Mengejar Cinta Kondektur

Mengejar Cinta Kondektur
20. CINTA YANG TAK SAMPAI


__ADS_3

Al, kenapa elo diem mulu dari tadi?" Ali yang melihat Alea setengah melamun, langsung menepuk pundaknya.


"Siapa juga yang melamun," sangkal Alea menatap sekilas ke arah Ali, lalu kembali menatap jalan lagi.


"Ya udah yuk buruan, ini kepala gue udah kering. Kalau sampai garing gak lucu kan," kata Ali pada Alea yang mengajaknya untuk segera mengantarkannya ke kontrakan.


"Iya bawel. Elo yang ngilang elo juga yang nyerocos kek mesin traktor," timpal Alea yang kesal dengan Ali.


"Lha ini orang. Bukannya naik malah bengong," ujar Alea yang memandang aneh kepada Ali.


"Woe … Kesambet setan budeg tau rasa lo ya," sentak Alea.


"Al,mesin traktor itu apaan?" akhirnya Ali bertanya, karena baru dengar alat yang baru saja dibicarakan oleh Alea.


"Elo anak orang mana sih, sampai-sampai gak tau mesin traktor apaan?" Alea justru bertanya pada Ali, kalau pria itu asli dari desa kali mati, harusnya kan dia tahu apa itu traktor.


"Kenapa, memang ada yang salah kalau gue tanya." Ali langsung menopangkan dagunya, di pundak Alea dan menanti jawaban dari perempuan itu seperti apa.


"Ya kan aneh saja, kalau elo anak sini ya pasti tau lah." Jawab Alea dengan pikiran yang masih berkecamuk.


"Itu tidak penting, sekarang jalankan motornya. Agar secepatnya sampai di rumah," titah Ali.


Tak ada jawaban yang diberikan oleh Alea, karena ia pun langsung menarik gasnya .


Wooooor.


Motor tiger meleset memecah jalanan yang tidak terlalu rame.


Ali yang berada di boncengan belakang, terus merekatkan pegangannya. Itu karena Alea sudah sangat keterlaluan saat membawa motornya.


Ciiiit.


Sssst.


Bukh.

__ADS_1


"Eh lo kira-kira dong bawa motornya!" Ali merasa jika jantungnya akan lepas, akibat ulah Alea.


"Lagian elo ya, kayak gak pernah naik motor saja. Pinggang gue sakit gegara elo remet-remet kek tepung, dan itu membuat hilang konsentrasi." Alea terus mengoceh karena Ali tidak bisa diam dan membuat Alea langsung mengerem dengan mendadak.


"Kalau elo mau pulang dengan menggunakan angkotan, ya udah sana!"


Bukannya pergi justru Ali langsung naik ke motor Alea lagi. Bagi Ali wajat jika karena Ali hampir jarang memakai motor, jika memakainya itu hanya dengan kilo meter di atas rata-rata.


Perjalanan dilanjutkan lagi, dan sekarang membawa motornya sedikit lamban.


Setengah jam sudah berlalu dan Alea sudah sampai di tempat kontrakan Ali.


"Al, turun dulu yuk, tadi kebetulan gue masak ikan jadi sekalian temenin gue." Sesampainya di rumah Ali menyuruh Alea untuk masuk, dan sekalian makan siang.


"Gue pulang saja, Al … Ada yang pengen gue bicarain," ucap Alea dengan hati yang berdebar.


"Mau ngomongin apa? Sekarang katakan," ucap Ali yang melihat gelagat Alea yang sedikit aneh.


"Gue … Gue … Gue suka sama lo," ucap Alea sedikit ragu, dengan hati yang berdebar. Merutuki kebodohannya, namun apa boleh buat.


Karena cinta Alea memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.


Karena cinta ia menjadi wanita yang bodoh, karena merasa tidak ada harganya, hanya demi nams cinta.


"Maaf, bukan gue nolak dan gue juga sangat menghargai tentang ubgkapan, perasaan lo sama gue. Gue masih takut untuk jatuh cinta lagi, karena pernah dikecewakan menjadikan gue sedikit trauma." Alea yang mendengar jawaban dari Ali, ingin rasanya berteriak meneriaki kebodohannya.


