Mengejar Cinta Kondektur

Mengejar Cinta Kondektur
11. ALEA PATAH HATI


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui oleh Alea seperti hari-hari sebelumnya, menjadi seorang juru parkir dengan penghasilan yang tidak menentu. Namun, semua itu tidak jadi masalah untuknya. Biarpun begitu Alea tetap mensyukuri jerih payahnya selama ini.


Alea dan Ali sudah sebulan ini sering nongkrong berdua, dan entah mengapa perasaan cinta itu semakin dalam datangnya karena keduanya sering bertemu, dan mungkin itulah yang dirasakan Alea. Cinta seiring waktu namun tidak berani menyatakannya.


Seperti saat ini. Dimana Alea dan Ali sedang makan berdua di warung soto. Yang terletak di jejeran trotoar karena Ali sudah berjanji untuk mengajak Alea makan di warung soto langganannya.


"Al, maaf ya. Gue bisanya traktir elo sama ini doang," kata Ali meminta maaf karena, hanya soto itulah yang mampu ia beli.


"Gak masalah kok. Ini juga udah enak," jawab Alea pada Ali sambil mengaduk-aduk soto itu dengan sambal dan jeruk nipis, yang sudah disediakan


"Semakin gue deket sama elo. Kenapa semakin rasanya sakit ya," gumam Alea dalam hati karena merasa jika dirinya, sudah terlalu jauh mencintai laki-laki yang ada di depannya. Meskipun Ali sama sekali tidak melihat pancaran cinta di mata Alea.


"Lain kali gue akan traktir elo di restoran mewah," cletuk Ali dengan melebarkan kedua tangannya.


"Apaan sih elo. Ini bukan adegan titanic jadi jangan seperti itu. Geli gue liatnya," ujar Alea saat melihat Ali melebarkan kedua tangannya.


"Kelihatan elo gak pernah pacaran kan, iya kan. Ngaku elo," sindir Ali pada Alea.


"Memangnya harus gue laporan dulu sama elo gitu, kalau gue pernah pacaran." Alea kesal dengan Ali karena memang Alea belum pernah pacaran.


Sepertinya nasib percintaannya tidak bagus. Karena Alea sedang patah hati. Untuk yang pertama kalinya, baru juga merasakan jatuh cinta, namun kisahnya sangat mengiris hati.


"Emang elo udah punya pacar berapa selama ini?" tanya Ali dan itu membuat Alea gelagapan karena tidak bisa menjawab.


Jangankan berapa banyak pacar. Satu pacar saja ia tidak punya, nasib-nasib.


"En-enggak perlu elo tau gue punya berapa banyak laki," ujar Alea dengan wajah layaknya udang rebus.


"Tujuan elo ke sini mau ajakin gue makan, apa mau ajakin gue ghibah?"


Bukannya Ali menjawab. Justru malah tertawa karena merasa geli pada Alea.


......................

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain.


Sebuah rumah yang amat megah, duduk dua orang yang sedang berdebat.


"Kalau saja Mama tidak memaksa Ando. Mungkin sekarang dia masih di sini. Di tengah-tengah kita," kata lelaki setengah baya. Menatap wajah sang istri penuh kekecewaan.


"Apa sedikit saja Papa tidak bisa membelaku. Papa tahu kan kalau Mama melakukan semua ini demi masa depan Ando," ujar perempuan itu pada sang suami yang merasa jika suaminya sangat tidak adil. Semuanya dilakukan hanya semata-mata Ando tidak salah memilih pasangan. Apalagi wanita jaman sekarang yang dicintainya adalah harta bukan orangnya.


"Karena Mama lebih mementingkan soal bebet dan bobotnya. Tanpa mau memikirkan anak kamu," kata


laki-laki itu.


“Aku peduli dengan anak kita, tapi aku juga ingin kalau Ando bsa memiliki pasangan yang sejajar.”


“Ingat, semua itu tidak akaan membawa kebahagiaan kalau salh satu diantara mereka ada yang tersiksa. Bagaimana juga harta tidak bisa menjanjikan sebuah kebahagiaan,” tegas lelaki itu yang diketahui bernama pak Fery.


