
Keesokan paginya saat Alea sudah bangun, dan berjalan lalu tiba-tiba terdengar seseorang tengah bernyanyi.
"Masak, masak sendiri."
"Cuci, cuci baju sendiri."
"Tidur pun sendiri."
Seperti itulah irama yang dinyanyikan oleh mak nya Alea, suara cempreng mirip blak jatuh tapu masa bangga dengan suaranya.
Alea yang mendengar pun langsung tertawa geli karena lagu, yang dinyanyikan oleh mak Ijah.
Sembari berjalan Alea menghampiri mak nya yang sedang memasak.
"Mak, suara Mak nikmat bener." Mendengar Alea berbicara mak Ijah pun langsung menoleh.
"Siapa lagi yang nyanyi. Mak gitu lho," ucap mak Ijah dengan bangganya.
"Iya Mak, saking enaknya sampai gendang telingaku mau pecah." Jawab Alea cepat, dan itu membuat mak Ijah langsung melotot. Layaknya hewan yang ingin memangsa mungsunya.
"Pis, Mak. Al cuma bercanda," kata Alea cengengesan.
"Eh, tapi itu memang bener lho."
Plukh.
Auh.
"Dasar mak gak ada akhlak," gerutu Alea sembari mengelus kepalanya, yang terkena lemparan baskom.
"Coba ulangi lagi, denger ya. Mak gak tuli jadi bisa denger!" sentak mak Ijah.
" Satu, dua, tiga, Mak durhaka…."
Brakh.
Ish.
"Woy … Siapa yang ngelempar ini sandal!" teriak Alena.
"Mak." Jawab Alea.
"Dasar anak durhaka, coba kalau kamu gak ngatain Mak, itu sandal kagak bakal melayang!" teriak balik mak Ijah.
"Kenapa jadi aku Mak yang disalahin. Aku kan cuma lewat," kata Alea.
Alena bingung hingga membuat kepalanya toleh sana dan toleh sini, hanya karena mak dan kakaknya terus saling menyalahkan.
"Iya tapi kalau kamu gak cari perkara, mana mungkin Mak lempar itu sandal. Kan niatnya mau Mak lempar ke kamu," ujar Mak Ijah.
"Lama-lama pusing ini kepala, liat mereka berantem mulu." Dalam hati Alena, ia terus menggerutu. Bukannya meminta maaf, justru heboh sendiri.
Alena lama-lama jengah melihat keduanya yang tidak mau mengalah, hingga ide jahil pun. Terlintas dipikirannya.
Prang.
Teng … Teng … Teng.
__ADS_1
"Woe … Berisik! Awas lo ya, jangan lari elo."
Saat Alena mengambil panci, lalu memukulnya dengan menggunakan spatula, dan saat itulah keduanya berhenti untuk berantem.
"Dasar anak laknat, bocah edan. Sengaja ya mau buat Mak setruk!" maki mak Ijah pada Alena.
Setelah itu, pukul tujuh pagi.
"Al, kamu gak sarapan dulu?" mak Ijah pun bertanya pada Alea, karena melihat sang anak yang terburu-buru. Membuat Mak Ijah berinisiatif untuk membawakan bekal untuk anaknya.
"Gak, Mak. Ini sudah siang," kata Alea yang sudah bersiap untuk berangkat.
"Ini, nanti buat sarapan." Lalu mak Ijah pun langsung memberikan kotak bekal untuk Alea.
"Makasih Mak, ya sudah kalau gitu Al berangkat dulu." Setelah berpamitan, Alea langsung menunggangi motornya. Tidak lupa dengan setelan khas yang selalu ia pakai sehari-hari. Mungkin jika ada cewek yang melihat dandanan Alea. Bisa dipastikan cewek itu akan jatuh hati padanya.
Alea melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesaat ia berhenti karena lampu merah.
"Lhuk … Dasar cewek sinting," gumam Alea saat melihat mobil yang berhenti tepat di sampingnya, dan orang yang berada di dalamnya terus melambaikan tangan.
"Hye tampan," sapa seseorang itu lagi.
"Apa gue udah sinting, sampai suka sama itu cewek gila." Di dalam pikirannya Alea terus mengumpat karena tingkah perempuan yang ganjen itu.
"Boleh dong tampan, minta nomor whatsapnya." Perempuan itu mencoba terus menggoda Alea. Hingga membuat seluruh tubuh Alea merinding bagai melihat ulat bulu yang sedang berjalan di pohon.
