
Bab. 6 Umpatan
Hati Larasati berdenyut bingung. Ia melupakan sesuatu. Minggu lalu dirinya sudah menerima sejumlah uang yang cukup besar dari Tuan Antony Liem, teman suaminya. Orang yang cukup dekat dengan keluarganya. Banyak waktu di akhir pekan di setiap bulannya mereka habiskan dengan kebersamaan.
Hingga ketika Antony Liem datang menawarkan bantuan, Larasati tanpa pikir panjang menerima bantuan sang teman suami.
Hari itu Antony Liem mengundangnya ke sebuah privat room di restaurant mahal. Awalnya hanya sebuah say hello yang berlanjut dengan menemaninya di sebuah club malam. Berkumpul dengan beberapa teman yang biasa ada dalam kelompok sang suami. Hari itu hanya sekedar menemani minum tapi entah dari mana ide itu datang, Antony Liem menawarkan sebuah kerja sama dengan sebuah keuntungan yang sangat luar biasa, menurut dirinya.
Keuntungan secara finansial yang pasti.
Apalagi beberapa waktu lalu banyak perhiasan yang sudah habis di jual Laras untuk membayar hutang sang suami. Dan ketika bertemu dengan Antony Liem, sahabat sang suami yang menawarkan sejumlah uang untuk membeli counter ponselnya di beberapa mall dirinya dengan senang hati menerimanya tanpa pikir panjang.
Bahkan tanpa memikirkan perasaan Queenza, Larasati juga menyerahkan Queenza untuk tinggal di rumah Antony.
" Hhmm, maaf Tuan, "
" Jangan bilang kau lupa ? " sebuah pertanyaan yang membuat Larasati bergidik ngeri karena mata lelaki di hadapannya sangat tajam dengan kemarahan yang terselubung.
Wanita setengah baya itu hanya menunduk bingung. Larasati mulai kebingungan dan merasa takut dengan aura sang teman suami.
Dulu, Antony Liem orang yang sangat ramah, walau ia lebih pendiam dibandingkan sang suami, tetapi Antony bukan orang yang kasar dan kejam. Tapi sekarang di hadapannya, pria itu terlihat seperti predator yang siap memangsa apa saja yang terlihat lemah.
Larasati sedikit bergetar, tetapi ia tetap memberikan sebuah senyum ramah dan tampak tenang. " Akh, tidak. Saya tidak lupa Tuan. Saya masih ingat perjanjian itu, tapi Ana belum pulang sekolah, Tuan. Mungkin sebentar lagi. " ucap Larasati cepat.
Deg.
Quennza yang masih terduduk di ruang makan terkejut bukan main ketika Maminya menyebut nama Ana adik perempuannya.
Ana. Adik perempuannya juga Mami jual. " Mami keterlaluan, " desah Queenza semakin marah.
__ADS_1
Qirana Qailla, gadis cantik, anak kedua dari Sebastian Wijaya dan Larasati. Remaja cantik, yang masih duduk di kelas 2 SMP. Ya jarak mereka, Queenza dan Ana hanya setahun lebih.
" Mam, " seru Quenn sambil bangkit berdiri dari duduknya di lantai. Hati Queenza memanas dengan tindakan sang Mami di luar batas kewajaran untuk seorang ibu kepada kedua putrinya.
" Bagaimana bisa Mami tega menjual anak gadisnya kepada laki - laki sahabat Papi ? " tanya Queenza dalam hati.
" Mami, mengapa harus Ana ? Ana masih kecil. Jangan gila Mam ! " seru Quennza sambil berjalan menghampiri Maminya. Tangan Queenza terkepal erat menahan rasa marah yang sedang memuncak.
Wajah Larasati sedikit memucat ketika Queenza, putri sulungnya menghampirinya dengan wajah marah.
Padahal dalam hati Larasati berharap Queenza tidak menghampirinya. Karena Queenza sudah di serahkan kepada Tuan Arxello William. Jangan sampai Queenza mencuri hati Antony karena itu akan membahayakan dirinya, pikir Larasati kebingungan.
Plok. Plok. Plok.
Suara tepuk tangan terdengar menggema di tenga h ruangan. Bahkan sebuah senyum smirk tercetak di sudut bibir pria yang nampak kejam dan berbahaya itu.
