Mengejar Cinta Kondektur

Mengejar Cinta Kondektur
7. ALI DAN ALEA


__ADS_3

"Tuh ada kursi panjang," tunjuk Alea yang saat itu melihat ada kursi di pinggir taman.


"Elu mau tidur di sana? Gue masih punya hati untuk gak ninggalin elu di jalan," ujar Ali menatap nanar ke arah bangku panjang tersebut.


Bakh.


"Kenapa malah nabok helm gue sih," sungut Ali karena tiba-tiba Alea menabok helm yang dikenakannya dan itu membuat Ali sedikit meringis.


"Memangnya siapa yang mau turun di sini," tukas Alea.


"Ada-ada saja cowok gila ini," gerutu Alea di dalam hatinya.


"Terus ngapain elu malah mau berhenti di sini?" tanya pada Ali pada Alea.


"Makan," jawab Alea.


Huh.


Ali terperangah mendengar penuturan Alea yang membuatnya langsung mendelikkan matanya lebar-lebar.


"Elu lapar?" tanya Ali. Sejenak Alea dam karena memang perutnya sangat lapar.


Ali yang melihat diamnya Alea langsung mengajak untuk duduk di bangku panjang.


"Kita ke sana," ajak Ali lalu didahului nya Ali pun lantas langsung membuka bungkusan nasi tersebut.


"Kita makan bareng. Paling tidak bisa buat ganjal perut yang udah minta jatahnya," ujar Ali saat melihat Alea, jiwa tak teganya tiba-tiba muncul.


"Nanti kalau elu lapar bagaimana?" Alea bertanya sembari meletakkan bokongnya di bangku panjang tersebut, namun matanya tidak berhenti menatap ayam mati yang sudah di bumbui.


"Gak bakal. Sekarang jangan banyak omong, lebih baik segera makan dan dengan begitu biar elu segera pulang." Mendengar kata 'Pulang' Alea pun langsung memakan, apa yang ada dihadapannya sekarang, tak ada rasa malu atau risih. Mungkin karena Alea sudah terbiasa dengan temannya yang lebih banyak laki-laki mungkin ya.


"Kenapa laki-laki ini baik banget, dan mau berbagi makanan sama gue. Padahal dia juga sangat lapar," ucap Alea membatin. Dengan sesekali melirik Ali yang sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Sedikit merasa bersalah karena selalu berkata kasar dengan Ali.


Ali yang merasa jika sedang di tatap. Langsung mendongakkan kepalanya untuk memastikan. Sedangkan Alea yang tidak ingin ketahuan jika dirinya sedang mencuri pandangan, buru-buru menundukkan kepalanya.


"Apa dia kira gue gak tau kalau sedang liatin gue makan, cih dasar cewek pinter banget kalau di suruh pura-pura." Dalam hati Ali tersenyum kecut saat mendapati kalau Alea sekarang posisinya tertunduk


Slep. Jantung Alea tiba-tiba saja seakan berhenti berdetak karena tanpa sengaja, tangannya dan tangan Ali saling memegang saat keduanya ingin mengambil ayam.


"Ma-af." Alea sedikit grogi tapi tidak dengan Ali yang berlaku cuek bebek.

__ADS_1


"Lanjutkan karena gue udah kenyang, dan tunggu di sini biar gue beliin Air." Ali memutuskan untuk berhenti makan dan menyudahinya. Lalu pamit sebentar pada Alea untuk membeli air mineral, karena matanya. Tanpa sengaja melihat warung yang masih buka.


"Jangan lama-lama," pinta Alea. Ali tidak menjawab karena langsung melenggang pergi dengan cara berjalan kaki.


Beberapa menit kemudian Ali sudah kembali dengan membawa dua botol air mineral, untuknya dan satunya untuk Alea.


"Ini minumlah dan cepat naik. Ini sudah sangat malam ," ucap Ali sembari memberikan air minum pada Alea.


"Makasih," ucap Alea tersenyum.


Sekitar 20 menit, mereka berdua sudah sampai di depan rumah Alea.


"Itu rumah gue, makasih udah mau nganter pulang." Alea langsung meminta Ali untuk berhenti karena Alea sudah sampai di rumahnya.


"Sama-sama, sekarang buruan masuk karena gue juga udah capek." Setelah itu lelaki yang mampu membuat hati Alea berdebar, kini sudah hilang dari pandangannya.


