
Keesokan paginya seperti hari-hari sebelumnya. Alea melupakan sejenak tentang perasaannya pada Ali.
Tidak ada alasan bagi Alea untuk menjauhi Ali, jadi dia tetap memendam perasaannya dalam-dalam dan masih setia dengan predikat sebagai teman.
Siang ini. Seperti biasa, Alea menjadi seorang tukang parkir di pasar. Mencari pundi-pundi rupiah untuk kehidupannya, dengan adik serta sang ibu.
"Yok yang mau parkir, masih kosong di sini." Alea sedikit berteriak untuk menarik para pemotor yang parkir.
“Mbak, nitip ya.”
“Siap, Mas. Sini biar saya saja yang merapikannya,” kata Alea pada orang yang ingin parkir.
“Makasih.”
Alea mengangguk saat orang itu, mulai masuk ke dalam pasar.
Parkiran cukup ramai karena hari ini adalah hari minggu, dan itu membuat Alea sedikit berbahagia. Bukan tanpa alasan, jika parkiran penuh maka upah yang di terima juga lebih banyak dari sebelumnya.
Saat Alea tengah asik menata motor. Alby dan Ghani datang menghampiri Alea.
“Gimana, Al. Banyak yang parkir?” tanya Alby pada Alea.
“Di syukuri saja, By. Kalau rejeki gak akan ke mana,” jawab Alea pada Alby.
“Al, nih gue bawain minuman. Biar rada segeran tuh tenggorokan,” kata Ghani. Lalu memberikan minuman dari cup pada Alea.
“Elo emang teman yang baik, makasih coy.” Alea pun langsung menerima minuman yang diberikan Ghani padanya.
“Emang Ghani saja yang dianggap baik. Terus gue gak gitu?” Alby dengan wajah merajuk berkata pada Alea.
“Nih, makan. Biar itu perut gak bunyi lagi karena telinga gue udah sakit bera,” ucap Alby seraya memberikan cilok pada Alea.
“Wah … Kalian berdua memang the best deh, tau saja kalau gue lagi haus dan lapar.” Alea menerima makanan dari Alby dengan wajah yang berbinar, nyatanya teman-temannya jauh lebih perhatian kepadanya.
“Udah sana makan. Ini biar urusan gue sama Alby,” kata Ghani yang menyuruh Alea untuk istirahat dan parkiran sementara mereka yang akan menjaga.
“Oke lah kalau begitu. Buat kalian cium dari jauh,” ucap Alea pada teman-temannya. Lalu memberikan ciuman jauh pada Alby dan juga Ghani.
“Ada-ada saja tingkah konyol Alea,” ucap Ghani dengan diiringi gelengan kepala karena, menurutnya Alea adalah sosok yang mampu membuat orang tersenyum, karena tingkahnya yang konyol dan juga sangat rusuh.
“By, elo kenapa? Jangan bilang kalau….”
__ADS_1
“Jangan menebak dengan hanya beramsumsi,” kata Alby yang langsung menyela ucapan Ghani.
“Kenapa itu anak? Gue kan belum ngomong tapi seakan-akan dia tahu kalau gue mau bilang, kalau si Alby suka sama Al.” Dalam hati Ghani memikirkan akan Alby yang memang sedang menyukai Alea, karena terlihat dari sorot matanya jika temannya tengah menyimpan sebuah rasa.
“Ghani layaknya orang yang sedang tengah berada di atas panggung, namun dengan keadaan terjungkal. Malu, itulah sebutan yang cocok untuknya. Itu karena pertanyaannya pada Alby, hingga membuatnya salah tingkah.
Ghani yang masih dengan rasa penasarannya. Terus memandangi Alby yang tak melepaskan tatapannya pada Alea yang sedang makan. Menikmati sekantung cilok dan segelas minuman dingin.
“Saat makan kenapa elu bertambah cantik, Al.” Alby bergumam dalam hati, memuji kecantikan Alea meski dengan dandanan layaknya anak urakan.
Sedangkan Ghani sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Alby, dan ia yakin kalau Alby suka dengan Alea. Hanya saja temannya itu tidak berani menyatakannya pada orang yang disukainya.
Sedangkan Alea yang tak jauh dari Alby dan Ghani, kini sedang mengelus perutnya.
