
"Memangnya Mama mau Pup di sini? Ih jorok banget deh Mama." Seketika bu Nilam diam, wajah yang semula malu-malu kucing, kini berubah menjadi singa. Itu sebabnya karena ucapan dari suaminya yang, yang telah mematahkan semuanya. Bak tiba-tiba tertimpa reruntuhan, awalnya bahagia ujungnya begitu menyakitkan.
Hahahahaha.
Seketika tawa Ali pecah karena melihat muka bu Nilam bagai orang yang terciduk, sedang mencuri ikan.
"Asin gak tuh," batin Ali karena melihat tingkah konyol ayah dan mama nya.
Hup.
Seketika tawa Ali terhenti, saat bu Nilam memasukkan ikan ke dalam mulutnya. Bagaimana tidak diam, karena yang dimasukkan adalah ayam kesukaan upin dan ipin.
"Mama ini apa-apaan sih," dengus Ali. Setelah berhasil mengambil ayam yang berbentuk pentungan itu.
"Biar gak jadi kuntilanak," ujar bu Nilam.
"Tapi aku cowok Ma, mana ada kuntilanak." Jawab Ali sembari menggigit lauk yang berada di tangannya sekarang.
Sejenak bu Nilam berpikir akan ucapan Ali.
"Sudahlah, kita makan. Lupakan anu dan relakan kuntilanak, dengan begitu kita bisa menikmati hidup dengan memakan makanan yang sudah menanti." Pak Indra pun lantas meminta istri dan anaknya, untuk tidak berdebat lagi. Kalau itu terjadi hingga nanti, yang ada malah tidak jadi makan
...----------------...
Sedangkan di tempat lain.
"Sini, Mbak masih ada yang kosong." Alea pun lantar memberhentikan pengendara untuk parkir di areanya. Sepasang muda-mudi itu lantas berhenti, lalu memberikan motornya pada Alea untuk di parkirkan.
"Ini Mas, karcisnya." Lalu tidak lupa Alea menyobek dua karcis, untuk satu di motor dan satu lagi diberikan pada yang punya kendaraan.
"Ok, Mas. Makasih," ucap pemilik motor tersebut.
"Apa dia buta dan gak bisa lihat kalau gue ini cewek?" dalam hati Alea bertanya-tanya aka nama panggilan, yang kerap ia dengar.
__ADS_1
"Dasar orang-orang menyebalkan," gumam Alea sambil berkacak pinggang, dan itu tidak terhindar daro sorotan Agus, yang tak berada jauh darinya.
"Woe … lo kenapa manyun gitu?" tanya Agus yang merasa heran pada temannya itu.
"Sebel gue, masa iya cantik begini di panggil Mas, apa mereka buta."
Hahahahaha.
Agus yang mendengar tidak bisa menahan tawanya, karena ini memang bukan kali pertamanya. Mendengar keluhan dari Alea, kalau memang panggilan mas dan bang, tak pernah tertinggal, dari mulut orang-orang.
"Diam lo, gak tau lagi kesel malah tertawa." Alea mendengus kesal karena tidak berhenti, untuk menertawakan dirinya yang kerap sebutan mas, membuatnya semakin jengkel.
Agus pun diam, karena tidak mau jika Alea semakin murka kepadanya.
"Makanya, elo jangan menyalahi kodrat." Agus pun menatap lekat ke arah Alea dan di balas tatapan tajam oleh wanita itu.
"Becanda, sorry deh kalau udah bikin elo kesel." Agus berbicara lagi dan Alea pun langsung membuang mukanya ke samping.
"Gue gak mau jadi orang lain, karena itu tidaklah nyaman buat gue. Semua terserah jika ada yang suka sama gue ya bersyukur. Kalaupun tidak seenggaknya kan gue udah berusaha, menjadi pribadi yang baik. Meski penampilan gue seperti ini dan terserah lah." Saat Alea mengungkapkan akan dirinya yang sudah nyaman dengan dirinya yang sekarang pada Agus, membuat laki-laki itu menyunggingkan senyuman, bukan senyuman bangga namun senyuman betapa menyesalnya Ali, karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Alea.
"Apaan sih lo." Agus menghempaskan tangan Alea karena menurutnya sudah menganggu khayalannya.
"Lagian elo kek orang gila, pakai senyum-senyum tidak jelas." Alea pun mengerutkan keningnya ketika di tanya justru bukannya menjawab malah tambah tersenyum.
"Mending lo sono cari laki, biar gak jadi perawan tua. Apa elo mau nikah sama gue?" dengan mata yang di kedipkan sebelah Agus menggoda Alea.
"Idih, yang ada bukan memperbaiki keturunan malah memperburuk keturunan nanti." Jawab Alea sambil menatap
"Mulut lo lama-lama kek empedu ya, pahit." Agus tidak sakit hati akan ucapan Alea, justru menjawabnya dengan suara tawa yang begitu renyah bal kerupuk.
"Iya kan emang bener," kata Alea yang ikut tertawa.
Agus cukup tampan, dan tak ada cacat sedikitpun. Hanya warna kulitnya lah yang sedikit hitam, dan rambut gundulnya yang membuat orang terkadang takut. Bukan tanpa alasan rambutnya di gundul, dua bulan lalu Agus potong rambut karena rambutnya yang gondrong ingin di pendekkan, bukannya bagus malah di buat seperti dora. Dengan poni khasnya yang berada di atas alis. Makanya Agus memutuskan untuk menggundul rambutnya daripada dibuat bahan ejekan oleh teman-temannya, termasuk Alea.
__ADS_1
"Al,"
"Iya." Alea seketika menoleh saat Agus memanggilnya.
"Elo udah nyatain cinta lo sama Ali?"
"Apa ada yang harus gue jawab, sepertinya tidak ada dan jangan membahas lelaki itu lagi." Seketika Alea menghindar dari Agus, karena tidak mau semakin kesal.
"Gue mau pulang, urusin ini motor. Tiba-tiba kepala gue sakit." Dengan suara datar Alea berkata, dan itu membuat Agus merasa bersalah, karena telah berkata yang seharusnya tidak diucapkan pada, Al.
"Pulanglah, dan jangan lupa lekas minum obat. Agar sakitnya hilang," pesan Agus pada Alea.
Alea tidak menjawab, dan langsung pergi dan mengambil motornya.
………
Setengah jam lebih, akhirnya Alea sampai juga di rumah.
Tepat Alea turun dari motor mak Ijah berada di depan rumah.
"Al, tumben sudah pulang?" tanya mak Ijah pada Alea karena sekarang baru pukul delapan malam.
"Tiba-tiba pusing, Mak. Akhirnya Al izin pulang sama teman-teman," jawab Alea pada mak Ijah.
"Yaudah, sekarang kamu makan gih. Mak udah buatin ati mercon campur pete kesukaan kamu," kata mak Ijah yang menyuruh Alea untuk makan terlebih dulu.
Bagai obat, Alea pun langsung tersenyum karena mendengar masakan kesukaannya, yang sudah siapkan oleh mak nya.
Lantas Alea buru-buru masuk dan menuju ke dapur karena perutnya sangat lapar.
Sengaja Alea beralasan seperti itu karena entah mengapa, tiba-tiba mood nya ancur. Saat Agus membicarakan Ali.
"Hummm … Harumm. Alea mencium bau aroma khas pete yang berada diantara ati ampela.
__ADS_1
Sedangkan tadi saat Alea masuk, mak Ijah juga ikut masuk dan menatap Alea dengan penuh keheranan.