
Bab. 11 Sakit
Di tempat yang berbeda di sebuah mansion besar, di sebuah kamar berdinding putih, nampak Queenza masih terbaring di atas ranjang empuk berukuran king size.
Kamar besar dengan warna putih gold mendominasi ruangan yang terlihat mewah dan elegan.
Gadis remaja itu nampak meringkuk di balik selimut tebal yang menutup hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan bagian kepala yang menyembul diantara selimut tebal yang terlihat sangat lembut dan nyaman. Ada dengkur halus yang sesekali terdengar tetapi untuk beberapa saat kemudian dengkur halus itu berganti dengan suara lenguhan yang bernada ketakutan dan kadang menyedihkan terdengar. Gadis itu terisak tertahan dalam tidurnya. Bahkan tubuhnya sesekali bergetar, dan dahinya mengerut dalam.
Hingga,
Entah sudah berapa lama, akhirnya gadis cantik itu menggeliatkan tubuhnya, karena sebuah mimpi buruk yang membuatnya tiba - tiba terbangun dari tidurnya.
" Aarrgh, " sesaat desisan bernada lirih terdengar dari bibirnya. Queenza mengaduh kesakitan karena pergerakan yang mendadak tadi membuat lututnya yang terluka dan kaku terasa perih.
Queenza bangun dan terduduk di atas ranjang dengan kepala pening dan wajah kaget. Jantungnya berdegub dengan keras karena mimpi yang baru saja datang dalam tidurnya. Sungguh sangat menakutkan baginya, hatinya bahkan mulai menjadi gelisah dan was - was.
Gadis remaja itu menghirup udara sepenuh dada, mencoba mengumpulkan semua kewarasannya untuk bisa memindai dimana dieinya sekarang berada. Di pandanginya sekeliling ruangan dengan tatapan menilai, dahi gadis itu mengerut ketika ia tak mengenali tempatnya kini berada.
Berkali - kali matanya mengerjap mencoba mengingat hal terakhir yang baru saja ia alami, tetapi pikirannya yang masih belum fokus membuatnya melupakan kejadian beberapa jam lalu. Hati dan pikirannya masih saja mengingat tentang mimpi buruk yang baru saja di alami. Sangat buruk. Dan sangat menakutkan.
" Aaakh, " Queenza mengaduh kesakitan lagi sambil menyentuh kepalanya yang terasa semakin pening. Matanya memanas akibat kepalanya yang terasa sangat berat. Queenza menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit di kepalanya.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar dan detik berikutnya, pintu itu terdorong terbuka dari luar. Seorang maid dengan seragam biru mudanya masuk ke dalam kamar dan menghampiri Queenza yang masih memegangi kepalanya di atas ranjang.
" Selamat malam Nona, saya Hani. " sapa wanita itu seraya menundukkan kepala memberi hormat, dan kemudian menatap sang nona yang masih terdiam dengan memegangi kepalanya.
Maid itu semakin mendekat dan mencoba menyentuh tangan gadis yang terduduk di atas ranjang. Sedikit berjengit maid itu, karena tubuh sang gadis sangat panas.
" Nona, Anda panas sekali, " seru sang maid sedikit panik. tubuhnya yang sedikit tambun, bergerak sebentar untuk membaringkan kembali sang Nona di atas ranjang.
__ADS_1
" Aku di mana, Bibi ? Kepalaku sakit sekali ... arrghh, " Queenza berkata dengab lirih. Kedua tangannya masih memegangi kepalanya yang semakin terasa berat. Gadis itu mulai merasakan sesak dalam nafasnya yang mulai memanas.
" Mami, " gadis itu memanggil sang mami dengan wajah pucat, " Mami ! "
" Nona, tenang dulu ya ! Tunggu, sebentar Nona ! Saya akan menghubungi Tuan Antony, " ujar maid itu sambil meraih benda pipih di sakunya.
" Tunggu, sebentar ! Saya akan menghubungi Tuan Antony, " ujar maid itu sambil meraih benda pipih di sakunya.
Tak berapa lama setelah menghubungi Sang majikan, maid itu segera menghubungi Dokter Arland untuk melihat kondisi Queenza.
