
Orang tua Della kaget saat melihat putrinya datang dengan koper berisi baju. Mereka menduga pasti dia bertengkar dengan suaminya. Ibunya menatap Della lalu memeluknya.
"Bu....maafkan aku....." kata Della penuh penyesalan.
"Ayo duduk....!" ajak ibunya dengan penuh kasih. Anak perempuan yang tidak di hargai oleh suaminya, bahkan tidak bahagia didalam pernikahan nya, maka pasti akan kembali kepada kedua orangtuanya. Dan seyogyanya orang tuanya jangan menoleh kedatangannya.
Karena seberapa besarpun kesalahan anak, orang tua pasti akan selalu memaafkan mereka. Seperti istilah yang populer, tidak ada bekas anak, yang ada adalah bekas suami atau istri.
"Ayah....aku minta maaf...." kata Della saat melihat ayahnya keluar untuk menemuinya.
"Sabar ya nak. Yang terjadi tidak bisa di sesali. Semua hanya bisa dijadikan pelajaran dalam hidup," nasehat ayahnya saat melihat putrinya kembali dengan koper di sampingnya.
"Aku sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka. Tapi, semua seakan sia-sia....aku tidak kuat lagi Bu....." Della menangis sambil menaruh kepalanya dipangkuan ibunya.
Sang ibu dengan lapang dada membelai rambut putrinya.
"Ibu tahu....apa yang kamu rasakan. Menikah dengan pria yang sudah punya dua orang anak, tidaklah mudah. Banyak sekali ujiannya,"
"Iya Bu...aku tidak berfikir sejauh itu. Aku hanya berfikir kami saling mencintai dan bisa hidup bersama. Tapi ternyata sangat sulit menjalani nya...."
Kedua orang tuanya mengangguk. Mereka tahu saat ini nasehat apapun tidak akan masuk kedalam hati Della. Mereka lalu menyuruhnya beristirahat untuk menenangkan diri.
"Kau istirahat dan tenangkan pikiran mu...."
"Iya Bu....."
****
Sementara Agam mengetuk pintu rumah orang tuanya dengan keras. Hingga Asti kakaknya sangat jengkel karena dia sedang sibuk saat ini.
"Agam? Kenapa mengetuk pintu sangat keras?" Tanya Asti kakaknya lalu menyuruhnya duduk.
"Dimana ayah dan ibu?" tanya Agam saat melihat keadaan rumah yang sepi.
"Menengok adik bapak yang sakit. Baru pergi semalam...." kata Asti yang memberitahu jika ayah dan ibunya ke luar kota untuk dua hari.
"Apakah Sella dan Alvin masih tidur?" tanya Agam saat tidak melihat kedua anaknya bermain bersama anak Asti, kakaknya.
"Siapa? Sella dan Alvin. Ngaco ah! Mereka tidak ada disini," kata Asti menahan tawa. Dia pikir Agam sedang mengerjainya.
__ADS_1
"Jika tidak disini, mereka kemana?" tanya Agam dengan nada sedikit tinggi.
"Lah kok tanya aku. Kamu kan ayahnya. Mungkin sedang pergi sama Della," kata Asti yang tidak tahu jika Della pergi dari rumah.
"Astaga....Aku harus mencari mereka kemana?" Agam terlihat mulai panik.
Asti kali ini menatap adiknya itu sangat serius.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau panik seperti ini?"
Agam lalu menceritakan apa yang terjadi kemarin. Dari kesalahan Sella dan Alvin hingga mereka di keluarkan dari sekolah. Agam memukul ya dan mereka pergi dari rumah. Sedangkan Della, dia juga pergi karena Agam menyakiti perasaannya dengan membandingkan dirinya dan mantan istrinya yang sudah tiada.
"Kali ini, aku setuju dengan Della. Kau sudah keterlaluan. Aku melihat jika dia berusaha mendekati anak-anak mu. Dan aku juga tahu jika Sella dan Alvin sering membuatnya kewalahan. Apakah kau tidak melihat semua itu?" Asti menatap Agam dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku menyesal karena tidak tahu semua itu. Della tidak pernah menceritakan kenakalan mereka. Aku pikir semua baik-baik saja,"
"Agam....kau harus minta maaf pada istri mu. Setelah itu cari anakmu bersama-sama," nasehat Asti kakaknya.
