
" Ia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya. "
WaktuNya bukan waktu kita.
Sekeras apapun kita berusaha berlari jika bukan kehendakNya, tak mudah untuk kita terlepas. Tetapi jika sudah kehendakNya, apapun akan dipermudah dalam segala jalan kita.
Kita hanya perlu berdoa dan mencari kehendakNya, berjuang semampu kita dan tetap belajar menikmati proses hidup dengan penuh rasa ikhlas dan syukur walau tidak mudah.
Sejatinya hidup adalah perjuangan. Perjuangan bertahan di saat krisis, berjuang untuk tetap berlaku benar di situasi yang sulit. Perjuangan dalam proses mengenal Sang Pencipta, menjadi manusia yang taat dan memulyakan Sang Khalik.
Lepas dari dosa, yang masih sering menjatuhkan dan menjauhkan manusia dari Sang Pencipta. Kita sepatutnya tetap berjuang tanpa rasa putus asa.
Alangkah bijak ketika berdosa segera berbalik, bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Tetapi tidak semua menjadi mudah karena semua berproses dalam kehidupan.
Aku, Qiara Queenza ingin belajar berproses menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Wanita yang mampu berdiri di kaki sendiri tanpa rasa takut dan gentar karena kenyataan hidup tak seindah yang kita bayangkan dan inginkan.
Aku, Qiara Queenza hanya gadis biasa yang ingin berjuang untuk meraih cita - cita dan membahagiakan keluargaku.
Aku, Qiara Queenza yang sama dengan remaja lain, menginginkan keluaraga yang hangat, di sayangi, di lindungi dan beroleh semua keindahan masa muda dengan hati ceria. Tetapi semua sirna, karena hidup bukan sekedar cerita cinderella yang menemukan pangeran tampan yang kaya dan mencintainya.
Hidup Queenza tak semanis gula merah atau redvelvet yang menggoda tetapi hidup Queenza penuh drama dan perjuangan.
Inilah ceritaku, Qiara Queenza.
🌻🌻🌻
" Mammi ... . " Suara lengkingan gadis remaja dengan seragam biru terdengar dari arah pintu. Kaki rampingnya melangkah cepat memasuki rumah yang terlihat lengang seperti tanpa penghuni.
Rumah besar dengan lantai marmer yang mengkilap, dengan tiang - tiang penyangga yang besar dan kokoh. Rumah yang tak lagi terlihat mewah di dalamnya karena beberapa ruangan tampak kosong, tak banyak furniture mewah yang tampak.
Suasana rumah tampak sepi, gadis itu berjalan memasuki ruangan dan hanya di sambut senyum penuh wibawa seorang pria dengan jas lengkap pada sebingkai besar pigura di dinding ruang tamu.
" Mammi !! Mam !! " lengkingan gadis itu terdengar lagi bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Rumah luas itu masih tetap lengang. Tak banyak perabot bahkan furniture yang terlihat. Hanya sofa besar di sudut ruang tamu, lemari kaca besar yang terlihat kosong.
Gadis cantik berseragam biru itu berteriak sekali lagi dengan lebih keras sambil berjalan ke arah ruang makan, " Mammmiii ! "
__ADS_1
Seorang wanita dengan sebentuk wajah yang masih terlihat kecantikkannya terlihat muram dengan kemarahan yang tertahan.
" Mammi ! "
" Queen berisik ! " balas seorang wanita setengah baya dari arah dapur dengan wajah di tekuk dan mata yang menyorot sinis. Kedua tangannya mengangkat semangkok sayur yang baru saja selesai di masaknya dan menaruhnya ke atas meja makan. Nampak sepiring lauk juga telah tersaji di atas meja.
Wanita itu masih acuh dan masih sibuk dengan kegiatannya memasak. Entahlah, Queenza tak terlalu peduli, karena setahunya wanita di depannya ini tak pandai memasak.
" Mammi, masak apa ? " tanya Queenza pada akhirnya, karena sang Mami masih mengacuhkannya. Mencoba berlaku manis.
" Kau kan bisa lihat, " balasnya sengit.
Plak.
Sebuah sentakan pada tangan Queenza sesaat ketika jemari lentik itu meraih sepotong ayam crispi di atas piring.
" Itu, kesukaan Bryan dan Ana, jangan ambil ! " cegah wanita itu menarik kembali ayam di tangan Queenza dan menaruhnya kembali di atas piring.
" Mi, Queen juga suka dan lapar .... " rajuk Queenza karena perutnya merasa lapar. Yah dari semalam bahkan Queenza belum makan.
