
Kedua anak manusia itu saling bersahutan sahutan . Tidak ada yang mau mengalah. Mereka sangat pintar memancing emosi satu sama lain. Sampai suatu ketika , Morgan mulai memasuki pembicaraan yang tidak pantas.
" Oh tentu saja , ibuku amat cantik. Orang paling cantik di dunia. Kau tidak akan mengerti karena mungkin saja kau tidak punya ibu!" Cerocos Morgan tanpa menyaring kata-kata nya.
Sakit. Entah bagaimana , dada Alexia terasa sesak. Ini adalah reaksi alami dari pemilik tubuh asli. Gadis itu menaruh tangan di dada nya dan memandang Morgan sendu.
" Mungkin kau benar , Morgan. Kau adalah orang paling bahagia sedunia. Kau punya wajah tampan , harta , orang tua yang lengkap dan para gadis mudah tertarik dengan mu. Sungguh hidup mu dipenuhi kemudahan." Tutur Alexia sembari tersenyum. Ia memilih untuk mengalah dan menyudahi sesi perdebatan tak berfaedah nya.
Morgan merenung sesaat. " Hei gadis culun ! Aku belum selesai !" Ujar nya seketika.
Alexia mengabaikan panggilan lelaki berambut perak itu dan memilih menemui cashier yang berjaga di dekat baju berwarna biru dan putih. Ia mendekat ke arah gadis cashier.
" Permisi , boleh minta waktu nya sebentar? Aku ingin bertanya sesutau pada mu." Lontar Alexia.
Gadis penjaga cashier itu tersenyum ramah. " Ya , tentu saja." Balas nya.
" Apa kau pernah mendapat pesanan gaun berwarna jingga dengan sedikit rumbai di bagian atas dan sedikit mutiara di bagian bawah?" Tanya Alexia dengan serius.
Gadis cashier itu nampak berpikir sejenak. Detik berikut nya , ia berkata dengan sumringah. " Ada Nona ! Seorang wanita cantik berdada indah datang kemari dan memborong berbagai koleksi gaun disini. Salah satu nya gaun yang Nona sebutkan barusan." Timpal gadis itu.
" Persis! Ciri-ciri nya sama!" Pekik Alexia. " Bisakah kau berikan aku nota dari wanita itu? Sebenarnya , aku adalah majikan nya. Dia menghilangkan nota dan dia cukup bodoh untuk mengetahui bahwa setiap toko menyimpan salinan nota. Jadi , dengan berbaik hati , aku datang kemari untuk meminta salinan nota nya." Ujar Alexia. Bola mata nya berbinar , memancarkan kesan bahwa dia adalah majikan yang teramat baik.
Gadis cashier itu agak ragu , tetapi , mana mungkin sebuah nota disalah gunakan bukan? Nona di depan nya juga kemungkinan adalah seorang bangsawan terhormat.
Gadis cashier kemudian menggeledah tumpukan nota di dekat mesin tradisional nya lalu menyerahkan salinan nya pada Alexia.
" Terima kasih ! Oh dengan begini aku bisa mengunci mulut pelayan ku." Ujar Alexia girang.
Gadis cashier hanya tersenyum canggung.
" Heiiiii culun ! Apa kau tuli hah? Aku memanggilmu sampe teriak - teriak!" Cerca Morgan yang mendadak datang dari arah belakang.
Alexia tersenyum. " Siapa juga yang menyuruhmu teriak- teriak tidak berguna. " Cibir nya.
" Kau ikut aku !" Perintah Morgan tak terelakan.
" Iih apa maksud mu hah? Sudahlah, aku mau siap siap berangkat sekolah. Ingat , kita masih enam belas tahun. Harus giat sekolah , jangan bolos." Ceramah Alexia panjang lebar.
Morgan kesal. Dia paling tidak suka jika ada orang yang memberi nya nasehat seakan mereka adalah orang paling benar. Dengan wajah datar , ia menyeret Alexia menggunakan kekuatan sihir nya untuk keluar dari toko gaun.
__ADS_1
Di luar sana , Morgan baru mematahkan sihir nya sendiri.
" Apa-apaan sih !" Alexia merengut.
" Ikut aku ke bungalao ku." Lontar Morgan ketus.
Alis gadis itu bertaut. " Lah , kenapa aku harus mengikuti mu." Alexia tidak mengerti , dia cenderung tidak perduli.
Morgan adalah orang paling keras kepala kepala. Tidak boleh ada seorang pun yang menentang perkataan nya. Alhasil, dia menyeret tangan Alexia dan membawa nya pergi teleportasi ke bungalao nya.
***
RENT's Bungalao adalah bangunan tua milik keluarga Maximo yang ditinggalkan. Bentuk nya luas seperti gedung teater tetapi sangat berantakan. Dinding nya tebal berwarna cokelat yang berlumut.
Letak nya di wilayah utara Kota Clisle dan lebih menjorok ke hutan.
Alexia memegang kepala nya yang pusing bukan main. Ia melirik ke arah Morgan dan berkata dengan intonasi tinggi. " Kenapa kau menyebalkan sekali." Ujar Alexia.
