Menikahimu Sebuah Kesalahan

Menikahimu Sebuah Kesalahan
MSK-Bab 16


__ADS_3

Agam sampai dikantor dan duduk sambil merenung saat ini. Dia bahkan tidak sadar ketika sekretarisnya masuk dan bicara padanya.


"Pak...pak Agam...!"


Agam masih melamun dan akhirnya sadar jika ada yang memanggil namanya.


"Ya, ada apa?" tanya menatap pada sekretaris nya itu.


"Ada rapat siang ini dengan bagian pemasaran,"


"Ya. Terimakasih," jawab Agam dan kembali memikirkan kejadian demi kejadian yang terjadi dirumah tangganya.


"Kenapa jadi seperti ini?" keluarnya saat sendirian.


"Andai Tiara masih hidup. Anak-anak tidak akan menjadi senakal ini," katanya lagi.


Agam menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Della, dia tidak bisa menjadi seperti Tiara. Dan aku paham itu, karena dia belum pernah punya anak, jadi dia tidak tahu bagaimana caranya mengurus anak,"


"Maafkan aku Tiara, aku sekarang sadar betapa kehilangan dirimu membuat keluarga jadi berantakan,"


Tiba-tiba telepon agak berbunyi dan itu adalah panggilan dari sekolah Sella dan Alvin.


"Pak, anda harus segera datang kemari," kata kepala sekolah pada Agam melalui telepon.


"Iya, saya akan segera kesana," jawab Agam dan menemui sekretaris nya untuk membatalkan rapat siang ini.


Agam bergumam sambil berjalan ke mobilnya.


"Apa lagi yang mereka lakukan?" Agam segera menghidupkan mesin mobilnya dan menuju ke sekolah anak-anak nya.


Sampai disekolah, dia kaget saat melihat mobil polisi nampak ada disana. Dan dalam hati dia berdoa semoga tidak ada masalah serius dengan kedua anaknya.


Saat Agam datang, dia melihat Sella dan Alvin sedang duduk bersama dua orang polisi. Hati Agam sudah tidak tenang melihat wajah kedua anaknya. Wajah kedua anaknya mengisyaratkan jika hal buruk telah terjadi.

__ADS_1


Kepala sekolah lalu menemuinya dan mengatakan apa yang terjadi.


"Orang tua Dino memanggil polisi karena Dino terpaksa dibawa kerumah sakit karena di dorong oleh Sella dan Alvin dengan sengaja dari tangga. Kami sangat menyayangkan hal seperti ini harus terjadi," kata kepala sekolah dan membuat Agan kaget setengah mati.


Agam mengangguk sambil berbicara sebentar pada kepala sekolah terkait masalah yang terjadi. Setelah itu dia lalu mendekati Sella dan Alvin.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" tanyanya dengan sangat geram pada kedua anaknya.


Kedua anaknya diam saja. Dan kedua polisi itu nampak bicara dengan Agam. Mereka hanya memberikan nasehat agar Agam mengawasi dan memberikan pengarahan pada kedua anaknya.


"Terimakasih pak," kata Agam saat kedua polisi itu pamit setelah bicara dengan Agam.


Beberapa guru nampak bicara sambil berbisik.


"Semua ini terjadi sejak dia punya mamah baru," kata salah seorang dari mereka.


"Kasihan mereka. Sekolahnya menjadi terganggu dan mereka sepertinya mengalami gangguan psikis,"


"Begitulah Bu, Ayah yang bersalah, anak-anak yang menjadi korban. Mereka menjadi salah satu anak yang tidak bahagia saat berada dirumah sendiri, seperti istilah yang populer, broken home," timpal salah satu temannya.


Agam tanpa banyak bicara langsung mengajak Sella dan Alvin pulang kerumahnya. Kepala sekolah, mengatakan jika mereka tidak bisa lagi sekolah disini karena apa yang terjadi. Semua orang tua dan wali murid keberatan. Dan mereka ingin anak mereka sekolah dengan tenang tanpa rasa khawatir dan cemas. Pihak sekolah tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana pun, ini menyangkut nama baik sekolah dan ketenangan siswa yang lain.


