Mengejar Cinta Kondektur

Mengejar Cinta Kondektur
6. PERTENGKARAN ANTARA ALEA DAN ALI


__ADS_3

Ada seseorang menghentikan motornya, jika saja itu adalah para preman. Maka Alea harus memberinya sedikit pelajaran untuk orang itu, agar tidak menganggunya.


“Mbak, mau ke mana?” orang itu bertanya dan hanya mata yang terlihat karena hidung dan wajah, tertutup oleh helm.


Alea sama sekali tidak menoleh meski menjawab ucapan orang itu, dan dengan keadaan tergesa-gesa ia pun terus berjalan.


“Mau ke mana kek terserah gue dong, sok akrab banget jadi orang.” Alea mendengus kesal karena seseorang sengaja menggodanya.


“Eh elu ya, emang cewek resek. Ditanya baik-baik kok malah nyolot,” ujar pengendara yang berhenti tepat di sebelah Alea berjalan, karena merasa jika ucapannya tidak ada yang salah. Bukan timbal baik yang diterima justru orang itu merasa kesal atas jawabannya.


“Elu tanya?” Alea melirik sekilas pada laki-laki tersebut, lalu melanjutkan langkahnya yang terus berjalan.


"Dasar menyebalkan," gerutu pria itu.


"Eh, kok rasanya pernah denger suara itu ya. Apa gue yang terlalu mengada-ngada,” batin Alea karena mendengar suara laki-laki tersebut seperti tidak asing, di telinganya.


“Buka helm,” titah Alea pada laki-laki yang masih setia membuntuti wanita itu dari belakang.


“Elu nyuruh,” balas pria tersebut.


“Bedebah, buruan dan jangan banyak cincong deh elu.” Sepertinya darah tinggi Alea sedang kambuh, makanya ia berbicara namun nada layaknya seorang sedang merampok.


“Dasar wanita, semaunya sendiri. Untung gue laki, coba saja nyokap lahirin gue jadi cewek, ih serem.” Pria itu bergidik ngeri saat Alea sedang menyuruh membuka helmnya namun seperti sedang mengancam korbannya.


Dengan sangat terpaksa, akhirnya pria itu langsung membuka helmnya dan apa yang terjadi, mari saksikan bersama.


“Kan, bener dugaan gue kalau elu kondektur sialan itu.” Ejek Alea pada laki-laki itu.


“Apa elu kata, bener-bener kebangetan ya elu cewek.” Yah, laki-laki itu adalah Ali yang baru saja pulang dari terminal, setelah memarkirkan bus nya. Saat dirinya hendak menuju kontrakan, siapa sangka jika dirinya bertemu dengan gadis urakan yang sedang berjalan sendiri di tengah malam, ada rasa kasian hingga membuatnya berhenti untuk menghampirinya. Ternyata niat baiknya malah membuatnya darah tinggi.


“Apa!” tantang Alea yang sudah menaikkan lengan hem nya dan sudah siap untuk meninjunya jika laki-laki itu menyerang lebih dulu.


“Gue tanya baik-baik kenapa elu selalu nyolot, heran deh sama cewek model elo.” Ali menggelengkan kepalanya dan baru kali ini dirinya bertemu dengan cewek aneh plus bar-bar abis, seperti wanita yang berada di sebelahnya sekarang.


“Siapa yang nyolot….”

__ADS_1


“Itu.” Seketika Alea bungkam.


“Nah kan, baru merasa kalau suara elu itu membuat mak-mak kabur saat liat suara sama muka elu.” Ali mengejek Alea dengan kata-kata yang membuat perempuan berusia 22 tahun, itu bertambah kesal.


"Enak saja elo, pakai ngatain suara gue buat mak-mak kabur." Alea hari ini merasa benar-benar diuji kesabarannya dengan pria yang berada di sampingnya, sungguh rasanya ingin sekali melempar pria itu di hutan pikirnya.


"Kenapa jadi berantem sih," ucap Ali dengan nada yang tak seperti tadi.


"Elo kan yang duluan ngajak berantem," ujar Alea, yang masih dengan nada ketusnya.


"Eh buset, kenapa elu menyangkal dan malah nuduh orang yang gak bersalah?"


"Bodoh ah," ucap Alea tanpa memperdulikan laki-laki itu ia pun terus berjalan menyusuri trotoar. Dengan keadaan jalan yang mulai sepi.


"Tunggu, apa apa elu butuh tumpangan?" entah darimana keberanian karena tiba-tiba saja. Ali menawarkan tumpangan untuk Alea.


