
"Itu akibatnya kalau kalian mengganggu ketenangan Mak, heran deh. Udah gede masih saja kelakuan seperti anak TK, yang sedang berebut jajan." Mak Ijah yang kehabisan kesabaran. Akhirnya menjewer Alea dan Alena. Hingga keduanya merintih karena rasa sakit itu.
"Mak, lepasan ini kuping bukan gantungan panci." Alea merengek meminta di lepaskan. Namun, mak Ijah belum ingin melepaskannya juga.
"Mak, Lena bisa telat ini sekolahnya kalau terus-terusan di jewer." Alena sama halnya dengan Alea, yang merengek meminta di lepaskan karena telinganya sudah cukup sakit.
"Mak, masa bodoh! Lagian siapa suruh bersikap konyol," ujar mak Ijah yang sudah terlanjur greget sama kedua anaknya, tiada hari tanpa maslah yang dilakukan oleh Alea dan juga Alena, dan itu membuat bising di telinga.
"Lena dulu Mak, Mak tahu kan kalau Al sedang capek. Justru digangguin," Alea protes dan mencari pembelaan karena memang dirinya merasa tidak salah, dan Alena lah pemyebab dari kerusuhan itu.
"Lena! Berapa kali Mak bilang sama kamu," sergah mak Ijah pada Lena.
"Maaf Mak, Lena khilaf."
"Khilaf-khilaf jidatmu," geram mak Ijah yang sedang memarahi Lena, pasalnya Lena setiap hari hampir seperti itu. Beliau tahu betul kalau Alea sehari bekerja dua kali, dan itu membutuhkan istirahat yang cukup. Namun, Alena selalu saja mengganggu sang kakak. Hanya dengan beralaskan uang saku untuk ia berangkat sekolah.
Hari ini Mak Ijah benar-benar marah akan ulah anaknya yang selalu rusuh.
"Kucing jumbo sedang marah, berabe pasti." Dalam hati Lena mengumpat dan sesekali menghela nafas berat, karena jika mak nya marah, semuanya akan terkena imbasnya. Contohnya panci, atau wajan, mereka akan ikut terlempar jika mak Ijah sedang kesal.
"Panjangkan kalau udah marah kucing jumbonya," ucap Alea dalam hati.
"Kan bisa minta Mak, kalau cuma uang saku." Sejenak mak Ijah menatap anak bungsunya.
"Habisnya kalau minta Mak, yang ada cuma dapat lima ribu." Jawab Alea yang menertawakan Alena.
Hahahahaha.
Alea tertawa menertawakan sang adik, karena ia hanya mendapatkan uang saku sedkit.
"Mbak, diam!" Lena merasa kesal karena tanpa disadari kalau sang kakak sedang mengejeknya.
"Lagian uang segitu cuma bisa dibeliin es sama gorengan. Makanya elu sering batuk sama pilek, itu toh alasannya." Alea tertawa lagi karena sangat senang jika sang adik kesal.
"Apaan sih," ucap Lena dengan tatapan sinis.
"Habisnya kalau di kasih 10 ribu, yang ada pulang-pulang bawa mainannya anak SD, dan Mak gak suka itu." Mak Ijah pun, akhirnya buka suara perihal uang saku yang diberikan pada Lena.
"Mak nyebelin." Lena merajuk dengan wajah layaknya koran kusut, dan setelah itu ia berjalan dengan kaki yang di hentakkan.
Alea yang berada di dekat mak nya. Langsung merogoh saku. Ia ingat semalam jika uangnya belum diletakkan pada tempatnya.
__ADS_1
"Len, sini elu." Alea pun memanggil sang adik dan menyuruhnya untuk mendekat.
"Ogah, paling juga elu hina lagi." Lena menolak karena malas jika di ejek oleh sang kakak lagi.
"Nih," Alea memegang uang 10 ribu, untuk diberikan pada Lena.
"Wah ... Slep, makasih."
Alena bersorak gembira dan tidak lupa meloncat-loncat kegirangan layaknya anak kecil.
Alea yang melihat mak nya cemberut, langsung menghiburnya.
"Udahlah Mak, jangan cemberut mulu. Tuh muka udah tampak jelek," ucap Alea pada mak Ijah.
"Kalau Emak cantik, jadinya anak gak kayak kamu!" seru mak Ijah.
"Kalau jeleknya kek gini. Bagaimana cantiknya, Mak?" Alea memuji dirinya sendiri akan wajahnya yang cantik dan imut.
