
Morgan menggeret Alexia menuju ruang majelis siswa terlebih dahulu. Ia tidak membiarkan tangan mereka terlepas. Mungkin saja , Morgan tidak sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang.
Saat ia membuka ruangan itu , kesan pertama yang ia dapatkan adalah sepi. Tidak ada orang. Lalu , kesan berikut nya ketika Morgan dan Alexia memasuki ruangan majelis siswa adalah kuno. Ruangan ini sangat klasik. Banyak benda antik peninggalan Akademi Eral sebelum nya , ditaruh di sebuah kursi dan diletakan di berbagai sudut. Lukisan Ketua Majelis Siswa sebelum nya juga di pajang di dinding ruangan nya.
" Cepat mulai." Morgan berkata dengan ketus.
" Hm , lepaskan tangan ku." Sahut Alexia datar. Setelah itu , mereka tak lagi bergandengan tangan.
" Morgan oh Morgan , kau itu harus lebih menonjol lagi!"Lontar Alexia mendadak. " Kau itu harus lebih mengutarakan perasaan mu jika tidak mau kalah saing dengan yang lain nya." Gadis itu kembali memberi saran.
Morgan tidak mengerti dan tidak perduli sama sekali dengan perkataan gadis berambut merah itu. Diri nya lebih memilih untuk membersihkan ruangan dengan alat kebersihan yang tersedia di sudut ruangan.
" Gadis culun ! hanya karena aku telah menunjukan keadaan ibu ku , kau jangan sampai berpikir bahwa kita telah akrab. Kau paham heh." Morgan berkata dengan intonasi tinggi di sela - sela kesibukan nya membersihkan lantai kayu.
" Ya baiklah , seorang Morgan Rent de Maximo tidak akan pernah berubah." Timpal Alexia yang tidak mau pusing.
__ADS_1
Morgan pada dasar nya memiliki sifat alami yang diturunkan ayah nya kepada lelaki itu. Sifat alami itu yaitu mudah marah , narsis dan angkuh serta sedikit plin plan. Selepas mendengar Alexia berkata begitu , Morgan tidak tinggal diam. Ia membanting sapu di tangan nya dan beranjak mendekati gadis berambut merah itu.
Alexia masih sibuk membersihkan meja ketika Morgan menarik nya dan membalikan tubuh gadis bermanik biru itu. Lelaki bernama Morgan lalu mendorong Alexia ke dinding kayu hingga tubuh Alexia terhantam begitu keras. Tangan Morgan mengunci pergerakan Alexia di kanan dan kiri.
" Dengar ya culun , tidak ada seorang pun yang boleh menghinaku. Termasuk kau! Aku tidak perlu berubah ! Pada dasar nya , sikap ku memang yang terbaik di antara para murid disini !" Ujar lelaki berambut perak itu dengan tegas. Rahang nya mengeras.
Kenapa orang ini sangat narsis. Batin Alexia.
" Em , Mor---"
Alexia terperangah. Nafas nya memburu begitu cepat , sementara otak nya terus berpikir. " T-tunggu ! Kenapa harus melakukan itu Mogan? Maksud ku , apa kau tidak percaya padaku hah. Apa kau berpikir bahwa aku akan memberitahu semua orang tentang yang terjadi di bungalao itu. Jika kau berpikiran begitu , maka kau salah besar ! Karena aku akan selalu menjaga rahasia teman ku!" Cerocos Alexia cepat.
Morgan membulatkan mata nya mendengar kata 'teman' yang teelontar dari Alexia. Api di mata nya menjadi sedikit redup.
" Teman? Hahaha." Morgan tertawa sedih. " Aku tidak butuh orang palsu seperti kalian." Ia lalu memutuskan untuk pergi dari ruangan majelis siswa.
__ADS_1
Ketika Morgan membuka pintu , ia tanpa sengaja bertabrakan dengan gadis berambut cokelat yang tengah berlari. Itu Stacey.
DUAK.
Mereka berdua masih bisa menjaga keseimbangan agar tidak jatuh ke lantai . Stacey hanya menabrak dada bidang Morgan. Stacey cepat-cepat menunduk. " Maaf Tuan. Maaf. Saya sama sekali tidak sengaja. Maaf. Maafkan saya. Maaf." Stacey menutup mata karena sangking takut nya.
" Ck , gadis bodoh." Cerca Morgan. Seperti adegan pada novel nya , saat Stacey dihina , dia seharusnya akan memarahi Morgan habis-habisan lalu lelaki itu jadi sangat tertarik dengan Stacey.
" Tuan! Saya hanya tidak sengaja , mengapa Anda berkata kasar pada saya." Stacey mulai menunjukan amarah nya. Namun , Morgan menunjukan ekspresi datar dan berlalu pergi dari sana.
Alexia menatap mereka dengan khawatir. " Hmmm , sikap Morgan terlalu dingin pada pemeran utama wanita." Gumam Alexia pelan.
***
Mohon dukungan nya untuk like , komen , vote , dan follow noveltoon ANWi ya ~
__ADS_1
Terima kasih ❤ ^_^