Mengejar Cinta Kondektur

Mengejar Cinta Kondektur
19. PERTEMUAN ANTARA IBU DAN ANAK


__ADS_3

Setelah seharian Ali mencari penumpang. Kini waktunya mengistirahatkan badannya, yang lumayan capek.


Hari ini bus parkir di depan warung. Perut yang lapar serta mata yang mulai mengantuk. Membuat Ali ingin makan dan lanjut minum kopi.


Saat Ali sudah menyelesaikan makannya dan bersiap untuk masuk ke dalam bus, tiba-tiba.


"Ali!" panggil seseorang itu dengan langkah tergesa-gesa.


Ali yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke kanan. Guna melihat siapa pemilik dari suara itu. Terasa tidak asing namun ia juga tidak mau berprasangka buruk.


"Ali, tunggu!" teriak orang itu lagi.


"Mama!"


Terkejut pasti, pasalnya sudah dua bulan Ali meninggalkan rumah, dan sekarang dengan tiba-tiba. Ia dipertemukan oleh ibunya.


"Mau apa Mama kemari, dan bisa sampai ada di sini?"


"Ando, kamu pulang ya. Mama kesepian gak ada kamu," ucap mama Ali yang terlihat sedih.


"Tidak Ma. Ando sudah nyaman hidup seperti ini. Tanpa tekanan dan harus menuruti apa yang Mama mau," kata Ali dengan wajah sayu nya, tidak dipungkiri kalau Ali sangat merindukan sosok wanita, yang berada di depannya kini.


Menatap wanita itu dengan mata telanjangnya. Terlihat wajah yang mulai menua lalu memandangnya dengan seksama. Tubuh kurus yang mulai terlihat, membuat Ali berpikir jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.


"Mama tidak akan menekan mu, dan tidak akan memaksa untuk menikahi wanita yang tidak kamu sukai." Jawab mama Ali dengan mata yang berkaca.


"Bang, sendirian dulu! Saya masih ada perlu." Ali pun meneriaki supir bus untuk meninggalkannya, karena tidak mungkin jika bus itu menungguinya.


"Ando, apa kamu selama ini ikut jadi kernet bus?"


"Itu bukan urusan Mama, sekarang lebih baik Mam pulang." Ali pun berpura-pura tidak peduli walau sejujurnya, rasa ingin memeluk itu ada.


"Ando, Mama mohon. Pulang ya," kata mamanya Ali untuk meminta anaknya pulang. Kerinduan yang selama dua bulan seakan terobati, karena pada akhirnya beliau bisa bertemu dangan sang anak.


"Ali akan pulang kalau Mama tidak lagi menjodohkan aku," kata Ali pada sang mama. Dalam benaknya. Sekarang jaman sudah moderen dan bukan lagi, memasuki era siti Nurbaya, kenapa harus di jodohkan. Apa orang tuanya pikir jika dirinya tidak mampu mencari pendamping hidup? Itu sungguh tidak mungkin secara material dan wajah sudah lebih dari cukup. Yang pada akhirnya Ali juga harus menelan kekecewaannya pada Lula.


"Mama tidak akan memaksa kamu lagi, dan sekarang pulang ya." Sang mama yang memohon untuk Ali bisa pulang kembali dan berkumpul di rumah, seperti dulu lagi, orang tua mana yang rela anaknya meninggalkannya, tidak! Itu semua tidak akan bisa ia terima.


"Mama pulang duluan, Ando masih ada urusan yang harus di selesaikan." Ali belum menjawab ajakan mamanya namun, ia juga harus kembali ke kontrakannya terlebih dulu. Sebelum memastikan ia akan kembali ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Mama akan pulang, tapi kamu harus janji bahwa nanti akan kembali ke rumah." Jawab mamanya Ali.


"Iya, sekarang Mama pulang."


Keduanya pun berpisah dan mama Ali langsung meninggalkan dimana Ali berada.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain. Alea yang masih berkutat dengan motor-motornya itu pun, langsung berhenti untuk menata. Suara dering ponsel dari dalam tasnya, membuatnya langsung menaruh lagi motor yang akan jajarkan dengan yang lain, dan itu diurungkannya karena lebih memilih ponselnya.


Kening Alea mengkerut saat mendapati nama Ali. Yang tertera di layar ponselnya itu.


📞"Halo!" Alea pun langsung mengangkat tanpa berpikir. Setelah lebih dari satu pekan, baru sekarang Ali menghubunginya.


📞"Kenapa?" Alea bertanya untuk apa menghubunginya karena tidak seperti biasanya.


📞"Baik, gue akan meluncur karena bentar lagi gue juga udah kelar." Jawab Alea saat Ali memintanya menjemput.


📞"Iya, lo tunggu bentar di situ. Ini baru setengah 12," kata Alea menimpali Ali yang berada di ujung telepon.


📞"Iya, setengah jam lagi gue langsung cus berangkat." Jawab Alea.