"Puji saja terus diri kamu, biar Mak memuji diri Mak juga, Al."
"Aku memang cantik, aku memang cantik. Maju, mundur imut." Mak Ijah menirukan gaya artis papan atas dengan langkah meninggalkan Alea.
"Maju, mundur, cantik. Aku memang cantik, cie ... Cie muji diri sendiri gak papa kali ya," ucap Alea yang mengikuti mak Ijah. Lalu segera meninggalkan dapur karena matanya masih sangatlah mengantuk.
Alea yang sudah bersiap untuk berangkat tidur, namun harus terhenti karena ponselnya berdering.
"Menyebalkan, baru saja gue mau berangkat ke pulau impian. Masih saja ada yang gangguin gue," gerutu Alea, lalu dengan rasa malas ia pun meraih ponsel yang ada di atas meja.
"Alby!" Alea mengerutkan keningnya saat nama Alby yang berada di layar ponsel.
📞"Halo, ada apa elo telfon gue?" Alea akhirnya mengangkat telepon dari Alby, dan menanyakan kenapa menghubunginya.
📞"Jangan pura-pura bodoh, lihat sekarang jam berapa." Saat mendengar ucapan Alby. Sontak saja Alea langsung menatap jam yang berada di layar ponsel.
"Aduh mampus," desis Alea sambil menepuk jidatnya, dan.
Tut.
Tut.
Alea langsung mematikan tombol merah yang ada di bagian akhiri. Lantas dengan sangat tegesa-gesa ia pun langsung meloncat dari atas ranjang.
__ADS_1
...----------------...
Sedangkan di pasar. Dimana Alby, Ghani dan juga beberapa teman seperjuangan Alea. Mereka sedang menunggu kehadiran Alea yang tak kunjung datang. Itu karena bagian Alea parkir tidak ada orang, dan semuanya sudah mendapatkan tempat masing-masing.
"By, elo udah telepon Al, terus katanya apa?" tanya Ghani pada Alby.
"Buru-buru ngejawab. Orang telepon langsung di tutup," kata Alby menjelaskan.
"Pasti karena kecapean. Makanya jam segini baru bangun," ujar Ghani pada Alby.
"Sepertinya."
Saat keduanya sedang mengobrol membicarakan Alea. Sosok gagah dengan jaket kulit berwarna hitam, dan Helm dengan merek KYT, Alby dan Ghani sudah menebak siapa yang berada di atas motor tersebut.
"Tuh tanya, hari ini dia ke mana sampai bisa telat." Ghani menoleh ke arah Alby dan langsung bicara.
"Alah paling-paling-paling juga alasannya sama." Jawab Alby pada Ghani.
"Ini dia nih, ketua parkir baru nongol. Elu masih sehat kan dan lagi kaga sakit?" Alby bertanya dengan sedikit lirikan pada Alea.
"Apaan sih. Gak jelas banget deh," ucap Alea. Lalu tanpa memperdulikan ocehan Alby, Alea langsung meninggalkannya dan langsung menuju ke tempat dimana ia harus berjaga.
"Napa itu anak?" Ghani menatap Alby berharap jika temannya mengetahui sesuatu.
"Sepertinya lagi patah hati," ujar Alby cuek.
"Pacar saja kaga ada, cih patah hati." Ghani berkata dengan setengah nada yang penuh ejekan.
"Parah lo, temen sendiri dikatain gak laku." Alby membalas ucapan Ghani dengan diiringi senyuman.
"Lha emang real kan. Coba saja itu anak bersikap sedikit anggun. Mungkin banyak yang suka kali ya," ucap Ghani yang beramsumsi sendiri.
"Udah, jangan bacot mulu. Sekarang kerja sana," ucap Alby yang menyuruh Ghani untuk bekerja.
Sedangkan Alby membenarkan ucapan Ghani. Kalau saja Alea sedikit anggun, mungkin sampai sekarang temanya itu tidak akan menjadi jomblowati.
"Alea, Alea. Nasib kamu kok gak mujur ya," ucap lirih Alby karena temannya sama sekali belum pernah pacaran.
Lama-lama Alby berpikir kalau Alea itu bengkok.
"Masa iya sih Alea seperti itu, dia kan cantik. Apa memang dia gak doyan...."
__ADS_1
"Gak doyan apa! Jawab. Elo ya, temen kaga ada bisa-bisa ngatai di belakang."
"Ampun, Al. Sakit, tolong angkat kakimu."