Menjadi Figuran Novel

Menjadi Figuran Novel
Episode 15 : Sofanus


__ADS_3

Bulan ini adalah akhir September. Terik matahari menyinari hingga menusuk ke ubun-ubun. Para penduduk desa dan kota berbondong - bondong menggelar perayaan untuk mengakhiri musim panas.


Sementara di tengah hutan , dua orang gadis masih sibuk berbincang.


" Nona , Anda punya potensi!" Lontar Stacey dengan penuh kebahagiaan. Alexia tentu saja tersipu malu.


" Stacey , aku merasa energi ku terkuras habis." Jujur saja , tubuh Alexia langsung terasa pegal. Kaki dan tangan nya saja sudah mulai kaku.


Gadis berambut cokelat dan manik mata emas itu merasa khawatir. Ia segera menatap Alexia dengan sangat intens. " Nona , saya rasa latihan nya cukup sampai sini. Lebih baik Nona segera istirahat. Besok kita akan kembali latihan."


Alexia mengangguk setuju. Ia mendadak mendapatkan ide.


" Stacey , bagaimana jika kita menghabiskan akhir musim panas di restoran 'Geral' ? Restoran itu amat mewah." Saran Alexia menggebu-gebu.


Stacey berpikir keras. Uang nya tidak sebanyak para bangsawan. Ia tidak mungkin bisa membayar makanan disana. Tetapi , teman nya itu nampak sangat senang. Stacey jadi tidak enak hati jika menolak ajakan Alexia. Alhasil , dia memutuskan untuk ikut.


" Baiklah , Nona." Balas Stacey dengan senyum mengembang.


Alexia girang. Ia memang memiliki sejumlah uang tabungan yang disimpan oleh Alexia yang asli di sebuah peti kecil. Dia sadar setelah menelaah kamar tidur nya.


***


Restoran Geral.


Di dalam sana banyak pasangan muda mudi yang dimabuk asmara tengah bercerita sembari tertawa. Ruangan nya luas , terdiri dari dua lantai. Lantai bawah untuk kelas biasa dan lantai atas untuk tamu penting seperti Raja , Pangeran atau pun Duke yang menggelar rapat atau sekedar hiburan.


Alexia dan Stacey memasuki restoran itu. Gaun mereka tidak mencolok sama sekali. Yang mencolok justru wajah mereka bak berlian keluar dari lumpur.


Mereka celingukan dan memilih tempat duduk kosong di lantai satu. Meja dan kursi nya didesain khas kelas atas. Di atas mereka , lampu gantung di pasang bergantungan. Alexia puas sekali. Akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama pemeran utama.


Pelayan berkacamata datang menghampiri. Dia bertanya sopan dan logat nya sedikit berbeda dengan orang Kekaisaran Veros , cenderung ketimuran.


" Menu apa yang ingin Anda pesa , Nona ?" Tanya pelayan lelaki berambut cepak itu sembari menyodorkan kertas menu yang ditulis begitu rapi.


Alexia berpikir sejenak . Memandang kertas itu. Kemudian berkata , " Aku mau semangkuk sup daging , satu set kue kering , dan seporsi susu sapi amazon." Ujar Alexia penuh semangat. Tidak masalah bukan jika dia menghanbiskan uang nya untuk makanan. Lagipula , ini momen yang langka !

__ADS_1


" Lalu , bagaimana dengan Anda , Nona?" Pelayan itu bertanya pada Stacey.


Stacey hanya diam. Keringat di dahi nya tak kunjung berhenti mengucur. Ia bingung. Di kantung nya hanya berisi seratus keping perak dan itu adalah jatah makan seminggu. Bagaimana mungkin harga sebuah kue disini setara dengan makanan pokok nya selama seminggu ?! Sungguh , jika sekarang Stacey habiskan uang nya , ia tidak akan makan selama enam hari kedepan.


" Aku mau air putih saja." Lontar Stacey serius.


Alexia bingung. Ia menatap Stacey penuh tanda tanya. " Kau yakin , Stacey?"


Stacey mengangguk penuh semangat. Mata Alexia cukup tajam. Ia tidak bisa ditipu. Gadis itu berhasil mendapatkan akar kegelisahan Stacey. Uang. Gadis berambut merah itu merasa bersalah karena lupa memberitahu Stacey bahwa dia yang akan bayar semua makanan nya. Alexia menggenggam tangan Stacey lembut.