"Gue bisa jalan kaki," tolak Alea tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria tersebut.


"Gue Ali, ini sudah larut malam gak baik buat perempuan." Sejenak Alea berhenti lalu menatap laki-laki yang baru saja memperkenalkan diri.


"Kalau berani ada yang gangguin gue, kiri rumah sakit kanan kuburan, memangnya siapa yang berani menghadang perempuan kek gue." Alea membatin dan dengan bangganya ia berujar, lalu mengangkat tangan kirinya dan berganti tangan kanannya.


Semua anak jalanan tahu siapa Alea, maka dari itu. Preman sekalipun tidak akan berani mengganggunya.


"Kalau untuk preman dan begal sepertinya gak berani gangguin elu, secara mereka kan temen elu kan ya. Cuma ada satu yang gue kuatirin kalau misal ada–,"


"Ada apa!" Alea yang begitu sangat penasaran langsung memotong kalimat Ali.


"Makanya kalau ada orang ngomong itu dengerin, jangan nyerobot kayak motor bisanya." Ali mendengus kesal karena Alea langsung menyerobot sebelum dirinya selesai berbicara.


"Awas saja kalau ada kuntilanak terbang atau wewe gombal sedang cari–."


"Stoppp!"


Dengan cepat Alea langsung menyambar ucapan Ali, karena baginya itu adalah makhluk yang mengerikan dan yang tidak ingin dilihat.

__ADS_1


Slep.


"Buruan anterin gue pulang." Tanpa izin dari pemilik motor. Alea langsung naik dan dengan secepat tikus langsung menyuruh Ali untuk segera mengantarnya pulang.


"Dasar, sama preman berani, sama begal berani, masa ia sama hantu nyali ciut. Lagian di zaman yang sudah modern mana ada demit, yang ada demit nya ikut main chatting buat cari pacar." Dalam hati Ali tertawa menertawakan Alea, karena ada satu makhluk yang membuatnya ciut.


"Kenapa bengong, buruan!" sergah Alea lagi karena Ali masih dengan wajah bodohnya karena tidak menyangka pada sosok wanita yang ada di belakangnya itu.


"Iya, dan jangan bawel. Sudah mirip ayam yang belum dikasih makan saja elu." Lama-lama Ali geram melihat tingkah Alea yang kelewat batas bar-bar nya.


Sejenak Ali menatap jarum jam yang ada di lengannya. Jalan yang mulai sepi membuatnya penasaran dengan waktu malam ini.


“Rupanya sudah jam 11 malam, tumben wanita ini tidak bergerak atau mengoceh layaknya Beo?” dalam hati Ali bertanya-tanya karena Alea tidak bersuara sama sekali.


“Apa dia tertidur, kalau benar terus gue harus mengantarnya ke mana?” Ali bingung dalam hatinya terus saja mengumpat, karena ia sama sekali tidak tahu rumah perempuan yang sedang di boncengannya saat ini.


Cukup lama Ali di jalan dan pada akhirnya, ia memilih untuk membangunkan Alea.


Ali menepuk bahu Alea, karena posisi Alea sedang tertidur di bahu Ali, dan itu membuatnya sedikit kesusahan.


“Cewek preman, bangun.”


Alea menggeliat saat Ali berhasil membangunkan gadis itu.


“Eum … Sudah sampai ya?” tanya Alea dengan suara parau.


“Sepertinya elu harus cuci muka dulu, biar tahu sekarang ada di mana.” Dengan perasaan kesal bercampur lapar yang dirasakan Ali, pertanyaan Alea membuat perutnya ikut pusing juga.


“Memangnya kita ada di mana?” tanya Alea yang tidak tahu posisi mereka berdua dimana sekarang.


“Maka buka mata elu lebar-lebar, terus kumpulin itu nyawa. Setelah itu elu bisa tau kita berada di mana,” ujar Ali dengan raut wajah yang sudah lelah karena seharian berada di jalan.


Alea mengedarkan pandangannya setelah semua nyawa sudah kembali dengan sepenuhnya.


“Huh, gue kira uda nyampek eh ternyata masih setia saja sama ini jalan,” kata Alea dalam hati.

__ADS_1


“Kenapa diam, coba saja kalau elu dari tadi itu mata melek. Pasti gue juga uda nyampek rumah dan segera makan ini ayam,” Ali mengoceh tanpa henti dan itu membuat Alea merasa tidak enak. Namun, saat mendengar makanan perutnya langsung meronta-ronta dan sekarang.


__ADS_2