
"Apakah sikap mereka selalu seperti ini padamu?" tanya ibunya ketika sudah duduk bersama.
"Tidak bu, itu....."
"Jangan berbohong Nak. Kami jelas-jelas melihat sendiri bagaimana sikap mereka padamu,"
Della hanya tertunduk dan tidak berani menatap mata kedua orangtuanya.
"Kau harus memberi tahu suamimu. Jangan diam saja. Apakah saat kau jatuh dikamar mandi itu juga karena mereka?" Ibunya mulai curiga.
"Tidak bu. Bukan karena mereka," Della berusaha menutupi kenakalan keduanya.
"Setahu ibu, kau tidak pernah membiarkan lantai kamar mandi licin. Makanya ibu heran kau bisa jatuh dikamar mandi,"
"Mereka tidak bersalah Bu," Della mulai khawatir dengan pembicaraan ini.
"Ibu datang ingin melihat keadaan mu juga ibu dengar kedua anak sambung mu masuk rumah sakit karena tersiram air panas. Apakah itu benar?"
"Iya Bu....."
"Apakah suamimu menyalahkan mu karena anaknya sakit?"
Della terhenyak menatap ibunya.
"Mas Agam, dia sangat menyayangiku, jadi mana mungkin menyalahkan aku....." lagi-lagi Della menutupi semua itu dari ibunya.
Ibunya nampak menghela nafas dalam. Dia tersenyum getir melihat wajah putrinya. Seorang ibu selalu bisa membaca masalah anaknya. Dan firasat nya tidak pernah meleset.
"Jika kau mengalami kesulitan, maka katakan saja. Kami adalah orang tua mu. Jangan merasa sendirian," kata ibunya saat Della berusaha menyembunyikan masalah yang dia hadapi.
"Tentu," kata Della sambil berdiri saat ibunya pamit untuk pulang.
.
Satu Minggu kemudian, Agam sudah kembali dari luar kota. Della sudah mempersiapkan masakan kesukaan suaminya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Dia sangat merindukan Agam. Satu Minggu sangat berat rasanya berpisah dari suaminya dan harus mengurus dua bocah yang terus mengerjainya.
"Mas, ayo makan. Aku sudah memasak makanan kesukaan mu...." Della berbicara dengan lembut saat menyambut kedatangan suaminya.
Agam menatapnya hangat dan tersenyum kecil.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Agam sambil berjalan ke meja makan.
"Aku sudah lebih baik Mas,"
"Papah.....!" Sella dan Alvin berlari menuruni tangga dan langsung memeluk ayahnya. Mereka juga sangat merindukannya.
__ADS_1
"Anak-anak, bagaimana kabar kalian? Papah dengar kalian baru saja ujian akhir semester. Apakah kalian mengalami kesulitan?" tanya Agam setelah mereka duduk bersama.
"Ya. Tidak ada mamah yang biasanya mengajari kami. Dan papah juga sedang pergi,"
"Kan ada mamah Della dirumah. Dia adalah murid terpandai disekolah nya dulu. Kenapa tidak minta tolong pada mamahmu?" tanya Agam dengan sedikit senyum bias.
"Karena mamah sibuk mengurus dirinya sendiri. Dia tidak punya waktu untuk kami," kata Sella yang ketika itu Della sedang ada didapur untuk menyiapkan minuman.
"Apa?"
"Dia tidak sayang pada kami. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri. Jika saja mamah masih hidup, pasti kami tidak akan kesulitan seperti ini," keluhan Sella sedikit menarik perhatian ayahnya, dan memang itu yang dia inginkan.
"Mas....diminum tehnya. Aku mencampur sedikit madu dan lemon," kata Della lalu duduk bergabung bersama mereka. Begitu Della duduk, Sella diam saja dan tidak bicara lagi soal keluhannya.
Setelah makan, Agam naik ke kamarnya untuk beristirahat. Kedua anaknya pergi ke kamarnya masing-masing. Melihat suaminya masuk ke kamar, Della meninggalkan dapur dan segera menyusulnya.
Agam sedang melepas kemejanya dan akan memakai kaos, Della mendekatinya dan melingkarkan kedua tangannya di perut serta pinggang suaminya.
Dia berbisik ditelinganya.
"Mas, bagaimana proyeknya? Apakah tidak ada masalah?" tanya Della.
"Tidak. Semua berjalan dengan baik," jawab Agam dan membalikkan badannya.
"Mas....aku sangat merindukanmu. Tanpa dirimu, rumah ini sangat sepi. Aku bahkan gelisah setiap malam hari, karena memikirkan dirimu,"
"Sebenarnya, ada masalah lain. Sella dan Alvin, mereka..." Della sudah memikirkan masak-masak apakah dia akan memendam masalah kenakalan kedua anaknya atau dia harus jujur pada suaminya.