Setelah mengatakan panjang lebar, lelaki itu pun langsung pergi meninggalkan istrinya.


“Dasar menyebalkan, pokoknya aku tidak mau kalau sampai Ando mencari pasangan yang salah.”


Wanita yang selalu menomor satukan kasta itu, bernama bu Indara. Ibu dari Ando yang ingin menjodohkannya dengan salah satu anak temannya, namun sayang. Sebelum pernikahan terjadi Ando lebih dulu pergi dari rumah.


“Aku harus mencari ke mana lagi Ando,” gumam bu Indara. Yang sekarang sedang kebingungan tidak tahu keberadaan sang anak.


Jika di rumah mewah sedang kehilangan sosok sang anak. Berada di rumah sederhana yang tidak terlalu besar.


Di sinilah Alea sedang mengungkapkan isi hatinya pada temannya yang bernama Alby.


Keduanya duduk berdua di plataran rumah milik Alea dengan sesekali memakan jagung bakar.


"Al, elo kenapa?" tanya Alby saat melihat Alea yang hanya menatap jagung itu, tanpa menyentuh atau menggigitnya.


"By, kamu pernah patah hati?" tanpa menoleh dan masih memandangi jagung yang telah dipegangnya. Alea bertanya pada Alby.

__ADS_1


"Sakit, tapi lama-lama move on juga dari orang yang sudah menghianati gue." Jawab Alby yang masih asik menggigit jagung bakar tersebut.


"Caranya melupakan bagaimana? Agar rasa ini tidak semakin sakit," kata Alea dengan suara lirih dan itu membuktikan kalau ia sangat mendalami peran itu.


"Al," panggil Alby.


"Hm." Jawab Alea.


"Apa elo ada di posisi itu, memang siapa laki-laki itu?" tanya Alby.


"Elo gak perlu tahu siap orang itu. Yang jelas dia memang gak suka sama gue, guenya saja yang terlalu alay karena suka sama orang yang jelas-jelas sudah punya kekasih." Alea mencoba meredam rasa sakit itu dan mencoba bagaimana menghilangkannya?


"Jauhi dia, maka dengan perlahan elo akan lupa."


Alea diam mematung, menatap Alby dengan jarak dekat.


"Apa dengan begitu gue bakal lupa sama dia," ujar Alea menyakinkan akan kata-kata yang diucapkan Alby.


"Kalau belum dilakukan kenapa tidak, ingat kita ini anak orang miskin. Kita juga harus tahu diri pada siapa kita melabuhkan dan memberikan hati kita untuk orang itu," jelas Alby pada Alea, Alby selalu mengingatkan jika dia dan dirinya bukanlah orang yang berkasta.


"Gue tahu soal itu, jadi elo tenang saja. Terimakasih untuk semua nasihat elo ke gue. Cuma elo orang yang gu miliki untuk saat ini," ucap Alea sambil tangannya menggapai Alby untuk memeluknya.


"Sama-sama, Al. Kita temenan udah lama jadi gue tahu kalau elo ada yang berubah, dan di sini orang pertama kali bertanya itu gue." Alby membalas pelukan Alea.


"Sakit Al, saat elo mencintai orang. Akan tetapi, gue juga gak berani ungkapin perasaan ini sama elo." Dalam hati Alby juga merasa perih saat mendengarkan Alea mencintai orang lain.


"Gue janji, Al. Gak bakalan ada orang yang berani nyakitin elo, kalau sampai terjadi. Maka gue yang ngelindungin elo," ucap Alby lagi, itulah janji Alby pada Alea. Meski ia hanya mengatakannya di dalam hati.


"Al, apa elo akan naruh itu jagung tetap di atas kepala gue."


Huh.


Hahahaha.

__ADS_1


"Maaf." Alea tertawa pada saat mereka berpelukan Alea meletakkan jagung bakar itu di atas kepala Alby. Hingga laki-laki itu tidak bisa bergerak, karena itu akan membuat jagung milik Alea jatuh.


__ADS_2