
Della akhirnya pulang kerumahnya, setelah di perbolehkan oleh Dokter. Dia masih sangat merasa sedih dan juga kehilangan. Karena perbuatan anak sambungnya dia kehilangan anak didalam rahimnya.
Della juga hingga saat ini tidak mengatakan tentang perbuatan Sella dan Alvin pada Agam dan orang lain. Banyak sekali yang dia pertimbangkan hingga memilih untuk masih bungkam.
"Ibu kaget saat tahu kau jatuh dikamar mandi? Bagaimana bisa terjadi?" tanya ibunya pada Della. Setahunya, Della adalah wanita yang selalu peka akan kebersihan kamar mandi. Hingga tidak mungkin kamar mandi menjadi licin karena dia akan rajin menyikat dan membersihkannya setiap hari. Itu yang dia lihat saat Della tinggal bersama mereka sebelum menikah dengan Agam.
"Itu.....aku terpeleset. Dan aku jatuh...."
"Apakah dirumah tidak ada orang?"
"Agam masih di kantor," kata Della.
"Lalu kedua anakmu? Sella dan Alvin? Dimana mereka? Mereka bisa menelpon ayahnya jika tahu kau jatuh dikamar mandi," kata Ibunya pada putrinya.
"Ehm, aku tidak tahu apakah mereka ada dirumah atau tidak," Della masih berusaha menutupi masalah ketegangan antara dirinya dan kedua anak sambungnya didepan kedua orangtuanya.
"Harusnya mereka ada dirumah. Jam segitu, mana mungkin mereka masih disekolah,"
Della diam saja dan akhirnya kedua orang tuanya pamit pulang setelah putrinya tiba dirumah.
"Kami akan langsung pulang, kau jaga dirimu baik-baik. Kau jangan bekerja terlalu berat dulu. Kondisi mu sama seperti orang yang baru saja melahirkan. Jadi jangan banyak melakukan pekerjaan rumah sementara ini," kata ibunya.
"Iya Bu...."
Della melihat majalah disampingnya dan membaca judulnya. Majalah ibu dan anak. Saat dia membaca judulnya dia menjadi tertarik. Seorang wanita muda mendadak stroke karena baru saja melahirkan secara Caesar dan dua Minggu setelahnya dia tidak bisa menggerakkan badannya. Judulnya lumayan panjang. Dan Della tergerak untuk tahu penyebabnya.
Dia baca alenia pertama yang mengatakan jika suaminya sibuk bekerja dan ibu yang tinggal di desa itu, terpaksa mencuci baju lalu pergi ke sungai. Setelah pulang dari sungai dia tiduran sebentar. Dan saat bangun disiang hari tiba-tiba seluruh badannya tidak bisa digerakkan.
__ADS_1
Lalu lanjut alenia kedua. Setelah dibawa ke dokter, ternyata tekanan darahnya sangat tinggi. Akhirnya ibu itu menjalani terapi karena sebelah badannya mati rasa.
"Ohh ya Tuhan.... ada-ada saja. Kenapa harus pergi ke sungai untuk mencuci. Apa dia tidak sayang pada dirinya sendiri? Dia baru saja melahirkan!" Della kesal sendiri dan juga sedih. Dia tidak habis pikir, tentang semua ini.
Sang ibu itu pasti sangat bahagia karena anaknya lahir dengan selamat. Namun karena ekonomi, diapun terpaksa melakukan pekerjaan rumah tangga meskipun habis melahirkan. Akhirnya, dia sakit, dan tidak bisa merawat bayinya.
Lalu yang terjadi denganku? Aku sangat ingin bayiku lahir dengan selamat, namun Tuhan berkehendak lain. Aku tidak bisa menimang dirinya karena dia meninggal didalam kandungan ku.
Mungkin, Tuhan ingin berkata agar aku fokus mengurus anak sambung ku saat ini. Semoga ada hikmah dari kejadian ini.
"Aku ingin marah! Tapi pada siapa? Jika aku marah pada Sella dan Alvin. Apakah Agam akan menerimanya? Aku marah pada diriku sendiri! Aku marah karena tidak hati-hati!"
Della mulai terisak kembali dan menangis sesenggukan. Sementara kedua anaknya berdiri di samping pintu kamarnya dan melihatnya tanpa diketahui oleh Della.
.
Sella dan Alvin lalu kembali ke kamar mereka. Mereka membicarakan apa yang baru saja terjadi.
"Seperti nya tidak. Awas saja jika dia berani mengadu pada papa. Kita akan membuatnya menderita," kata Sella.
"Jadi sekarang kita tidak akan punya adik tiri kan?" tanya Alvin.
"Ya. Dan papa hanya akan menyayangi kita saja. Tapi, kita masih harus membuat dia pergi dari rumah kita ini," imbuh Sella.
.
Didalam kamar, Agam baru pulang dari sebuah pertemuan penting dan tersenyum kecil pada istri nya. Agam juga sedih karena dia kehilangan anaknya bersama Della. Namun, dalam hal ini, pasti Della yang paling merasa sedih.
__ADS_1
"La, apakah kau sudah makan? Mau makan keluar?" tanya Agam yang baru saja kembali. Namun demi menghibur istrinya, dia akan keluar lagi meskipun merasa capek saat ini.
Della menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kita bisa memesan makanan saja," kata Della.
"Baiklah kalau begitu,"
Akhirnya mereka memesan makanan dari luar dan makan bersama dimeja makan.
Sella dan Alvin makan dan tidak banyak bicara. Sementara Della terlihat tidak nafsu makan. Agam terus memperhatikan wajah Della dan merasa cemas jika dia tidak makan dengan benar.
"Buka mulutmu, aku akan menyuapimu," kata Agam dan semua ini dia lakukan agar Della merasa diperhatikan dan mau makan agar dia tidak sakit.
Della membuka mulutnya dan membuat kedua anak Agam saling berpandangan.
"Manja sekali!" gumam Sella lirih.
"Menyebalkan!" umpat Alvin.
Melihat ayahnya memanjakan mamah barunya itu, mereka menjadi semakin membencinya.
"Sudah...aku sudah kenyang..." kata Della tersenyum saat merasakan perhatian suaminya. Baginya ini sudah mengurangi separo kegelisahan hatinya. Yang dia butuhkan saat ini adalah perhatian dan dukungan dari keluarganya. Dengan adanya semua itu, maka dia akan cepat pulih dari duka kehilangan anaknya.
"Sella! Alvin! Kok makanan nya ngga di habiskan?" tegur Agam saat melihat kedua anak nya beranjak dari meja makan.
"Kami sudah kenyang!" jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
Agam menghela nafas berat. Sebenarnya dia tahu jika kedua anaknya masih belum bisa menerima kehadiran Della. Namun dalam hati Agam meyakinkan dirinya sendiri dan juga Della jika itu hanyalah masalah waktu. Seiring waktu berlalu mereka akan menerima kehadirannya.
Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, itu yang dia pikirkan dalam hati.