
Agam duduk sambil minum di sebuah club. Ternyata disana dia bertemu dengan Dika yang datang untuk iseng saja.
"Agam?" Dika menyapanya karena terkejut melihatnya disini.
"Ya," jawab Agam sedikit cuek.
"Mau minum bersama?" tawar Dika. "Aku yang traktir," kata Dika lagi.
Agam tertawa kecil lalu mengangguk.
"Bersulang....!" mereka lalu bersulang dan minum bersama.
Agam minum terlalu banyak hingga tidak bisa menyetir mobil. Dika yang mengantarkan dia pulang.
Jam 03.00 pagi.
"Thanks...!" kata Agam dan masuk kedalam rumahnya. Diapun tertidur di sofa karena sangat pusing.
Pagi hari jam 8 pagi. Agam membuka matanya dan memegang kepalanya yang masih sedikit berat.
Dia melihat ke jendela dan merasa silau karena sinar mentari yang menerobos lewat jendela.
"Della.....!" Agam memanggil Della, karena biasanya jam segini dia sudah di dapur untuk memasak sarapan.
Agam berjalan sempoyongan kedapur dan melihat lampu dapur masih gelap.
"Waaahhh. Belum bangun dia. Malas sekali!" Agam lalu naik ke atas ke kamarnya. Namun saat membuka pintu dia kaget karena kamar itu masih rapi dan juga Della tidak sedang tidur.
"Della! Apakah kau sedang mandi? Cepat bikin sarapan! Aku lapar," kata Agam dan duduk di pinggir ranjang.
Beberapa menit kemudian, ternyata Della tidak keluar dari kamar mandi dan Agam baru sadar jika sejak tadi tidak terdengar suara gemericik air dari dalam.
Agam lalu beranjak dan melihat kamar mandi. Della tidak ada disana.
"Della!" Dia memanggil sekali lagi dan melihat lemari Della sedikit terbuka. Baju di dalam lemari itu kosong dan ada sepucuk surat disana.
Perlahan Agam membuka surat itu dan membacanya. Surat dari Della untuk Agam.
Mas, aku pergi. Aku pulang kerumah orang tuaku. Mungkin kau benar, pernikahan kita sebuah kesalahan.
Della
__ADS_1
Agam melipat surat itu dan meremasnya Beberapa detik kemudian. Dia lalu melemparkan kertas itu kedalam tempat sampah.
Sesaat kemudian dia nampak duduk sambil memegang kepalanya. Hingga lima menit setelah merasa sakit kepalanya reda dia bangun dan berjalan ke kamar Sella juga Alvin.
"Sella, Alvin!" Panggil Agam didepan pintu kamar mereka yang bersebelahan.
Dia membuka kamar Sella dan kamar itu kosong. Tidak ada putrinya didalam sana. Dia lalu ke kamar Alvin, dan kamar itu juga sama, kosong.
"Sella....Alvin.....!" Agam memanggil dengan putus asa. Dia terduduk dilantai dengan kaki yang lemas tak bertenaga.
Sesaat menangis penuh penyesalan karena telah memukul kedua buah hatinya kemarin. Dan dadanya terasa amat sesak karena mereka pergi entah kemana. Dia tidak tahu. Dia malah minum-minuman di club dan baru pulang di pagi hari.
"Maaf......maaf....." Alvin berdiri dan menatap foto Tiara yang tersenyum manis bersama kedua buah hatinya yang dipasang di dinding luar kamar kedua anaknya.
Seakan dia meminta maaf pada mendiang istrinya karena tidak menjaga mereka dengan baik.
Agam lalu berlari menuruni tangga dan pergi ke mobilnya. Dia menyalakan mobil itu dan akan pergi kerumah kedua orangtuanya. Dia berfikir jika Sella dan Alvin pasti menginap disana.
****
Sementara saat ini Alvin dan Sella terbangun dari tidurnya. Rupanya mereka tadi malam ketiduran didekat makam ibunya. Karena mereka tidak tahu harus pergi kemana, maka setelah merasakan lapar, mereka bangun dan tersadar jika saat ini mereka ada di makam,dan bukan di rumah.
