
Della duduk diruang tamu menunggu suaminya pulang. Layaknya pasangan baru menikah, Agam pulang dengan membawa bunga untuk istrinya. Apa yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya selama menjadi suaminya Tiara, kini dia lakukan pada istri keduanya.
Agam turun dari mobilnya dan dia akan masuk dengan bunga untuk Della. Dia begitu senang karena Della lebih mementingkan keluarganya daripada karirnya.
Della tersenyum saat melihat Agam membawa bunga untuk dirinya. Diapun bangun dengan memegang pinggangnya dan berjalan ke arahnya.
"Ini untukmu...." kata Agam. Para wanita sangatlah senang jika suaminya pulang kerja sesekali membawa bunga untuk mereka. Namun hal seperti ini memang jarang di pahami para pria.
"Terimakasih...." Della langsung mengambil bunga itu dan menghirup aroma wangi darinya.
Salah satu tangannya langsung memegang lengan Agam dengan manja.
"Ayo kita makan, kau belum makan bukan?" kata Della sembari membawa suaminya ke meja makan.
"Dimana anak-anak?" Agam menatap sekitar ruangan itu.
"Mereka diatas. Biar aku panggil kan,"
"Hmm, tidak usah. Aku akan memanggil mereka. Kau tetap disini," melihat perut Della yang semakin besar ternyata membuat Agam tidak tega membuatnya naik turun tangga.
Della tersenyum haru dengan perlakuan Agam yang perhatian pada dirinya.
Pyaarrrrr!
Tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas, dan membuat Della serta Agam kaget dan saling berpandangan.
"Apa itu?" tanya Agam.
"Ayo kita lihat...." kata Della, lalu mereka naik kelantai atas dan melihat Alvin ada didekat figura yang jatuh.
"Alvin!" Teriak Agam dan Della bersamaan. Mereka melihat pecahan kaca disekitar figura itu.
"Kamu tidak papa?" tanya Agam dan menggendong Alvin menjauhi figura itu.
Sementara Della menunduk dan membalikkan figura yang jatuh itu. Dia kaget saat melihat fotonya rusak dan dalam hati sedih karena nya.
"Fotonya...." Della menghela nafas dalam.
Della menoleh pada Alvin yang saat ini di bopong oleh ayahnya.
"Aaaaww!" Della berteriak karena tiba-tiba jarinya terluka akibat pecahan kaca dari figura yang jatuh.
__ADS_1
"Della, ada apa? Jarimu berdarah!" Alvin kaget dan menurunkan Alvin lalu melihat jari Della yang terluka.
"Ayo kesini! Aku akan mengobati jarimu.....!" Kata Agam.
Melihat ayahnya mengobati mama barunya, Alvin terlihat sangat kesal, begitu juga Sella yang berdiri di pintu saat mendengar keributan.
"Lihat! Ayah mulai lebih menyayangi dia daripada kita," kata Alvin dan Sella setuju dengan ucapannya.
Kedua anak kandung Agam merasa cemburu pada kedekatan ayahnya dan mama barunya itu. Mereka merasa tidak nyaman melihat kemesraan ayah dan ibu barunya itu.
"Ayo kita ke kamar!" kata Sella karena muak melihat mama barunya yang mereka anggap manja itu.
"Sudah Mas, tidak papa....." kata Della yang mulai belajar membiasakan diri dengan sebutan Mas untuk menghormati suaminya.
"Apakah ada lagi yang terluka? Biar aku obati sekalian?" tanya Agam.
"Tidak. Dan....foto pernikahan kita,"
"Tidak papa. Nanti aku akan membeli figura yang baru,"
Della lalu mengangguk dan berusaha bangun. Agam membantunya, karena melihat dia mulai kepayahan karena kehamilannya yang semakin besar.
.
"Aku tidak suka melihatmu di rumah ini. Kau bukan mamah kandungku!" Alvin berdiri dipintu dan menatapnya tajam serta berbicara dengan lantang seakan dia memendam amarah sejak semalam.
"Alvin..." Della kaget dan seakan tak percaya jika anak sambungnya berbicara sekasar itu padanya.
"Aku tahu kau penyebab mama meninggal. Kau membuat mereka bertengkar selama ini. Kau yang sudah membuat mamah menangis dan akan berpisah waktu itu. Kau jahat! Kau jahat!" Teriak Alvin dan membuat Della terpana. Rupanya Alvin sudah tidak bisa berpura-pura lagi bersikap tidak ada masalah diantara mereka. Sekarang dia mengatakan apa yang dia pendam selama ini.