Dan Della lebih terkejut lagi saat melihat Sella dan Alvin pulang bersama ayahnya.


Semoga mereka tidak membuat masalah, batin Della.


Sampai di ruang tengah, Agam melampiaskan kemarahannya pada kedua anaknya dengan memukul mereka berdua. Bagaimana tidak? Dia benar-benar frustasi dan malu akan kenakalan keduanya.


"Rasakan ini!" Agam memukul Sella dan juga Alvin. Mereka berdua berteriak dan menangis.


"Sakit papah! Sakit!" Teriak Sella ketika kakinya di pukul oleh Agam.


Alvin juga berteriak sambil berurai airmata.


"Sakit! Papah! Sakit!" Alvin berteriak namun Agam rupanya kalap. Dia memukul berulang kali dan membuat Della harus bertindak.

__ADS_1


"Hentikan! Apa yang kau lakukan?" Della melindungi tubuh kedua bocah itu dengan punggungnya.


Sella dan Alvin memegang kakinya yang sakit sambil meringis menahan perihnya.


"Agam! Sadarlah! Memukul tidak menyelesaikan masalah!" Teriak Della melihat kaki kedua bocah itu kebiruan.


"Kalian tidak papa? Pergilah ke kamar kalian...." kata Della dan kedua anak itu pergi ke kamarnya dengan kaki terseok seok.


Della mendekati Agam dan menenangkan dirinya.


"Kau tidak boleh seperti ini. Mereka hanya anak-anak. Jangan memukulnya."


"Aku malu! Aku frustasi pada kelakuan mereka!" Agam berteriak pada Della.


"Ini juga salahmu! Kau tidak pecus mengurus mereka. Jika Tiara masih hidup. Hal seperti ini tidak akan terjadi!" Teriak Agam menuding wajah Della.


Della kaget hingga jantung nya serasa berhenti berdetak. Lagi-lagi membandingkan dirinya dengan ibu kandungnya. Jelas itu tidak benar.


"Mas....jangan terus-terusan menyalahkan aku. Kenapa kau menyalahkan aku untuk semua masalahmu. Ini kesalahan kita berdua. Kau harusnya juga menyadarinya,"


"Jika kita tidak bertemu. Maka aku tidak akan mengalami semua ini," kata Agan ketus.


"Mas, ucapanmu sangat menyakiti hatiku. Aku sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka dan juga dirimu. Tapi kau tidak menghargai usaha ku!" Kesabaran Della kali ini benar-benar terkuras habis.


"Usaha apa? Jika kau berusaha maka mereka tidak akan dikeluarkan dari sekolah. Lihat! Itu yang kau bilang usaha. Kau hanya duduk manis dirumah. Apa yang sudah kamu kerjakan?" Agam tidak sadar jika ucapanya sangat menyinggung harga diri Della.


"Mas. Tega sekali kamu bicara seperti itu? Apa karena aku sekarang hanya ibu rumah tangga. Lalu kau sesuka hatimu menghinaku? Tega sekali kamu Mas!" Della menangis sesenggukan.


"Sudahlah! Bisakah hanya menangis saja. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Kepalaku pusing melihat kalian semua!" Agam berdecak.


Agam lalu pergi keluar lagi dan berniat menenangkan diri.


Della terduduk dilantai dengan berurai airmata dan kaki serasa lemas tak berdaya. Apakah seperti ini rumah tangga yang dia impikan? Sepahit dan sesakit inikah mencintai pria yang sudah pernah berumah tangga. Sesulit inikah kehidupan yang harus dia jalani?


Tiba-tiba tanpa dia sadari, timbul sebersit penyesalan dalam lubuk hatinya yang terdalam. Cinta butanya benar-benar membuat akal sehatnya tidak bekerja. Dia hanya bertindak dengan menuruti kata hati saja. Mengikuti kemauan hati tanpa di imbangi dengan pikiran yang jernih.

__ADS_1


Dia merasakan sendiri akibat perbuatannya. Mencintai suami orang. Hamil di luar nikah. Kehilangan anak dalam kandungan nya. Dan sekarang disalahkan untuk semua kekacauan ini.


"Aku tidak sanggup lagi....." bisik Della lirih.


__ADS_2