"Kak....aku lapar ..." kata Alvin sambil membersihkan badannya dari debu yang menempel.
"Apa sebaiknya kita pulang kerumah?" tanya Alvin sambil menatap makam ibunya sambil sedikit memonyongkan bibirnya seakan dia putus asa.
"Jangan, papah tidak sayang lagi pada kita. Untuk apa kita kesana," kata Sella.
"Lalu kita akan kemana?" tanya Alvin.
Sella lalu merogoh saku bajunya dan mengambil sisa uang jajan dari sana.
"Ini cukup untuk beli roti," kata Sella setelah mengeluarkan sisa sakunya.
"Ayo kita beli roti. Aku sudah sangat lapar," Alvin berjalan didepan dan Sella di belakang.
Mereka lalu keluar dari makam dan pergi kejalan raya. Ada sebuah warung kopi yang baru saja akan buka dan Sella membeli kue untuk mereka berdua.
"Bu, rotinya dua," kata Sella sambil memberikan semua uang yang dia miliki.
"Ini neng....!"
__ADS_1
Della dan Alvin lalu duduk di bawah pohon dipinggir jalan raya. Mereka melihat mobil yang lalu lalang sambil makan roti yang baru saja mereka beli.
"Aku masih lapar...." kata Alvin setelah dalam sekejap roti itu habis.
"Ini untukmu saja. Aku tidak lapar," kata Sella mengalah demi adiknya.
"Tapi kau makan apa?" Alvin ragu untuk memakannya.
"Sudah makan saja," Alvin lalu memakan semua roti itu.
Setelah selesai makan mereka berdua beranjak dan menyusuri jalan di trotoar tak tentu tujuan.
"Kita akan kemana?" tanya Alvin. Della menoleh dan mengangkat kedua bahunya.
"Tidak tahu!" jawab Sella.
Mereka lalu duduk kembali hingga siang hari. Alvin lagi-lagi menoleh pada Sella yang hanya diam dan melamun saja.
"Kita akan makan apa sekarang?" tanyanya pada kakaknya.
Sella nampak terdiam dan sedang berfikir. Dia sesekali nampak menghela nafas berat. Dia sendiri juga masih anak-anak. Dia tidak tahu harus pergi kemana. Mereka marah lalu pergi dari rumah ayahnya. Dan sekarang mereka menjadi kelaparan di jalan raya besar di tengah kota.
Tiba-tiba mereka melihat seorang anak kecil membawa gitar dan bernyanyi lalu meminta uang pada orang yang lewat. Della pun akhirnya tersenyum dan punya ide.
"Ikut aku....!" ajaknya pada Alvin. Mereka lalu berdiri dan naik ke atas bis kota.
"Ibu tiri....hanya cinta...kepada ayahku saja.....Bila ayah disamping ku, ku di puja dan di manja....tapi bila ayah pergi....ku nista dan dicaci...." Sella hafal lirik lagu itu sejak dia punya mamah baru. Dan tanpa sadar, dia pun hafal diluar kepala. Hanya lagu itu yang bisa dia nyanyikan. Setelah selesai, dia lalu meminta uang pada para penumpang.
Tidak lama kemudian, mereka turun dan tersenyum karena mendapatkan uang sepuluh ribu.
"Kita punya sepuluh ribu...." kata Sella.
Alvin melongok untuk melihatnya. Wajahnya mulai terlihat lelah karena sejak pagi hanya berjalan tak tentu tujuan.
"Ayo kita beli nasi. Satu bungkus bisa untuk berdua...." kata Sella dan berjalan cepat ke warung nasi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kita sekarang ada dimana?" tanya Alvin sambil makan bersama Della dengan lahapnya.
"Aku tidak tahu...." jawab Sella yang merasa sangat lapar. Satu nasi bungkus rupanya tidak membuatnya kenyang karena harus dimakan berdua.
"Apakah kita bisa pulang?" tanya Alvin dan mulai merindukan rumahnya.
__ADS_1
Sella diam saja. Dia juga masih anak-anak, dia tadi mengamen dan naik ke dalam bis. Sekarang dia tidak tahu ada dimana. Sepertinya mereka semakin jauh dari rumahnya.