
Karena kesal. Maka Alea memilih meninggalkan Ali dengan keadaan pincang.
Namun, tetap saja rasa tak tega menyelimuti hatinya dan pada Akhirnya. Ia juga menghampiri kembali Ali, lalu menuntunnya lagi dan mengarah dimana motornya berada sekarang.
"Sadis amat elo, main tinggalin anak orang!" sungut Ali dengan tatapan layaknya anak kecil sedang meminta sebuah permen.
"Itu karena salah elo."
Ali diam dan tertunduk.
"Ternyata elo jago gelut juga ya," kata Ali memuji Alea yang melawan selingkuhan kekasihnya itu.
"Gue semua bisa, apalagi kalau elo mau gue ditambahin. Biar sekalian gak bisa jalan," ujar Alea masih dengan hati yang dongkol.
"Kalau begini ceritanya. Yang ada orang takut sama elo, belum apa-apa udah main matahin kaki orang."
"Jangan bawel. Buruan naik, karena gue gak butuh ceramah dari elo." Alea langsung melepaskan tangan Ali dari bahunya, dan segera menyuruh lelaki itu untuk segera naik ke atas motornya.
Dalam keadaan yang hening, saat motor sudah dilajukan dengan kecepatan sedang. Ali terus memikirkan akan kekasihnya, yang tak menyangka bahwa Lula bisa berbuat tega dengannya.
Dulu, sebelum ia keluar dari rumah ia bisa menuruti permintaan Lula. Apa yang dia mau Ali bahkan menurutinya. Sampai pertengkaran terjadi dengan sang ayah.
Ali merasa bahwa dirinya sudah dibutakan oleh cinta, hingga sudah menghabiskan ratusan juta untuk Lula, namun ternyata. Saat dirinya mengaku bangkrut justru bukan support yang diterima. Melainkan penghianatan karena kekasihnya memilih orang yang kaya raya, di banding dengan dirinya yang hanya seorang kondektur bus.
Tanpa terasa Alea sudah berhenti di rumah kontrakan milik Ali, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Ali akan turun dari motornya.
"Li, apa elu akan terus berada di atas motor gue?" Tidak ada jawaban saat Alea bertanya. Namun, sedikit merasa ada yang aneh di punggungnya.
"Aliiii … Bangun!"
Hiat.
Hiat.
Hiaaaa.
Pluk.
Auh. Seketika Ali meringis kesakitan saat helmnya di gaplok oleh Alea. Seketika Ali sadar dan ada rasa sedikit malu.
"Ini nih. Kalau kebanyakan mimpi. Sampai-sampai terbawa," tukas Alea. Ya, Alea memang sengaja melakukan itu, karena Ali tidak mau bangun. Menikmati mimpinya dengan menyandarkan kepalanya di punggungnya dan itu membuatnya kurang nyaman.
"Ngantuk, Al."
__ADS_1
"Memangnya gue gak ngantuk juga, ia kali elo. Tinggal naik terus tidur," ucap Alea dengan nada kesal.
Hehehehe.
Hanya sebuah tawa yang menghiasai di sudut bibir Ali.
"Buruan itu luka biar gue obati, dan setelah itu gue baru bisa pulang dengan nyenyak, karena waktu sangat berharga buat gue." Alea terus berbicara layaknya burung beo. Bukan tanpa alasan, karena nanti ia dirinya harus kembali bekerja, untuk mencari uang receh di tempat parkiran.
Tanpa banyak bicara. Ali langsung berjalan meski dengan keadaan sedikit pincang karena ulah selingkuhan Lula, yang terus menghajarnya.
Ceklek.
Seseorang di dalam mendengar suara ramai-ramai tepat di depan rumah. Memilih untuk keluar, pada saat ingin membuka pintu namun ternyata sudah didahului oleh Ali.
"Ali, elo kenapa?" tanya laki-laki yang baru saja keluar dan sekarang berada di ambang pintu.
"Apa elo gak lihat ini muka udah mirip ubi ungu," sungut Ali karena sudah melihat tapi tetap bertanya.