"Tapi gue bukan Lua, dan gue memang sayang dan cinta sama elo."


"Katanya cinta itu butuh perjuangan, dan di sini gue udah berjuang." Alea berbicara dengan bibir yang bergetar. Menahan rasa malu karena sekarang, hilang sudah harga dirinya.


"Maaf."


Tidak ada percakapan lagi, akhirnya Alea menyerah dengan perasaannya pada Ali.


Alea pulang dengan membawa rasa sakit akibat penolakan dari Ali, dan Alea pikir jika mungin inilah saatnya. Mulai sekarang tidak akan menampakkan diri lagi, dan pertemuan ini akan menjadi hari terakhir mereka bertemu.

__ADS_1


"Selamat tinggal, Al. Mulai sekarang gue akan menghilangkan nama elo d hati gue." Dengan perasaan yang hancur akhirnya Alea melajukan motornya.


Sedangkan Ali, masih berdiri termenung menatap kepergian Alea.


Ali tidak menyangka bahwa Alea suka dengannya, hanya saja dirinya benar-benar masih enggan. Untuk menjalin cinta setelah dikhianati, Ali pikir jika wanita itu sama saja.


Namun, Ali bangga karena Alea berani menyatakan cinta kepadanya. Meski berujung penolakan.


"Al, gue mau balik ke rumah orang tua gue. Maaf jika gue udah nolak dan tidak membalas perasaan elo," ucap Ali lirih. Sembari masuk ke dalam rumah untuk membereskan baju-bajunya, untuk ia bawa.


"Gue takut elo akan melakukan hal yang sama seperti Lula, tapi gue yakin jika lo adalah sosok yang berbeda." Ali hanya bisa membatin tanpa bersuara. Lalu dengan segera ia keluar rumah.


...----------------...


Keesokan paginya, Alea yang sudah melupakan akan sosok Ali, dan sudah tak berharap lagi.


Kini dia akan menjalani hari-hari seperti biasanya. Cinta sudah membuatnya jauh dari kata teman, sempat merutuki kebodohannya, karena apa yang dikuatirkan akan terjadi.


"Al, di depan ada Alby tuh." Mak Ijah menghampiri Alea ke belakang saat dirinya tengah asik meminum kopi.


"Mak ah, gangguin saja." Alea menggerutu karena mak nya sudah berani menganggunya.


"Memangnya kamu sedang ngapain, orang cuma minum kopi sambil senyum-senyum gak jelas gitu kok." Mak Ijah menautkan kedua alisnya karena Alea. Yang menganggap jika mak nya sudah berani menganggunya.


"Mak, Al sedang bayangin jadi orang kaya. Terus Al tidur di kamar yang super duper mewah. Terus bawahnya ada ribuan uang yang berserakan," ucap Alea hingga membuat mak Ijah melongo.


"Baru juga mau ngitungin uang, eh Mak datang. Gagalkan jadi orang kaya nya," ucap Alea lagi dan untuk saat ini mak Ijah sudah tidak tahan lagi, dengan tingkat kehaluan Alea yang semakin menjadi.


"Kamu gak capek mengkhayal terus? Kalau miskin ya miskin saja Al, gak perlu mimpi yang tinggi."


"Memangnya kamu mau entar dijatuhin dari gedung, terus brakh ... Argh ... Akhirnya gila," ucap mak Ita menirukan gaya yang selalu dilihat dari televisinya.


"Ah Emak. Semuanya kan berawal dari mimpi, ya udah suruh tu bocah ke sini. Mau berdiri malas," ucap Alea pada emaknya, dan sekalian untuk menyuruh Alby masuk.


"Iya, iya anak bawel." Mak Ijah pun meninggalkan Alea dan kembali ke luar, untuk memanggil Alby.

__ADS_1


"Memang salah gitu kalau gue mimpi, perasaan mimpi mah gak bayar, dan juga gak parkir? Itukan ngalir gitu saja." Alea seperti orang gila, yang terus-terusan berbicara sendiri. Mimpi membuat orang bisa menjadi gila, seperti dirinya.


__ADS_2