" Wahai pemeran utama , aku yang traktir. Pilihlah yang kau suka." Alexia berkata dengan intonasi yang dibuat-buat dan wajah yang sedikit menyeramkan.


Stacey tidak percaya. Ia segera menelusuri buku menu dan memilih roti gandum selai berry dengan segelas sari apel. Pelayan mencatat menu dan kemudian pergi ke dapur.


" Nona , saya berterima kasih sekali. Anda bersikap baik pada saya." Stacey terharu. Ia bahkan tak pernah merasakan segar nya sari apel sebelum nya.


" Aku tak keberatan , Stacey. Ini semua karena kau adalah teman ku dan juga orang yang mengajari ku sihir." Timpal Alexia.


Beberapa menit kemudian , pelayan tua itu menyajikan hidangan yang dibantu oleh beberapa pramusaji lain nya. Alexia dan Stacey amat gembira. Mereka memakan makanan dengan hati riang sembari merayakan akhir musim panas.


Banyak yang memperhatikan Stacey karena tidak memiliki tata krama table maner layak nya bangsawan. Stacey cenderung tidak mengerti dengan jenis sendok , dia hanya asal menggunakan nya saja. Berbeda dengan Alexia yang makan dengan anggun. Meski cara makan Stacey dianggap aneh oleh orang di sekitar , Alexia sama sekali tidak mempermasalahkan.


Lelaki itu berbisik. " Pangeran ingin menemui Anda , Nona." Ujar nya pelan.


Alexia mengeryit. " Pangeran yang mana?"


" Saya tidak bisa memberitahu Anda." Lontar lelaki berkacamata itu.


" Apa bukti nya kalau yang menyuruh mu adalah seorang Pangeran heh." Alexia meminta bukti.


Lelaki itu merogoh saku dan menunjukan sebuah lambang kerajaan yang hanya dimiliki oleh para pangeran.


" Jika Nona tidak segera menemui nya , maka saya terpaksa menggunakan sihir." Ia mengancam.


Alexia menatap sengit ke arah lelaki berkacamata. Ia kemudian menatap Stacey yang masih asyik memakan roti gandum nya.

__ADS_1


" Anu Stacey , aku ada urusan . Kau nikmati makanan mu dulu ya." Lontar Alexia.


Stacey mengangguk saja. Ia berpikir mungkin saja itu adalah urusan keluarga. Mengingat , teman nya itu keturunan bangsawan.


Alexia beranjak berdiri dari kursi makan dan kemudian berjalan ke arah tangga. Ia menaiki tangga dengan pelan, mengikuti arahan dari lelaki berkacamata.


Otak nya terus berpikir. Ada dua perkiraan. Pertama , Pangeran Leander. Kedua , Pangera Sofanus. Pangeran Jarvis tentu tidak termasuk karena mereka sama sekali belum saling mengenal.


" Sebelah sini , Nona." Lontar lelaki berkacamata kotak itu. Dia menuntun Alexia ke sebuah ruangan berpintu cokelat.


Alexia meneliti. Lantai dua ini hanya berisi beberapa ruangan tertutup disisi kiri dan ruangan terbuka disisi kanan. Sementara Alexia digiring ke arah ruangan tertutup dengan pintu cokelat.


" Silahkan masuk , Nona." Lelaki itu mempersilahkan.


Jantung Alexia berdegup kencang. Ia melangkah memasuki ruangan itu.


Di dalam sana cahaya nya terang karena jendela dibuka. Sesosok lelaki berambut biru berdiri membelakangi nya sembari memegang tongkat billiard.Rambut nya tertimpa sinar matahari menyebabkan warna biru nya pudar.


Alexia menjadi berdebar. Pesona Pangeran Sofanus memang luar biasa . Dia saja langsung terpana hanya dengan melihat punggung lelaki itu. Ditambah , rambut Pangeran Sofanus yang diikat rapi layak nya lelaki dewasa.


" Pangeran." Ujar Alexia.


Sofanus menyelingak ke belakang. " Oh Dear , kau akhir nya datang. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu."


Alexia hanya mematung. " Sesuatu seperti?" Tanya gadis itu.


" Pertunangan kita." Balas Pangeran Sofanus enteng.


Alexia terperangah. Ia memekik tidak percaya.



...( Sofanus Jaiden de Veros)...


***

__ADS_1


Mohon dukungan nya untuk like , komen , vote , dan follow noveltoon ANWi ya ~


Terima kasih ❤ ^_^


__ADS_2