"Alvin...siapa yang mengatakan hal itu padamu nak. Kau masih kecil. Kau seharusnya tidak berbicara kasar seperti itu," Della tidak habis pikir bagaimana anak seusia Alvin bisa berbicara lantang seakan menirukan adegan di sinetron pada dirinya.
"Jangan berpura-pura baik padaku! Aku tahu kau hanya ingin merebut ayahku saja! Aku benci padamu!" Kata Alvin dan belum dapat Della berbicara, dia sudah berlari meninggalkan dirinya.
Dan saat berlari, dia menabrak ayahnya yang baru saja turun dari tangga.
"Alvin," kedua tangan kekar Agam berhasil menahan agar anaknya tidak jatuh ketika berlari menabraknya.
"Ada apa? Kenapa berlari seperti ini? Kau tidak sekolah?"
Alvin menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku malu punya ibu baru seperti dia! Semua temanku mengejekku dan juga kak Sella. Aku tidak mau sekolah!" Teriak Alvin didepan ayahnya dan membuatnya terkejut. Sangat terkejut hingga Agam membulatkan manik matanya begitu lebar.
"Kenapa kau bicara seperti itu tentang mamahku?"
"Dia bukan mamahku. Aku tidak mau memanggilnya mamah!"
Alvin melepaskan diri dari pelukan ayahnya. "Alviiiinnnn!" Teriakan kaget Agam akan sikap anaknya membuatnya hanya diam dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Agam lalu berjalan kedapur dan melihat Della tengah mengusap sisa airmatanya. Dan ketika dia memanggilnya, matanya masih berkaca-kaca.
"Della..."
"Mas..." Della menoleh dan bibirnya tersenyum manis seakan tidak terjadi apa-apa.
"Apa Alvin mengatakan sesuatu padamu?" tanya Agam saat melihat wajah sendu istrinya.
"Hmm, tidak. Dia tidak mengatakan apapun...." Della berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Oh, syukurlah kalau begitu," Agam merasa lega karena Alvin dan Della tidak bertengkar.
.
Saat sampai dikantor, Agam mendapat pesan dari guru Alvin. Karena ternyata guru Alvin adalah teman baik Tiara, maka dia melaporkan apa yang dia lihat akhir-akhir ini pada sikap Alvin yang merupakan anak didiknya.
Setelah membaca pesan itu, Agam lalu putar arah dan pergi ke sekolah Alvin. Di sana, Bu Novi sudah menunggunya.
"Silahkan duduk....." kata Novi mempersilahkan Agam. Mereka ada di kantor Novi sekarang. Dan Agam datang untuk mengetahui apa saja yang telah dilakukan Alvin hingga dia harus datang ke sekolah.
"Maaf, saya adalah wali kelas Alvin. Dan terpaksa saya mengundang bapak karena masalah ini sangat penting," kata Novi tersenyum manis.
"Ya...." Agam mengangguk.
"Sebenarnya saya sudah memperhatikan masalah sikapnya yang berubah sejak beberapa bulan lalu. Tadinya dia adalah anak yang manis dan penurut. Tapi mungkin ada masalah lain, sehingga sikapnya berubah menjadi kasar," kata Novi.
"Apa?" Agam tidak percaya jika Alvin, anaknya yang manis itu berubah menjadi kasar.
"Sebenarnya, ibunya sudah pernah datang, namun entah kenapa sikap Alvin tetap tidak berkurang justru semakin kasar. Bahkan kemarin dia memukul temannya dengan kayu dan menurut saya, itu bukanlah hal yang lumrah,"
"Jadi, Tiara pernah datang?" Agam terkejut karena selama ini Tiara tidak pernah mengatakannya.
"Benar, dan....apakah....maaf jika saya bertanya soal ini. Bukan bermaksud mencampuri masalah pribadi. Apakah dia punya, ehm....mamah sambung?" tanya Novi dengan hati-hati.
__ADS_1
Agam mengangguk. Novi tersenyum dan sekarang dia mengerti kenapa kemarin Alvin di ejek oleh semua teman-temannya.
Apa yang disampaikan Novi membuat Agam shock dan kaget. Dia benar-benar tidak menduga jika putranya mengalami gangguan psikis karena pertengkaran dirinya dan Tiara setiap hari. Dan ditambah lagi ejekan dari teman-temannya karena Della adalah ibu sambungnya.