
Setelah menutup telepon Johan Winardi, Adi lalu menghubungi manajer toko yang bernama Liando.
“Anda mencari siapa?” ucap orang yang ada di seberang telepon dengan acuh tak acuh.
“Aku Adi.” kata Adi
Dari seberang sana terdengar suara kursi yang digeser, lalu Liando dengan ramah berkata, “Tuan Linnus, ternyata Anda, apa yang Anda butuhkan?”
Tadi Johan meneleponnya, mengatakan kalau seseorang yang bernama Adi mencarinya, dan dia berpesan apapun permintaannya, dia harus menyetujuinya.
Bahkan jika Adi ingin mengosongkan toko itu, dia juga harus bekerja sama.
Liando bukan orang bodoh, dia tahu kalau Adi pasti adalah orang yang sangat penting, kalau tidak Johan tidak mungkin langsung turun tangan dan meneleponnya sendiri.
“Aku ada di toko peralatan elektronik rumah tangga, kamu kesini sebentar.” setelah Adi selesai mengatakannya, dia langsung menutup teleponnya.
Lalu berjalan kembali ke toko mewah tersebut, penjaga toko dan Christy masih berdiri disana.
Penjaga toko dengan wajah yang terlihat mengejek dan Christy dengan wajah yang terlihat canggung.
“Kenapa, apakah kamu menelepon untuk meminjam uang dan tidak mendapatkannya, kuberitahukan padamu, jika kamu tidak punya daya beli, jangan berpura-pura di sini, orang sepertimu membuat orang merasa sangat jijik.” ucap penjaga tanpa toleransi.
“Aku sudah memanggil manajer kalian kesini, tunggu sampai dia datang baru kita bicarakan lagi.” kata Adi tanpa ekspresi.
Penjaga toko tersebut lebih tidak percaya pada kata-kata Adi, lalu memperbesar suaranya dan berkata, “Kamu? Memanggil manajer kami, apa kamu bermimpi, kecuali kamu adalah pelanggan penting, kalau tidak manajer kami tidak mungkin akan datang menemani orang miskin seperti kalian, hanya buang-buang waktu saja.”
Adi tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di sana dan menunggu.
2 menit kemudian, seorang pria berwajah kurus dengan setelan jas berlari masuk ke dalam toko, kelihatan sekali kalau dia datang ke toko dengan kecepatan tinggi.
Penjaga toko tersebut merasa sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau manajernya benar-benar akan datang kesana.
Tetapi dia berpikir kalau ini adalah kesempatan yang baik baginya, jika dia menjelaskan kepada manajer mengenai Adi yang tidak sanggup membeli televisi di sana, tapi masih saja membuat onar di toko, mungkin saja manajer akan memujinya.
“Manajer, di sini ada orang yang tidak sanggup membeli televisi, tetapi dia tetap berkata kalau dia sanggup membelinya, dan menyuruh kita untuk mempersiapkan untuknya, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan uang, dia benar-benar kesini hanya untuk membuat onar, masih mengatakan kalau dia menyuruh Anda datang ke sini.” lalu manajer melangkah maju dan berkata, “Yang mana orangnya?” tanya Liando.
__ADS_1
Penjaga toko tersebut langsung menunjuk ke arah Adi dan berkata, “Itu orangnya, masih berlagak hebat di sini, aku sudah tidak tahan melihatnya.”
Liando melihat ke arah Adi, bertanya, “Anda... Tuan Linnus?”
Adi menganggukkan kepalanya.
“Manajer, untuk apa Anda memanggil orang seperti dia dengan sebutan Tuan, aku tidak memanggilnya pengemis juga sudah sangat memberinya muka.” kata penjaga toko lebih percaya diri karena melihat manajernya sudah datang, kata-katanya semakin tidak enak didengar.
Wajah Liando langsung berubah, orang itu adalah sosok yang sangat dihormati oleh Johan, dan penjaga toko ini berani sekali mengatakan kalau dia seorang pengemis, benar-benar tidak ingin hidup lagi.
“Sial, tutup mulut kotormu itu, apakah tuan Linnus adalah orang yang bisa kamu kritik sembarangan?” Liando memelototi penjaga toko tersebut
Melihat Liando yang tiba-tiba sangat marah, jantung pramuniaga tersebut berdegup kencang, bagaimanapun juga, dia tidak menyangka kalau Liando bisa membantu Adi bicara seperti itu.
“Manajer, Aku...”
“Kamu apa, disini tidak ada hakmu untuk bicara.” kata Liando geram.
Saat ini penjaga toko tersebut baru menyadari, dia mungkin telah menyinggung seseorang yang sangat penting.
