Menantu Terkaya

Menantu Terkaya
JUAL SAJA TELEVISINYA


__ADS_3

“Kemungkinan besar begitu, lagipula tidak banyak yang sanggup membeli produk kosmetik semahal ini.” Christy mengangguk sambil berpikir


Saat itu, Adi yang berada di samping mereka tertawa mendengarnya, dan kebetulan Cindy melihatnya.


Dia memelototi Adi dan berkata, “Apa yang kamu tertawakan, bagaimanapun, orang yang membeli produk kosmetik ini untuk kami, pasti bukan kamu.”


“Christy, aku lihat kamu lebih baik jangan berharap terlalu banyak pada pria tidak berguna ini, orang seperti dia, seumur hidupnya mungkin tidak akan bisa membelikanmu kosmetik semahal ini."


Christy melihat wajah Adi, saat itu dia masih merasa sedikit curiga kalau Adi yang membeli alat make up itu buat mereka.


Tetapi mengingat Adi yang dari tadi terus bersama dengan mereka, dia jadi berpikir kalau produk kosmetik itu mungkin saja pangeran berkuda putih Cindy yang membelikannya.


Tapi hal ini tidak membuatnya berpikir kalau Adi tidak sanggup membelikan produk kosmetik semahal itu untuknya, dia bahkan pernah menghadiahkan kalung hati venus, alat make up ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kalung tersebut.


Kepala penjaga toko membantu mereka membungkus kosmetik tersebut, dan Adi yang bertugas membawakan barang bawaan mereka, lalu mereka bertiga berjalan keluar dari toko Chanel tersebut.


Melihat mereka bertiga yang sudah berjalan keluar, kepala penjaga toko tersebut tidak bisa menahan diri dan berkata, “Jelas-jelas kosmetik tersebut dibeli atas nama pria tampan itu, wanita itu masih begitu memandang rendah dirinya, benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang-orang kaya sekarang ini.”


Ketiga orang tersebut melanjutkan jalan-jalan di mal, hal yang tidak diduga oleh kedua wanita itu adalah, toko-toko barang mewah dan bermerek yang ada di mal seperti sudah membuat kesepakatan, saat melihat mereka bertiga, semua penjaga toko menyambut mereka dengan sangat ramah.


Kemudian setiap kepala penjaga toko akan langsung turun tangan untuk melayani mereka, lalu menghadiahkan barang termahal yang ada di toko kepada mereka berdua.


Cindy dan Christy terlihat sangat bingung, ini adalah pertama kalinya mereka jalan-jalan di mal seperti jalan-jalan di rumah sendiri, tidak peduli barang apapun itu, selalu ada orang yang memberikannya secara cuma-cuma pada mereka.


Cindy dengan sangat penasaran bertanya pada kepala penjaga toko, siapa yang membayar barang-barang ini untuk mereka?


Kepala penjaga toko tersebut tertawa dan tidak mengatakan apa-apa, beberapa dari mereka ada yang diam-diam melirik ke arah Adi, tetapi jawaban yang mereka berikan tetap sama, mereka tidak bisa mengatakannya.


Identitas pria misterius itu membuat Cindy sangat penasaran, tetapi pada dasarnya dia sudah dapat memastikan kalau orang yang membayar barang-barang tersebut adalah Matahari Pagi.


Pada saat acara siaran langsung tadi, matahari pagi juga langsung pergi setelah memberikan hadiah padanya tanpa mengatakan sepatah katapun, sama percis dengan pria misterius yang membayar barang belanjaan mereka di mal.


Christy juga mengira kalau yang membayar barang belanjaan mereka adalah matahari pagi, karena tidak terpikir lagi oleh mereka siapa orang yang bisa membayar barang-barang ini untuk mereka.


Hanya Adi seorang yang tahu kalau Pak Teddy lah orang yang melakukannya demi untuk menyenangkan hatinya.


Dan juga dengan adanya Matahari Pagi sebagai perbandingan, Cindy semakin memandang rendah Adi, dia ingin sekali membandingkannya dengan sampah.


Jika Christy tidak melihat dengan jelas bagaimana kinerja Adi selama ini, dia mungkin saja akan terpengaruh oleh kata-kata Cindy tentang Adi.


