
"Itu akibatnya kalau elo berani di belakang gue!" bentak Alea pada Alby, dengan nada ketus. Akhirnya Alea mengangkat kakinya.
"Iya, gue minta maaf. Sekarang angkat itu sepatu yang ada di kaki elo," kata Fahri yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit itu.
Akhirnya Alea luluh juga, dan melepaskan pijakannya dari kaki Alby.
"Ingat ya, gue masih normal dan masih doyan laki." Alea berkata dengan tatapan tajam. Seakan menunjukkan bahwa ia betul-betul normal, dan masih tertarik pada lawan jenis, hanya saja keberuntungan akan nasib percintaannya, belum terlihat oleh sebuah terpong.
"Bukan salah gue dong kalau punya pikiran seperti itu. Lagian elo gak pernah gandengan sama cowok, ya wajar kalau ngiranya gue…."
Bukh.
Auh.
"Bedebah, dasar brengsek lo. Gak pernah gandengan sama cowok bukan berarti gue suka jeruk sama jeruk o'on," ucap Alea penuh nada emosi, dan perut Alby lah yang menjadi sasaran kemarahan Alea.
"Tuh, ladenin. Sepertinya ada orang yang mau ambil motor. Jangan bisanya bacot mulu elo," tukas Alea lagi saat melihat ibu-ibu yang akan mengambil motornya.
"Buk, mau arah ke mana ini? Kanan apa kiri atau atas?" tanya Alby pada ibu pemilik motor tersebut.
"Iya kali motor punya sayap." Jawab ibu itu.
"Buk," panggil Alby.
"Apaan," sahut ibu-ibu yang ada di samping Alby.
"Punya anak cowok gak, Buk?" tanya Alby cengengesan.
"Ada, kenapa emang?" tanya balik ibu itu, dan Alea menatap jengah pada keduanya, karena ingin tahu apa yang mereka bicarakan maka dari itu. Alea tetap setia menunggu ibu-ibu yang baru saja belanja melanjutkan percakapannya. Alea ingin tahu apa saja yang akan mereka bahas.
"Sedikit menguping gak papa kali ya," gumam Alea yang terus mengikuti gerak-gerik antara Alby dan ibu-ibu itu.
“Saya punya teman, tapi dia masih jomblo, Bu. Bagaimana?”
“Cantik gak dia. Secara anak saya kan tampan,” ucap ibu-ibu itu.
“Cih. Narsis sekali mak satu ini,” gumam Alby dalam hati.
“Jamin mantul, mau tau gak siapa cewek itu?” kata Alby yang sudah siap memperkenalkan sosok wanita yang di maksud.
“Siapa?”
“Noh, cantikan.” Alby dengan senyuman yang khas dan mata yang mengarah ke arah dimana Alea berada, itulah wanita yang ia maksud.
“Hah … Gak salah?” tanya ibu-ibu itu.
__ADS_1
“Memang apa yang salah?” Alby bingung, karena merasa tidak ada yang salah dari apa yang diperlihatkan.
“Masa iya saya punya mantu tukang parkir,” ucap ibu itu. Dengan perasaan yang tercengang.
“Dia kan cantik….”
“Apaan sih lo, By. Main jodohin anak orang,” kesal Alea yang langsung menghampirinya saat mash, tengah berbincang dengan ibu itu, lalu dengan cepat langsung menyahuti ucapan Alby.
“Siapa tahu elo cocok,” ujar Alby dengan gaya sok cool nya.
“Gue udah punya cem-ceman. kalau elo masih berani jodoh-jodohin gue, abis itu burung dan jangan harap elu akan menikah.” Dengan sangat kesal serta sedikit ancaman. Bisa sedikit membuat Alby kapok.
“Gak papa deh Mas, meskipun tukang parkir. Sepertinya memang cocok sama anak saya. Kebetulan dia ikut ke pasar juga,” terang ibu itu. Yang sangat antusias dengan ide gila Alby.
“Mana, Bu?” tanya Alby yang mulai penasaran dan sudah tidak sabar, untuk melihat anak dari wanita itu.
“Tungguin saja.” Jawab ibu yang mulai antusias.
“Nah itu dia, biar Ibu panggil.” Ibu itu pun akhirnya memangg nama anaknya, dan membuat Alea dan Alby sedikit penasaran, karena namanya seperti nama perempuan.
“Yeyen, buruan dong kalau jalan.” Ibu itu lantas berteriak memanggil anaknya, untuk secepatnya menghampirinya.