" Kau mau menipuku, Laras ? Minggu lalu gadis yang kau janjikan bukan Ana, tapi Queenza. Ya ... Queenza. Dan Aku tidak mau ada pertukaran. " sebuah suara berat dan terkesan dingin terdengar setelah dengan kerasnya laki - laki tegap itu bertepuk tangan dengan jengkel karena merasa sudah dipermainkan.
" Akh, sial, " umpat Larasati dalam pikirannya.
Larasati menatap wajah pria teman suaminya dulu, " Ehm, bisakah aku tukar saja. " tawarnya pelan. "Putri keduaku juga tak kalah cantik, "
Larasati hampir gila ketika menyadari kesalahannya, bagaimana ia bisa meluoakan sosok Arxello William, pria yang juga sama berbahayanya.
Andai uang itu masih ada, akan lebih baik ia mengembalikannya saja ke Antony Liem. Tapi sekarang uang dari Antony Liem sudah habis di gunakannya untuk membayar berlian yang melingkar di jarinya dan juga membayar uang arisan yang biasa ia ikuti di jaringan sosialitanya.
Queenza meraih tangan Maminya dan memandang wanita di sampingnya dengan wajah yang penuh dengan air mata. Akhirnya Queenza tak bisa menahan tangisannya. Hatinya hancur - sehancurnya. Bagaimana tidak, dirinya baru saja lulus dari bangku sekolah menengah pertamanya dan sang Mami sudah untuk kesekian kalinya menjual dirinya kepada orang - orang kaya, orang - orang penggila wanita, sahabat sang Papi.
Queenza menyentuh tangan sang Mami, berharap wanita yang di panggilnya Mami mampu mengurungkan niatnya untuk menjual putrinya.
__ADS_1
" Mi, please jangan lakukakan yang akan membuat Mami menyesal seumur hidup ! Queen, janji sama Mami kalau Queen yang akan kerja tapi please jangan Ana, " bisik Queenza lirih dengan tatapan mata penuh permohonan.
Sang mami yang di sentuh tangannya hanya mengerjap sekilas, karena dirinya juga sedang dalam kondisi yang sedang kebingungan. Bagaimana menghadapi Arxello William.
Queenza menyentuh tangan sang
mami lagi, bahkan sedikit meremasnya agar sang mami bisa mengubah keputusan atau minimal bisa menawar.
Sang mami hanya menggeleng lemah ketika tatapan matanya beradu dengan Antony. Antony yang ditatap tetap mengeraskan wajahnya dengan pandangan tajam tanpa kompromi.
" Jangan menawar denganku, Ras ! Kau tahu akibatnya jika berani melawan atau membantah, " seru pria itu dingin.
" Bawa gadis itu ! " lanjut Antony Liem lagi untuk memerintah anak buahnya membawa Quennza pergi.
" Tidak ! " seru Quennza menolak cekalan dua orang anak buah Antony Liem yang dengan kasar menariknya keluar ruangan.
" Tuan, Tuan Antony ! " Mami Larasati mencoba bernego. " Tolong, maafkan saya ! Tapi Queenza sudah di pesan Tuan Arxello William. Saya tidak berani membatalkannya, Tolong, Tuan, Ana saja ya ! "
" Kau mau membatalkan jual beli, Larasati ? Bagaimana bisa Kau batalkan sedangkan uang yang sudah Kau terima sudah kaub habiskan untuk membeli berlian yang melingkar di jarimu dan membeli tas branded ? " cela Antony Liem sarkas dengan senyum mengejek.
Hati Queenza semakin terasa perih. Bagaimana bisa Sang Mami menjual anak gadisnya untuk sebuah kesenangannya, berlian dan tas branded.
Larasati hanya menggeleng lemah. " Tidak Queen, uang itu untuk membayar biaya rumah sakit papimu dan biaya penalti untuk beberapa proyek yang papimu gagal kerjakan, " ucapnya beralasan.
" Mi ? Jelaskan pada Queen, uang itu untuk apa ? Briyan dan Ana sampai nunggak uang sekolah beberapa bulan, tapi Mami malah beli berlian dan tas branded ? Mami gak mikirkan anak - anak Mami ? " teriak Queenza marah.
" Mami gak sayang kami, hah ? "
***
__ADS_1
~ Bersambung ~