Setelah berkeliling satu putaran, tangan Adi terlihat membawa banyak tas belanjaan besar dan kecil, semua barang-barang tersebut adalah barang-barang mewah dan mahal, jika ditambahkan semuanya, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

__ADS_1


Pak Teddy demi untuk membuat hati Adi senang, dia benar-benar tidak menghitung berapa biaya yang dikeluarkan, tentu saja, uang-uang ini hanyalah uang kecil bagi keluarga Linnus


Sayang sekali Adi bukan anak laki-laki polos seperti dulu lagi, Keluarga Linnus tidak peduli pada uang-uang itu, sama halnya juga dengan Adi, dia juga sama sekali tidak peduli.


“Kamu harus hati-hati, barang-barang ini adalah pemberian dari pangeran berkuda putihku, jika terjatuh, kamu tidak akan sanggup membayar uang ganti ruginya.”


Di dalam hatinya, Adi jika dibandingkan dengan pangeran berkuda putihnya, hanyalah seperti sebuah sampah.


Mereka bertiga keluar dari mal dengan hasil barang belanjaan yang banyak, suasana hati Cindy sangat baik, dia mengambil barang miliknya, lalu pamit pada Christy dan pulang dengan naik taksi.


“Christy, ingat minggu depan ada reuni dengan teman-teman kuliah, jika kamu tidak pergi, ketua kelas pasti akan sedih.” Kata Cindy sebelum pergi meninggalkan mereka.


Adi membawa barang belanjaan dan pulang ke rumah bersama Christy, sesampainya di depan gerbang komplek, dia menyadari kalau pria penjual mie ayam tersebut tidak datang lagi hari ini.


Tanpa berpikir terlalu banyak, Adi dan Christy lalu pulang ke rumah dan meletakkan barang belanjaannya di atas meja.


Sonia keluar dari kamarnya, melihat begitu banyak barang belanjaan, dia segera melihatnya.


“Christy, aku dengar semua barang-barang ini adalah barang bermerek, saat pameran barang antik kemarin, berapa uang sampingan yang kamu dapat, sampai bisa membeli barang-barang semahal ini.” Tanya Sonia yang masih sedikit kaget.


“Barang-barang ini adalah hadiah dari kekasih Cindy, tidak memakai uangku sama sekali.” Kata Christy memberi penjelasan.


Sonia membelalakkan matanya setelah mendengar kata Christy, lalu bertanya, “Apakah kekasihnya sangat kaya?”


Sonia langsung melirik ke arah Adi, Sorot mata penuh kebencian bertambah berkali lipat, “Lihatlah orang lain, lalu lihatlah dirimu sendiri, seharian cuma makan dan bermalas-malasan, barang-barang ini sampai harus orang lain yang menghadiahkan untuk putriku, kenapa keluarga kami bisa ketemu dengan pecundang seperti kamu.”


“Aku juga bisa memberikan barang-barang ini pada Christy.” Kata Adi


“Dengan memakai apa? Kamu selama ini makan dan minum di keluarga kami, apa kamu juga mau menipu uang putriku? Jika kamu punya pikiran seperti itu, lebih baik kamu sekarang keluar dari rumah kami!” kata Sonia dengan agresif.


Christy melihat Sonia mulai kumat lagi, dengan sedikit tidak sabar berkata, “Bu, kalau Ibu mengatakan hal seperti ini lagi, aku akan marah.”


Sonia memanyunkan bibirnya, dan berhenti memarahi Adi, lalu tiba-tiba teringat sesuatu dan berkata,”


“Oh ya putriku, hari ini Paman Wang datang ke rumah kita, dia menyukai televisi kita, dan mengatakan kalau televisi kita adalah produk edisi terbatas jadi dia susah mendapatkannya, dia sudah lama ingin memiliki televisi tersebut.”


“Paman Wang bersedia membayar 82 juta untuk membeli televisi kita, aku ingat harga televisi itu hanya 78 juta, jadi dengan menjual kepadanya seharga 82 juta kita masih bisa mendapatkan keuntungan 4 juta, jadi aku menyuruhnya membawa televisi tersebut.”


Saat itu Adi dan Christy baru menyadari kalau televisi yang ada di ruang tamu, sudah kembali menggunakan televisi lama.