Sedangkan Alea dan Alby mencari sosok pria namun tidak ada, netranya terus mengelilingi pintu keluar pasar. Namun, tidak sekalipun melihatnya.
Tidak berapa lama kemudian. Ada sosok pria yang sangat cantik serta anggun. Melebihi Alea, mereka berdua melihat jika makhluk jadi-jadian itu melambaikan tangan, ke arah ibu-ibu yang berada di samping Alby, dan keduanya sempat berpikir jika itulah anaknya.
“Al, sepertinya iya.” Jawab Alby dengan ekspresi layaknya orang yang sedang mengunyah mangga muda.
“Ini dia anak saya. Tampan kan,” puji ibu itu pada anaknya.
“Buk, ini bukan tampan, tapi makhluk tuhan yang sangat mengerikan….”
“Apa kamu bilang! Bisa-bisanya kamu menghina anak saya,” bentak ibu itu yang tidak terima jika anaknya di ejek.
“Memang iya kan,” kata Alea dengan mode masih tetap tenang.
“Saya akan menghajarmu, awas kau ya!”
“Kabuuur.”
Alea langsung melarikan diri dan pergi entah ke mana, sedang Alby merutuki nasibnya karena di pepet oleh sosok berkelamin pria, namun bentuk dan kostum layaknya wanita.
Alea sudah berhasil melarikan diri. Sedangkan ibu itu masih menyimpan dendam, karena sudah berani menghina anaknya.
Huh.
__ADS_1
Huh.
Dengan nafas tersengal, Alea berhenti tepat di pinggir jalan besar. Entah sekarang dirinya ada di tempat apa. Yang pasti Alea merasa bersyukur karena bisa lolos dari kejaran ibu-ibu meresahkan itu.
Layaknya orang gila. Alea tertawa membayangkan Alby yang terus di pepet, dan dicubit oleh manusia yang sangat menyeramkan.
“Kasian, cantik-cantik gila.” Para pejalan itu menghela nafas saat melihat Alea tertawa.
“Kenapa jaman sekarang banyak anak muda pada gila ya?” tanya seseorang pada pasangannya.
“Bisa jadi karena ingin sekolah tinggi tidak kesampaian, atau karena habis di putusin pacarnya.” Jawab orang itu.
“Kasian. Masih muda kok udah sinting,” ucap pejalan lainnya.
Saat mendengar orang-orang yang heboh akan dirinya. Untuk sesaat Alea berhenti tertawa.
“Gue masih waras dan gak gila! Kalian saja yang bego.” Alea geram hingga membuatnya berteriak.
Sedangkan orang-orang yang melihat, menatap kasihan pada Alea.
“Apa aku seburuk itu. Sampai-sampai dibilang gila, sungguh menyebalkan.” Alea berkata lirih sambil menyayangkan hidupnya yang selalu apes.
Tidak jauh dari tempat Alea. seseorang tengah mengamatinya dan merasa pagi ini, adalah pagi yang penuh hiburan. Dengan perlahan pria itu menghampirinya.
“Makanya kalau di jalan raya, jangan seperti orang gila. Tiba-tiba tertawa, lalu menepuk jidat.”
Suara bariton dari arah belakang. Membuat Alea merasa kenal dengan suara itu.
“Jangan ragu kalau mau menoleh buruan, jangan pakai ditanya mau atau tidak.” Ucapan dari pria itu membuat Alea seketika menoleh.
“Elo!”
“Kenapa?”
“Dasar menyebalkan. Apa karena gue selalu ketemu sama elo, makanya gue apes.”
“Enak saja itu mulut kalau ngomong, yang ada gue yang apes tiap liat muka elo yang kayak mulut buaya.”
“Eh, buset. Kenapa gue malah di samain sama hewan mengerikan itu,” ujar Alea yang semakin naik darah dibuatnya.
“Karena elo sama dia sama-sama galak, dan belum nemu tuannya buat jinakin.” Jawab pria itu dengan diiringi tawa hingga orang yang mempunyai warung menggelengkan kepala.
“Kalau gue mirip buaya, elo mirip hewan melata. Suka banget kepoin hidup orang,” balas Alea yang tidak terima.
“Pantesan orang perempuan dah mirip laki, makanya gak laku-laku.” Pria itu terus saja menggoda Alea hingga membuat perempuan itu kehabisan kesabaran.
__ADS_1
“Woe, sini lo kalau berani.” Alea sudah bersiap dan menaikan hem nya dan akan menantang laki-laki yang suka membuatnya kesal.