" Makanya kerja kalo gak mau kelaparan. " celetuk sang
Queenza mengkerutkan keningnya sesaat, " Mi, Queen ini masih SMP lho, masa sudah di suruh kerja ? "
" Kerja kan gak harus kerja berat, Mami kan gak minta kamu kerja full time, seperti di toko atau pabrik. Lagian usia kamu juga belum cukup. "
" Nah itu mami tahu, "
" Tapi kamu bisa kerja lain Queen, "
" Kerja apa emang ? " tanya Queenza ingin tahu.
Sang Mami, wanita yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang hampir menginjak empat puluh lima tahun itu tersenyum. Senyum yang hampir tidak pernah Queenza lihat sebelumnya, senyum sumringah dengan harapan bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik, " temeni Om Aldo, atau Om Byan, cuman minum atau karokean bentar, paling cuma dua - tiga jam. Kamu akan dapat uang banyak Queen. "
Brak.
Queenza menggebrak meja dengan wajah memerah. Rasa marah dan tak terima jelas tergambar di wajahnya yang cantik.
__ADS_1
" Mami koq tega sama Quenn sih ? Masa Mami suruh Queen layani om - om genit itu ? Apa Mami gak salah kasih pekerjaan buat Queen, Mi ? " teriak Queenza lagi dengan menghempaskan tas sekolahnya ke atas meja makan dengan suara keras.
" Queen ini anak Mami lho. Tega, terlalu. "
" Jangan kurang ajar Queen ! " sentak wanita yang dipanggil Mammi oleh Queenza.
" Mami yang gak mikir dulu kalo ngomong, " balas Queenza tak kalah sengit.
" Kau bisa berbicara lebih sopan Queenn ? " peringat sang Mammi dengan melirik tajam anak gadisnya yang terlihat suram.
" Mammi, yang kurang ajar ... . " Queenza berteriak lagi dengan penuh emosi.
Plak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Queenza.
" Tutup mulutmu, Queen ! Anak tak tahu di untung. Berani bilang ke Mami kurang ajar. Memangnya kamu siapa ? Masih mending kamu ... ."
" Apa ? Mami mau bilang kalau aku masih untung di lahirkan dan di rawat sama Mami. Di kasih makan, rumah, di sekolahkan, terus baru juga melek mata dah di jual ke aki-aki tua atau sama om - om genit yang sukanya pedo, gitu ? Hah ? Itu yang namanya beruntung ? " balas Queenza penuh emosi.
Plak. Plak.
Wanita itu mendekat ke arah Quennza dan menamparnya lagi dengan tamparan penuh kekuatan. Bahkan wajah remaja cantik itu sampai memerah dan sudut bibirnya pecah.
" Mami, keterlaluan Queen masih SMP, Mi. Baru juga lulus. Queen masih mau sekolah. " jerit Queenza tak terima.
" Hei, Queen, dengarkan Mami baik- baik ! " balas sang Mami sambil menarik rambut panjang Queenza ke belakang. " Sejak Papimu mati dan meninggalkan banyak hutang, memangnya siapa yang akan memenuhi semua kebutuhan kita. Kamu mau tetap sekolah, pergi ke mall dengan teman - temanmu, hura - hura, jajan dan menghampurkan uang ? Enak saja. " teriak wanita itu dengan penuh kemarahan sambil memutar jalinan rambut yang melilit di tangannya, dan menariknya kuat - kuat.
" Dengarkan baik - baik Queen ! Biaya rumah sakit Papi kamu aja belum lunas. Biaya sekolah adik-adikmu, kebutuhan makan kita, biaya listrik, biaya air, uang arisan Mami, jajan adik - adikmu ... Siapa yang akan bayar ? Apalagi sekarang gak ada ART, kamu anak pertama, apalagi Papimu sudah berikan wasiat untuk kamu jaga dan tolong keluarga ini. Jadi lakukan saja apa yang Mami bilang ! Gampangkan ? Gak perlu merasa teraniaya. Toh nanti kamu juga dapat kemewahan. Hidup senang dan banyak uang. " sembur sang Mami tanpa jeda dengan nada culas dan sinis.
" Cuman tinggal temeni aja, syukur - syukur kamu bisa buka paha kamu dikit, kamu akan dapat uang lebih banyak, " seringai sang mami mulai membujuk.
" Mami, gila. Mana ada seorang ibu menjerumuskan anaknya ke jalan sesat ? Mami masih waras kan ? " sarkas Queenza marah. Hatinya panas ketika mendengar bujukan sang mami.
" Ini sangat gila. Ide mami benar - benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang ibu berlaku seperti itu ? Apakah Mami mulai gak waras ? Astaga, "
" Mami, "
__ADS_1
🌻🌻🌻
~ Bersambung