Setelah dia selesai memberi peringatan pada penjaga toko tersebut, dia segera berbalik badan dan berkata dengan wajah penuh hormat pada Adi, “Tuan Linnus, aku sangat minta maaf, penjaga toko ini adalah orang baru, jadi banyak aturan yang belum dia pahami, mohon maafkan dia.”
“TV mana yang Anda inginkan, aku akan menyuruh orang untuk mempersiapkannya dan mengirimnya ke rumah Anda.”
Adi menunjuk ke arah TV yang berharga 78 juta tersebut, dan berkata, “Yang itu.”
Liando segera menganggukkan kepalanya, berkata, “Tuan Linnus, tolong berikan alamat Anda, aku akan menyuruh mereka mengantarkannya ke rumah Anda sesegera mungkin.”
Adi segera memberikan alamatnya kepada Liando.
Setelah Liando mencatat alamat tersebut, lalu dia melirik ke arah Christy dan memujinya, “Anda Nyonya Linnus ya, Anda benar-benar cantik sekali.”
Christy walaupun sedikit merasa malu, tetapi mendengarnya membuatnya sangat tersanjung, jika dibandingkan dengan rasa canggungnya tadi benar-benar terasa seperti langit dan bumi.
Adi tidak banyak bicara, walaupun seorang Liando tetapi dia tetap hanyalah salah satu orang yang bekerja untuknya, jadi tidak perlu baginya untuk merasa sungkan.
__ADS_1
“Oh ya, kualitas penjaga toko di sini perlu ditingkatkan, bukan saja tidak mengutamakan pelanggan, tetapi malah mengejek pelanggan, penjaga toko seperti ini jika tidak ada juga tidak apa-apa.” kata Adi lagi sebelum dia beranjak pergi.
“Yang Tuan Linnus katakan memang benar, kedepannya aku akan meningkatkan kualitas pelayanan kami disini, aku tidak akan mempertahankan pramuniaga yang kualitasnya buruk.”
Adi menganggukkan kepalanya, lalu membawa Christy pergi meninggalkan toko tersebut tanpa membayar sepeserpun.
Wajah penjaga toko itu seperti mayat hidup, dia sangat menyesal telah bersikap seperti itu kepada Adi, jika saja dia melakukan tugasnya dengan baik, maka tidak akan terjadi hal seperti ini.
“Pergi ke bagian keuangan, ambil gajimu satu bulan dan pergi dari sini, kami tidak bisa mempertahankanmu lagi.”
Nada suara Liando sangat dingin, setelah menyelesaikan ucapannya, dia lalu berbalik badan dan pergi.
Saat Adi dan Christy sedang berjalan, Christy menatap wajah Adi dengan rasa ingin tahu, lalu bertanya, “Kenapa Manajer itu tidak meminta uang padamu, televisi itu harganya 78 juta”
“Aku menelepon teman dan menyuruhnya untuk membayarnya dulu, nanti aku akan mengembalikannya.” kata Adi sambil tersenyum.
Christy lalu menganggukkan kepalanya, saat melihat sikap Liando kepada Adi tadi, membuatnya mengira kalau Adi adalah pemilik dari toko elektronik tersebut, ternyata dia menyuruh temannya membantu membayarnya terlebih dahulu.
Tidak lama setelah mereka berdua sampai ke rumah, kurir pengantar televisi tersebut juga datang, mereka dengan antusias memasangkan televisi tersebut.
Malamnya, Saat Sonia dan Irwan pulang ke rumah, mereka sangat terkejut melihat televisi yang ada di ruang tamu sudah diganti dengan televisi baru.
“Ini smart TV yang harganya 78 juta, kok bisa ada di rumah kita?”
“Pasti Christy yang membelinya, sepertinya saat persiapan pameran waktu itu, Christy mendapat banyak keuntungan” kata Irwan.
Keduanya berada di depan televisi dan melihat dengan seksama untuk waktu yang lama.
“Christy sekarang sudah menjadi anak yang berguna buat kita, sampai membelikan televisi yang begitu bagus buat kita, nanti aku pasti akan terus memuji putri kita di luar sana.” kata Sonia dengan wajah yang tertawa berseri-seri.
Tidak begitu lama kemudian, Adi datang dan ingin melihat bagaimana kinerja televisi tersebut, lalu dia berjalan sampai di depan televisi dan membukanya.
Pada saat dia baru saja mengambil remote dan mengubah saluran televisi, Sonia tiba-tiba keluar dan merebut remote control tersebut dari tangan Adi.
Sonia menatap Adi dalam-dalam, lalu dengan suara lantang berkata, “Ini televisi yang dibeli putri kami untuk kami, dan lagi televisi ini sangat mahal, bukan sesuatu yang bisa kamu lihat, kedepan jika kamu ingin menonton televisi, pakai saja televisi tua itu, jangan sentuh televisi baru ini!”
__ADS_1