Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa

Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa
BAB. 9 Umpatan


__ADS_3

Bab 9. Umpatan


" Akh maafkan saya, Tuan Antony. Tapi tolong jangan bawa Queenza ! Saya akan mengembalikan uang tersebut. Saya janji. " ucap Mami Larasati, ibu kandung Queenza berharap laki - laki di depannya mau mendengarkan suaranya. Suaranya memohon dengan sangat.


" Beri saya waktu ! " pintanya lirih dengan mengusap sisa - sisa air mata.


" Hahaha ... bodoh ! Apakah Kau punya uang sekarang Ras ? Apakah kau ingin menjadikan anak - anakmu pelacur sama sepertimu ? Atau menjadikan dirimu pelacur ? Siapa yang akan sudi dengan wanita ular sepertimu ? Berhentilah berpura - pura dan jangan membuatku semakin emosi Ras ! " sentak Antony Liem marah.


" Bawa gadis itu ! Kalau melawan seret saja ! " perintah Antony Liem lagi kepada anak buahnya yang berdiri tegap di sampingnya. Kemudian lelaki itu beranjak dan berjalan ke arah mobilnya. Tetapi sebelum mencapai pintu mobil, ia berbalik dan memghadap ke arah Queenza.


" Dan Kau, jika Kau ingin keluargamu tetap baik - baik saja, ikuti perintahku dan taatlah ! " sambung Antony Liem lagi sambil telunjuknya mengarah pada Queenza. Setelah berbicara lelaki itu bergerak membuka handle pintu pada mobilnya dan masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman. Duduk dengan wajah dingin di kursi penumpang bagian depan.


Pria itu mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya dan mengusap kasar kedua telapak tangannya.


Sedangkan di halaman terlihat Larasati nampak sangat frustasi. Wanita itu mencoba untuk menahan Queenza dari tangan anak buah Antony Liem.


" Tuan, tolong ! Tolong, jangan bawa putri saya ! " teriak Larasati sambil mencekal lengan seorang anak buah Antony Liem.


" Putri ? Sekarang baru kau akui dia putrimu, kemarin ketika kau menjualnya pada tuan kami, apakah kau berpikir bahwa yang kau jual itu adalah putrimu ? Dasar perempuan gila uang, anak gadis saja di jual ... apalagi yang lain. " sembur seirang pria yang adalah anak buah Antony Liem. Matanya terlihat marah dengan wajah yang mengeras, tak habis pikir juga dirinya bagaimana seorang ibu mampu dan tega menjual anak gadisnya hanya demi segepok uang.


Hati Queenza terjengit sakit mendengar kata - kata anak buah Antony Liem, ingin marah tetapi apa yang diucapkan memang adalah kenyataan. Hingga hanya air mata yang tiba - tiba luruh tak terbendung di kedua pipinya.


Dengan kasar anak buah yang sedang di cekal tangannya oleh Larasati langsung mengibaskan dan mendorongnya hingga wanita itu tersungkur di lantai.


Queenza yang melihat Maminya di dorong pun menjadi marah dan segera berusaha melepaskan diri. Usahanya memberontak tak cukup berhasil. Tubuhnya malah berulang kali terhuyung karena berusaha menendang dan memukul. Tenaganya tak cukup kuat, apalagi kedua tangannya di cekal oleh dua orang pria yang badannya lebih besar dari Queenza.

__ADS_1


Karena Queenza yang terus melawan tiba - tiba seorang anak buah yang lain mendekat ke arah belakang Queenza.


" Merepotkan saja, " dengus laki - laki itu marah sambil memukul tengkuk Queenza dengan pergelangan tangannya yang besar. Tubuh Queenza terhuyung ke depan dan langsung tak sadarkan diri. Beruntung tubuhnya tak terjerembab ke tanah karena pria - anak buah Antony Liem yang lain menangkap tubuhnya.


Lelaki di sampingnya menangkap tubuh gadis itu sehingga tidak tersungkur ke lantai dan segera memanggul gadis itu seperti karung beras dan membawanya keluar serta memasukkan ke dalam mobil sang bos yang masih terparkir di halaman.


