
Bu Nilam menatap bangga pada sosok Alea, yang begitu peduli untuk orang lain.
"Baiklah."
"Eum … Nama kamu siapa? Perkenalkan saya Nilam." Bu Nilam lantas menyodorkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Alea.
"Panggil saja Lea, Bu." Jawab Alea sopan sembari menjabat kembali tangan bu Nilam.
"Ya sudah, kalau begitu saya izin pamit. Soalnya saya harus memarkir motor-motor yang membutuhkan jasa parkir di pasar," ucap Alea yang yang langsung berpamitan untuk kembali ke tempatnya bekerja setelah kembali dari mengisi perut di warteg milik mak Sopia.
"Apa kam jadi juru parkir?" tanya bu Nilam yang masih penasaran.
Alea mengangguk dan setelah itu ia kembali berjalan, dan meninggalkan bu Nilam.
Tepat saat Alea pergi mobil berwarna hitam itu berhenti di depan bu Nilam.
"Ma, maaf ya lama. Soalnya tadi ngantri," ucap Ali saat menjemput sang mama.
Bu Nilam tidak berkata sepatah kata pun, dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Jalan," perintah bu Nilam pada Ali.
"Apa Mama marah padaku?" Ali merasa jika sang mama sedang marah akibat lama menunggunya, jadi Ali pun langsung bertanya.
"Tidak."
"Lantas kenapa muka Mama seperti itu, apa ada yang salah dari belanjaan yang Mama beli barusan?" kata Ali yang masih penasaran kenapa mama nya menjadi pendiam, saat keluar dari pasar.
"Tadi Mama habis di copet—."
__ADS_1
"Kok bisa, terus Mama ada yang luk, dan mana yang sakit?" cerocos Ali yang belum sempat mendengarkan bu Nilam berbicara, namun sudah dipotong olehnya.
Pletak.
Auh.
"Kenapa Mama malah menyentil? Apa ada yang salah dari kata-kataku," ujar Ali sambil sesekali mengusap jidatnya.
"Karena kamu sungguh cerewet." Jawab bu Nilam pada Ali, dan hanya sebuah cengiran yang menghiasi sudut bibir Ali saat ini.
"Baiklah, terus Mama tidak apa-apakan?" Ali yang mulai mengulang pertanyaan lagi pada sang mama.
"Tidak, karena tadi ada super hero yang penyelamatan Mama. Makanya itu tas bisa ada ditangan Mama lagi," mendengar keterangan dari sang mama. Membuat Ali bernafas lega, karena sosok orang yang paling berharga bisa selamat.
Namun, ada satu kalimat yang membuat Ali berpikir keras, ini kan dunia nyata bukan televisi? Mengernyitkan dahi sambil memikirkan kata 'Super Hero' apa mama nya sedang berkhayal.
"Super Hero, sepertinya Mama sedang melawak." Ali yang kembali fokus menyetir namun tidak mengurangi rasa penasarannya untuk mempertanyakannya.
"Perannya ya untuk menolong." Jawab Ali.
"Nah itu tau. Kamu itu bodoh atau memang tidak tahu sih," dengus bu Nilam pada Ali yang tak tahu fungsinya Superhero itu untuk apa.
"Tau Ando, super mie yang makannya sambil nyeplus cabe kan."
"Ando, kenapa jadi Supermi. Itu kan makanan," ujar bu Nilam.
"Sama-sama super kan?"
"Otakmu rupanya sedang tidak sehat, makanya sekarang lagi eror." Dengan suara yang sedang tak tertahankan, bu Nilam berkata.
__ADS_1
"Lagian ada-ada saja, superhero lah, yang supr mie lah, terus super pel lah. Bodoh ah sama nama-nama itu," kata Ali.
Sedangkan bu Nilam mendelikkan matanya lebat karena ucapan Ali.
"Bagaimana ceritanya, dari superhero, bisa terbang sampai ke super pel juga? Terus kira-kira nantinya sampai di super wine kali ya." Dalam hati bu Nilam tidak bisa membayangkan, kenapa begitu ada banyak super. Selain superhero dan supernatural.
…….
Dua bulan sudah Ali berada di rumahnya dan meninggalkan dunia yang keras, saat berada di jalanan. Sekarang, ia sedang berada di meja makan untuk makan malam. Bersama mama dan juga ayahnya, terlihat raut gusar di wajah bu Nilam dan itu sangat kentara oleh anak dan suaminya.
"Ma, Mama kenapa? Kok seperti orang yang sedang anu," kata suami dari bu Nilam.
"Anu apaan sih, Yah." Ali yang penasaran langsung memilih untuk bertanya pada ayahnya.
"Ya pokoknya anu," ujar sang ayah yang bernama pak Indra.
"Pa, ada Ando kenapa harus bilang anu sih." Bu Nilam pun terlihat kesal karena pak Indra terus mengatakan 'Anu', dan itu membuat Ali penasaran akan maksud ucapan dari ayahnya itu apa.
"Ya Anu pokoknya, karena wajah Mama terlihat jelas kalau sedang gusar." Jawab pak Indra.
"Iya emang terlihat Pa, terus anu itu apaan sih. Bikin orang penasaran saja," dengus Ali yang masih tidak mengerti dengan yang dibicarakan oleh sang ayah.
"Papa ini gimana sih, ana anu saja. Kan aku jadi malu," ucap bu Nilam dalam hati. Sedikit risih akan kata 'Anu' yang di ucapkan oleh suaminya.
"Kenapa wajah Mama, emang beneran kalau sedang anu." Ucapan pak Indra membuat bu Nilam seperti kepiting rebus. Wajah bersemu merah karena menahan malu.
"Lagian Papa kenapa terus mengulangi kata anu sih, kan Mama malu."
Uhuk.
__ADS_1
Uhuk.