“Ahhh … Kenyang, meski kurang sih, tapi paling tidak sudah membuat perut gue tidak bunyi dan meminta haknya lagi.” Alea berbicara seraya berdiri dari duduknya dan langsung kembali. Dimana dirinya berada dan mulai bekerja lagi, karena waktu pulangnya tinggal satu jam lagi.
“Gue udah balik. Mending kalian kembali juga,” kata Alea pada kedua temannya.
“Asiappp. Cantik,” ucap Alby dan Ghani berbarengan.
“Lebay, udah sana. Hus buruan pergi,” usir Alea pada mereka.
Siang harinya. Tanpa terasa Alea dan kawan-kawannya, sudah selesa bertugas dan akan kembali ke rumah masing-masing.
Al, panggil seseorang yang tidak berada jauh darinya saat ini.
Alea yang merasa terpanggil, akhirnya menoleh ke arah sumber suara itu.
“Ali!” gumam Alea dengan rasa tidak percaya karena pria itu menyusulnya ke pasar.
“Al, elo udah kelar belum kerjanya?” tanya Ali dengan netra yang melihat jajaran motor mulai tak ada yang parkir.
“Ini gue sudah mau pulang, kenapa emang?” Alea kembali bertanya dengan kerutan di keningnya.
“Gue mau ajak elo ke toko mas, mau kan.” Penuh pengharapan, itulah yang dirasakan oleh Ali.
Sejenak Alea berpikir untuk menerima ajakan Ali. Dalam hatinya Alea ingin menjauhi Ali karena tidak mau, ia merasakan sakit hati. Namun, menolak ajakannya sungguh Alea tidak tega melakukannya.
“Tunggu, gue mau nyetor duit dulu.” Jawab Alea sedikit kaku dan tidak seceria hari-hari sebelumnya.
“Tentu, gue akan nunggu elo di sini,” kata ali sedikit berteriak karena Alea sudah terlanjur sudah berjalan.
__ADS_1
Ali yang saat ini, penuh senyuman dan kebahagiaan untuk memberikan seseorang hadiah, di hari ulang tahunnya orang yang sangat spesial baginya.
“Yuk,” ajak Alea pada Ali yang tidak tahu kedatangannya, karena pria itu terusnya mengeluarkan senyuman yang sangat ia kagumi.
“Oke.”
Lalu keduanya berjalan untuk mengambil motor Alea, karena Ali sedang tidak membawa motornya, karena miliknya masih berada di terminal.
Setengah jam telah berlalu. Alea dan Ali sudah sampai di toko mas, lalu keduanya langsung masuk untuk memilih sebuah cincin.
“Al, coba deh elu coba.” Ali memberikan cincin pada Alea untuk dicobanya.
“Bagaimana, cantik kan?”
“Cantik,” kata Alea.
“Kamu suka?” Ali bertanya dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Suka, suka banget.” Jawab Alea, karena Alea pikir jika cincin itu untuknya, dan wajah Alea mulai cerah kembali.
“Eats … Ini untuk kekasihku, gue ngajak elo ke sini sekalian buat bantuin gue milih apa yang disukai wanita.
Seketika hati Alea remuk. Saat mendapati Ali mengatakan jika cincin itu bukan untuknya, namun untuk orang lain.
Senyuman yang sempat ia suguhkan kini kembali tenggelam. Sungguh Ali sangat pintar untuk membuat Alea GR, dan membuat dirinya yakin dan besar kepala. Nyatanya Ali justru membuatnya salah tingkah karena malu pada dirinya sendiri.
“Makasih ya Al, emang elu teman yang baik.” Alea hanya tersenyum saat Ali mengatakan terimakasih padanya.
Meski tersenyum nyatanya itu adalah senyuman palsu yang terpaksa Alea lakukan.
“Sekalian antar gue ke taman ya, gue mau ngasih ini ke pacar gue. Masih mau kan elo bantuin gue,” ujar Ali karena memang dirinya tidak membawa kendaraan, dan menumpang motor Alea.
“Tentu, kita jalan sekarang dong.”
“Kirain berangkatnya tahun depan,” kata Alea yang tengah menghibur dirinya sendiri, dengan lelucon yang ia berikan pada Ali.
Beberapa menit kemudian. Ali dan Alea sudah berada di taman, namun siapa sangka. Jika kejadian yang sangat menyakitkan di lihat oleh Ali.
"Lula!"
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat."
__ADS_1