Mengejar Cinta Kondektur

Mengejar Cinta Kondektur
28. AKU BUKAN PRAWAN TUA


__ADS_3

"Al, kamu tidak apa-apa kan?" mak Ijah yang penasaran. Memilih bertanya karena merasa jika Alea sepertinya tengah kesurupan pikirnya.


"Memangnya kenapa dengan, Al Mak?" Alea mengernyitkan dahinya karena merasa jika mak nya sedang bermimpi makanya ucapannya sedikit ngawur.


"Apa kamu sedang jatuh cinta?"


Uhuk.


Uhuk.


Alea tersedak karena saat nasi sudah berada di mulutnya. Mak Ijah berbicara soal kekasih, dan itu membuatnya tidak lagi fokus pada nasi, yang berada di depannya sekarang.


"Mana ada jatuh cinta Mak, memangnya ketika aku seperti ini apa Mak akan mengira kalau aku itu sedang kasmaran." Alea pun berujar setelah meneguk air putih.


Mak Ijah diam, memandang wajah sang anak begitu sangat lekat.


"Jika kamu tak kunjung juga punya kekasih, sepertinya kamu perlu dicarikan sosok suami yang—."


"Tidak Mak, aku bisa cari sendiri." Dengan cepat Alea langsung menjawab dan tak mau dicarikan sosok suami. Alea berpikir jika dirinya bisa mencari sendiri, mengapa mak nya harus turun tangan untuk urusan soal hati. Itu sangat menyebalkan bukan.

__ADS_1


"Memangnya kamu bisa mencarinya, cih. Ingat umur apa kamu ingin dijuluki perawan tua," kata mak Ijah yang terus mendesak supaya Alea mau menikah.


"Meskipun aku di juluki perawan tua, yang penting aku tong-tong Mak. Memangnya Mak mau punya anak perawan kalau ujungnya gak tong-tong."


Mak Ijah langsung mendelikkan matanya, dan sudah bersiap untuk menelan mentah-mentah Alea, kalau saja memang sudah tidak perawan.


"Awas kalau kamu macam-macam."


Kik.


Mak Ijah langsung memegang lehernya dan akan menguliti Alea dengan cara mengkodenya, agar Alea tidak berani macam-macam.


Mak Ijah menggeleng, bisa-bisanya itu mulut langsung japlak. Tanpa permisi.


"Bagus, itu baru anak Mak, jadi Mak juga tidak perlu khawatir."


"Makanya, mending perawan tua kan daripada muda tapi udah di perawanin." Setelah mengatakan Alea langsung berdiri tanpa menunggu mak Ijah menjawab terlebih dulu.


"Dasar payah," ucap mak Ijah yang ikut berdiri juga.

__ADS_1


…..


Keesokan paginya.


Saat di rumah Ali sedang bersiap untuk menikmati sarapan paginya.


"Ando, Mama mau kenalin seseorang sama kamu."


"Ma, Mama kan sudah janji kalau tidak akan menjodohkan Ando lagi." Ali buru-buru menyela ucapan bu Nilam karena itu adalah awal perjanjian, namun sekarang? Semua itu tetap saja dilakukan oleh bu Nilam.


"Iya, tapi ini kan hanya perkenalan. Apa salahnya. Kalau kamu tidak suka itu hak kamu dan Mama tidak akan melarang, lalu mencoba menerima perkenalan saja gak tidak apa-apa." Bu Nilam pun mengungkapkan pada Ali, jika semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan perjodohan.


"Apa Mama serius tidak akan ada perjodohan?" Ali menyipitkan matanya dan ingin segera mendengar jawaban dari sang mama.


"Benar, kamu bisa pegang ucapan Mama, untuk urusan cocok gak nya itu urusan kamu." Jawab bu bu Nilam.


"Lantas kapan acara pertemuan itu dilaksanakannya?" tanya Ando pada bu Nilam.


"Mungkin nanti siang, dan kita bisa bertemu di cafe. Bagaimana kau setuju?" tanya bu Nilam lagi.

__ADS_1


"Semua terserah Mama, yang aku ingin cuma tidak ada perjodohan di antara kita. Mama paham kan," ucap Ando dengan memandang serius wajah sang mama.


__ADS_2