"Apa gue suka sama Ali, tapi kan pertemuan gue sama dia cuma sehari doang. Apa ini yang dinamakan cinta pandangan pertama ya," gumam Alea dengan wajah yang berseri layaknya anak muda yang sedang jatuh cinta.


Untuk sesaat ia melupakan akan laki-laki dan segera masuk ke dalam rumah.


Ceklek.


Pintu terbuka dan Alea melihat pemandangan seperti hari-hari sebelumnya. Mak Ijah selalu menunggu Alea di ruang tamu, meski tertidur namun Alea bangga karena mak nya sangat menyayanginya.


...----------------...


Keesokan paginya pukul 06:30.


"Mbak, bangun."


Suara Alena membuat Alea terganggu dan sedikit membuatnya kesal.


"Apa gak liat kalau gue lagi tidur, tapu udah kek hutan saja main teriak." Alea berdecak kesal pasalnya ia semalam baru bisa tidur sekitar jam dua. Sedangkan sekarang sang adik sudah berteriak layaknya mengejar tawanan para perampok.


"Mbak, kalau gak dibuka juga bakal gue dobrak nih." Lena mengancam jika pintu tidak buka maka akan di dobrak. Dengan senyuman liciknya Alea merencanakan sesuatu agar sang adik kapok.


Di dalam kamar Alea saat ini sedang berjalan menuju pintu, dan membukanya namun dengan sangat hati-hati. Agar Lena tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh Alea.


"Mampus elu anak sialan, heran deh gue kenapa juga musti gue yang harus ngalamin nasib bengkok begini." Alea sesaat menghela nafas karena merasa apes punya adik seperti Alena.


Suara jemari-jemari Alea terdengar dan mengetuk-ngetuk meja nakas. Menunggu hiburan di pagi hari, dan benar saja tidak berapa lama kemudian.

__ADS_1


Gubrak.


Auh.


"Sakit badanku," keluh Lena karena habis terjungkal karena ternyata pintu yang ia dobrak tidak dikunci.


"Mbak!" bentak Alena pada sang kakak.


"Apa," jawab Alea dengan suara tenang.


Sedangkan Lena sudah mengeluarkan tanduknya karena merasa sudah dikerjai oleh Alea.


"Kapok gak elu. Hahaha," dalam hati Alea tertawa karena sukses memberi pelajaran pada adiknya yang sungguh keterlaluan nakalnya.


"Mbak sengaja kan pura-pura gak denger," kata Lena dengan wajah yang dipenuhi kekesalan dan tangan satunya mengusap-usap dengkulnya.


"Emang kagak denger," ucap Alea dengan suasana hati yang gembira namun nadanya masih terdengar datar.


"Alah elu bohong."


"Terserah," ucap Alea. Lalu ia oun beranjak dari kasurnya dan keluar dari kamar.


"Mbak, gue kan belum kelar ngomongnya kok main nyelonong gitu saja sih." Lena mendengus kesal karena sang kakak terus mengacuhkannya.


"Apa sih elu, heran deh gue. Sehari gak gangguin hidup gue kenapa sih," sungut Alea dengan keadaan masih tetap berjalan.


Sedangkan mak Ijah yang melihat keduanya berantem, sudah ancang-ancang untuk memberi pelajaran bagi kedua putrinya.


"Bisa-bisanya, pagi-pagi udah main gelut saja." Mak Ijah kesal karena hampir tiap pagi Alea dan Alena isinya berantem terus dan itu membuat beliau jengah, ditambah membuat kepalanya sering kali berdenyut.


"Dasar anak-anak bandel. Suka bener bikin rusuh," desis mak Ijah yang masih memegang bumbu dapur karena hari ini beliau akan memasak sambel teri.


"Mak, tolong aku capek tapi bocah sialan ini terus menggangguku." Alea mengeluh pada mak Ijah. Berharap beliau mau membantunya lepas dari Alena yang sedari tadi terus membuntutinya.


"Sabar Ijah, sabar." Mak Ijah mengelus dada dan menguatkan dirinya sendiri.


"Mak, tolong." Alea dong. Alea justru berlari ke arah mak Ijah karena sudah lelah dengan sikap Lena.


Siapa sangka jika kesabaran mak Ijah sekarang di ujung kepala dan.


Aaaaaaa.

__ADS_1


"Sakitt, Makkk."


__ADS_2