"agate.


"Nama nya adalah.....?"agate.


Agate tiba tiba terdiam dan kebingungan, yang di mana dia baru sadar kalau gadis ini belum memberitahu nama nya.


"Siapa ya nama mu?"agate.


Dengan wajah polos dan penasaran nya dia mencoba menanyai gadis itu.


"Maaf, maaf aku lupa memberitahu nama ku"gadis elf.


"Perkenalkan nama ku adalah nirvana mana, seorang gadis half elf"mana.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2