" Queen ! Queenza ! Tuan, tolong jangan bawa Queenza ! " teriak Mami Larasati dengan suara parau berusaha mengejar putrinya yang di bawa Antony Liem.


Mobil Antony Liem berlalu pergi menyisakan Larasati yang masih meraung frustasi.


Wanita itu meraung, menangis dengan histeris sambil terus memanggil Queenxa, " Queen ! Queenza ! "


Larasati terlihat sangat kepayahan dengan mata sembab dan bibir bergetar menahan marah.


" Akh sial, " dengus Larasati bangkit dari duduknya sambil mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata.


" Seharusnya aku membawanya pergi terlebih dahulu, atau menyembunyikannya supaya laki - laki itu tak mengambilnya. Harusnya aku dapat harga lebih mahal dari 2M. Akh sial, " Larasati masih mengumpat lirih.


" Sayang hanya 2M, akh..sial. Harusnya aku minta lebih, aaargggh... ini gara - gara Farhan yang tergesa - gesa memaksaku. Sial, " umpatnya lagi sambil membersihkan tumpukan uang yang sedikit kotor dengan tanah.


" Merepotkan saja, harus bersandiwara menangis seperti ini. Wajahku pasti terlihat pucat dan tak bersinar, aaarrrggh, harus ke salon lagi untuk perawatan lagi ini, " dengus Larasati sambil menengok ke kanan dan kiri halaman. Wanita itu berdiri dan mengibaskan gaun hijaunya dari debu tanah yang menempel. Dan memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


" Tapi lumayanlah. Berlian ini cukup cantik. " ujar wanita itu sambil menyentuh berlian yang menyemat di jarinya.


" Tak apa dapat sedikit. Aku masih punya Ana, semoga Aku mendapatkan jackpot lebih. " kekeh Larasati sambil berjalan ke arah rumahnya dengan senyum ceria lagi.

__ADS_1


" Mami, " seru seorang gadis remaja dan seorang anak lelaki bersamaan ketika memasuki rumah besar itu.


Wanita itu tampak terkejut, takut bahwa ucapannya barusan terdengar oleh kedua anaknya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


" Apa yang sudah terjadi, Mi ? " tanya Ana penuh selidik ketika matanya mendapati ruang tamu yang berantakan dengan lampu cristal yang pecah dan berhamburan di lantai.


Wanita itu memandang Ana dan Bryan dengan mata sendu, kembali air matanya menetes tak terbendung.


" Kakak, " suara lirih Mamu Larasati terdengar seperti bisikan. Suaranya terjeda, tak sanggup melanjutkan kata - katanya. Tubuhnya sedikit terhuyung karena lemas. Tangan kanannya segera memyelipkan setumpuk uang ke dalam sakunya yang besar. Beruntung gaun hijaunya ada saku yang cukup besar.


Ana dan Bryan sigap menompang Sang Mami dan membawanya ke kamar untuk di baringkan.


" Mi, apa yang terjadi dengan Kak Queen ? " tanya Bryan penuh selidik. Bocah 12 tahun itu sedikit mengguncang lengan sang Mami yang masih bersandar di kepala ranjang setelah mereka mengantarkan sang Mami ke kamarnya di lantai dua.


Larasati menampakkan wajah sendu dan sedihnya. Sungguh wajahnya terlihat pucat dengan mata yang sembab. Bibirnya bergetar ingin berbicara tetapi tertahan. Jelas kepedihan dan kehilangan terlihat di sana. Bahkan air matanya sudah kembali turun membasahi kedua belah pipinya.


" Mi, " panggil Bryan lagi. Anak bungsu Larasati ini masih bertanya dan berharap Maminya akan segera menceritakan apa yang sudah terjadi di rumah saat mereka sedang bersekolah tadi.


Larasati hanya menggeleng perlahan dan air matanya kembali tumpah tak terbendung. Wanita itu kembali menangis sesenggukan. Tangannya saling memilin memperlihatkan kepanikan, ketakutan dan kesedihan secara bersamaan.


Ana, anak keduanya bahkan mulai ikut menangis ketika melihat sang Mami dalam kondisi yang menyedihkan seperti itu.


🌻🌻🌻


bersambung

__ADS_1


__ADS_2