"Ada apa dengan mereka?" Kali ini Agam menatap tajam manik mata Della, ingin segera tahu apa yang ingin dia katakan.
"Mereka memukul temannya di sekolah dan aku pergi ke sekolah mereka karena di undang oleh wali kelasnya,"
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Agam nampak serius kali ini.
"Itu, karena aku tidak ingin kau cemas dan menganggu pekerjaan mu," kata Della.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.
"Anak itu mengejek mereka berdua. Dan mereka berdua mengeroyoknya hingga anak itu trauma dan tidak mau sekolah,"
"Apa? Mereka sampai berbuat senakal itu?" Agam sepertinya tidak percaya anaknya akan berbuat senakal itu.
"Dan kepala sekolah mengatakan jika terjadi sekali lagi, maka terpaksa mereka harus pindah sekolah. Orang tua anak yang lain menjadi cemas sejak hal itu terjadi," sambung Della yang tiga hari lalu diundang ke sekolah karena kenakalan Della dan Alvin.
Agam nampak menunduk dan menatap lantai. Dia sedang gelisah saat ini. Della hanya terdiam duduk disampingnya.
__ADS_1
"Aku akan menemui mereka," kata Agam.
"Sebaiknya jangan Mas. Tunggu hingga besok saja," kata Della karena Agam juga baru saja pulang. Dan dengan aduannya ini, maka sekali lagi jarak antara ibu sambung dan anak sambung akan semakin jauh saja.
Jika dia tidak berkata jujur, maka Agam akan menyalahkan nya. Dan jika dia jujur atas kenakalan kedua anaknya, maka kedua anak sambungnya akan semakin membencinya. Della benar-benar bingung harus bagaimana. Dia serba salah saat ini. Hubungan nya dengan kedua anak Agam tidak kunjung membaik, malah semakin menjadi saja. Dan Agam, juga terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan jarang ada waktu untuknya.
Padahal, dulu Agam begitu romantis saat mereka menjalin hubungan dibelakang Tiara. Dia sangat hangat dan manis. Namun setelah menjadi istrinya, kenapa semuanya berubah. Dia tidak romantis dan tidak ada kehangatan seperti saat menjadi kekasih gelapnya.
Della tertegun dan ingin rasanya mengatakan sikapnya yang berubah itu, namun Agam malah sudah pulas tertidur. Della sepertinya kecewa malam ini, karena malam indah yang dia dambakan dalam penantian satu Minggu ini, tidak indah sama sekali.
Pagi harinya, Della bangun kesiangan. Semalam dia merasa sulit tidur. Hingga dia tidur terlalu larut dan akhirnya malah kesiangan.
"Jam tujuh! Astaga!"
Della kaget dan segera membangunkan suaminya.
"Mas! Bangun mas. Sudah siang!" Della menggoyangkan tubuh suaminya.
Agam mengucek matanya dan terkejut saat melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh.
"Kau ini bagaimana sih? Aku jadi terlambat ke kantor karena dirimu!" Lagi-lagi tanpa disadari Agam dengan mudahnya menyalahkan Della. Dan membuat Della menatap suaminya dengan terkesiap.
"Maaf Mas...." Tidak ingin bertengkar di pagi hari, maka Della langsung minta maaf saja. Della segera berlari kecil ke kamar Sella dan Alvin.
"Sella, bangun nak....sudah jam tujuh!" kata Della lalu ke kamar Alvin dan membangunkan nya.
Mereka semua langsung mandi dan turun kelantai satu. Ketiganya menatap tajam wajah Della dengan dingin.
"Gara-gara kau kami jadi terlambat!" hardik Alvin. Della tidak menjawabnya atau akan ada keributan pagi ini. Dia tidak mau hal itu terjadi meski anak dan suaminya menyalahkan dirinya.
Sementara Agam langsung berjalan ke pintu keluar.
"Mas, minumannya...." kata Della memanggil suaminya.
"Tidak usah! Sudah terlambat!" jawabnya dingin tanpa menoleh.
"Anak-anak, minum dulu...."
"Tidak usah! Dasar bodoh!" maki Sella sambil berlalu.
Della sampai terbelalak saat dia di maki oleh anak Agam. Jelas, dia hanya terlambat bangun sekali selama tinggal dirumah ini. Tapi mereka semua memakinya seakan dia setiap hari bangun kesiangan. Della menghela nafas dalam dan tanpa terasa matanya basah.
Tiba-tiba Agam masuk kembali dan mengambil sesuatu, dengan cepat Della mengusap airmatanya, tidak ingin di lihat oleh Agam jika dia menangis.
"Mas Agam....." gumam Della lirih. Tentu saja Agam yang sedang terburu-buru tidak mendengar nya.
__ADS_1
Agam minum minuman yang dibuat Della dengan cepat. Lalu dia pergi lagi tanpa mengatakan apapun. Della hanya terpaku dengan sikap anak dan suaminya yang aneh itu.