Setelah itu tombol warna di matikan.


"Al, cinta itu butuh perjuangan, anggap saja jika kamu berada di posisi itu." Maka seperti itulah kata-kata Agus pada Alea.


"Apa gue harus mengatakannya pada Ali? Lalu bagaimana jika dia menolak," gumam Alea karena rasa yang berlebihan pada Ali. membuatnya menjadi dilema dengan perasaan yang dimilikinya sekarang.


"Tapi kata Agus, meski harus di tolak. Seenggaknya kita sudah berusaha. Masalahnya gue kan perempuan masa iya nembak duluan," kata Alea yang berbicara lirih. Alea mendesis karena frustasi kenapa juga dirinya harus jatuh cinta pada Ali.


"Woe … Ngelamun mulu dari kemarin … Kenapa?" Alby yang memang ingin mengajak Alea untuk pergi makan, namun pada saat dirinya akan menghampiri Alea. Alby melihat jika cinta dalam diamnya itu tengah melamun.


"Apaan sih lo, By." Alea mendengus kesal karena pada saat dirinya tengah dihadapkan dengan kenyataan hidup. Justru Alby membuyarkan apa yang sedari tadi di kumpulkan di dalam otaknya.


"Lagi mikirin apa?" tanya Alby yang duduk di atas motor.


"Kepo lo," ucap Alea.


"Daripada elo mikirin hal-hal yang gak jelas mending ikut gue." Ucapan Alby membuat Alea langsung men

__ADS_1


"Ke mana?"


"Kita makan bakso," ajak Alby pada Alea.


Namun, Alea menggelengkan kepalanya, tidak mungkin membatalkan janji karena Ali akan marah kepadanya.


"Elo gak mau?" tanya Alby dengan nada lemah.


"Maaf, karena gue udah janji sama seseorang. Kasihan jika terlalu lama menunggu," ujar Alea yang merasa tidak enak karena sudah menolaknya.


"Oh begitu, ya sudah. Kapan-kapan kamu mau kan kalau gue ajakin lagi, kata Alby dengan diiringi sebuah senyuman. Meski senyum yang ia terbitkan kan sedikit dipaksa.


"Lain kali gue gak akan nolak kok, ya sudah ini elo yang lanjutin. Maukan? Karena gue ada urusan dan segera harus sampai di sana," kata Alea yang menyerahkan tanggung jawabnya untuk beberapa menit saja, pada Alby karena pasar tutup pukul satu siang. Jadi, Alea meminta tolong barang sebentar saja pada Alby.


"Ya sudah pergilah, gue akan jaga ini parkiran." Jawab Alby yang menyuruh Alea untuk pergi.


"Makasih ya, By. Elo emang boyfriend yang the best deh," ucap Alea setengah memuji.


"Udah sana, meski lo muji gue. Gak bakal naik juga itu gaji," ujar Alby.


"Sialan lo," sungut Alea. Mencabik kesal karena Alby tidak menaikkan upah nya.


Setelah Alea pergi. Alby terus menatap Alea meski itu akan hilang dari pandangannya.


"Al, niat hati mau ungkapin perasaan gue. Namun, udah kedahuluan elo yang pergi." Alby hanya bisa merutuki nasibnya, karena Alea lebih memilih pergi dan kerap mengabaikan akan perasaan Alby, sepertinya ia akan menyerah kali ini.


"Al, sepertinya gue nyerah buat dapatin hati elo. Gue gak lihat ada rasa di mata kamu, mungkin ini yang terbaik untuk kita." Alby menghembuskan nafas kasarnya.


...----------------...


Di jalan Alea sedang celingukan mencari Ali, yang katanya sedang menunggunya di warteg. Namun, Alea belum juga menemukan sosok pria yang selalu dipuja dalam relung hatinya.


"Mana sih itu orang, dari tadi udah mirip kodok congek, tapi belum juga kelihatan." Alea bergumam seraya tetap mencari Ali.


Tidak berapa lama kemudian, dari kejauhan terlihat sosok lelaki yang amat dikaguminya. Hingga membuatnya dibutakan oleh perasaan.


Tinggi, kulit putih, hidung mancung serta alis tebal. Satu kata yang ada di dalam benak Alea, 'sempurna' dan sangat tampan.


"Li, elo darimana? Sengaja ya ngebuat gue jadi demit penunggu jalan." Alea mencabik kesal karena sedari tadi dirinya menunggu, namun Ali malah pergi entah ke mana dan baru saja terlihat.

__ADS_1


"Maaf. Gue tadi baru beli pulsa," ujar Ali sambil tersenyum kuda ia memperlihatkan gawai milik Ali. Namun, pada saat lelaki itu memperhatikan ponselnya. Ada yang menyita perhatian Alea.


Ponsel dengan logo apel bekas, dalam benaknya jika orang seperti Ali mana lah sanggup membeli ponsel dengan logo apel bekas.


__ADS_2