"Asem nih cewek. Gak tau apa ya kalau gue itu cewek juga. Bisa-bisanya gue diganjenin," gerutu Alea dalam hatinya. Namun, di balik oceannya, ia tertawa. Kalau saja perempuan itu tahu siapa yang digodanya. Bakal kena mental dan itu membuatnya sangat malu.
Kurang 20 detik, lampu akan berwarna hijau.
"Bedebah, dasar sialan. Bisa-bisanya aku menggoda wanita," umpat wanita yang ada di dalam mobil.
Sedangkan Alea terus tertawa hingga mengundang banyak pasang mata.
Hahahaha.
"Nyahok gak tuh. Makanya kalau mau menggoda lihat dulu, Mbak."
Hahahaha.
Wor … Wor … Woooor.
Sembari mengegas motornya. Alea melambaikan tangannya ke belakang.
"Memangnya enak dikerjain. Makan tuh malu," gumam Alea yang tidak bisa menahan tawa.
Sepanjang perjalanan Alea tidak bisa membayangkan muka wanita itu. Pasti kesal bercampur marah karena ia mengira bahwa Alea adalah sosok laki-laki, namun siapa sangka. Pada saat membuka helm, muka wanita itu bagai orang yang sedang memakan kedondong.
Sesampainya Alea di pasar. Ia masih ditemani oleh tawa. Hingga teman-tamannya menatap aneh ke arahnya.
"Apa Al baru saja kesurupan?" tanya salah satu teman seperjuangannya.
"Kesurupan apa pagi-pagi. Kamu ada-ada saja," timpal orang satunya lagi.
"Siapa tahu sewaktu di jalan, Al kesambet." Teman satunya berujar lagi.
"Kesambet ama memangnya?" temannya menimpali.
__ADS_1
"Kuntilanak, karena itu demit kan isinya ketawa mulu." Jawabnya pada orang yang ada di sampingnya.
"Sepertinya kuntilanak adalah perempuan gila yang matinya mengenaskan," kata pria dengan rambut gondrongnya.
"Kamu, mana ada gitu." temannya yang satu ikut menyahut.
"Secara, kuntilanak itu seperti orang gila yang tidak punya beban. Maka dari itu mana pernah ia nangis kan ketawa mulu…,"
Plak.
"Kenapa elo gampar gue," ucap pria yang berambut gondrong itu lagi.
"Biar gak mimpi mulu." Jawab temannya dengan enteng.
Maka seperti seperti itulah. Ketika dua lelaki sedang ber--gihba, membicarakan Alea yang terus tertawa.
……
Sedangkan di tempat lain.
Ting.
Ting.
Ting.
"Berhenti woe," teriak Ali ketika ada penumpang yang hendak turun.
"Yok, kita lanjut." Ali saat ini tengah bersemangat dalam bekerja, menjadi seorang kondektur. Menjadikan dirinya banyak pengalaman dari dunia luar.
Semenjak pertemuannya dengan Alea waktu itu. Hingga satu minggu ini keduanya tidak saling bertukar kabar. Walau hanya disomsed sekalipun.
Setelah Ali menurunkan penumpang. Lalu ia berjalan ke depan hendak duduk di samping pak supir.
"Li, tumben kamu semangat hari ini?" rekan Ali pun bertanya, karena memang setelah Ali mengambil libur selama beberapa hari. Kini terlihat lebih bugar dan segar.
"Tentu dong, Pak. Kan saya masih punya masa depan," ujar Ali dengan sesekali tersenyum.
"Memangnya kamu mau nikah apa! Kok sudah mikir masa depan?" tanya pak supir itu.
"Kalau saya uda siap untuk nikah, hanya saja masih nyariin mak nya anak-anak belum ketemu."
Huh.
Ciiiit.
"Woe pelan."
"Mau membunuh kita semua, ya.
" Dasar supir gila!"
Seperti itulah kata umpatan yang diberikan oleh penumpang, karena pak supir itu sedikit terkejut. Hingga membuatnya mengerem dengan dadakan.
"Maaf semuanya ya. Kami tidak bermaksud untuk mencelakai kalian," kata Ali sedikit berteriak pada para penumpang dan meminta maaf, atas kejadian barusan.
Sebagai bentuk perwakilan saya sangat memohon maaf lagi, dan sekarang kembali tenang, karena bus ini akan mengantarkan kalian di tempat tujuan.
__ADS_1