" Diamlah culun ! Kau akan membangunkan ibu ku !" Hardik Morgan dengan nada kecil.
Alexia mengerutkan alis tidak mengerti . Memang nya ada orang yang akan tinggal di bungalao tua seperti ini. Secepat kilat , ia menelaah. Di sebuah ranjang tua yang dekat dengan jendela berukuran raksasa dengan cahaya temaram, terbaring lah sesosok wanita kurus. Rambut nya tergerai dan terkesan tidak terurus.
Di novel bahkan tidak dijelaskan ada hal begini! Batin Alexia.
" Tapi Morgan , bukan kah ini terlalu privasi? Akademi kita bahkan melarang siapapun mengecek identitas masing-masing. Ya kecuali tiga pangeran kerajaan itu sih." Ujar Alexia.
" Ya mau bagaimana lagi , kan gara-gara kau yang mengatakan bahwa aku adalah orang paling bahagia sedunia. Ini salahmu." Lontar Morgan tidak mau kalah.
" Aku berkata begitu kan karena kau menghina ku bahwa aku tidak memiliki seorang ibu." Ketus Alexia. " Aku masih memiliki ibu , beliau sudah bahagia di alam sana." Lanjut nya.
Morgan melotot. Jadi karena itu , gadis culun dihadapan nya ini amat sensitif dengan topik yang dibicarakan.
Ia menghela nafas.
" ...morgan." Wanita kurus yang terbaring di ranjang sudah membuka mata nya yang sayu. Sontak , Morgan langsung menghampiri ibu nya di sisi ranjang. " Kau sudah pulang , nak." Lontar nya lemah.
Morgan mengangguk. " Apa ibu sudah makan?" Tanya nya.
Wanita bergaun putih polos itu tersenyum. " Ibu tidak perlu makan. Hidup ini terlalu suram." Sedih nya ketika membayangkan perlakuan Duke of Maximo.
__ADS_1
" Ayah mu kali ini datang dengan dua gadis bertubuh molek." Wanita bergelar Duchess of Maximo itu berkata pelan.
" Bajingan itu tidak pernah berubah." Kesal Morgan.
Duchess of Maximo tersenyum. " Dia tidak salah , nak. Hanya ibu yang terlalu rentan." Ujar nya. " Jangan membenci nya." Tegas Duchess of Maximo itu.
Duchess mengarahkan pandangan ke arah Alexia. Alis nya berkerut. " Siapa dia?" Tanya Duchess tanpa ragu.
Alexia membungkuk hormat. " Saya Alexia . Saya satu sekolah dengan putra Anda." Ujar nya cepat. Alexia menduga bahwa sosok wanita lemah itu adalah Duchess of Maximo karena Morgan berkata bahwa wanita itu merupakan ibu nya.
" Oh." Duchess hanya bergumam kecil. " Kau satu-satu nya gadis yang dibawa Morgan kemari." Duchess tersenyum. Ia lalu menatap Morgan dengan serius. " Dengar Morgan , meski kau memiliki ayah yang berperilaku begitu. Jangan lampiaskan perlakuan ayah mu itu ke gadis yang nanti akan menjadi calon mu." Ujar Duchess of Maximo lembut.
Morgan tidak terima. Alexia pun tidak terima.
" Kami bukan pasangan !" Tegas mereka. Duchess hanya menghembuskan nafas.
" Ibu harus makan." Desak Morgan.
" Ya baiklah. " Duchess mengalah.
***
Akademi Eral
Alexia mentap kusut ke arah Morgan. " Lihat! Kita telat dan dihukum." Ia menyalahkan lelaki yang mengajak nya pergi tanpa persetujuan nya. Mereka berdua tengah berada di ruang sihir dan memegang sapu.
" Iya." Morgan berkata lemah. Suara nya terdengar serak. Tidak seperti biasa. " Setelah tau semua itu , kau tidak berencana mengejek ku hah." Lontar Morgan.
Alexia justru menertawakan sikap Morgan. " Memang nya apa yang harus kuejek?" Ia tidak mengerti. " ...bahwa kau seorang pewaris tunggal atau bahwa kau memiliki ibu yang sangat sabar?" Ujar Alexia.
" Dengar Morgan , orang jahat akan selalu mencari-cari kesalahan dan kejelekan orang lain. Hidup mereka tidak akan tenang jika melihat orang lain hidup tentram. Mereka akan senang ketika melihat orang lain menderita. Dan asal kau tau , aku bukan salah satu dari orang jahat itu." Alexia berkata dengan bangga.
Dan entah bagaimana , mulai dari situ , pandangan Morgan mulai berubah. Dia yang dulu sering mengganggu anak anak lemah demi melihat mereka lebih menderita dari nya , kini mulai sadar.
" Culun , kurasa ceramah mu ada guna nya." Ujar Morgan. Ia memang pewaris tunggal Duke of Maximo, tetapi sebenarnya , dia sama sekali tidak bahagia dengan itu.
***
Mohon dukungan nya untuk like , komen , vote , dan follow noveltoon ANWi ya ~
__ADS_1
Terima kasih ❤ ^_^