Agam menatap Asti lalu bangun dan pamit padanya.
****
Agam mengendarai mobilnya dan dia tahu kemana Della pergi. Pasti dia kerumah kedua orangtuanya.
"Aku masih ingin menenangkan diri disini bu...."
"Nak, ibu tidak keberatan kau tinggal disini. Tapi jika suami menyadari kesalahannya dan meminta padamu untuk pulang, maka pulanglah kerumah suamimu. Jika kau menolaknya, ibu khawatir kau akan menyesal,"
"Tapi Bu...." Della terlihat bingung.
Ibunya berjalan keluar untuk menyambut Agan yang sudah berdiri dipintu.
"Nak Agam....silahkan duduk..."
"Terimakasih Bu ...."
Tidak lama kemudian, Della keluar dengan minuman diatas nampan.
"Kalian berdua bicaralah, ibu tinggal dulu...." kata ibunya yang memberikan ruang pada Della dan Agam untuk berbicara dari hati ke hati.
__ADS_1
Della duduk sambil menunduk menatap lantai. Agam menatapnya tak berkedip.
"Della...aku minta maaf. Aku bersalah padamu...." kata Agam dengan lembut. Della mendongak dan menatap wajah Agam.
Seakan dia mencari keseriusan dari ucapan suaminya itu.
"Pulanglah kerumah. Dan aku berjanji akan berubah," kata agan meyakinkan Della.
Della bingung dan menatap lagi wajah suaminya. Diwajahnya terlukis kata iya, namun sesaat dia teringat akan kedua anak Agam yang masih belum bisa menerima dirinya. Jika dia kembali sekarang, bukan tidak mungkin hal yang sama bisa terulang lagi selama keduanya masih menganggap jika dia adalah ibu tiri yang jahat.
"Aku baru saja datang. Dan aku butuh waktu untuk pulang. Aku akan disini sementara waktu," kata Della memberikan jawabannya pada Agam.
Agam menghela nafas dengan kecewa. Dia menatap Della dengan mata memohon. Namun Della masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri saat ini. Dan rumah orang tuanya adalah yang paling tepat.
"Baiklah. Jika kau tidak mau pulang bersamaku. Telepon aku jika kau siap aku jemput," kata Agam beranjak bangun dari duduknya. Dan saat itu ibunya Della datang.
"Bu, saya pamit dulu, lain kali saya akan kembali kalau Della sudah siap," kata Agam pamit.
Ibunya menatap Della dengan penuh tanda tanya. Dalam hati, dia bertanya kenapa putrinya tidak mau pulang saat ini juga.
Setelah Agam pergi, ibunya bertanya pada Della kenapa dia tidak pulang bersama suaminya.
"Kenapa tidak pulang kerumahmu?"
"Aku baru datang, dan aku masih butuh waktu untuk memikirkan semua ini Bu,"
Setelah bicara seperti itu, Della langsung masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Agam kecewa karena Della tidak mau ikut dengannya.
Agam tidak langsung kerumah, dia pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan kedua anaknya yang meninggal kan rumah.
"Apakah mereka sudah menghilang lebih dari 24 jam?" tanya polisi itu.
"Saya rasa sudah pak. Mereka pergi sejak semalam, saya sangat khawatir karena mereka masih anak-anak," kata Agam dengan wajah cemas.
"Baiklah, anggota kami akan segera mencari mereka dan secepatnya memberikan kabar pada anda,"
"Baik pak, terimakasih...."
Agam keluar dari kantor polisi denga. hati yang sangat sedih. Kita ini sangat luas. Dia tidak tahu harus mencari mereka kemana. Timur, selatan, barat atau utara.
__ADS_1
Agam kembali kerumah setelah dari kantor polisi. Dia berharap mereka berdua kembali dan sudah tidur dikamar masing-masing. Namun saat Agam berlari ke kamar mereka, pintu kamar itu masih terbuka dan tidak ada siapapun di dalamnya.
"Sella....Alvin....kalian ada dimana?" Agam meratapi mereka berdua dan hatinya sungguh merasa kesepian saat ini. Tidak ada Della yang menyambut kedatangannya, tidak ada canda dan tawa kedua anaknya yang menghiasi rumahnya. Benar-benar tidak disangka, jika tidak ada mereka ternyata rumah seperti kuburan, sangat sepi.