Setengah jam berikutnya, seorang pria dengan kaca mata bening yang bertengger di hidung mancungnya nampak berjalan memasuki kamar di mana Queenza berbaring. Lelaki dengan stelan dokter lengkap tampak berwibawa dan sangat tampan wajahnya.
Lelaki yang di panggil Dokter Arland itu nampak mulai melihat kondisi Queenza. Lelaki itu meletakkan tangan kokohnya di dahi Queenza dan mulai melakukan pemeriksaan. Dahinya sedikit berkerut ketika melihat ada beberapa lebam di lengan dan sudut bibir merahnya yang sedikit robek.
Lelaki itu nampak menggelengkan kepalanya perlahan dan seraut wajah sendu tergambar sesaat setelah melihat kondisi gadis itu sedang tidak baik - baik saja.
Queenza mengerang perlahan dalam tidurnya dan meracau dengan suara lirih.
" Ambilkan kompres, Bi ! " suara datar Dokter Arland memerintah maid yabg masih berjaga di samping ranjang.
" Baik, Tuan, " jawab maid itu dan segera mengambilkan air hangat dan handuk kecil.
Tak berapa lama maid itu kembali dengan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil dan ia memberikannya kepada Dokter Arland.
Dokter Arland mulai mengompres dan sesekali mengelap peluh Queenza yang mulai membanjiri wajahnya.
" Tebus resep ini di apotik ! Dan tolong berikan bubur hangat setelah gadis ini bangun, berikan obat yang saya resepkan ! " ujar Dokter Arland seraya mengangsurkan secarik kertas resep ke tangan maid tersebut.
" Satu lagi, jaga kondisi mentalnya. Gadis ini sedang tidak baik - baik saja, Bi, " peringat Dokter Arland lagi.
" Baik Tuan Dokter, sesuai perintah Anda, " jawab maid tersebut dengan sedikit membungkuk.
__ADS_1
" Saya ada urusan di Pusat. Jika gadis ini sadar hubungi saya. " ucap Dokter Arland kembali setelah beberapa waktu lalu menerima panggilan dari ponselnya.
🌻🌻🌻
Dua jam berikutnya Queenza nampak mulai menggeliatkan tubuhnya. Mata gadis itu perlahan mengerjap seakan sedang memindai sekeliling.
Queenza memandang kamar tempat dirinya terbaring. Dinding warna biru yang lembut dengan perlengkapan kamar yang cukup mewah. Semua tampak mewah dan elegan.
Jendela kaca tinggi dan besar nampak memperlihatkan siang hari yang berawan.
Queenza menarik tubuhnya untuk segera duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Kepalanya masih berdenyut sakit.
" Selamat siang, Nona. Anda sudah bangun ? "
Queenza hanya mengangguk perlahan , menahan kepalanya ynag sangat berat. Matanya masih berkunang.
" Saya di mana ? " tanya Queenza sambil menurunkan kaki untuk bangun dan berdiri.
Pandangan Queenza terlihat berputar - putar dan denyut pening berkali - kali terasa di kepalanya.
" Nona, mau ke mana ? Anda belum sehat, tidurlah kembali. Saya akan mengambilkan bubur hangat untuk Anda mengisi perut dan minum obat, " kata Maid itu lagi sambil menahan bahu Queenza yang akan beranjak berdiri.
Queenza nampak linglung. Tubuhnya terasa lemah sekali dan kepalanya berdenyut semakin sakit.
" Saya bantu Nona, untuk berbaring kembali, " ucapan Maid itu terdengar lembut dan bermaksud menahan Queenza untuk beranjak dari ranjang. Tangan maid itu dengan perlahan membantu Queenza untuk kembali berbaring di atas ranjang.
" Terima kasih, " cicit Queenza sambil memejamkan matanya kembali.
" Mungkin akan lebih baik aku istirahat sebentar. Setelah kondisiku membaik, aku bisa keluar dari tempat ini. " batin Queenza dalam hati. Queenza menarik nafas sepenuh dada, mengisi penuh dengan nafas yang ia harap akan menurunkan raa sesak yang sedang menekan dadanya.
🌻🌻🌻
__ADS_1
bersambung