"Elo habis gelut sama siapa, terus kok wajahmu semakin tambah jelek ya. Kalau di teliti secara serius," ungkap pria itu saat melihat dari tiap inci tubuh Ali.
"Dasar teman gak punya akhlak," umpat Ali.
Tersadar saat Ali pulang dan belum menanyakan akan dirinya pulang di antar oleh siapa? Sedetik mata lelaki itu mendongak dan celingukan. Saat kepalanya sudah berada diluar dan.
"Huaaaa … pocong," teriak pria yang berada diambang pintu itu.
"Eh buset. Temen lo kelewatan, masa iya gue dibilang 'Pocong' emang dia gak liat muka gue yang imut ini ya."
"Imut darimana orang nyeremin gitu kok, iya kali kalau elo barbie." Jawab pria itu dengan posisi masih menutup matanya.
"Berani lo bilang ke gitu sama gue! Buruan buka itu mata biar tahu elo berhadapan sama gue," titah Alea dengan berdecak pinggang karena sudah tidak sabar, melihat pria itu terkejut saat melihat Alea.
Sedangkan Ali masih bingung dan masih mencerna apa yang dikatakan oleh Alea.
"Apa mereka berdua saling kenal?" dalam hati Ali bertanya-tanya karena melihat ancaman dari Alea, Ali bisa menyimpulkan kalau temannya itu mengenal sosok perempuan yang ada di sampingnya itu.
"Buruan buka! Kalau kaga."
Krepek.
"Mau lo gue bikin kek jajan leker," bentak Alea lagi.
"Waduh, sepertinya gue kenal nih suara. Jangan bilang kalau itu–," pria itu berhenti berucap dan dengan segera ia langsung membuka matanya, meski keringat juga sudah bercucuran layaknya orang yang sedang makan mi iblis dengan level 10.
__ADS_1
"Alea!"
"Duh mampus gue," rutuknya saat matanya benar-benar melihat sosok Alea.
"Apa lo, masih berani ngatain gue." Dengan lagaknya orang yang ingin menantang. Alea mendelikkan matanya dalam-dalam ke arah pria yang sangat menyebalkan itu.
"Enggak Bos, eke takut sama ye."
Uhuk.
Uhuk.
Seketika Ali tersedak karena mendengar logat bencong dari suara agus. Dalam hatinya ia tengah berpikir kenapa tiba-tiba berubah jadi banci kaleng? Dan sejak kapan Agus berubah yang seperti itu.
"Tunggu, apa kalian saling kenal?" Ali langsung bertanya pada keduanya karena merasa ada yang ganjal.
"Dia profesinya sama kek gue. Sama-sama tukang parkir di mall," timpal Alea.
"Lha terus lo Gus, sejak kapan buah ***** lo berubah jadi jeruk?" kali ini Ali menatap Agus dengan seksama, menanti jawaban yang sudah tidak sabar, untuk segera ia dengar.
"Kalau ada dia doang eke jadi buah jeruk. Kalau gak ada dia gue laki-laki yang punya lato-lato," ucap Agus dengan nada diakhiri sedikit garang.
"Ya salam." Ali menepuk jidatnya sungguh teman gak bener semua pikirnya.
Sesaat setelah perdebatan yang tiada akhir.
Ali pun dikompres oleh Alea karena lukanya harus segera diobati.
"Makanya jangan sok pakai ngajak orang gelut. Gini kan akhirnya babak belur," kata Alea dengan menekan-nekan lap di wajah Ali.
"Elo nya saja yang gak pernah ngerasain sakit hati. Makanya bisa ngomong seperti itu," ucap Ali.
"Auh … Sakit Al, pelan-pelan." Alea memang sengaja menekan karena kesal dengan Ali, hanya karena Alea memang belum pernah berpacaran Ali berkata seperti itu.
"Al, sakit … Duh elo kesurupan apaan sih," rengek Ali karena merasa semakin bertambah sakit akibat tekanan itu.
Untuk sesaat.
"Wah ... Roman-romannya ada yang ehem .. Ehem nih, pergi saja kali ya."
Pluk.
"Mampus lho."
__ADS_1