Christy langsung panik dan mengatakan, “Ibu, kenapa kamu tidak meminta persetujuanku untuk menjual televisi tersebut, ini adalah pemberian…”

__ADS_1


“Aish, putriku, lagipula kamu membelikan televisi untuk kami, niat baikmu sudah kami terima, televisi sebesar itu kami tidak biasa menontonnya jadi lebih baik dijadikan uang saja.” Kata Sonia sambil tertawa.


Christy tidak tahu harus berkata apa lagi, Adi lah yang membeli televisi tersebut, kalaupun mau dijual seharusnya mendapat persetujuan dari Adi dulu.


“Ibu, kenapa kamu begitu pelupa, aman Wang seperti apa masa bu tidak tahu? Dia selalu mengatakan hal-hal yang enak didengar, dia sudah memindahkan televisinya, mana uangnya?” Tanya Christy.


“Kata Paman Wang, akhir-akhir ini dia sedang terhimpit masalah keuangan, dia akan memberikan uangnya nanti.” Jawab Sonia.


Christy menepuk jidatnya, mendengar kata-kata Paman Wang, uang ini pasti akan dikembalikan dalam waktu yang lama, atau mungkin saja tidak akan kembali lagi.


Tentu saja, yang paling penting adalah, dia menjual televisi tersebut tanpa mendapat persetujuan dari Adi terlebih dahulu


“Apa Ibu lupa dulu Paman Wang pernah meminjam uang pada kita, lima tahun uangnya juga belum kembali, lalu ayahku pergi membujuknya, dia baru mengembalikannya 70%, Paman Wang itu bukan orang yang baik, untuk apa kamu memberikan televisi itu kepadanya, lagian seharusnya Ibu mendiskusikan dengan kami terlebih dahulu.” Christy sangat emosi sampai menggertakkan giginya.


“Ha? Putriku, mendengar katamu tadi, aku baru teringat kalau dia pernah meminjam uang kita, televisi itu sudah diambil olehnya, jadi harus bagaimana.” Tanya Sonia dengan wajah merasa bersalah dan polos.


Christy sangat emosi sampai tidak ingin berbicara dengannya, lalu dengan wajah merasa bersalah menatap Adi.


Adi tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa.”


Malam harinya saat mereka sudah kembali ke kamar, Christy melihat Adi dengan wajah yang merasa sangat bersalah, lalu berkata, “Begitulah ibuku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, uang televisi itu, aku akan mencari cara untuk membayarnya.”


“Jangan berbicara seperti orang luar, televisi itu memang dibeli untuk Ayah dan Ibu, bagaimana mereka menggunakannya itu terserah mereka, aku tidak keberatan.” Kata Adi.


“Tetapi Paman Wang itu benar-benar bukan orang yang baik, dia mengambil televisi itu sama dengan dia mengambilnya secara cuma-cuma, uang itu pasti tidak akan Kembali lagi, ibuku bodoh sekali, sampai-sampai bisa percaya pada kata-kata Paman.” Christy menghela nafas.


“Paman Wang? Orang yang dulu pernah datang sekali ke rumah?” Tanya Adi.


Christy mengangguk.


Adi punya sedikit ingatan tentang Paman Wang, orang itu memang brengsek, jika ingin dia mengembalikan uang itu, dia pasti akan membuat rencana lain, dan membuatmu takut hingga terkena serangan jantung.


Tingkat kekejamannya setara dengan Wani Kusnadi.


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku bisa membuatnya mengembalikan uang itu.” Kata Adi.


Christy merasa sangat terkejut, tetapi mengingat selama ini Adi sudah melakukan banyak hal yang tidak terduga olehnya, jadi dia mempercayainya.


Dia tidak lagi memikirkan hal itu, setelah berjalan-jalan seharian, seluruh tubuhnya sangat lelah.


Saat dia ingin menggunakan tangannya untuk memijat diri sendiri, tiba-tiba terlintas di pikirannya saat Adi memijatnya kemarin malam.

__ADS_1


Dia menolehkan kepalanya dan melirik Adi, dengan hati-hati berkata, “Itu… bolehkah memijitku sebentar, kemarin malam pijatanmu sangat nyaman.


__ADS_2